
Senin adalah uji coba.
Senin adalah sebuah eksperimen yang tidak bisa dihindari. Senin harus terjadi. Percobaan itu harus terlaksana. Dan kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi dalam satu minggu ke depan. Mau sebanyak apa pun Senin yang pernah kita jumpai sebelumnya—Senin tidak pernah sama. Senin selalu memiliki eksperimen yang berbeda.
Di sekolah juga ada eksperimen. Tetapi entah kenapa aku tidak terlalu menyukainya. Padahal kata ibu, kalau mau jadi dokter—aku sudah mulai harus mendekatkan diri dengan pelajaran-pelajaran IPA yang selalu berkaitan dengan banyak eksperimen, tapi aku tetap tidak menyukainya. Aku lebih suka pelajaran seni rupa. Di sana aku belajar banyak tentang warna dan teknik menggambar. Sayangnya gambarku jelek. Ternyata aku tidak jago menggambar, tidak seperti Sarah. Menarik bagaimana aku bisa menyukai sesuatu yang tidak bisa aku raih sama sekali.
Aku tidak bisa memberi tahu ibu soal ini. Tentu saja. Ibu mungkin bisa menarikku dari kelas seni rupa apabila dia tahu aku lebih tertarik dengan bentuk dasar geometris dan bukan klasifikasi makhluk hidup atau juga sistem organisasi kehidupan yang di dalamnya aku harus memahami tentang sel, jaringan dan sistem organ. Tapi masih ada yang lebih buruk dari itu. Fisika namanya. Tidak pernah kubayangkan aku harus menelan waktu dengan memahami tentang bagaimana satu wujud berubah ke wujud lainnya. Proses mencair, membeku, mengembun, menyublim— entahlah. Sesuatu yang kupahami dengan sederhana tiba-tiba mengkistral. Iya. Mengkristal—perubahan wujud benda dari gas menjadi padat. Seperti terbentuknya salju—ketika uap air di udara mengalami suhu yang sangat dingin kemudian berubah menjadi butiran salju padat. Persis seperti pemahamanku yang bebas tentang bagaimana semua hal bekerja—berubah, menjadi satu bentuk kepadatan yang harus aku pecahkan.
“Ran, lihat kakak kelas yang itu deh,” ucap Sarah kepadaku di kantin sambil menunjuk seorang laki-laki yang mengenakan kacamata.
“Kenapa? Kamu naksir, ya?” sahutku menggodanya.
Sarah terdiam. Dia hanya tersenyum. Dan itu cukup menjawab pertanyaanku barusan.
Banyak sekali anak di sekolah yang terpikat padanya. Dari teman sekelas, teman satu angkatan, kakak kelas 2 juga kakak kelas 3. Aku sebenarnya tidak heran bila banyak orang menjatuhkan hati kepadanya. Sarah cantik, kulitnya putih dan rambut panjangnya indah—hitam legam seperti iklan shampoo di TV. Setiap aku berjalan di sampingnya—rasanya seperti membawa tumpukan berlian yang membuat semua orang melirik ke arah kami berdua (kepada Sarah lebih tepatnya). Tetapi, tidak. Aku tidak merasa terganggu. Aku hanya ingin tahu seperti apa rasanya disukai sebesar itu.
“Pasti dia suka kamu juga, Sar,” ucapku lagi sambil melanjutkan memakan batagor yang aku beli.
Tanpa melepaskan pandangannya dari kakak kelas itu, Sarah menjawabku. “Nggak, Ran. Dia beda. Dia ketua OSIS, udah gitu sering ikut olimpiade sains, dia nggak mungkin suka sama aku. Dia pasti sukanya sama kamu,”
Aku tersedak cukup hebat. Sarah segera membukakan botol air mineral dan memberikannya kepadaku.
“Aku salah ngomong, ya?” sahut Sarah, dia terdengar bingung.
Setelah mereda, aku kembali meneguk air mineral sebelum mencoba menjawab pertanyaan Sarah.
“Bukan salah ngomong, tapi kamu ngawur banget!” sahutku. “Kalau dia aja nggak suka kamu, iya—apalagi aku coba?”
“Emangnya kamu kenapa? Kamu pinter, cantik, baik.”
Aku dibuat geleng-geleng kepala. Kadang aku tidak yakin apakah Sarah sungguh-sungguh ketika bilang aku cantik karena—karena lihat aku? Tubuhku pendek, rambutku kasar mengembang dan susah diatur, kulitku tidak seputih Sarah. Aku tidak juga pintar. Itu kenapa agak sulit untuk percaya dengan perkataannya, tapi aku meyakini Sarah bukan orang yang seperti itu. Dia bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang lain dariku—termasuk ibu.
Sarah tahu aku suka kelas seni rupa. Dia juga tahu kalau bagian paling aku suka dari sekolah ini adalah perpustakaannya. Dia tahu buku-buku yang aku suka. Dia tahu aku bisa diam-diam kabur dari kelas fisika untuk melanjutkan buku bacaanku di sana. Sarah berhasil menggenggam rahasia itu seperti mimpi jauh yang kurasa tidak akan pernah bisa aku sentuh.
***
Tahun pertama di SMP terasa seperti musim panas yang tidak ada habis-habisnya. Siang hari terasa lebih panjang, sementara malam begitu singkat. Rasanya aku baru saja terpejam, namun ibu sudah kembali membangunkan aku untuk berangkat ke sekolah. Pada suatu pagi aku berpikir, apakah hidup memang tentang mengulang eksperimen yang sama? Sebab itu yang kurasakan. Aku selalu melakukan percobaan yang sama dengan hasil yang juga sama. Tidak pernah ada kemajuan. Aku masih Kirana yang sama. Lebih buruknya–aku kembali menjadi Kirana Si Rata-rata seperti dulu di SD.
Aku ingat hari Sabtu itu. Seperti biasa ibu yang mengambil raporku di sekolah. Bedanya, ibu tengah mengandung. Perutnya sudah kian membesar dan membuatnya mulai kewalahan untuk banyak berjalan. Ibu juga sudah tidak menyetir mobil untuk sementara waktu. Kami berdua pergi dengan taksi. Dan seperti biasanya pula, Bapak tidak ikut. Ketika kami berangkat, dia tengah sibuk di halaman belakang mengurus burung kenarinya.
Aku memang tidak pernah dekat dengan bapak—tapi kalau boleh jujur, aku sering merasa iri dengan peliharaannya itu. Bapak seolah lebih mengenal makhluk hidup yang satu itu ketimbang aku. Bapak bisa tahu kapan kenari itu haus dan kelaparan. Bapak tahu kapan dia sakit dan butuh perawatan, tapi bapak sepertinya tidak tahu aku. Dia tidak tahu kalau aku harus jadi dokter. Dia tidak tahu kalau hari ini adalah hari pengambilan rapor SMP kelas satu. Dia tidak tahu aku khawatir dengan keadaan perut ibu yang sudah besar tapi masih harus ke sekolah untuk mengambil raporku. Bapak tidak tahu—atau mungkin tidak ingin tahu.
Pukul setengah sembilan pagi.
Aku dan ibu tiba di sekolah dan langsung menuju kelas. Terlihat sudah ada beberapa siswa dengan orang tuanya menunggu giliran untuk ambil rapor. Aku masuk ke dalam kelas, memilih bangku kemudian duduk di samping ibu untuk ikut dalam antrean. Seperti biasa, ibu tidak banyak bicara. Dia hanya mengelus perutnya dan membiarkan perasaan gugupku semakin membengkak.
Di meja guru, aku melihat Utami sedang mengambil rapor dengan bapaknya.
Utami pasti peringkat 1. Mentok-mentok peringkat 2—yang jelas dia tidak mungkin lebih dari 3 besar. Utami anak yang pintar. Bahkan, menurutku dan Sarah—pintar saja tidak cukup untuk menggambarkan dirinya. Dia seperti bukan manusia. Kadang aku berpikir, mungkin dulu ketika Tuhan sedang pembagian porsi kepandaian—Utami maju paling depan, lalu dihabiskannya semua yang ada.
Ngomong-ngomong, dia juga mau jadi dokter. Mengetahui itu pun membuatku ikut meyakini bahwa suatu hari nanti dia pasti menjadi dokter. Entahlah. Kupikir, orang seperti Utami bisa menjadi apa saja. Sekali pun astronot jadi terdengar masuk akal—bila aku harus membayangkan Utami saat membicarakannya.
Tetapi, tidak. Aku dan Sarah tidak pernah dekat dengannya. Lebih tepatnya, tidak pernah berhasil mendekatinya. Utami sangat tertutup. Dia hanya bicara kepada guru yang sedang mengajar di kelas. Dia juga duduk paling depan. Sulit sekali untuk bisa mengajaknya makan bersama atau setidaknya sekadar basa-basi. Satu-satunya teman yang selalu dia genggam adalah buku pelajaran dan sepotong roti yang dia bawa setiap pagi.
“Rana!”
Tiba-tiba aku mendengar suara Sarah. Dan, benar. Ternyata itu Sarah yang baru datang dengan ibunya. Dia mengenakan baju merah muda sebagaimana warna favoritnya. Rambutnya dikuncir satu ke belakang. Dari depan pintu kelas, dia segera berjalan cepat dan kemudian duduk di belakangku, diikuti sang ibu. Setelah duduk, dia mendekat dan berbisik ke arahku.
“Ranking berapa dia?” tanya Sarah dengan suara pelan.
Aku membalikkan tubuhku ke belakang untuk menjawabnya, “Kayaknya sesuai prediksi kita,”
Tidak lama setelah itu, Utami dan bapaknya beranjak. Mereka bersalaman dengan ibu guru kemudian meninggalkan ruang kelas. Aku berusaha membaca raut wajah Utami, bapaknya juga ibu guru. Untuk seseorang yang mendapatkan peringkat satu—Utami terlihat datar dan biasa saja. Tapi kemudian aku berpikir, mungkin itu adalah hal biasa untuknya; menjadi juara.
Wah. Membayangkannya saja sudah membuatku bergidik. Tentang bagaimana seseorang bisa merasa terbiasa menjadi juara? Terbiasa berada di peringkat pertama? Terbiasa melihat nilai sempurna di dalam rapornya?
“Selanjutnya, Kirana Tarika,” ibu guru memanggilku.
Aku menyudahi lamunanku tentang Utami dan kembali pada rasa gugupku akan hasil raporku. Ibu beranjak dari bangku dan berjalan ke meja guru di depan. Aku mengikutinya dari belakang.
Kami kembali duduk bersebelahan. Ibu guru menyapa ibu dan mulai mencari raporku di antara tumpukan rapor yang ada di sampingnya.
“Nah, ini dia punya Kirana,”
Jantungku berdetak kencang. Entah kenapa firasatku tidak enak. Aku merasa ini tidak akan berakhir baik. Mungkin karena sejak awal aku memang sudah kesulitan. Aku kesulitan untuk bisa mengikuti pelajaran di kelas. Seperti perihal pengukuran massa dalam suatu benda, perhitungan energi panas yang berpindah dari benda bersuhu tinggi ke benda bersuhu rendah. Dulu, aku kira mempelajari angka desimal sewaktu SD sudah menjadi mimpi buruk terbesarku—ternyata, mimpi buruk itu banyak bentuknya.
“Sejauh ini, Kirana bisa mengikuti semua pelajaran dengan baik ya, Ibu,” ucap ibu guru mulai berbicara dengan ibuku. “Hanya saja…”
Oh, tidak. Ini terjadi lagi.
“Gimana, Ibu?” sahut ibu dengan cepat—seolah tidak asing dengan percakapan semacam ini.
Ibu guru menjelaskan bahwa aku masih harus mengejar banyak ketertinggalanku pada mata pelajaran IPA. Ketika mendengar itu, raut wajah ibu berubah–seakan-akan itu bukan sesuatu yang dia harapkan untuk didengar (yah, tentu saja). Ibu guru juga menyarankan agar aku lebih aktif di kelas. Menurut ibu guru aku masih banyak diam dan jarang sekali bertanya.
“Rana,” ucap ibu kepadaku. “Kalau nggak paham, langsung tanya ke gurunya. Jangan diam aja.”
Aku tertegun. Menyuruhku untuk menjadi seseorang yang banyak bertanya dan tidak diam aja sama seperti menyuruh anak kucing belajar melompat seperti kodok.
Aku anak perempuan pertama. Aku dibentuk untuk diam dan menjawab permintaan ibu dengan iya, bukan bertanya. Dan aku tahu kalau ibu tahu. Ibu tahu aku tidak diciptakan untuk itu.
Leave a Reply