Aku benci rumahku. Selain karena isinya yang menyedihkan, tidak ada stasiun terdekat di sana. Mau tidak mau harus naik bus kota. Aku benci bus kota. Karena berdiri atau duduk bayarnya sama saja: lima belas ribu. Jalan tol macet. Jalan biasa juga macet. Tidak pernah ada waktu yang pasti. Kota ini tidak bisa ditebak. Jalanannya, cuacanya, pemimpinnya, dan masalah-masalahnya yang dibuat seolah tidak pernah ada. Yaaa…. tergantung sedang ada berita apa. Ada seorang anak dipenjara karena kasus penganiayaan, bapaknya ternyata punya banyak uang di puluhan rekening yang berbeda; mungkin saja itu uang kita juga. Ada pula salah satu petinggi masuk berita gara-gara jual narkoba. Tidak, aku tidak langganan koran. Aku cukup melirik seorang penumpang yang membuka laman berita di handphone-nya.

Aku benci handphone, tetapi aku suka dengan apa yang ada di dalamnya: kepura-puraan. Hmm… Kepura-puraan adalah dunia yang baru. Dunia yang bisa mengubahmu menjadi apa dan siapa saja. Ya. Kita tidak perlu repot-repot pergi ke semesta yang lain (itu pun kalau benar ada), hanya untuk menjadi diri kita yang lain. Kita hanya perlu membuka handphone dan menjadi kebohongan. Ya, kan? Kebohongan itu menyenangkan. Kebohongan adalah kepura-puraan yang sempurna. Aku kadang heran kenapa beberapa orang membenci kebohongan dan orang-orang yang menyukainya. Maksudku, apa yang salah dari kebohongan? Apa yang salah dari hanya menutup mata dari kebenaran? Kalau kamu suka fakta dan segudang kenyataannya, ya sudah, kamu saja. Jangan ajak-ajak segala. Tidak semua orang menyukai hal yang kamu suka. Tidak semua orang menyukai kebenaran. Sebagian dari kita sudah terbiasa dihibur oleh kebohongan. Lucu, ya? Kebahagiaan yang nyata… tercipta dari hal yang tidak ada?
Aku benci handphone, tetapi aku suka internet. Internet juga dunia yang baru. Dunia yang selalu baru. Dunia yang berlari di belakang kita dan menunggu di depan kita. Kita bisa bahagia di sana dalam hitungan detik atau hanya dalam satu kedipan mata. Kita bisa sempurna dengan semua ragam menu di sana. Kita cuma perlu mengecilkan atau membesarkan, menghapus atau menambahkan. Aku suka begitu. Aku suka jadi sempurna di sana, aku bahkan lebih suka dengan diriku yang ada di sana karena itu tidak nyata.
Ya. Internet membuatku sadar bahwa satu-satunya yang aku inginkan adalah menjadi tidak ada.
“Hah, Al? Lo beneran putus???”
Itu teman kantorku. Namanya Siti. Kami tidak terlalu dekat, tapi dia suka sok dekat. Dia sering cerita soal hubungannya dengan salah satu atasan kami. Hubungan yang tidak ada namanya, bahkan mungkin harusnya tidak perlu sampai disebut sebuah hubungan. Siti jatuh cinta pada seorang laki-laki yang (mungkin) mencintai istrinya. Kadang aku bingung, mengapa orang masih saja percaya bahwa mereka bisa mencintai beberapa orang sekaligus? Mengapa Siti juga percaya pada laki-laki itu? Padahal dia hanya laki-laki biasa, entah apa yang ia lihat padanya. Siti senang cerita kepadaku karena aku selalu diam dan tidak pernah menghakiminya. Sama sepertiku, Siti juga menyukai kebohongan. Ia menyukai perasaan-perasaan menang tiap kali membagikan video berisi kado dari kekasihnya itu. Ia menyukai keberadaannya yang diakui, meski akunnya dikunci. Dikasih bunga sama mas sayangku, tulisnya di fitur story kala itu.

Siti bukan perempuan bodoh. Dia pintar, lebih pintar dariku. Dia bahkan sering menawarkan bantuannya untuk mengerjakan bagian pekerjaanku, ya asal aku jangan membocorkan soal rahasianya yang itu. Mmm… memang tidak ada yang gratis di zaman ini. Kalau tidak bisa bayar pake uang, bayar saja pakai dirimu sendiri, kata Siti. Oh, kalau soal itu aku tidak setuju. Aku bukan alat tukar, alat pembayaran, aku adalah aku sekalipun sudah tidak ada lagi yang bisa kuberikan. Siti pasti akan nyambung kalau mengobrol dengan ibuku. Karena ibu tidak selalu bisa memberikan bapak uang, makanya ibu rela memberikan dirinya sendiri untuk dipukuli.
Katanya, selalu ada harga yang harus dibayar bila kita memutuskan untuk menyayangi seseorang. Tapi dua tahun dengan laki-laki baik itu, aku tidak membayar apa pun. Mungkin karena aku sayang dia, tapi tidak terlalu. Bahkan kemarin, ketika kami bertemu untuk terakhir kalinya, ia tetap membayar dua kopi itu meski tidak ia minum sama sekali.
Ngomong-ngomong, itu bukan kali pertama ia memutuskan untuk pergi, maksudku, untuk benar-benar pergi. Kami sebenarnya sudah sering berhadapan dengan percakapan semacam itu. Percakapan-percakapan yang membosankan. Aku tahu sudah lama ia ingin putus, tapi ia masih ragu untuk mengucapkan kata putus, hingga akhirnya terdengar sampai ke telingaku. Beberapa minggu sebelumnya, ia masih berusaha mencari penyelesaian untuk cerita kami (yang sebenarnya sudah selesai sebelum diselesaikan). Tapi tidak pernah menemukan titik terangnya, karena masalahnya selalu sama: ia merasa mengerti aku, padahal tidak, dan sebaliknya.
Saling mengerti tidak sesederhana yang diucapkan orang-orang: “Hubungan itu kuncinya saling ngerti, dan saling percaya. Pasti berhasil kok yang penting saling dewasa aja.”
Tidak. Itu bullshit.
Mengerti adalah kata kerja yang letaknya di luar jangkauan manusia. Buatku manusia tidak bisa benar-benar mencapai level mengerti. Paling-paling hanya mengetahui, mendengarkan atau mempertimbangkan. Mengerti itu kayaknya tugas Tuhan, jadi kita tidak perlu sejauh itu.
“Aku ngerti apa yang kamu rasain, Al, makanya aku di sini,” katanya malam itu. Kalau aku tidak salah sebulan yang lalu.
Aku cuma diam karena aku benci dengan kata itu: mengerti.
Hahaha. Ngerti? Dia tiap lebaran saja bisa foto keluarga bersama, lalu di-upload di mana-mana. Jadi dia ngerti dari segi mananya?
“Al, ngomong dong, kamu gak perlu hadapin semua ini sendiri. Ada aku.” sambungnya lagi, karena aku masih saja diam daritadi.
“Iya-iya. Ada kamu,” jawabku.
Dia lalu memelukku dan menciumku.
Tidak. Jangan salah sangka. Sebuah cium tidak selalu menyelesaikan persoalan, sebaliknya, ia justru membuat kita lari darinya, dan menambah masalah berikutnya.
“Jangan sedih-sedih lagi, ya?” katanya lagi.
Nah, kan. Dia bahkan tidak tahu kalau aku ini tidak sedih. Dia tidak tahu kalau ini namanya bukan kesedihan. Dia itu bukannya ngerti, tapi bego.
Yah, waktu itu, aku masih lumayan sayang dia. Makanya, kumaklumi kebodohannya.
“Kok bisa putus, sih, Al???” tanya Siti lagi.
“Bisa, Ti, hidup.” jawabku.
“Iya itu dia! Lo mau jadi apa kalo gak sama dia? Hidup lo mau kayak gimana, Al?”
Tenang… Aku bukan seseorang yang akan mudah sewot bila mendengar hal-hal semacam itu. Itu biasa saja.
“Gak gimana-gimana, Ti, nih gue masuk kantor? Gak ada bedanya, tuh, hidup gue. Gak kasih apa-apa juga, dia.”
Siti menggelengkan kepalanya. “Lo gak kasihan sama dia? Dia kasih hidupnya buat elo, Al.”
Loh-loh? Kenapa jadi aku yang harus kasihan? Manusia-manusia sok bermoral seperti Siti ini memang suka kebangetan.
“Lo ngomong ama diri lo sendiri, Ti? Ada seorang perempuan, seorang istri, yang anaknya udah dua, yang udah kasih hidupnya buat laki lo. Lo gak kasihan sama dia?”
“Fuck you, Al.”
… bersambung
Leave a comment