Category: PRA

  • Di Sebelah Sana

    Aku duduk di bangku paling depan. Bukan karena aku rajin atau karena ingin, tapi karena yang di papan tulis akan lebih jelas bila aku duduk di sana. Kalau dia… dia duduk di paling belakang. Kadang di depan sih, kalau lagi dihukum sama guru yang sedang mengajar. Malah, waktu itu dia pernah disuruh duduk di meja […]

  • Back Home One Afternoon

    Dia tidak suka pertanyaan apa kabar. Katanya, pertanyaan itu terlalu populer, sedangkan dia tidak. Makanya, ia justru menyapaku dengan, “Joker akan ada sekuelnya!”  Tadinya, ia sedang merokok. Entah kenapa dimatikan waktu aku menghampirinya. Ia hanya membuka tutup cangkir kopi hitam pesanannya, dan menyeruputnya perlahan. Ia belum lama duduk di situ, kopinya masih panas.  “Aku tahu. […]

  • BAB 10

    “Ngapain di sini? Cari siapa? Mau nganter ikan lagi? Bu Hela nggak ada di sini.” “Saya cari kamu.” “Hadeh. Saya nggak merasa ada urusan sama kamu, dan saya gak mau kamu bikin urusan sama saya. Jadi nggak perlu ketemu-ketemu, nggak perlu cari saya, karena itu bukan sesuatu apa pun buat saya.” “Saya…” Pra kehabisan kosa […]

  • PRA

    Tentang perempuan yang mencintai rumah duka. Kinan, namanya, Kinanti. Ia mencintai kematian beserta serangkaian upacara kepergian karena di sanalah ibunya berada. Namun, seiring waktu berjalan, Kinan harus berhadapan dengan banyak kematian dalam bentuk yang berbeda-beda. Apakah itu akan membuat Kinan mempertimbangkan kembali cintanya pada kematian?  Apakah laki-laki bego bernama Pra itu bisa membuatnya mengenal hal […]

  • BAB 9

    Awal perjumpaan yang biasa saja. Ketika Pra sudah siap dengan 3 ekor ikan cakalang yang dibawanya untuk diantarkan kepada seorang pemilik indekos. Ketika itu, Pra belum melaut sendiri, masih bantu-bantu Dawan. Jadi kesibukannya hanya mengantar pesanan ikan untuk pembeli yang memang kenal dekat dengan Dawan. Seorang perempuan dengan kemeja hijau terang keluar dari rumah kos […]

  • BAB 8

    Di depan rumah orang tua Hara, Kinan sering melihat seorang perempuan tua yang duduk di depan sebuah rumah putih berpagar hitam. Pandangannya selalu lurus ke depan. Ia hanya ditemani sebuah tongkat di sebelah kirinya. Kinan kira hanya sekali, dua kali, namun sudah tujuh hari ia bekerja, tidak sehari pun sosok perempuan paruh baya itu hilang […]

  • BAB 7

    Rina cuma bisa memandang Pra yang duduk di depan pintu salon; tempat ia bekerja, tempat seharusnya Kinan berada. Habis kata ia berikan kepada Pra yang tidak juga bisa mengerti. Ya… sebenarnya Pra juga tidak bisa banyak berharap pada Rina, ia tahu betul bahwa penyelesaian yang dibutuhkannya, hanya ada pada Kinan seorang.  “Pulang, hampir magrib.” Pra […]

  • BAB 6

    Kinan memandangi seekor kucing yang tidak mau pergi dari depan pintu kamar kosnya. Warnanya perpaduan hitam dan putih, mungkin umurnya sekitar dua bulan. Berulang kali Kinan mengusirnya tapi kucing itu tidak juga pergi. “Pemalas!” “Dia nggak ngerti bahasamu juga, Nan.” ucap Wati sambil mengelap kaca jendela. Ia terheran-heran dengan perilaku aneh Kinan setelah makan soto. […]

  • BAB 5

    Kesan pertama Pra ketika sampai di rumah duka itu adalah sepi. Tidak ada orang sama sekali kecuali Rina, dan beberapa petugas yang mengurus keperluan jenazah sebelum dikuburkan. Sebenarnya ia juga tidak menduga bahwa tujuan Kinan siang itu benar-benar rumah duka dalam arti yang sebenarnya. Ia kira akan mengunjungi sebuah rumah sederhana, di mana banyak sanak […]

  • BAB 4

    Kinan menutup matanya kuat-kuat. Masih tidak disangkanya bahwa ia akan melanjutkan petualangannya sendirian, dengan bekal keberanian yang tiap hari kian menipis. Apakah benar yang kupilih ini? Bagaimana kalau laki-laki yang mengaku bernama Hara itu adalah orang jahat? Tapi apakah orang jahat selalu mudah dipercaya? Apakah juga adalah hal yang benar kalau aku pergi tanpa menyisakan pamit […]