Aku duduk di bangku paling depan. Bukan karena aku rajin atau karena ingin, tapi karena yang di papan tulis akan lebih jelas bila aku duduk di sana. Kalau dia… dia duduk di paling belakang. Kadang di depan sih, kalau lagi dihukum sama guru yang sedang mengajar. Malah, waktu itu dia pernah disuruh duduk di meja guru, karena ketika ujian berlangsung, dia ketahuan bawa contekan. Tetapi, dia kayaknya gak pernah kapok. Tiap ada anak di kelas yang meneriakinya, “Yeu! Dihukum mulu lo! Gak bosen?”
Dari bangku tempat aku duduk, aku bisa mendengarnya menjawab, “Yah elah gitu doang. Gak takut!”
Dia mungkin gak bosen dihukum, tapi yang menghukum udah bosen sama dia. Makanya, udah gak pernah ada yang khawatir kalau dia berbuat aneh-aneh, karena biang keroknya pun biasa saja menanggapinya.
Ini tahun keduaku sekelas sama dia. Kami belum pernah mengobrol selayaknya seorang teman. Tapi, ia pernah pinjam pensil 2B-ku untuk ujian akhir semester tahun lalu. Tidak. Ia tidak memanggil namaku, ia cuma… “Eh, pinjem pensil dong!”
Entah kenapa aku senang, meski buatnya namaku Eh, bukan Nasha.
Sejak saat itu hingga hari ini, ia belum lagi memanggilku. Ia juga sudah punya pensil sendiri, jadi tidak ada alasan untuk punya urusan denganku. Bahkan, aku telanjur beli pensil baru, siapa tahu dia pinjam lagi. Ah, aku memang terlalu memanjakan imajinasiku sendiri. Dia tahu namaku saja tidak. Dia cuma melewati mejaku karena mau tidak mau ya harus lewat situ. Anehnya, begitu saja aku sudah senang. Dengan melihat bayangan seragamnya yang berjalan melalui sudut meja, dengan mendengar suaranya yang berat tetapi suka melucu itu. Aku tidak pernah melihat wajahnya dari dekat. Paling-paling kalau lagi di kantin, ketika aku melihatnya sedang duduk dengan teman-temannya yang banyak itu.
Iya. Temannya banyak. Banyak sekali. Suatu hari, ia pernah tidak masuk sekolah. Tidak hanya dia, anak-anak di kelas yang kutahu memang berteman dengannya, juga ikut tidak masuk sekolah. Mencurigakan. Meski bukan kewajibanku memikirkannya, tapi tetap saja, ke mana dia? Main? Sakit? Lupa? Entah kenapa manusia suka terlalu peduli terhadap hal-hal yang bahkan tidak mengenalnya sama sekali.
Bel tanda berakhirnya kegiatan belajar-mengajar pun berbunyi. Pukul tiga sore. Aku membereskan semua buku dan barang bawaanku. Aku kemudian segera turun, dan menunggu di depan lemari piala dekat lapangan. Aku menunggu Tita, temanku yang berbeda kelas tapi sekomplek dengan rumahku, makanya kami sering pulang bareng.
Bukannya bertemu Tita, aku malah melihat manusia itu dengan seragam sekolah seperti tidak ada apa-apa. Aneh. Dia tidak sekolah, tapi pakai seragam. Dia ke mana dan habis dari mana? Tapi seragamnya kotor… Astaga! Pelipisnya robek!!!
“Oi! Ngapain lo, Sha, bengong sampe melotot gitu? Lihat hantu?”
“Mm… mungkin.”
“AH! Gak ada hantu masih sore begini.”
“Ta, kalo ada anak yang gak sekolah tapi ada di sekolah pake seragam, itu dia ngapain?”
“Ohhh, lo lagi ngomongin geng lemak sapi?”
“Haaah???? Geng lemak sapi apaan?”
“Itu yang abis pada berantem sama anak sekolah lain.”
“Emang namanya geng lemak sapi, Ta?”
“Ngga, sih. Namanya Geng Masa. Gue jabarin aja jadi lemak sapi.”
“Parah, lo! Ntar kedengeran bisa dikerjain, lo.”
“Ya makanya kan mereka mah gak tahu. Udah ayok nyari angkot.”
Pelipisnya robek, berdarah, dia habis berantem. Kenapa dia berantem? Kenapa harus sampai berdarah? Memangnya dia gak jago berantem? Kalau gak jago kenapa harus berantem? Apa dia besok akan masuk sekolah?
Iya. Dia masuk sekolah keesokan harinya. Pelipisnya diberi plester. Hari itu dia tidak banyak bicara. Aku sebenarnya ingin sekali nanya anak yang lain soal dia, tapi itu terlalu aneh. Apa hubungannya sama aku sampai aku ingin tahu dia kenapa? Kenapa aku ingin sekali dekat dengan sesuatu yang sangat jauh?
Wali kelasku tiba-tiba masuk, memanggilnya.
Aku tahu. Dia pasti ketahuan.
“Orang tuanya dipanggil karena kemarin dia ketahuan berantem. Kasihan. Padahal, katanya, orang tuanya lagi proses mau cerai.” bisik temanku yang duduk di belakangku.
Hhhh!!!
Kok bisa pada tahu dia kenapa? Kenapa aku gak tahu? Ah! Gimana sih caranya menyembuhkan rasa khawatir, kalau spasi yang memisahkan luka dan sebuah nama aja jauh sekali jaraknya? Gimana bisa aku tanya keadaannya kalau dia aja gak tahu aku? Gimana bisa aku menaruh peduli pada seseorang yang bahkan tidak tahu namaku?
“Selamat pagi,” ucap guru sejarah yang mengisi jam pertama, kemudian beliau melanjutkan, “Buat kelompok beranggota tiga sampai empat orang.”
Aku benci kerja kelompok. Pertama, aku selalu jadi kelompok sisaan, karena gak pernah ada yang nawarin untuk gabung kelompok yang lain. Jadi, selalu nunggu dipilihin sama guru.
“Nasha, gabung di kelompok tujuh, ya,”
Tuh, kan. Bener.
Ya udah. Aku membawa alat tulisku untuk pindah ke belakang. Anehnya cuma ada dua orang di sana, berarti kami cuma akan bertiga.
“Kita bertiga aja, ya?” tanyaku berusaha mencairkan suasana.
“Nggak, Sha, sama Hasyim juga.” jawab Rere.
Nama itu. Sial. Aku pikir aku tidak akan menulisnya, karena sejujurnya aku tidak ingin ada namanya di dalam tulisan ini. Argh!!! Kenapa Rere harus menyebutnya! Kenapa kalian jadi harus mengetahui nama laki-laki yang cuma bisa kukenal dari suaranya di bangku paling belakang? Kenapa aku harus satu kelompok sama dia?
Tidak, tidak. Aku harus tenang. Aku sudah lama satu kelas dengannya, bergabung dalam pekerjaan kelompok dengannya harusnya bukan masalah besar.
Setelah beberapa menit, ia kembali. Aku tidak memerhatikan wajahnya dengan jelas, yang aku tahu adalah dia… mendekat. Dia… duduk… di sebelahku.
Aldi menyahut pelan, “Gimana, Syim?”
Dan aku mendengar suaranya begitu dekat, sangat dekat, terlalu dekat, “Selowww…”
Tiba-tiba aku tidak tahu harus apa, entah mengapa aku merasa harus melakukan sesuatu tapi mulutku kaku.
“Tugasnya ngapain nih?” ucapnya meneruskan. Aku masih tidak bersuara, memainkan tanganku sendiri.
Rere menjawab, “Buat essay tentang salah satu pahlawan nasional.”
“Kita pilih pahlawan nasional siapa?” tanyanya lagi. Ternyata ia suka bertanya.
“Gak tau, pokoknya gak boleh pilih yang ada di buku paket.”
“Hmm… siapa, ya?”
Aku masih diam. Kemudian….
Kalian tahu gak kalau ada seseorang yang melihat ke arahmu? Atau melirikmu? Atau memandangmu? Ya. Itu. Dia sedang memiringkan tubuhnya ke arahku dengan kemudian bertanya, “Lo ada ide gak?”
Aku harus menjawabnya.
“Mmm… Tan Malaka aja…?”
Aku masih tidak melihatnya. Jantungku berguncang. Aku agak kesulitan bernafas. Apakah ini berlebihan? Apakah manusia memang bisa memiliki perasaan menggelikan seperti ini?
Ia menjawabku berseru, “Wah! Keren, tuh! Pasti seru kalo kita bahas. Hebat juga, lo.”
Aku hanya mengangguk tersenyum sambil mencatat kesimpulan baru di kepalaku bahwa kini, di matanya, namaku adalah Lo.
Semua pun setuju dan kami mulai mengerjakan essay dengan mengerjakan bagian masing-masing. Aku mencari bahan materi, sedangkan dia… dia maunya gambar Tan Malaka.
“Makasih ya idenya! Kita jadi punya materi yang menarik, nih.”
Ucapnya tiba-tiba dan kujawab dengan, “Iya.”
Aku cuma jawab iya, karena aku merasa tidak ada lagi opsi jawaban selain itu.
“Gue jarang lihat lo, deh, duduk di depan, ya?”
“Iya, di depan.”
“Oh!! Gue pernah pinjem pensil kan waktu itu?”
Astaga. Dia tidak tahu namaku, tapi dia mengingatku. Aku pun mengiakan, “Iya.”
“Makasih ya, kalo gak ada pensil lo gak ikut ujian gue!”
“Iya sama-sama.”
Aku sebenarnya ingin sekali tersenyum lebar seperti dapat kabar kalau jadi ranking satu, tapi aku takut merasa terlalu senang akan sesuatu yang biasa saja.
“Makanya jangan duduk di depan, gak akan punya temen,” katanya meneruskan.
“Kalau di depan bisa lihat papan tulis,”
“Kalau di belakang bisa lihat gue,”
“Hah…?”
Dia tertawa, “Hahahaha, bercanda. Lo ini serius banget, ya?”
“Mungkin…”
“Sorry ya gue cuma bisa bantu gambar, gue gak suka baca, soalnya.”
Aku melihat Rere dan Aldi sibuk searching di internet, aku ingin sekali menyelamatkan diri dari keadaan ini, tapi kenapa ia terus mengajakku bicara?
“Gak apa-apa, yang bisa gambar di antara kita juga cuma kamu.”
“Emang lo bisanya apa?”
“Mmm… baca?”
“Selain itu, dong! Masa gak ada yang lain?”
“Aku bisa pinjem buku di perpustakaan lebih dari waktu pinjemnya.”
“Hah kok bisa???”
“Soalnya penjaga perpustakaannya lagi istirahat makan siang. Kosong.”
Dia tertawa lagi. “Kamu nyuri dong??”
“Kamu?”
Dia menyelesaikan tertawanya kemudian bertanya, “Hah?”
“Itu tadi kamu bilang kamu… Harusnya kan lo…?”
“Oh iya. Maaf jadi kebawa.”
Aku menahan senyum dan melanjutkan pekerjaanku. Aku cuma berusaha menebak seperti apa bentuk perasaanku saat ini, seperti apa istilah yang tepat untuk menamakannya? Apakah ini cinta? Meski percakapan itu tidak juga membuatnya mengucapkan namaku?
***
“Absen dua puluh empat. Nasha Alina?”
Guru Bahasa Indonesia barusan memanggil namaku. Hari ini tiap murid membacakan tugas puisi tempo hari. Sebentar ya.
“Selamat siang. Aku Nasha Alina dan aku akan membaca puisi yang sudah kubuat. Puisi ini kuberi judul Di Sebelah Sana.
Aku jatuh cinta.
Aku jatuh cinta pada seseorang yang kukenali suaranya, tapi tidak bisa kuajak bicara.
Aku jatuh cinta pada seseorang yang berjalan melewatiku, tapi tidak pernah melihatku.
Aku jatuh cinta pada seseorang yang pernah memanggilku, tapi tidak tahu namaku.
Aku jatuh cinta pada seseorang yang hanya bisa kuraih dalam bentuk doa yang rahasia, tulisan tidak terbaca juga karangan tak beraksara.
Aku jatuh cinta pada seseorang yang akan selesai dalam puisi ini, karena ia memang tidak pernah berlama-lama. Ia hanya melintas, sedangkan aku tetap ada di sebelah sana tanpanya.”
Aku menutup kertas puisi itu, mendengar suara tepuk tangan, termasuk dari dia. Aku kembali duduk di kursiku, kembali ke alam nyataku, dan menghentikan semua khayalan itu. Sebab ia tetaplah seseorang itu. Ia tetap tidak tahu namaku. Dan percakapan kala tugas sejarah itu tidak pernah terjadi. Lagi-lagi, aku hanya memanjakan imajinasiku. Karena hanya itu bisaku.
Leave a comment