Batas


Sebenarnya, aku sudah terlalu lelah untuk menceritakan hal-hal yang sudah-sudah. Tapi kadang, manusia yang kenal lelah, kenal pula dengan yang namanya istirahat. Lagipula, aku sudah cukup beristirahat, aku sekarang sudah cukup waktu untuk kembali menceritakan kisah yang lalu itu. Apalagi, beberapa hari yang lalu, aku sedikit keceplosan tentang batas. 

Ah, entah bagaimana memulainya. Karena batas yang sekarang ada itu, sebenarnya…. awalnya tidak ada. Ya, awalnya tidak ada. Bukankah itu bagian paling menyedihkan dari batas? Ketika aku baru tau bahwa hal semacam itu beneran ada di bumi, dan aku harus tau itu dari kamu.

Tidak apa-apa. Aku akan tetap membahasnya karena kamu pun belum pernah dengar batas di antara kita yang langsung dari ceritaku. Tapi, kamu sepertinya tidak akan mendengar ini karena sejak dulu kamu lebih senang membaca daripada mendengar. Hubungan kita pun waktu itu berakhir dengan begitu jelas lewat sebuah pesan. Kamu tidak mau memilih berbicara dan mendengar semuanya langsung. Jadi, kalau aku tidak malas, aku akan mengunggah tulisan ini di instagram. Dengar kabar kamu sudah punya social media itu sekarang. Dengar-dengar pula kamu sempat like tulisanku yang judulnya “menanti sapa” itu.

Duh, maaf-maaf. Barusan aku agak melenceng dan berjalan tidak sesuai dengan peta  hari ini. Yah, sama kamu memang selalu begitu, kan? Aku yang tadinya tidak punya tujuan, mendadak jadi selalu ingin ikut kamu ke mana pun. Aku yang awalnya tidak ingin tahu banyak hal, tiba-tiba ingin selalu membacamu. Bukankah begitulah kita?

Tidak ada yang tetap dalam rencana, selama perasaan manusia terus bekerja. Ah, bagian dari diri kita yang tidak kooperatif, gak bisa diajak kerja sama dia. Aku yang mulanya maunya tidak lebih, tapi perasaanku bilang mana bisa cuma jadi teman. Dengan angkuhnya dia terus memakiku dalam hati dengan mengatakan: mana bisa selamanya disimpan, mana bisa selamanya cuma diam-diam?

Tiap kali perasaanku bicara begitu, aku hanya tertawa kecil. Ya mau gimana? Aku tidak bisa langsung mengiakannya meski apa yang ia katakan tidak ada yang salah. Ya. Aku tidak bisa cuma jadi temanmu, terserah orang lain bilang laki-laki dan perempuan bisa berteman tapi kalau pun bisa, aku tidak mau. Sebab perasaan ini lebih. 

Aku juga tidak bisa selamanya menyimpan perasaan ini sendirian, karena bukankah itu tidak adil? Bukankah kamu juga perlu tau ada yang terhubung di antara kita berdua? Aku tidak mau patah hati tanpa kamu tahu apa yang aku rasakan. Memang terdengar jahat, tapi kamu juga harus menanggungnya. 

Ya aku memang menyukai hubungan yang entah apa namanya ini, 

tapi sejujurnya ini sangat melelahkan. Untuk terus mengira-ngira apa yang akan terjadi di ujungnya? Apakah kita akan berpisah sebagai pasangan atau teman?

Entahlah. Lagipula itu sudah berlalu. Harusnya aku tidak perlu sedalam itu hanya untuk menceritakannya kembali. Karena ketika semua usai, perasaan-perasaan itu kini membuatku mengerti bahwa beberapa orang memilih diam, menunggu atau bahkan tampak tak melakukan apa pun, bukan karena mereka tidak memilih kesempatan yang lain. Tapi karena mereka memahami batas. Bahwa kadang, dengan mengagumi kita bisa cukup mengetahui rasanya menyukai. Bahwa dalam doa, kita tahu rasanya memiliki walau tempatnya hanya dalam hati. 


One response to “Batas”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: