Dua

Senin adalah barang bawaan yang menyulitkan.

Seperti mengiyakan sesuatu yang tidak kuinginkan. Seperti menolak sesuatu yang sudah lama aku impikan. Seperti menyanggupi hal-hal yang sebenarnya tidak mampu aku tanggung. Aku tidak sanggup menjadi anak pertama ibu, tapi aku tidak bisa menolaknya apalagi sampai memintanya untuk mengembalikanku pada kehidupan yang sebelumnya. Aku tidak sanggup melihatnya kecewa karena aku tidak bisa menjadi seperti apa yang dia bayangkan ketika dia memikirkan tentang seorang anak perempuan pertama. Aku tidak sanggup membawa semua beban itu, tapi tidak pernah ada kompromi untuk itu. Aku hanya bisa menerimanya—seperti menjemput Senin meski aku tidak terlalu menyukainya.

“Kirana, ayo kita cocokin jawaban kita!”

Hari itu Ujian Nasional dilaksanakan.

Ujian yang mencakup mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA. Untuk mempersiapkannya, seluruh siswa sudah mengikuti rangkaian try out yang diselenggarakan oleh sekolah. Tidak sedikit pula yang mengikuti kursus tambahan untuk membantu pemahaman materi seperti yang kulakukan di tempat kursus matematika.

Ngomong-ngomong soal kursus matematika, ada kemajuan dengan nilai matematikaku. Rata-rata nilai matematikaku di semester lalu sudah menyentuh angka sembilan. Kursus itu membantuku lebih dari yang bisa kuperkirakan. Kini, aku melihat matematika lebih sederhana. Setiap kali bertemu soal, aku bisa membayangkan cara penyelesaiannya di dalam kepalaku. Seolah imajinasiku membentuk angka-angka itu menjadi sebuah jawaban yang tepat.

“Kirana…” ucap Nina lagi kepadaku. “Jawaban kita…sama semua…”

Perkataan Nina membuat duniaku berhenti.

Seperti latihan-latihan sebelumnya, aku memang selalu mencatat jawabanku untuk nantinya aku bandingkan dengan jawaban milik Nina. Itu kenapa aku segera menoleh dan menatap Nina dengan serius. Namun, Nina membalas tatapanku dengan tidak kalah serius—dia yakin dengan ucapannya. Untuk memastikan, aku memeriksa kembali jawabanku dan Nina. Dari nomor satu hingga nomor terakhir, dan Nina benar. Dia tidak salah. Jawabanku dengan Nina sama persis, tanpa terkecuali.

Separuh bagian diriku merasa puas. Ada kebahagiaan yang rasanya bisa membuatku sesak. Akhirnya, setelah enam tahun di bangku SD, aku bisa berada pada anak tangga yang sama dengan Nina. Rasanya seperti mimpi. Tidak. Aku bahkan tidak pernah sampai berani bermimpi setinggi ini. Namun, separuh diriku yang lain merasa gugup. Tentu saja aku tidak akan langsung menceritakan perihal ini kepada ibu. Aku tidak mau sampai dia berbahagia terlalu cepat untuk nantinya kecewa. Aku memilih diam, seperti hari-hari biasanya.

Sepulang dari sekolah pun, pertanyaan ibu masih sama. “Tadi gimana ujiannya? Bisa, kan?”

Dan aku menjawab Ibu dengan menganggukkan kepala. Mendengar itu membuatku semakin yakin kalau aku tidak perlu membebaninya dengan sebuah harapan yang nantinya akan membuatnya terluka. Aku hanya perlu menunggu hasil dan mempersiapkan diri untuk jadwal terakhir ujian besok dengan mata pelajaran IPA.

***

Pagi itu tidak seperti biasanya.

Aku akan pergi ke sekolah untuk menerima hasil Ujian Nasional setelah menunggu beberapa minggu. Sebelumnya aku biasa menemani ibu ke sekolah untuk mengambil rapot kenaikan kelas, tapi entah kenapa kali ini berbeda. Tahun terakhirku di Sekolah Dasar seperti bab terakhir di sebuah buku; sebuah penentu apakah buku itu memiliki happy ending atau sebaliknya.

“Kirana makan dulu sarapannya,” ibu memanggilku dari ruang makan.

Aku buru-buru mengenakan seragam untuk segera keluar dari kamar dan memakan sarapanku. Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul setengah 6 pagi, sementara acara di sekolah dimulai pukul 8. Ibu selalu memiliki pemahamannya sendiri mengenai waktu. Lebih baik terlalu cepat daripada mepet apalagi sampai terlambat.

“Cepat, nanti terlambat!” ibu kembali memanggilku, kali ini dengan nada sedikit lebih tinggi.

“Iya, Bu! Ini udah selesai pakai baju,” jawabku berteriak dari kamar.

Aku keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan. Seperti pagi-pagi biasanya, ibu sibuk dengan urusan dapurnya. Bapak duduk di teras depan dengan kopi di sampingnya. Aku duduk di kursi untuk memakan sarapanku: dua butir telur rebus dan segelas susu.

Aku tidak suka susu. Aku tidak suka rasanya yang terlalu manis dan berat di mulutku. Apalagi aku meminumnya setelah makan dua telur. Rasanya tidak karuan. Itu kenapa aku suka cari alasan untuk menghindarinya dengan cara membawanya ke sekolah dan memberi susu itu kepada Mang Udin—tukang sapu di sekolah.

“Jangan lupa diminum susunya,” ucap ibu tiba-tiba, seolah membaca pikiranku.

“Iya nanti aku minum di sekolah, ya?” jawabku. “Perut Kirana lagi nggak enak,”

Ibu melihat ke arahku sebentar dan tidak mengatakan apa-apa lagi.

“Bu, bapak nggak ikut?”

Ibu tidak menjawab. Itu berarti bapak tidak ikut.

Bapak tidak pernah ikut campur urusan sekolah. Ambil rapor tiap semester pun, hanya ibu yang selalu datang.

Kalau diperhatikan lagi, bapak sebenarnya tidak pernah berurusan dengan semua hal yang berkaitan denganku. Itu kenapa aku tidak terlalu dekat dengannya. Aku bahkan sering merasa kikuk bila sedang berdua dengannya. Aku tidak tahu harus bicara apa, sebab bapak pun tidak pernah bertanya apa pun tentangku. Paling-paling di beberapa keadaan, ketika ibu sedang marah besar denganku perihal akademis di sekolah. Biasanya bapak akan mengetuk pintu kamarku, membukanya, kemudian berdiri di depan pintu sambil berkata, “Udah, nggak pa-pa. Besok diperbaiki lagi.”

Kadang aku berpikir, bagaimana bisa orang sesantai bapak hidup dengan seorang perempuan penuh ambisi dan perfeksionis seperti ibu? Entahlah. Itu bukan urusanku. Urusan anak pertama adalah bagaimana jadi juara dan tumbuh sempurna.

Selepas sarapan, aku berangkat ke sekolah dengan ibu. Di dalam mobil sepanjang perjalanan menuju sekolah, jantungku seperti mau copot. Aku bernafas lebih cepat dari biasanya. Aku resah. Tanganku gemetar dan aku berusaha untuk menyembunyikannya. Ibu tidak boleh sampai membaca gerak-gerik ini. Sebab bila dia mengetahuinya, dia akan tahu kalau aku tidak yakin dengan hasil ujianku (dan ini berbahaya).

Pagi itu, jalan menuju sekolah terpantau lancar. Aku biasanya senang dengan keadaan ini. Tapi tidak sekarang. Aku tidak menyukainya, karena ini akan mengantarkan aku ke sekolah lebih cepat dari biasanya.

“Aduh!” seru ibu tiba-tiba.

Mobil berhenti mendadak. Aku tersadar dari semua keresahanku dan mencoba melihat apa yang baru saja terjadi.

“Kenapa, Bu?”

“Itu orang nyetir nggak bener,” ibu terdengar cukup panik. “Hampir aja kena mobil kita!”

Gawat. Kini suasana hati ibu berubah tidak baik. Semua bisa menjadi lebih buruk. Kalau hasil ujianku jelek dan dengan suasana hatinya yang seperti ini—dia akan mengurungku. Aku tidak akan boleh main dengan teman-teman di komplek rumah. Lebih parahnya lagi, dia mungkin akan menambah kursus untukku di tempat yang lebih jauh, dingin dan dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali.

Mulutku terasa begitu kering, tapi aku masih mencoba untuk menelan ludah. Dari sini, gerbang sekolah mulai terlihat dari jangkauan pandanganku.

***

Aku tidak pernah melihat ibu seperti itu.

Ibu banyak tersenyum. Sesekali menoleh ke arahku. Aku tidak tahu apa artinya. Aku hanya duduk di belakang. Setiap pengambilan nilai, aku memang jarang ikut ke depan meja guru. Aku selalu duduk di belakang dan menerka isi raporku. Tetapi hari itu berbeda. Ibu beberapa kali menoleh ke belakang seolah berusaha berbicara kepadaku. Wali kelas yang memberi amplop berisi pengumuman hasil nilai ujian nasional juga terlihat senang. Apakah ibu bahagia? Apakah itu raut bangganya kepadaku?

Beberapa saat, ibu beranjak dari kursi kemudian memberi isyarat untuk ikut keluar. Ketika berjalan menuju pintu kelas, aku mendengar ibu guru berkata kepadaku, “Selamat ya, Kirana,” dengan senyum.

Selamat? Se-la-mat?

Aku tidak mendengar kata itu selain pada hari ulang tahunku. Apakah ibu guru punya maksud lain dari ucapan itu? Apakah aku baru saja terhindar dari bahaya—makanya dia mengucapkan selamat?

Aku belum selesai memahaminya ketika ibu menggandeng tanganku dan mengajakku untuk duduk di bangku depan kelas.

“Matematika kamu sepuluh,” ucap ibu. Suaranya sedikit bergetar. Ibu menggenggam tanganku kencang. “NEM kamu 28,7. Rata-ratanya di atas sembilan,”

Aku terdiam. Aku tidak tahu bagaimana meresponnya. Aku hanya menunggu suara nyaring ibu membangunkan aku di pagi hari karena aku yakin ini pasti mimpi. Ini tidak mungkin terjadi. Ini mustahil.

Iya. Senin adalah barang bawaan yang menyulitkan. Seperti diberi sesuatu yang belum siap untukmu menerimanya. Seperti mendapatkan hadiah ulang tahun yang kamu tahu harus kamu kembalikan lagi dengan hadiah yang lain. Seperti menebus kebahagiaan ibu dengan ekspektasi yang harus aku bayar sendirian.

56 responses to “Dua”

  1. achiresti

    tapi kadang aku suka senin, soalnya jam dihari senin lebih cepet geraknya dari pada hari biasa:))

    Like

  2. Anonymous

    hangatt bgt senin pagi ku

    Like

  3. Sri

    Aku anak pertama… ini sangat mewakili perasaanku. Oh ya, aku tidak suka susu.

    Like

  4. Anonymous

    anak pertama yang lahir di hari senin, senang sekali membaca iniii🫶🏻

    Like

  5. Shafira Ar

    yeyyy exciting monday

    Like

  6. Shafira Ar

    jadi suka senin hehe

    Like

  7. Anonymous

    aku anak terakhir yang sepertinya relate denganku

    Like

  8. Anonymous

    us terima kasih sudah menemani senin pagi ini🥹💓

    Like

  9. nannan

    anak pertama ya🥹

    Like

  10. Anonymous

    Aku anak terakhir yang suka sama cerita ini. Sekali lagi, selamat Kirana

    Like

  11. nanaaa

    ga sabarr bgtt untuk senin sening yg akan datang💚

    Like

  12. Anonymous

    hari yg paling kucinta selama seminggu adalah sabtu sore<3, tpi ternyata ga buruk juga mencintai senin pagi us💚:)

    Like

  13. urpii

    sehat sehat anak pertama✨🫶🏻🌼

    Like

  14. nala

    “mencintai senin pagi” rasanya seperti sebuah kemustahilan bagiku. but u did. mungkin belum mencintainya, setidaknya aku punya alasan untuk “menanti” senin pagi. terimakasih paus, sudah menjadi alasanku menantikan senin pagi, setidaknya beberapa pekan kedepan <3 :)

    Like

  15. Senin adalah hari bermalas-malasan, ku ganti senin sebagai hari libur, sementara bekerja sampai Sabtu, dan menjadi manusia tanpa malam mingguan. 😂😂

    Like

  16. soren

    udh kali ke berapa suka bgt dengan tulisan kamu us. detail bgt. apalagi bagian ini “Selamat? Se-la-mat? Aku tidak mendengar kata itu selain pada hari ulang tahunku” kok kamu kepikiran dgn kata- kata ini :’)

    Like

  17. Anonymous

    udh kali ke berapa suka bgt dengan tulisan kamu us. detail bgt. apalagi bagian ini “Selamat? Se-la-mat? Aku tidak mendengar kata itu selain pada hari ulang tahunku” kok kamu kepikiran dgn kata- kata ini :’)

    Like

  18. Wuni

    Huhuhu sampe banget rasanyaa. Udah bertahun tahun lalu terakhir nerima rapot tapi baca ini jadi keinget lagi rasa rasanya nunggu hadil rapothuhuhu

    Like

  19. Pelisha

    Senin pagi ceraaah ✨

    Like

  20. putrinurqisthi

    kaget banget ternyata kiranaku anak sekolah dasar :)

    Like

  21. Anonymous

    Aku bacanya sambil nanggis us terharu dan ikut bangga 😭💕💐🤏

    Like

  22. Anonymous

    mewakili isi hatiku bgt uss part ini, suka 🤍

    bapak sebenarnya tidak pernah berurusan dengan semua hal yg berkaitan denganku. itu kenapa aku tidak terlalu dekat dengannya, aku bahkan sering merasa kikuk bila sedang berdua dengannya. aku tidak tahu harus bicara apa, sebab bapak pun tidak pernah bertanya apa pun tentangku.

    Like

  23. iszti

    gak pernah absen untuk selalu baca ini kak

    Like

  24. latifa

    Proud bwt semua anak pertamaa

    Like

  25. Anonymous

    SENANGNYAAAAA TERASA SAMPAI SINIIII 🥹

    Like

  26. Alfi Syahrin

    pembaca ikutan lega

    Like

  27. Anonymous

    yang hadiah ulang tahun bener lagii

    Like

  28. Anonymous

    “seperti mendapat hadiah ulang tahun yang kamu tahu harus kamu kembalikan lagi dengan hadiah lainnya” isi pikiran anak pertama banget ini us🥹

    Like

  29. Za’imah Luthfiyah Qotrunnada

    Aku bukan anak pertama sih tp rasa tegangnya relate:))

    Like

  30. Anonymous

    anak perempuan pertama

    Like

  31. meiza

    uss mau lebih panjang lagi uuss 😔

    Like

  32. meiza

    hebatt bangett kiranaa 🥹💚

    Like

  33. Anonymous

    tapi kadang jadi sempurna dengan nilai nilai terbaik juga tidak terlihat dimata ibuku jika aku tidak menuruti pilihannya, padahal aku juga punya pilihan sendiri ah sudahlah, selamat hari, Senin semua

    Like

  34. Anonymous

    Morning person sekali paus ku

    Like

  35. Zelzira Miky Lezia

    bangga sekali?!

    Like

  36. kkk

    “aku suka bagaimana hidup memberikan kesempatan kedua”

    “Urusan anak pertama adalah bagaimana jadi juara dan tumbuh sempurna.”

    related for me, thanks cz u’ve written this beautiful word🥺

    Like

  37. Farida

    Terbiasa kena celaan, begitu diberi kehangatan jadi aneh ya us?

    Tapi memang anak pertama itu gk pernah akrab sama bapak gk sih?

    Like

  38. Anonymous

    bangga sekali?!!!

    Like

  39. Anonymous

    kirana hebatt bangett 🫂💚

    btw, uss mau lebih panjang lagi uusss 😔👀

    Like

  40. ifti

    Uss, relate bangett lagii

    Like

  41. Anonymous

    Uss, relate bangett lagiii

    Like

  42. Anonymous

    Uwowwww teringat masa SD matematika ku kalau ga 5 ya 6:v

    Like

  43. Anonymous

    Uwowwww seru abiezzzz , next bab waiting for it ussss

    Like

  44. jadi juara dan tubuh sempurna, DEYYMMM

    Like

  45. Anonymous

    jadi juara dan tubuh sempurna, DEYYMMM

    Like

  46. Anonymous

    Woww, aku cinta Senin pagii

    Like

  47. Anonymous

    seninku sedikit lebih ringan karena membaca tulisanmu, us🫶🏻

    Like

  48. Yulia Citra

    proud to Kirana🥹🥹

    Like

  49. Anonymous

    aku baca sambil ditemani nasi kuning us

    Like

  50. Anonymous

    🥹

    Like

  51. perfectlydream10d2c18b3f

    hai us, selalu baca ini didalam mobil yang membawaku ke kantor. cerita nya bagus, aku selalu menunggu senin pagi tapi belum cukup untuk membuatku mencintai senin pagi. aku masih membenci senin pagi

    Like

  52. Anonymous

    met yaw, kirana 🥰

    Like

  53. khofifahratu7

    Pagi pagi, sudah disuguhi dengan ke-related-an bagian akhir chapter 2 ini huhu. Terima kasih banyak pausssssss🌻✨️

    Like

  54. khofifahratu7

    PAGI PAGI

    Like

  55. Cinta

    Us, hari ini aku ingin mencintai senin pagi sedikit lebih lama. Sebab esok, aku akan kembali merayakan hari ketika semesta pertama kali memperkenalkanku pada dunia.

    Like

  56. hawa

    such a great monday, semoga hari ini sehat & lancar rezeki us dan pasukan teri! 🐳🦗🐸

    Like

Leave a Reply