Di Sebelah Sana


Aku duduk di bangku paling depan. Bukan karena aku rajin atau karena ingin, tapi karena yang di papan tulis akan lebih jelas bila aku duduk di sana. Kalau dia… dia duduk di paling belakang. Kadang di depan sih, kalau lagi dihukum sama guru yang sedang mengajar. Malah, waktu itu dia pernah disuruh duduk di meja guru, karena ketika ujian berlangsung, dia ketahuan bawa contekan. Tetapi, dia kayaknya gak pernah kapok. Tiap ada anak di kelas yang meneriakinya, “Yeu! Dihukum mulu lo! Gak bosen?”

Dari bangku tempat aku duduk, aku bisa mendengarnya menjawab, “Yah elah gitu doang. Gak takut!”

Dia mungkin gak bosen dihukum, tapi yang menghukum udah bosen sama dia. Makanya, udah gak pernah ada yang khawatir kalau dia berbuat aneh-aneh, karena biang keroknya pun biasa saja menanggapinya.

Ini tahun keduaku sekelas sama dia. Kami belum pernah mengobrol selayaknya seorang teman. Tapi, ia pernah pinjam pensil 2B-ku untuk ujian akhir semester tahun lalu. Tidak. Ia tidak memanggil namaku, ia cuma… “Eh, pinjem pensil dong!”

Entah kenapa aku senang, meski buatnya namaku Eh, bukan Nasha.

Sejak saat itu hingga hari ini, ia belum lagi memanggilku. Ia juga sudah punya pensil sendiri, jadi tidak ada alasan untuk punya urusan denganku. Bahkan, aku telanjur beli pensil baru, siapa tahu dia pinjam lagi. Ah, aku memang terlalu memanjakan imajinasiku sendiri. Dia tahu namaku saja tidak. Dia cuma melewati mejaku karena mau tidak mau ya harus lewat situ. Anehnya, begitu saja aku sudah senang. Dengan melihat bayangan seragamnya yang berjalan melalui sudut meja, dengan mendengar suaranya yang berat tetapi suka melucu itu. Aku tidak pernah melihat wajahnya dari dekat. Paling-paling kalau lagi di kantin, ketika aku melihatnya sedang duduk dengan teman-temannya yang banyak itu.

Iya. Temannya banyak. Banyak sekali. Suatu hari, ia pernah tidak masuk sekolah. Tidak hanya dia, anak-anak di kelas yang kutahu memang berteman dengannya, juga ikut tidak masuk sekolah. Mencurigakan. Meski bukan kewajibanku memikirkannya, tapi tetap saja, ke mana dia? Main? Sakit? Lupa? Entah kenapa manusia suka terlalu peduli terhadap hal-hal yang bahkan tidak mengenalnya sama sekali.

Bel tanda berakhirnya kegiatan belajar-mengajar pun berbunyi. Pukul tiga sore. Aku membereskan semua buku dan barang bawaanku. Aku kemudian segera turun, dan menunggu di depan lemari piala dekat lapangan. Aku menunggu Tita, temanku yang berbeda kelas tapi sekomplek dengan rumahku, makanya kami sering pulang bareng.

Bukannya bertemu Tita, aku malah melihat manusia itu dengan seragam sekolah seperti tidak ada apa-apa. Aneh. Dia tidak sekolah, tapi pakai seragam. Dia ke mana dan habis dari mana? Tapi seragamnya kotor… Astaga! Pelipisnya robek!!!

“Oi! Ngapain lo, Sha, bengong sampe melotot gitu? Lihat hantu?”

“Mm… mungkin.”

“AH! Gak ada hantu masih sore begini.”

“Ta, kalo ada anak yang gak sekolah tapi ada di sekolah pake seragam, itu dia ngapain?”

“Ohhh, lo lagi ngomongin geng lemak sapi?”

“Haaah???? Geng lemak sapi apaan?”

“Itu yang abis pada berantem sama anak sekolah lain.”

“Emang namanya geng lemak sapi, Ta?”

“Ngga, sih. Namanya Geng Masa. Gue jabarin aja jadi lemak sapi.”

“Parah, lo! Ntar kedengeran bisa dikerjain, lo.”

“Ya makanya kan mereka mah gak tahu. Udah ayok nyari angkot.”

Pelipisnya robek, berdarah, dia habis berantem. Kenapa dia berantem? Kenapa harus sampai berdarah? Memangnya dia gak jago berantem? Kalau gak jago kenapa harus berantem? Apa dia besok akan masuk sekolah? 

Iya. Dia masuk sekolah keesokan harinya. Pelipisnya diberi plester. Hari itu dia tidak banyak bicara. Aku sebenarnya ingin sekali nanya anak yang lain soal dia, tapi itu terlalu aneh. Apa hubungannya sama aku sampai aku ingin tahu dia kenapa? Kenapa aku ingin sekali dekat dengan sesuatu yang sangat jauh?

Wali kelasku tiba-tiba masuk, memanggilnya. 

Aku tahu. Dia pasti ketahuan.

“Orang tuanya dipanggil karena kemarin dia ketahuan berantem. Kasihan. Padahal, katanya, orang tuanya lagi proses mau cerai.” bisik temanku yang duduk di belakangku.

Hhhh!!!

Kok bisa pada tahu dia kenapa? Kenapa aku gak tahu? Ah! Gimana sih caranya menyembuhkan rasa khawatir, kalau spasi yang memisahkan luka dan sebuah nama aja jauh sekali jaraknya? Gimana bisa aku tanya keadaannya kalau dia aja gak tahu aku? Gimana bisa aku menaruh peduli pada seseorang yang bahkan tidak tahu namaku?

“Selamat pagi,” ucap guru sejarah yang mengisi jam pertama, kemudian beliau melanjutkan, “Buat kelompok beranggota tiga sampai empat orang.”

Aku benci kerja kelompok. Pertama, aku selalu jadi kelompok sisaan, karena gak pernah ada yang nawarin untuk gabung kelompok yang lain. Jadi, selalu nunggu dipilihin sama guru.

“Nasha, gabung di kelompok tujuh, ya,”

Tuh, kan. Bener.

Ya udah. Aku membawa alat tulisku untuk pindah ke belakang. Anehnya cuma ada dua orang di sana, berarti kami cuma akan bertiga.

“Kita bertiga aja, ya?” tanyaku berusaha mencairkan suasana.

“Nggak, Sha, sama Hasyim juga.” jawab Rere.

Nama itu. Sial. Aku pikir aku tidak akan menulisnya, karena sejujurnya aku tidak ingin ada namanya di dalam tulisan ini. Argh!!! Kenapa Rere harus menyebutnya! Kenapa kalian jadi harus mengetahui nama laki-laki yang cuma bisa kukenal dari suaranya di bangku paling belakang? Kenapa aku harus satu kelompok sama dia? 

Tidak, tidak. Aku harus tenang. Aku sudah lama satu kelas dengannya, bergabung dalam pekerjaan kelompok dengannya harusnya bukan masalah besar. 

Setelah beberapa menit, ia kembali. Aku tidak memerhatikan wajahnya dengan jelas, yang aku tahu adalah dia… mendekat. Dia… duduk… di sebelahku.

Aldi menyahut pelan, “Gimana, Syim?”

Dan aku mendengar suaranya begitu dekat, sangat dekat, terlalu dekat, “Selowww…”

Tiba-tiba aku tidak tahu harus apa, entah mengapa aku merasa harus melakukan sesuatu tapi mulutku kaku. 

“Tugasnya ngapain nih?” ucapnya meneruskan. Aku masih tidak bersuara, memainkan tanganku sendiri.

Rere menjawab, “Buat essay tentang salah satu pahlawan nasional.”

“Kita pilih pahlawan nasional siapa?” tanyanya lagi. Ternyata ia suka bertanya.

“Gak tau, pokoknya gak boleh pilih yang ada di buku paket.”

“Hmm… siapa, ya?”

Aku masih diam. Kemudian….

Kalian tahu gak kalau ada seseorang yang melihat ke arahmu? Atau melirikmu? Atau memandangmu? Ya. Itu. Dia sedang memiringkan tubuhnya ke arahku dengan kemudian bertanya, “Lo ada ide gak?”

Aku harus menjawabnya.

“Mmm… Tan Malaka aja…?” 

Aku masih tidak melihatnya. Jantungku berguncang. Aku agak kesulitan bernafas. Apakah ini berlebihan? Apakah manusia memang bisa memiliki perasaan menggelikan seperti ini?

Ia menjawabku berseru, “Wah! Keren, tuh! Pasti seru kalo kita bahas. Hebat juga, lo.”

Aku hanya mengangguk tersenyum sambil mencatat kesimpulan baru di kepalaku bahwa kini, di matanya, namaku adalah Lo. 

Semua pun setuju dan kami mulai mengerjakan essay dengan mengerjakan bagian masing-masing. Aku mencari bahan materi, sedangkan dia… dia maunya gambar Tan Malaka.

“Makasih ya idenya! Kita jadi punya materi yang menarik, nih.”

Ucapnya tiba-tiba dan kujawab dengan, “Iya.”

Aku cuma jawab iya, karena aku merasa tidak ada lagi opsi jawaban selain itu.

“Gue jarang lihat lo, deh, duduk di depan, ya?” 

“Iya, di depan.”

“Oh!! Gue pernah pinjem pensil kan waktu itu?”

Astaga. Dia tidak tahu namaku, tapi dia mengingatku. Aku pun mengiakan, “Iya.”

“Makasih ya, kalo gak ada pensil lo gak ikut ujian gue!”

“Iya sama-sama.”

Aku sebenarnya ingin sekali tersenyum lebar seperti dapat kabar kalau jadi ranking satu, tapi aku takut merasa terlalu senang akan sesuatu yang biasa saja.

“Makanya jangan duduk di depan, gak akan punya temen,” katanya meneruskan.

“Kalau di depan bisa lihat papan tulis,”

“Kalau di belakang bisa lihat gue,”

“Hah…?”

Dia tertawa, “Hahahaha, bercanda. Lo ini serius banget, ya?”

“Mungkin…”

“Sorry ya gue cuma bisa bantu gambar, gue gak suka baca, soalnya.”

Aku melihat Rere dan Aldi sibuk searching di internet, aku ingin sekali menyelamatkan diri dari keadaan ini, tapi kenapa ia terus mengajakku bicara?

“Gak apa-apa, yang bisa gambar di antara kita juga cuma kamu.”

“Emang lo bisanya apa?”

“Mmm… baca?”

“Selain itu, dong! Masa gak ada yang lain?”

“Aku bisa pinjem buku di perpustakaan lebih dari waktu pinjemnya.”

“Hah kok bisa???”

“Soalnya penjaga perpustakaannya lagi istirahat makan siang. Kosong.”

Dia tertawa lagi. “Kamu nyuri dong??”

“Kamu?”

Dia menyelesaikan tertawanya kemudian bertanya, “Hah?”

“Itu tadi kamu bilang kamu… Harusnya kan lo…?”

“Oh iya. Maaf jadi kebawa.”

Aku menahan senyum dan melanjutkan pekerjaanku. Aku cuma berusaha menebak seperti apa bentuk perasaanku saat ini, seperti apa istilah yang tepat untuk menamakannya? Apakah ini cinta? Meski percakapan itu tidak juga membuatnya mengucapkan namaku?

***

“Absen dua puluh empat. Nasha Alina?”

Guru Bahasa Indonesia barusan memanggil namaku. Hari ini tiap murid membacakan tugas puisi tempo hari. Sebentar ya.

“Selamat siang. Aku Nasha Alina dan aku akan membaca puisi yang sudah kubuat. Puisi ini kuberi judul Di Sebelah Sana.

Aku jatuh cinta.

Aku jatuh cinta pada seseorang yang kukenali suaranya, tapi tidak bisa kuajak bicara.

Aku jatuh cinta pada seseorang yang berjalan melewatiku, tapi tidak pernah melihatku.

Aku jatuh cinta pada seseorang yang pernah memanggilku, tapi tidak tahu namaku. 

Aku jatuh cinta pada seseorang yang hanya bisa kuraih dalam bentuk doa yang rahasia, tulisan tidak terbaca juga karangan tak beraksara. 

Aku jatuh cinta pada seseorang yang akan selesai dalam puisi ini, karena ia memang tidak pernah berlama-lama. Ia hanya melintas, sedangkan aku tetap ada di sebelah sana tanpanya.”

Aku menutup kertas puisi itu, mendengar suara tepuk tangan, termasuk dari dia. Aku kembali duduk di kursiku, kembali ke alam nyataku, dan menghentikan semua khayalan itu. Sebab ia tetaplah seseorang itu. Ia tetap tidak tahu namaku. Dan percakapan kala tugas sejarah itu tidak pernah terjadi. Lagi-lagi, aku hanya memanjakan imajinasiku. Karena hanya itu bisaku.


291 responses to “Di Sebelah Sana”

  1. Padahal aku udh berharap itu beneran loh, ternyata imajinasi aja. Selalu ya paus bikin greget yg baca. Thank you, haluanku jadi makin jadi nih haha..

    Like

  2. Kenapa jatuh cinta sendirian kadang sesulit itu ya ? Bahkan sekedar menahan diri untuk tidak perduli rasanya sesesak itu:)

    Like

  3. Baru aja tarik nafas mau tersenyum karena si Hasyim akhirnya ngajak ngobrol, eh di akhirnya malah kena jebakan imajinasinya. Emang ya paus makin kesini makin kesana:))

    Like

  4. Us kamu tau aku bacanya sambil nendang2 kasur saking gemesnya, di usia 20++ ini ternyata aku masih bisa dibikin gemes sama cerita yang berlatar anak sekolah ini. Aaa gemes us semua bagian kamu tulis secara detail bikin aku ada ngerasain posisi nasha love you us

    Like

  5. “Lagi-lagi, aku hanya memanjakan imajinasiku. Karena hanya itu bisaku.”
    Karena dengan berimajinasi itu sudah membuatku bahagia walaupun tidak bisa di genggam 😅

    Like

  6. teri jantan yg namanya arik subandiyah komennnya menyayangi paus, wah wah

    Like

  7. Jadi, disebelah sana tu beneran cerpen atau memang kenyataan yg sedang berjalan?

    Like

  8. Yaa ampunnn,, ngerasa banget ada di posisi Nasha..
    Astgaaaaaa
    😅😅😅😅😅

    Like

  9. Memang sulit kalo terus terusan berada dalam imajinasi, tapi ga salah juga si yaa gmna ya .adduhhh dah lah

    Like

  10. Gak tahu kenapa, kalau si tisna udah berimajina kelar hidup teri …
    Karena imajinasi yang dibuat sama tisna, pasti bisa ngajak semua teri ikut masuk kesana.
    Makasih banyak yaa tisna …
    Makasih sudah ada di bumi …
    Aku menyayangimu

    Like

  11. Apapun kisahnya tetep nyetuh hati yah kek ka US tuh bisa ngerasain apa yang kita rasain pdhl kita ga cerita cerita makasih ka us

    Like

  12. Hwaaaa pauss bikinnn lagi dongg, perasaan nya sama banget kaya aku waktu sekolaaa😭

    Like

  13. aduhhh ak mleyot bgt ‘klau di belakang bisa lihat gue’ KYK😭😭😭😭😭😭🤍 luv u us

    Like

  14. Berharap lebih sma ending tulisan paus tuhh sma halnya klo terlalu banyak berharap sma manusia (nyelekit)

    Like

  15. Ceritanya ringan, kayak bacaanku dulu saat SMP, jadi kangen sekolah us hehehe

    Like

  16. Disenangkan oleh imajinasi sendiri, dan dikecewakan oleh realita 🙂

    Like

  17. Disenangkan oleh imajinasi sendiri, dan dikecewakan oleh realaita 🙂

    Like

  18. Sumpah cerita2 kaya gini juga yg selalu ada dlm imajinasiku, dan kamu merealisasikannya. Ahh jdi termotivasi buat nuliss

    Like

  19. USSSSS KNP SO RILEEEETTTT AAKKKKK T.T
    Aku juga mengakhiri imajinasiku sendiri di ending sebuah puisi, tp sebenernya dia blm jg bener2 pergi us:” Dia tau namaku, tapi kita hanya bertemu di beberapa tugas kelompok, dan itu entah berapa tahun lalu. Ngomongin move on-nya si udh, realisasinya yang blm bisa2, helpppp us T.T
    Wkwkwk napa jd curcol ya, gpp deh, intinya aku sangattt sukakk, lop pausssss!

    Like

  20. Sending virtual hug buat paus!! Lope u sekebon 🫶🏻
    Ayo di lanjut plis 🥲😍

    Like

  21. Keren banget! Menurut aku nasha ini berani bgt untuk ngungkapin perasaan suka nya ke laki2 secara gak langsung. Ayok aku tunggu part 2 nya😭😭

    Like

  22. Ending yang selalu mengejutkan, but I really like thisss!!! Semangat terus nulisnya ya pausss , love u sekebon sengg💜🤍

    Like

  23. selalu kagum dengan apa yg di tuliskan paus, aku termasuk teri pasif karna mungkin jarang banget ikut komentar, share atau apapun. tapi dalam diam aku selalu kagum sm paus, kak tsana terimakasih karna telah menghadirkan karya karya yg indah🤗

    Like

  24. kenapa aku sangat ingin sekali dekat dengan sesuatu yang sangat jauh?

    Like

  25. Aku bertemu Hasyim di kehidupanku, bedanya dia suka menetap dan bisa membaca keadaan, ya hanya itu. Sisanya, ya kita sama Nasha Alina.

    Like

  26. Berharap jadi buku wkkwkwk jatuh cinta karena ketidak sengajaan dan hanya rencana takdir wkwkk

    Like

  27. Baperrr, walaupun gaa seromantis yang layaknya pasangan cumaa diajak ngobrol, sukanya apaa itu aja udah cukupp huhu

    Like

  28. aaaaa kenapa sih??? semuanya hanya imajinasinya si Lo…eh… Nasha maksudnya :(((

    Like

  29. sumpaahhhh paussssssss aaaa kamu selaluuuu saja pinter banget bikin anu😍😭😭😭lopyu pulll us

    Like

  30. Us tahu ga sih nama tokoh utama nya sama kek namaku, dan cerita nya pun hampir sama😭 i can feel it’s me, dan setiap aku jatuh cinta i always describe him through a poem, at the end pun sama jalan ceritanya denganku ketika aku SMA dulu, aku baca sambil flashback at that time, puisinya pun masih ada dan jadi gamon gara” kamu us..

    Like

  31. Entah sajaj apa lagi yang bisa menjelaskan bahwa aku jatuh cinta sama kamu, lalu kamu membiarkan aku jatuh bangkit sendiri dan cinta yang gak tau mau lewat mana lagi aku kirim. Ahhh paussss

    Like

  32. Nasha adlah aku yg selalu buat imajanisanya sendiri, meski ga nyata tp aku suka karena dengan itu udah bikin aku senang. Apalagi nyata?

    Like

  33. aaaaaaaaaaa nangis serius 😦 kek kisahku hanya beda tempat klau ini sekolah klau aku gereja. sma2 melayani tpi kita ga prnh tegur sapah. prnh sekali dia jabat tgn aku buat ucapin slamat hari minggu semenjak itu tidak ada lgi percakapan lain. dia pindah kota buat kuliah n aku pun jga kuliah di lain kota dri 2018 smpe skrng 2022 blum prnh brtemu :(. memnag betul mengagumi lbh baik dri pda tau perasaan nya yg sesungguh nya kek kita, btw smpe skrng masi suka berimajinasi klau suatu saat ktmu dia bkal kek mana mulai percakapan walau itu ga akan prnh terwujud jga si 😦

    Like

  34. Bener bener nih orang, udh bgus alurnyaa bahagia tiba tiba itu hanya rangkaian imajinasi. Love u US gpp kok

    Like

  35. Anjai slebewww us kamu ini kok bisaa siiiiiii❤️🙏🏻😗, bagus banget woiii

    Like

  36. HAAAAAAAAAAAAHHHHHHH… KALO GINI SAMA KAYAK KISAHKU DONG US, BELUM DIMULAI UDAH SELESAI😭😭😭

    Like

  37. Usss. Sering sering yaaaa up
    Thank u us💜💚
    Sudah mewakili cara menyukai seseorang yang belum tentu sadar kehadiran kita
    😔😌

    Like

  38. kaya akuu, suka memanjakan imajinasiku sendiri, karena aku tau realitanya pasti ngga bakal pernah terjadi sama yang aku harapkan.

    Like

  39. gemazZZzz skalii km maniez skali nasha jatuh cintanya tapi knp tidak mengajak kenalan

    Like

  40. tidak ada yang sedih… tapi aku baca cerpen ini pas lagi hancur, dan aku terhibur. sayang sekali sama kamu, tsan.

    Like

  41. Gatau mau komen apa. Speechless baca ceritanya kek kek kek manaaaa gt huhu ayo paus bikin lagi yaaa

    Like

  42. Kok endingnyaa sangat sangat membuatku gemas yaaa:) cinta dalam diam + do’a

    Like

  43. Yang related angkat tangan 🖐️
    Makasih sudah disuarakan, paus 🙏

    Like

  44. Sesederhana apapun, kalau yang bikin paus, endingnya selalu bikin bilang “lanjut dong us, bikin lagi”. “buat lagi yang banyak us”. semangat paus sayang, sehat selalu pausnya teri.

    Like

  45. wah gatau mo ngomong apa deh us😔 ga bisa berword word liat ending yg km buat😭😭

    Like

  46. PAUS IH 😭 ini bagus bagus bagus banget aku padahal udah yakin pas setelah tugas sejarah itu mereka bakal jadi lanjut ngobrol, apalagi dia harusnya udh notice si nasha, tapi ternyata kamu buat mereka tetep sama. sama sama buat ga saling kenal 😭 no, buat hisyam tetep ga kenal nasya lebih tepatnya 😭 paus ini well writen banget, dapet dan kerasa banget perasaan nasha disini huhu thankyou cerpen nya us <333

    Like

  47. Hahaaaaaa aku sih pada waktu itu, dan emang ga berlanjut juga ga tau lagi dia gimana kemana dan dimana sekarang wkwk, persaannya pernah ada lucu aja ternyata

    Like

  48. Tsan, tengyuu sooo much karya kamu bener-bener relate dengan apa yg aku rasain sekarang, keren!!! 🥹🫶🏻

    Like

  49. Masaa ginii doang siiiihhh uussss gue pgn liat dia sampe nikaahh laahhh

    Like

  50. Lagi-lagi hanya imajinasi, but thank you paus sudah mewakili caraku mencintainya

    Like

  51. Lagi-lagi itu hanya imajinasi, but thank you paus sudah mewakili caraku mencintainya

    Like

  52. pauussss:’) cenahang ya? ininah kehidupan gue waktu kelas 2 smp duluuu😩 pesis bgt gaboong

    Like

  53. udh jrg baca cerpen, sekalinya baca cerpen. sungguh dibuat campur aduk sama paus hiks

    Like

  54. Cinta tanpa disadari gaa si us.
    Ceritanya hampir sama dengan saudari kembar ku us wkwk. Kembaran ku juga sampai buat puisi buat tmn skls yg jdi crush nya itu haha
    Btw puisinya bagus bgttt us pas smaa cerita pendek nyaaa. Harus ada next cerita pendek baru siii.

    Like

  55. Duh gue bingung mau ngomong apa. Soalnya “caraku jatuh cinta” sudah dijelaskan lewat puisi. Terimakasih sudah mewakili, Paus.

    Like

  56. Aku juga berimajinasi berlebihan dengan endingnya usss
    Padahal aku udah senyum-senyum sendiri bacanya agak related gimana gitu sama masa masa SMA ku dulu hahaha

    Like

  57. Paus pasti dehh ending nya gitu 😭😭💔 sudah ikut masuk ke dunia Nasha lah kok cuma imajinasi nya

    Like

  58. jujurly ka,ini cerpen nya bagus bgtt.persis nge gambarin diri aku yg dulu suka sama seseorang tpi dia gatau namaku…
    Buat cerita ini 9/10 the best kaaa suka bgt sama cerpen nya and cerpen nya juga menarik,lain kali buat cerpen lagi ya ka mwheheh 💟💟💟

    Like

  59. LUCUUU, beneran relate bgt sama kisah aku pas SMP😭😭😭. Aku jd ikut senyum2 pas baca aaaargh gemech, jd kangen masa itu🥺

    Like

  60. PAUSSS tanggung jawab akuu baperrr 😭😭
    Kenapaa bisaaa cerpen inii bisaa buat akuu ngakak, sedihh, sekaligus haruuu 😭😭🥺❤️

    Like

  61. “Kenapa aku ingin sekali dekat dengan sesuatu yang sangat jauh?” . Lagi relate bgt sm bagian ini:)

    Like

  62. paussssss,hampir sma dgn kehidupan ku bedanya dia udh tau nama aku😭😭😭😭

    Like

  63. The best parah cerita nya seolah olah si pembaca yg ada di dalam cerita itu😭😭😭😭😭😭😭💙💙💙💙

    Like

  64. Gini, nih, yang kalo dikelas suka ketiduran atau emang sengaja tidur?

    Yeeeeee… malah menghayal! Ngimpi looo, woy! Bangun!

    #rintiksedumagis

    Like

  65. selalu gini ya! ringan dan bikin hanyut, juga gemesh!!!! semangat yaa tsana! aku jg sedih beberapa kali ditinggal oleh kucing peliharaanku, tp aku selalu tidak berlarut padanya. Fighting!!🤍🤍

    Like

  66. Bisa bisanya kamu ya aku yah seneng dia bisa ngobrol ehhh endingnya ga banget.
    Bisanya cuma matahin ekpektasi orang yaa kamu paus huh

    Like

  67. Dan ku tunggu lanjutan cerita nya , berbakat sekali kamu, saya jadi terhanyut

    Like

  68. Aku jatuh cinta pada seseorang yang mengetahui ku, namun tak mengetahui rasa ku

    Like

  69. ya gitu ya, ternyata gasemua hal harus kita kenal sampai dekat, sampai terlalu dekat.
    bisa bahaya, lebih membahayakan.
    jadi cukup sekedar lewat aja, karna gabisa nuntut apa apa juga, sekedar bicara lebih jauh pun gabisa.

    Like

  70. “Lagi-lagi, aku hanya memanjakan imajinasiku. Karena hanya itu bisa ku.”
    Aku yakin banyak sekali yang relate dengan kata-kata ini:’)

    Like

  71. USSS KERENN. aku suka kata kata yang ‘aku hanya memanjakan imajinasiku’ related sama aku 👍🏻😭

    Like

  72. Us ini ga relate sama kisahku, tapi masa aku senyum-senyum sendiri 🙂

    Like

  73. Cerita yang sangat menarik, penulis rintik sedu tidak pernah gagal membawa pembacanya masuk ke dalam ruang cerita yang di buat

    Semoga kak tsana selaku penulis dari cerita ini sehat selalu dan karyanya semakin banyak peminatnya 😍

    Like

  74. Aaaa pauuss kerenn bangettt, aku bacanya sambil salto-salto sendirian😭🤣🤣wkwk kayak pernah ngerasain gini juga waktu masih di bangku sekolah😭😭

    Like

  75. Aaa gemes banget ini, sering sering ya us bikin cerpen kayak gini. Nanti di jadiin satu buku pasti bakal bagus deh huhu.

    Like

  76. Tolonglah us jangan suka ngatain terimu!! Ini relate bat woii!
    Kalo gw ngerasa dia suka balik takutnya gw lagi ke GR an doang us

    Like

  77. Ahhh cerpennya terekam jelas di kepala aku..
    Lagi² kamu mempermainkan imajinasi kita..keren banget💙💙💙💙💙💙💙💙

    Like

  78. WHAT THE- THE ENDING THO! PAUSSSSSSS! WHY U ALWAYS THE ENDING WAS SO PLOT TWIST! 😭😭😭

    Like

  79. Bagus bangettttttyy. Aaaaa suka. Ini kayak jatuh cinta sendirian. Aku banget huhu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: