pukul 3


Apakah kamu pernah sekali waktu mencari arti kata antara di kamus bahasa? Atau di internet? Oh atau kamu sudah tahu artinya? Ya. Antara berarti jarak di sela-sela dua benda; waktu yang menyela dua peristiwa. Dan aku benci sekali dengan kata itu. Aku benci antara. Aku benci bagaimana hidup menaruhku di sebuah antara; Keadaan paling sial yang bisa dihadapi manusia. Seolah kita membiarkan alam raya mengatur kita dengan kelabilan dan kebimbangannya. Tidak. Antara itu tidak selalu berarti pilihan, karena beberapa dari kita, termasuk aku, tidak bisa memilih meskipun memiliki pilihan. 

Antara pergi dan pulang. Antara ibu dan bapak. Antara merasa dan mati rasa. Antara peduli dan masa bodoh. Antara melangkah dan menyerah. Antara kejujuran dan kepalsuan. Antara kedatangan dan kematian. Antara tenang dan berantakan. Antara diri dan hati. Antara ojek online dan bus kota. Antara rumah dan perjalanan. Antara aku dan masa lalu.

Aku tidak ada di mana-mana. Aku tidak ada di sini atau di sana. Aku ada di antaranya. Aku di tengah dan terengah. Aku hanya… lelah.

“Lo egois sih, Al,” kata Siti sambil mengamatiku yang sedang membereskan tas, “Lo mau dunia ngerti elo, lo mau Tio selalu ngerti elo, tapi lo pernah gak sekali aja berusaha ngerti dunia? Gak usah dunia, deh, kebesaran. Ngertiin Tio? Pernah gak lo coba?” sambungnya.

“Udahlah, Ti, gue yang putus kenapa lo yang ribet?”

“Gue kalo jadi lo pasti ribet. Ribet berusaha benahin supaya 2 tahun itu gak kebuang sia-sia. Gue akan lakuin apa pun supaya gak pisah.”

“Gak ada yang terbuang sia-sia, kok. Itu bermakna, buat gue, buat Tio. Cuma emang udah selesai. Emang udah sampai di waktu akhirnya. Dan emang udah gak bisa ngelakuin apa-apa,” kataku membela.

“Iya tapi lo ngelakuin apaan, Al?”

Aku akhirnya menatap kedua mata Siti serius, bukan karena kesal, tetapi justru karena merenungi apa yang diucapkannya.

Apa yang sudah aku lakukan? Apakah aku memang tidak pernah melakukan apa-apa? Kenapa aku tidak bisa menjawab pertanyaan Siti? Kenapa mendadak aku gelagapan? Kenapa harus sampai berpikir segininya hanya untuk menjawab sebuah pertanyaan sederhana?

“Coba lo inget-inget lagi deh, Al, mikir,” sahut Siti menyindirku lagi.

Tidak ada yang bisa kuingat. Tidak ada. Oh, kecuali…

“Kecuali LDR, sih, itu… gue nggak deh.” kata Tio waktu itu ketika mengajakku minum kopi. Kalau tidak salah dua minggu setelah kami saling bertukar nomor telepon. Belum. Kami belum jadian, tapi sudah intens berkomunikasi. Bahkan ia sudah sering menelepon.

“Iya, gue juga nggak kalau soal itu,” ucapku menimpalinya.  

“Iya kan?” serunya bersemangat karena kami ternyata punya pandangan yang sama akan suatu hal, “Karena LDR tuh… apa ya, Na…”

“Buram?”

“Setuju. Buram. Tapi pernah?” 

“Pernah, cuma sebentar,” 

“Terus? Putusnya kenapa?”

“Ya… LDR…”

Ia tertawa.  “Maksud gue,” katanya, “Apa yang paling mendasari? Dulu gue juga pernah LDR soalnya. Gue di sini, dia di Sydney. Eh belum sampe sebulan dia di sana, putus. Padahal udah jalan setahun pacarannya. Udah lama, sih, waktu kuliah dulu. Perbedaan waktu, itu nomer satu, karena ganggu, ganggu komunikasi banget. Gak bener, deh. Komunikasi yang harusnya jadi kunci, nah, patah tuh kuncinya. Gak ada titik ketemunya, jadi gak ada bahasan, diskusi, cuma ribut. Ribut pun kadang bersambung gitu karena dia udah tidur, gue baru mau tidur. Karena kan gue perlu tahu dia lagi apa, gue butuh kabar dari dia, sesering mungkin, tapi, duh, gitu deh pokoknya.”

Aku memahami, aku tahu rasanya. Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, “Kalau lo? Putusnya karena apa?”

“Karena dia selingkuh, sih,” jawabku singkat.

“Na,” kata Tio, nada bicaranya yang tadinya santai berubah serius, “Sorry… jadi kebahas deh?”

“Hah? Kok sorry segala, Yo? Santai lagi,” kataku. “Yah jadi pokoknya, awalnya dia jadi sering bohong, tapi bohong bego, gitu. Ya gue tahu dia bohong, tapi dia gak tahu kalau gue tahu. Ya udah. Gue diemin, gue maklumin, tapi ternyata pura-pura tuh ada batas waktunya, ya. Capek juga ladenin sandiwara dia. Jadi ya udah gue minta dia ngaku, terus dia ngaku, dan bener sama temen kampusnya.”

“Berarti, LDR tuh masalahnya di jarak, ya?” tanya Tio sambil nyengir.

“Mmm… gak tahu, ya, Yo. Kayaknya, kalau kita udah cinta sama seseorang, kita gak akan bisa jauh-jauh dari dia,” ucapku lalu melanjutkan., “Jadi bukan salah dia selingkuh, guenya aja yang jauh…”

“Hah? Na? Selingkuh itu salah,” tukas Tio segera.

“Iya, gue tahu selingkuh itu salah, tapi gue gak nyalahin. Itu dua hal yang berbeda, Yo. Antara salah dan menyalahkan.”

Ia tetap tidak yakin dengan perkataanku, tetapi dari wajahnya, ia seperti berusaha mengerti. Kuangkat gelas kopi, dan meminumnya. Dia terus mengamatiku, seperti sedang menyiapkan pertanyaan berikutnya, yang sudah menumpuk di kepalanya.

“Oke. Anggaplah dia gak selingkuh, berarti lo tetep lanjutin LDR?” tanya Tio lagi.

“Nggak. Jauh, Yo. Karena dengar suaranya aja gak cukup, gue perlu fisiknya, gue perlu sentuhan-sentuhan itu. Mmm… mungkin gue gak cukup tulus untuk hanya mencintainya dari sini, dari Jakarta. Gue butuh dia, raganya, suaranya, bahkan kalau bisa jiwanya.”

Tio memberiku senyum, dan mengangguk setuju.

“Selain LDR? Apa yang lo nggak banget?” Tio bertanya.

Aku diam sebentar, berpikir keras untuk memilih satu jawaban dari banyaknya perihal tidak yang kupunya dalam hidup.

“Pacaran?” jawabku.

“Hah….?” katanya lagi, dan dari nadanya, aku tahu dia sedikit kecewa.

Aku tertawa kecil, “Kenapa? Kecewa ya? Nyesel ya udah deketin gue?”

“Nggak… Nggak kecewa. Cuma…”

“Bingung?”

Ia mengangguk.

“Gue ingin sebuah hubungan, Yo,” lanjutku. “Tapi gak pacaran atau istilah lainnya. Gue ingin mengartikan sendiri hubungan yang gue jalanin. Mungkin orang tahunya, Hubungan Tanpa Status? Hmm… bisa dibilang, gue ingin itu. Gue ingin sebuah hubungan, bukan status. Gue ingin angka satu dari hubungan itu. Bukan istilah, bukan pengakuan, bukan juga panggilan.”

“Na,” panggilnya.

“Hmm?”

“Gue bisa kasih itu.”

Tio bisa memberiku itu, tapi aku tidak. Aku malah menghadiahinya sebuah ketidakberuntungan; nasib buruk yang tidak pernah ia bayangkan. Siti benar, aku egois, dan aku tidak melakukan apa-apa, selain melepaskan atau mungkin menyelamatkan Tio dari diriku sendiri.

… bersambung


150 responses to “pukul 3”

  1. Aku LDR uss .. aku di Bandung.. dia di Egypt, tapii mgkn aku doang yang anggep kita ldr, krna kita udah gapunya komunikasi lagi heheww
    Tapi masalah perbedaan waktuu, kalo aku masih sama dia, pasti itu jadi maslh bgt sih uss, sama kayak alina dan mantannyaa

    Aku tau kamu gakan baca ini jii, hehe mungkinn
    But i really miss you:)))
    Gelang aku ga kamu pake ya:(

    Like

  2. aku lagi diposisi alina sih, pengen punya hubungan tp bukan pacaran, maybe lagi diposisi heartless. i want to fall in love again, tp bahkan aku gabisa ngasi place save buat diriku sendiri.

    Like

  3. aku ldr+hts us, baru selesai bulan maret kemarin.. dia yg nyelesain. katanya “karna aku tau, aku gak bakalan bisa ketemu kamu” wkwkwk yaudahlah yaa.. aku juga gak bisa maksain

    Like

  4. na, kita sama. cape gasih harus ada dihubungan yang pasti? bukan berarti gasuka dikasi kepastian, tapi once u got something ‘pasti’ then it just like u alr got what all u wanted and u could just leave me alone behind when u alr got what u want. hts itu satu ketidakpastian yang bisa bikin orang penasaran dan mau bertahan. kalo pun engga, then fine, cause we never really ‘exist’ right?

    Like

  5. aku kayak lagi baca kisah ku sendiri haha 🙂

    kisah LDR beberapa tahun lalu yang ditakuti itu kejadian, Na. dan karena “diselingkuhi”.

    dan setelah bertahun-tahun finally i found someone sampai detik ini, dan yaa status kisah ku HTS, dan itu ga enak rasanya tapi aku juga ga bisa keluar dari zona ini. aku terlanjur nyaman dari perkara yang aku buat sendiri dan gatau kedepan nya aku bakal ngerasain apa dari perkara ini

    Like

  6. Aku lagi ldr udah jalan 2 bulan lebih, chattingan cuma 2 minggu sekali/ 1 hari kalo dia sempet, karna dia di asrama.. semoga jalan truss doain yaa🥲

    Like

  7. sama pcr trkhir dulu gue gt gamau pacaran tp gamau dia sm yg lain akhirnya dia yg mau diperjelas pacaran dan 2 bulan lalu kita pisah bukan karena kita ga sayang justru karna keduanya gamau egois hm atau krna keduanya egois? gue ga berhenti sayang sm dia dalem hati paling dalem gue nunggu gatau kalo dia.. karena putusnya ga ada yg jahat diantara kami, ga ada alasan buat move on. wkw dah lah jdi kmn2

    Like

  8. HTS + LDR sama anak pondok yg chattingannya setahun cuma 2-3 kali, ketemu pun paling stahun 2 kali, tapi aku bisa ampe 2 taun dong huhu 😻🤣

    Like

  9. aku pernah HTS dan LDR sama anak pondok selama 2 taun, chattingan setaun cuma 2-3 kali itupun kalo dia pegang HP, tapi aku suka hubungan itu. malah pas dia pindah sekolah yang dket dan kita bisa chattingan tiap hari malahan bubar, skenario tuhan emang indah 😻🤣

    Like

  10. sampe banget ke hati us ceritanya, btw San liat deh ceritanya mirip ya kaya kita. sayang udah berakhir di Januari.

    Like

  11. Aku double kill dong jadinya. Udahnya LDR, ditambah HTS pula:) dan hubungan itu berakhir hari ini Us:))

    Like

  12. Paham banget maksud kamu alina, hubungan yang ga ada namanya emng gak buat kita bingung,harus jelas atau di perjelas yaudah ngalir aja, apa adanya.

    Like

  13. ldr itu gaperlu, sebaik baiknya ldr lebih baik gausah sih. bakal banyak cobaan yg di cobain klo dah ldr, bentrok ny bkal banyaaaaaaaa💔

    Like

  14. ap yh maksdnya nih pauss😠 gak semua LDR akhirnya putus yh (menyangkal dengan keras)

    Like

  15. ini kenapa pendek banget yah? minimal 200 slide us kalau bikin cerita.

    Like

  16. Na kamu bener² egois, sama halnya seperti aku, aku sedang egois sekarang 😦

    Like

  17. Keren banget,first time baca cerita km US dan jatuh cinta banget,dulu aku sering bgt baca, kadang satu buku bisa seharian gt sampe sore tapi skrg ak g suka baca buku lagi karena males 😦 tapi setelah aku baca cerita ini ak pengen lanjutttt😭
    Na….LDR itu mudah bagi yang kuat dan komunikasi yang lancar jaya sentosa🔥💞

    Like

  18. aku dulu juga gamau pacaran, tapi mau hts sekarang trauma bgt sama hts ueuee

    Like

  19. Emg lebih baik hts sih,biar ngk ada kata putus gitu di antara kitaa,hts menurutku aku bisa pergi tanpa pamit ke kamu.

    Like

  20. Emg lebih baik hts sih,biar ngk ada kata putus.hts menurutku bisa pergi tanpa pamit ke kamu.

    Like

  21. Emg lebih baik hts sih,biar ngk ada kata putus gitu di antara kitaa,hts menurutku aku bisa pergi tanpa pamit ke kamu.

    Like

  22. mksdny ap yh paus, LDR mmg susah banyak yang gak berhasil. nyatanya jarak bukan masalah, tapi kepercayaan

    Like

  23. Sekarang aku lagi diposisi hubungan tanpa status, ya semua berawal dari aq yg udh kehilangan masa lalu dan bertemu orang baru yang saat ini sedang aku gantung hehe

    Like

  24. Persis banget kaya Alina, aku sama dia udah berjalan 2 taun, namun di taun ketiga kita ldr, dan tepat dibulan ketiga juga bahkan seminggu setelah hari ulang tahunku, kita selesai. Dia lebih memilih orang yg bersamanya setiap hari, bukan aku yg hanya bisa ditemui secara virtual

    Like

  25. Kaus (Kaka paus) terimakasih ya. Karna tulisan kamu, aku jadi suka baca. jangan berhenti buat berkaya. ditunggu updatenya dan karya-karya lainnya. lop u

    Like

  26. selalu suka sama tulisan-tulisan paus, udah lama banget rasanya gak baca ginian. kayak bahagiaa aja gitu. makasih paus, tulisanmu bikin aku senyum-senyum sendiri, jadi aku ngerasa lebih hidup. btw ditunggu Pra nya ya, hihihi…

    Like

  27. bener banget, pura – pura ga tau padahal tau tuh cape banget. ga ada selesainya kalo ga milih berhenti. antara mau liat kebohongan apa lagi yang dia buat, atau selamatkan diri dari buang waktu dan pikiran.

    Like

  28. Naaa, aku pernah mikir seperti yang kamu inginkan, ngak mau ada hubungan, cukup pertama diantara segalanya. Ehhhh, ternyata, jadi pertama aja ngak cukup, masa lalu yang ngak tergantikan tetap jadi pemenang diantara segalanya 🙂

    Like

  29. Tendangan jarak jauh aja jarang berhasil apalagi hubungan jarak jauhh😭😭

    Like

  30. Bener bgt. Aku lg di fase ldr, menurutku pribadi bukan soal kabarnya sih tapi kangennya itu:) kangen natap dia, hanya diam sambil natap wajahnya aja rasanya sedamai itu. Astaga kangen bgt:)

    Like

  31. HTS JAYA JAYA JAYA. Alina gak papa egois demi dirmu sendiri, put yourself first before other!!!

    Like

  32. Cepet bgtt, ga berasa udah selesai aja bacanyaaa, paus kamu keren! Di tunggu part selanjutnya 🤍

    Like

  33. Alina, I feel you. Tapi, kl dipikir juga sifat egoismu itu ky self-defense km yang muncul kl km merasa di lingkungan yang berbahaya. So, keep going, jangan pikirin omongan oranglain. You have to think abt yourself first, sebelum km mikirin oranglain.

    Like

  34. Pauuus, demi apa aku pas tidur siang mimpi baca lanjutan pukul set5 judulnya pukul 3, gilak.
    Huhuu masih ga sabar nungguin ceritanya Alina, lebih ke ga sabar dengan endingnya juga sih, tapi yang pasti endingnya seperti ending-ending indah yang sering paus tulis.
    Masyaallah peluk Alina peluk paus❤️

    Like

  35. Apa aku egois ?
    Waaahh…us.
    Berasa baca cerita sendiri gue us.
    Tertembak tertampar terjungkat jungkit. 🥲🤧

    Like

  36. “Apa aku egois ??”
    Waaahhh.
    Berasa lagi baca cerita diri sendiri gue us. Tertampar tertembak terjungkat jungkit gue 🥲🤧
    Tengkyuw lo, btw.

    Like

  37. thanks pukulan kerasnya al, gw makin jdi merenung apa yang udah lalu

    Like

  38. Aku paling benci jika harus berjarak dan akhirnya saling melepaskan 🙂

    Like

  39. LDR ngga berat kok, kuncinya emang komunikasi, tapi kalau komunikasi nya aja ancur, gimana hubungannya kedepan, jadi alin pusing sih, pusing mau ada hubungan tapi ngga ada status, belum tau aja tuh alin kalau HTS tu rasanya kek manaa, aaarghhhhh

    Like

  40. siti tipe bestie yg bawel tp peduli bgtt 😩 tp bawel bgt knpsi tiii

    Like

  41. Siti tu tipe bestie yg peduli cuma bawelnya kebangetan bawel 😭😩

    Like

  42. Siti tu tipe bestie yg peduli cuma bawelnya kebangetan bawel 😭😩

    Like

  43. awal baca w emosi bgt sm kebawelannya siti, untung lu ada benernya jg ya ti 😩

    Like

  44. OMG! AGAIN AND AGAIN. Alin pusing y kamu? Kamu pasti capek banget. Gk ap lin gk ush dengerin kata org. Save yourself

    Like

  45. ‘dan aku tidak melakukan apa-apa, selain melepaskan atau mungkin menyelamatkan Tio dari diriku sendiri’, akkansns ini kena bgt😭😭😭

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: