Dia tidak suka pertanyaan apa kabar. Katanya, pertanyaan itu terlalu populer, sedangkan dia tidak. Makanya, ia justru menyapaku dengan, “Joker akan ada sekuelnya!”
Tadinya, ia sedang merokok. Entah kenapa dimatikan waktu aku menghampirinya. Ia hanya membuka tutup cangkir kopi hitam pesanannya, dan menyeruputnya perlahan. Ia belum lama duduk di situ, kopinya masih panas.
“Aku tahu. Sama Lady Gaga, kan?”
“Iya! Tapi… masih lama. Kadang, lebih baik gak denger infonya. Biar tahu-tahu muncul aja.”
“Iya, kan? Tuh. Gak semuanya butuh persiapan. Kadang, kita cuma perlu nikmatin aja.”
Dia tersenyum, aku mencoba menahan senyumanku.
“Kopimu belum jadi?”
Aku menoleh ke tempat pick up, terlihat masih kosong, kemudian menjawabnya, “Belum. Tadi salah soalnya, jadi dibuat lagi. Aku minta yang dingin, dikasihnya yang panas.”
“Kamu minum kopi sekarang.” ucapnya sedikit bangga.
“Iya. Suka.”
Ia memerhatikanku, kemudian mengejekku, “Kamu segitu sebelnya ya sama aku?”
“Hah? Siapa yang sebel?”
“Aku tahu minuman kesukaanmu bukan itu.”
“Aku suka beneran kok!”
“Fine. Fine. Kita lama gak ketemu, jadi jangan dipake untuk lama-lama berantem.”
“Aku gak ngajak berantem!!?!”
“Fine…”
Aku bukan sebel. Aku gemes sama dia.
Ia menyeruput kembali kopinya. Aku tahu itu memang favoritnya sejak duluuuu sekali. Lalu kucoba gantian yang membuka obrolan, “Kamu sempet nonton Sigur Ros ya? Di Singapore?”
“Iya. Kok tahu? Perasaan aku gak update di mana-mana.”
Aku diam sebentar, kemudian, “Tahu saja.”
Dia suka Sigur Ros. Aku juga suka, karena dia pernah paksa dengerin. Padahal liriknya aku gak paham, bahasanya sangat asing. Tetapi, dia berprinsip bahwa musik memiliki satu bahasa yang sama. Aku ingin sekali bertanya dia nonton sama siapa, tapi, kayaknya gak cocok untuk ditulis di bagian ini.
“Aku nonton sama kakakku. Dia minta ditemenin.”
Ih. Kok dia jawab sendiri? Eh, tapi, isi kepalanya memang aneh dari dulu. Dia kemudian menyambung, “Kamu belum nonton konser lagi?”
“Belum. Hmm, nanti sih. Soalnya ada Idol K-Pop aku mau dateng.”
“Oh iya, kamu suka EXO ya sekarang.”
“Kok tahu? Perasaan aku gak pernah cerita.”
“Tahu saja.” jawabnya.
Kali ini, senyumku tidak tertahankan. Aku beranjak pergi ke dalam untuk mengambil kopiku sebentar. “Mbak, kopiku udah jadi belum, ya?”
“Udah, kak. Tadi dimasukin ke paper bag, kirain kakak take away.”
“Iya. Aku gak jadi take away, ternyata ada temenku.”
“Oke, enjoy the coffee kak!”
Haha. Ada temenku? Apa iya masa lalu yang udah selesai itu namanya temen? I’m not sure.
Aku kemudian kembali padanya dengan membawa secangkir kopi. Dari jauh kulihat ia sedang memainkan handphone-nya. Tidak terlalu jelas apakah ia sedang membalas chat, menonton video kucing, atau mengabari kekasihnya (kalau ada).
“Udah bener sekarang kopinya?” ucapnya.
“Udah, tapi tadi sempet dimasukin ke paper bag sama mbaknya, dikirain aku take away.”
“Yaa… kamu memang suka bikin orang salah mengira.”
“Mm? Maksudnya?” tanyaku sambil meminum kopi.
“Nggak, aku bercanda.”
Di dekat sini, sebenarnya ada warung sate madura. Dulu, kami sering ke sana. Dia suka banget sama bumbu kacangnya. Dulu, biasanya malah makan dulu di sana, baru ke sini nemenin dia minum kopi. Dulu, aku gak minum kopi. Gak semua hal akan selalu sama, ya.
Kemudian, aku melihat ke langit. Cuacanya akhir-akhir ini agak aneh. Mendung, tapi panas. Terik, tapi tiba-tiba hujan. Ternyata, ia juga ikut mengangkat pandangannya. Ingin melihat apa yang juga kulihat.
Ia pun penasaran dan bertanya, “Lihat apa? Ada pesawat? Aku gak denger suaranya,”
“Emang kalau lihat ke atas karena ada pesawat?”
“Ya apalagi, dong?”
“Lihat langit?”
“Langit gak usah dilihat, dia gak akan ke mana-mana. Kalau pesawat terbang, boleh. Kapan lagi lihat pesawat di atas kepala kita?”
“Kamu masih aneh.”
“Kamu masih gak percayaan.”
Ia lalu berdiri, memeriksa saku di celananya, sepertinya mencari sesuatu. Diperiksanya beberapa kali tapi sakunya kosong. Aku tahu pasti karcis parkirnya hilang. Aku langsung saja meledeknya, “Kamu juga masih saja musuhan sama karcis. Gak karcis parkir, tiket bioskop, kuitansi laundri, surat garansi, pasti ilang.”
“Ah. Gak apa-apa, sayang aturannya gak kepake kalau gak ada karcis yang hilang.”
Aku geleng-geleng kepala. Entah yang berapa kalinya semenjak kenal dia. Sebab dia terlalu aneh untuk hidupnya yang terlalu normal. Dia cuma suka sate ayam, nasi goreng, burger, kopi, rokok, dan bir. Aku sering berpikir, apa ia kurang nutrisi makanya isi kepalanya makin aneh saja?
Handphone-nya berdering. Bunyinya masih sama sejak terakhir kali aku masih menelepon untuk menganggunya. “Angkat aja, udah daritadi kan bunyinya?” ucapku.
“Gak semua masa diciptakan untuk banyak karakter utama. Di bagian ini nih, bunyi teleponku cuma iklan lima detik seperti di Youtube.”
“Hah? Hahahaha. Eh, emangnya iklan di Youtube masih di-skip?”
“Aku gak maksud meng-skip. Aku hanya gak menghiraukan.”
Sama saja, bodoh.
“Terserahlah. Udah. Aku pulang, ya? Kayaknya mau hujan.”
Ia menghirup kopinya dua kali, lalu mengeluh, “Iya, kayaknya musim pancaroba. Minggu lalu aku positif covid.”
“Masa? Kamu baik-baik aja sekarang.”
“Iya kayaknya karena telat makan.”
“Hah? Jadi kamu covid atau telat makan?”
“Ya… telat makan gak ada alat periksanya. Jadi covid saja.”
“Kamu, nih… semuanya dibercandain!”
Ia tersenyum, aku menatapnya tajam-tajam. Ia mulai menyalakan rokoknya, dengan sebelumnya memintaku untuk memakai maskerku kembali. Langit semakin gelap, padahal belum mau maghrib. Sepertinya akan hujan. Angin kencang mulai berdatangan. Ah, cuaca memang bisa mengacaukan suasana hati kita. Aku yang tadinya biasa saja, mendadak merasa kosong. Ada gelagat dari perasaanku yang tiba-tiba berubah. Mungkin ikut mendung.
“Rana,”
“Ya?”
“Kamu pernah kepikiran untuk melakukan sesuatu yang gak pernah kamu pikirin, gak?
“Hah? Kayak apa contohnya?”
“Memecahkan kaca, membakar kursi, mengeringkan laut, menebang pohon, merajut bumi, menerbangkan gedung?”
Dulu, aku akan berusaha mengerti kalimatnya, sekarang tidak lagi.
“Nggak, nggak pernah kepikiran. Kenapa memangnya?”
“Nggak, lupakan. Aku ngawur aja.”
Aku tidak menjawab lagi, bukan karena dialognya tidak menarik, justru karena terlalu memikat, maka aku harus segera membebaskan diri. Membebaskan diri dari pikirannya, dari konsentrasinya, dari rencana-rencananya.
Ia menghisap rokok dan menghembuskannya ke samping agar tak mengenai aku. Handphone-nya berdering kembali. Aku mencoba membujuknya untuk mengangat panggilan masuk itu.
“Angkat aja apa susahnya, sih? Kalau penting gimana?”
“Na, sudah kubilang. Gak-”
Aku segera memotong kalimatnya, “Gak semua masa diciptakan untuk karakter utama. Di bagian ini, bunyi telepon itu bisa jadi durasi film yang gak boleh dipotong.”
Akhirnya ia berdiri dan berjalan menjauh untuk mengangkat telepon. Berarti itu percakapan rahasia. Pasti dari kekasihnya. Ya, dia selalu gitu. Dulu, tiap kali aku lagi nelepon dia, teman-temannya cerita kalau dia langsung pergi cukup jauh. Entah kenapa segitu rahasianya sampai harus jauh-jauh. Padahal gak ada yang terlalu penting, tapi sudah prinsipnya, mungkin. Jadi, itu pasti kekasihnya. Kalau soal kerjaan, kenapa tidak mengangkatnya di dekatku saja? Aku tidak akan peduli juga. Bahkan soal kekasihnya pun, aku sudah tidak ada masalahnya bila harus mendengarnya.
Sebuah mobil sedan berhenti di depan kedai kopi dan menyalakan klaksonnya. Itu mobil yang menjemputku. Aku pun melambaikan tanganku pada laki-laki unik itu, memberi isyarat bahwa aku sudah harus pulang dan ia menjawabnya dengan isyarat juga. Ia memintaku untuk menunggu sebentar.
“Udah dijemput, ya?”
“Udah. Itu.”
“Dijemput siapa?”
“Aksa. Pacarku.”
Hujan yang sejak tadi tertahankan, turun berjatuhan.
Leave a comment