Tiga

Senin adalah sebuah harapan.

Buat sebagian orang, harapan terlihat menyenangkan. Buat sebagian lainnya, dia justru mengerikan. Dan aku adalah sebagian lainnya itu. Kadang aku berpikir, kenapa manusia harus diperkenalkan dengan hal seberbahaya itu? Apa yang sangat mendesak dari hidup sehingga manusia harus berharap? Sebab buatku, harapan tidak lebih dari jembatan rapuh dan jauh—yang bisa membuatku jatuh kapan saja. Harapan bukan janji yang harus ditepati. Harapan lebih mirip dengan undian yang tidak ada jaminannya sama sekali. Kita bisa pulang dengan hadiah atau juga merasa kalah. Harapan bukan tiket pulang-pergi—dia bisa membuat kita tidak bisa kembali lagi.

Nilai matematika dan hasil ujian nasional yang baik membawa ibu kepada sebuah harapan baru—harapan yang lebih berbahaya. Ibu mulai merasa bahwa aku adalah seseorang seperti di dalam kepalanya: anak perempuan pertama yang pintar, menjadi juara dan maju ke depan untuk angkat piala.

Kabar tentang nilai matematikaku dengan cepat ibu sebarkan ke tiap orang yang ditemuinya. Tetangga, tukang sayur langganannya, teman-teman kerjanya di rumah sakit sampai keluarga besar bapak yang tadinya tidak pernah terlalu dekat dengannya. Ibu berhasil meyakinkan semua orang kalau akulah anak yang membanggakan itu. Semua orang—kecuali aku.

Aku tidak yakin.

Bagaimana satu kejadian bisa membuat ibu menyimpulkan banyak hal? Bagaimana satu nilai kelulusan menentukan masa depan? Bukankah ibu terlalu terburu-buru? Pertanyaan-pertanyaan tadi hanyalah diskusi yang tidak pernah terjadi, sebab wajah bahagia ibu dan matanya yang berbinar penuh harap—membuatku menyimpan perasaan itu rapat-rapat. Lagi-lagi, aku kembali kepada satu-satunya pilihan: asal ibu bahagia, maka akan aku coba.

Ibu mulai merancang rencana. Dari memilih sekolah hingga menentukan mimpi yang harus aku raih. Iya. Memahami ibu sama saja berusaha menerima bahwa mimpi adalah keharusan yang tidak bisa aku hindari.

Aku jadi teringat dengan hari itu. Ketika aku pertama kali masuk SMP dan melaksanakan kegiatan orientasi. Seorang guru masuk ke dalam kelas dan memberi pidato tentang mimpi dan masa depan. Pada pembukaannya, dia sempat bertanya tentang cita-cita.

“Siapa yang mau jadi dokter?” tanya ibu guru.

Aku melihat ke sekelilingku. Ada banyak murid yang mengangkat tangan dengan cepat.

Pertanyaan itu bukanlah sesuatu yang asing. Aku pernah mendengarnya sewaktu TK dan SD. Awalnya, pertanyaan itu membuat hatiku berdebar. Ada rasa bersemangat yang tidak bisa aku jelaskan. Aku tidak akan lupa dengan bagaimana pertanyaan itu membuat aku berani memikirkan banyak hal: jadi dokter, arsitek, guru bahkan astronot. Aku tidak akan lupa bahwa aku pernah percaya dengan pertanyaan itu. Aku tidak akan lupa bahwa beberapa mimpi pernah benar-benar terasa mungkin.

“Wah, banyak ya yang mau jadi dokter,” lanjut ibu guru. “Kalau yang mau jadi arsitek angkat tangan?”

Beberapa anak kembali mengangkat tangan. Sejauhku mengingat, jumlahnya tidak jauh berbeda dari yang ingin menjadi dokter. Bahkan, anak perempuan di depanku kembali mengangkat tangannya–padahal pada pertanyaan tentang menjadi dokter, dia juga melakukan hal yang sama.

Ibu guru tersenyum. “Kalau yang mau jadi dokter, arsitek—berarti sudah harus mulai dekat dengan pelajaran-pelajaran IPA, ya. Seperti fisika, kimia, dan biologi. Nah untuk yang mau jadi diplomat, pengacara, itu bisa berkenalan dengan pelajaran-pelajaran IPS. Geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi. Penting sekali untuk mengenal minat kalian dari sekarang, supaya semua bisa lebih matang.”

Aku terdiam. Aku tidak menjawab, tidak pula mengangkat tangan. Sebab anak perempuan pertama tidak bisa memilih mimpinya sendiri, dia diciptakan untuk menjelma semua ekspektasi. Ibu ingin aku menjadi dokter. Buatnya, itu adalah profesi terbaik yang bisa aku jadikan tujuan tentang ke mana arah semua perjalanan ini. Tentang apa dan bagaimana pun caranya—ibu percaya aku bisa mewujudkannya. Sementara aku kesulitan. Tidak ada buku panduan. Tidak pernah ada jawaban tentang bagaimana menjadi sesuatu yang tidak pernah aku inginkan. Tidak ada pilihan untuk menolak. Anak perempuan pertama tidak pernah mengenal kata tidak dalam hidupnya.

“Hey!” ucapku kepada anak perempuan yang duduk di depan mejaku.

Sesaat kemudian, dia menoleh ke belakang dan menatapku. Rambutnya berponi dan dikuncir satu. Sebenarnya aku sudah memerhatikannya sejak tadi pagi, ketika kupikir aku sudah menjadi murid pertama yang datang ke sekolah—sampai aku melihatnya sudah duduk di kelas dengan sepotong roti di tangannya saat jam dinding baru menunjukkan pukul enam lewat lima belas pagi.

Anak perempuan itu mengulurkan tangan kanannya.

“Aku Sarah,” ucapnya kepadaku dengan senyum.

Aku tidak pernah pandai berkenalan dan berteman. Rasanya aneh dan menakutkan. Tubuhku seolah telanjur mendirikan benteng besar yang tidak bisa dilalui siapa pun, kecuali Nina.

Ngomong-ngomong soal Nina.

Kami berpisah.

Ayah Nina ditugaskan ke Kalimantan untuk waktu yang belum bisa dipastikan. Dia dan keluarganya mau-tidak mau ikut pindah ke sana. Aku dan Nina memang tidak bisa dikatakan bersahabat, tapi darinya—sosok anak pintar menjadi lebih menyenangkan. Sebelum dekat dengan Nina, kupikir mereka yang duduk di peringkat satu sampai tiga memiliki karakter angkuh dan besar kepala. Tetapi, tidak. Ternyata Nina berbeda. Mungkin itu yang membuat kepergiannya cukup membuatku merasa kehilangan.

Terlebih lagi, Nina sempat berencana untuk masuk ke SMP yang sama denganku. Aku telanjur merasa lega—bahwa aku akan pindah ke tempat asing dengan seseorang yang sudah aku kenal. Kenyataan bahwa Nina pindah ke Kalimantan membuat semua hal kembali terasa menakutkan. Sampai hidup mengenalkan aku dengannya. Sarah, namanya.

“Kirana,” jawabku sambil menjabat tangannya. “Tapi, Rana aja.”

Setelah itu, kami melepaskan tangan masing-masing.

“Kenapa tadi manggil aku?” tanya Sarah.

“Itu—kamu angkat tangan dua kali waktu ibu guru nanya soal cita-cita,” ucapku kepada Sarah.

Wajah Sarah berubah bingung. “Lho, emangnya kenapa?”

“Emang bisa kayak gitu?” tanyaku kepadanya.

“Emangnya nggak bisa?” Sarah ikut bertanya.

Aku terdiam, begitu pun dengan Sarah. Kami saling memandangi satu sama lain. Sesaat kemudian, Sarah tersenyum dan kami akhirnya tertawa bersama. Perkenalan yang tidak sengaja pada hari itu membuat aku dan Sarah menjadi dekat. Kami selalu pergi ke kantin bersama. Kadang, aku belajar di rumahnya sembari menunggu ibu selesai dari sif kerjanya dan menjemputku.

Oh, iya.

Ibu diterima bekerja di rumah sakit swasta. Jaraknya cukup jauh dari rumah dan sekolah—sementara ibu tidak mengizinkan aku untuk pulang sendiri dengan angkutan umum. Itu kenapa kadang aku lama menghabiskan waktu dengan menunggu di rumah Sarah dan kadang pula di tempat les. Aku tidak suka menunggu di tempat les. Selain karena membosankan, kadang mereka sudah tutup bahkan sebelum ibu datang. Aku jadi harus menunggu dengan security penjaga ruko tempat les dan itu menyebalkan (menunggu dengan seseorang yang tidak kamu kenal).

Aku lebih suka menunggu di rumah Sarah. Bukan hanya karena aku kenal dekat dengannya, rumah Sarah juga bagus dan luas. Aku baru pertama kali melihat sebuah rumah yang memiliki kolam renang di halaman belakangnya. Di ruang tengahnya, ada lampu berukuran cukup besar yang menggantung di langit-langit. Ibunya juga sangat baik kepadaku. Setiap ke sana, aku selalu disuguhi secangkir cokelat hangat dan bermacam kue yang dibuat oleh ibunya sendiri. Hidup Sarah adalah mimpi yang selalu aku cari setiap kali tidur. Bukan. Bukan karena rumah mewahnya, tapi karena Sarah tidak harus menjadi dokter.

“Terus kamu mau jadi apa, Sar?” tanyaku sore itu.

Kami sedang mengerjakan PR matematika di kamarnya. Aku sudah beberapa kali ke sini, tapi perasaan takjubku masih seperti yang pertama kali. Kamarnya besar dengan warna merah muda yang mendominasi. Ada dua area belajar di dalamnya. Satu sebuah meja dengan kursi, satunya lagi meja bundar dengan sofa yang mengelilinginya. Ada pula rak yang penuh dengan koleksi boneka barbie—yang tidak pernah aku lihat di mana-mana. Sarah pernah membukakan lemarinya untukku dan mengambil beberapa bonekanya, tapi sampai hitungan detik aku menaruhnya kembali di rak karena khawatir kotor dan rusak.

“Belum tahu,” jawab Sarah sambil beranjak dari sofa dan berjalan ke tempat tidur dan kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur.

“Belum tahu?” tanyaku mengulang kalimat Sarah barusan.

“Kirana,” panggil Sarah alih-alih menjawab pertanyaanku. “Sini, deh.”

Aku pun beranjak dan ikut merebahkan tubuhku di sampingnya. Tidak lama, Sarah melipat tangannya dan meletakan di belakang kepalanya.

“Tuh. Kamu lihat nggak?” tanya Sarah sambil menunjuk ke arah langit-langit kamarnya.

Dari tempatku, aku mengangguk. “Lihat. Banyak bintang.”

“Bintangnya akan semakin kelihatan kalau lampunya aku matiin,” ucap Sarah menjelaskan. “Mamaku pernah bilang kalau mimpi itu kayak bintang–banyak dan semua sama bersinarnya.”

Aku terdiam.

Sulit menjelaskan perasaanku ketika mendengar ucapan Sarah barusan. Aku tidak pernah membayangkan akan mendengar kata mimpi dan banyak dalam satu kalimat yang sama. Selama ini yang kutahu yang namanya mimpi itu cuma satu. Aku tidak bisa memimpikan sesuatu selain menjadi dokter. Dari situ pula–perlahan kusadari bahwa hidupku dan Sarah sangatlah berjauhan. Bukan hanya perkara rumah, tetapi juga tentang cita-cita. Untukku, mimpi adalah satu ruang kecil yang berdesakan. Sementara untuk Sarah, itu justru sebuah dunia tanpa batas dan penuh kebebasan.

24 responses to “Tiga”

  1. manusia kaktus

    makasii kak udah tulis ini. ternyata senin pagi kali ini cukup melelahkan. aku takut untuk melanjutkannya.

    Like

  2. Nayah

    Hallo Paus, aku pembaca baru.. sering ngikutin igs kamu hehe karena aku suka lihat postingan dan tulisan” kamu. Aku baru baca pada bagian ini, dan mulai suka. Semoga suka terus sama karya” kamu❤️👐🏾

    Like

  3. yl

    terimakasih us, karena tulisanmu aku jadi punya alasan untuk selalu bersemangat di senin pagi🫶🫶🫶

    Like

  4. Anonymous

    jadi suka hari senin

    Like

  5. putuayu997

    Menjadi anak perempuan pertama sering kali terasa berat. Ada ekspektasi besar untuk menjadi panutan bagi adik-adik dan memenuhi standar yang dibuat orang tua. Padahal, keinginan mereka sederhana diberi ruang untuk memilih mimpi sendiri dan didukung penuh. Biarkan mereka tumbuh sesuai jalur yang mereka pilih, karena pada akhirnya, merekalah yang akan menjalani hidupnya💐✨.

    Like

  6. wenifitriani00

    Makasih tulisannya ya us, seninku sedikit menyenangkan setelah baca tulisanmu ☺️

    Like

  7. Anonymous

    ternyata harapan menjadi “dokter” untuk anak perempuan pertama bahkan sampai detik ini diingat pun ga cmn aku yaa :)

    Like

  8. Amanda Khoirullanissa

    Selalu excited baca tulisan tsana setiap Senin pagi💘💘 terimakasih sudah terus menulis ya usss 🤍🤍

    Like

  9. Anonymous

    Huaaaa bagus bgt 🥰 thx paus dah bikin aku semangat baca lagi hehe

    Like

  10. thanks udh mewakili perasaan itu uss, luv u :))

    Like

  11. Nur Fitriyah

    aku relate sama peran anak pertama tapi uss, nyatanya aku anak terakhir yang nanggung beban anak pertama itu. jadi gasabar buat senin lagi

    Like

  12. pinguin

    “Untukku, mimpi adalah satu ruang kecil yang berdesakan. Sementara untuk Sarah, itu justru sebuah dunia tanpa batas dan penuh kebebasan”🥺

    Like

  13. pinguin

    “Untukku, mimpi adalah satu ruang kecil yang berdesakan. Sementara untuk Sarah, itu justru sebuah dunia tanpa batas dan penuh kebebasan.”🥺🤍

    Like

  14. Adhine

    ternyata aku bukan anak pertama yang satu satunya punya cerita seperti itu, untung ada kirana

    Like

  15. Aqillah Zahroh

    trimakasi kak tsanaa untuk corehan di hari seninnya, smg slalu ada kabar baik di setiap harinya💗

    Like

  16. Apple

    Uss, relate banget sama aku yang sedang bertanya-tanya sebenernya harapan dan mimpi itu apa sih? Such a beautiful story uss🤍🫶

    Like

  17. mei

    oh deyyymm 🥹

    Like

  18. alma

    terimaksii us karna tulisan mu hatiku mulai tergerak lagi untuk kembali menulis,aku sudah lama ingin membuat sebuah buku tapi selalu terhalang oleh rasa tidak percaya diri dalam diriku, melihat tulisan mu membuat ku kembali mengingat semua cerita yg pernah aku bayangkan untuk kubuat dalam sebuah karya, terimaksih us karyamu sungguh laur biasa. i hope i can read your next chapter again🫶🏻.

    Like

  19. Zazaza

    Merasa ada “kesenjangan” saat mendegar opini temen tuh.. nano nano bgt sih

    Like

  20. Anonymous

    huhu kirana 🥲🤧❤️❤️

    Like

  21. Anonymous

    Usss tulisan tanganmu tidak pernah tidak indahhhh, selalu indahh. Makasihh yahh, ceritanya sangat related bnget dengan apa yang ku rasain sekarang🥺🫶

    Like

  22. Annee

    So cuteeeeee tsanaaaa

    Like

  23. el

    Hufft terima kasih kak tsana untuk cerita hari seninnya, semangat teruss 🩷

    Like

  24. Anonymous

    aku tau perasaan kamu na, jadi anak pertama apalagi perempuan memang se sempit itu untuk bercita cita.. atau itu hanya angan semata?

    Like

Leave a Reply