Satu

Senin adalah sebuah permulaan

Awal mula untuk sesuatu yang baru juga untuk sesuatu yang sama. Seperti kebanyakan orang, aku tidak suka Senin. Aku tidak suka ketenangan yang kumiliki pada hari sebelumnya diambil paksa. Aku tidak suka dengan bagaimana semua hal harus dimulai dari Senin lagi. Aku tidak suka dengan cara Senin mengatur ulang realita–seolah semua harus kembali pada susunannya. 

Aku tidak suka bersusun. Aku tidak suka dengan sesuatu yang bertingkat seperti gedung, anak tangga dan peringkat kelas (ini yang paling aku benci). Aku tidak suka bagaimana angka menentukan sebuah posisi seseorang. Rasa tidak suka ini mungkin karena aku tidak pernah peringkat 1 di kelas—mendekati pun tidak. Peringkat paling tinggi yang pernah kucapai adalah peringkat 15 dari 29 siswa di kelas. 

Aku tidak pernah tahu seperti apa rasanya jadi nomor satu. Ini sebenarnya agak aneh mengingat aku adalah anak nomor satu. Iya. Anak perempuan pertama yang tidak pernah juara pertama—sungguh mimpi ibu yang hingga kini tidak bisa aku bantu wujudkan. 

Oh. Aku jadi teringat dengan Nina—teman sekolahku waktu SD. Nina hampir selalu juara kelas. Dia sering ikut lomba matematika. Tetapi, tidak. Nina bukan anak pertama. Dia anak kedua dari tiga bersaudara. Nina adalah anak tengah yang juara pertama. Hal ini sempat membuatku sedikit terguncang. Sebab, bagaimana bisa Nina yang anak tengah menjadi juara pertama? Sementara aku yang anak pertama justru berada di peringkat tengah? Tapi, apakah anak pertama harus menjadi juara? Apakah anak pertama boleh ada di tengah saja?

Tidak. Anak pertama tidak boleh ada di tengah. Dia harus menjadi juara. Anak pertama harus menjadi segalanya. Dan aku tidak membutuhkan bab berikutnya untuk menjawab pertanyaan yang selalu dijawab oleh ibu setiap kali aku hendak berangkat ke sekolah. 

Setiap pagi, di meja makan, ibu selalu mengingatkan aku tentang susunan rencana yang harus kutempuh. “Nilai harus bagus, ya, Rana. Matematika kamu harus sepuluh. Jangan sampai masuk 15 besar lagi. Kamu harus sejajar dengan Nina—kalau bisa melampauinya.”

Aku tidak pernah menjawab. Aku hanya mendengarkan sambil mulai memakan telur rebus yang ibu buatkan. Aku mendengarkan bukan berarti aku sungguh-sungguh memikirkan perkataan ibu, tapi karena memang itu yang bisa kulakukan (mendengar, bukan didengar). 

Aku tidak suka Senin. Terlebih lagi, pada hari itu, ada mata pelajaran matematika di jam pertama. Aku masih ingat bagaimana mengerjakan ulangan harian yang diadakan minggu lalu dengan keringat yang membasahi tubuhku. Aku ragu dengan jawabanku, dan keraguan itu pula yang membuatku sangat yakin dengan kehancuran nilai yang akan aku terima. 

“Kirana Tarika Anandini?”

Ibu guru memanggil namaku. Aku berjalan dengan langkah yang ragu untuk mengambil hasil ulangan harian matematikaku.

Empat puluh tujuh. 

Bukan. Aku sedang tidak membahas usia, suhu badan atau nomor punggung pemain sepakbola. Itu adalah nilai matematikaku: 47.

Nina dapat nilai 97.

Aku sempat tersenyum—merasa bangga karena akhirnya ada kesamaan antara aku dengan Nina; kami sama-sama dapat angka belakang tujuh—sampai wajah ibu muncul di benakku. Wajah masam tanpa sedikit pun senyum dengan tongkat kayu di tangannya untuk mengancamku: Awas kalau nilainya jelek! Ibu pukul kakinya! ucap Ibu menakut-nakutiku. Meski tidak pernah benar-benar memukulku, tetap saja bayangan itu menghantuiku. Aku menelan ludah dan segera kembali ke tempat duduk untuk melipat lembar ulangan itu dan menaruhnya ke dalam tas. 

Tenang. Ini bukan hal yang baru. Aku pernah dapat nilai matematika yang lebih buruk. Aku ingat sekali materinya waktu itu tentang angka desimal—sebuah sistem pecahan berbasis sepuluh yang menggunakan tanda koma sebagai pemisah antara bilangan bulat dan pecahannya. Angka saja sudah menyebalkan, ini segala dipasangkan lagi dengan istilah membingungkan lainnya.

Dari sana aku mengikuti remedial. Menarik bagaimana matematika mengantarkan aku dengan sebuah perasaan lega bernama ujian ulang. Aku suka remedial. Aku suka bagaimana hidup ternyata memiliki kesempatan kedua. Aku suka melihat kesalahanku sebagai alasan untuk belajar–bukan untuk merasa malu. 

Aku suka remedial. Remedial itu menyembuhkan. Tetapi tidak dengan ibu. Ibu membencinya. Katanya, anak pintar tidak akan remedial. Nilaiku hari itu benar-benar mencorengnya; bahwa ternyata anaknya bodoh. Bahkan lebih parah—anaknya suka remedial.

Sepulang sekolah, aku menunggu ibu menjemput di pos satpam sambil memikirkan satu hal: Bagaimana cara menghilangkan lembar hasil ujian ini?

 Aku masih memegang kertas itu. Kupandangi angka 4,7 dengan tinta berwarna merah–membuat semua jadi terlihat sangat jelas. Aku harus menyembunyikannya, pikirku. Ibu tidak boleh sampai melihat nilaiku ini. Aku pun segera melipatnya dan menyelipkan ke buku paket pelajaran yang lain.

Mobil Suzuki Carry berwarna hijau gelap berhenti di depanku. Ibu datang. Aku berlari kecil, lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang paling depan—tepat di sebelah ibu.

“Udah keluar belum hasil ulangan matematikanya?”

Belum sampai aku membenarkan posisi duduk, ibu segera melontarkan pertanyaan kesukaannya.

Aku menelan ludah, melepas tas ransel dan menaruhnya di bawah dekat kaki. Pendingin di mobil sudah lama rusak, membuat tubuhku tidak butuh waktu lama untuk dibanjiri keringat dan kepanikan yang muncul dengan sangat mudah.

“Be—Belum, Bu,” ucapku tergagap menjawabnya. 

Ibu terdiam sebentar kemudian melanjutkan, “Berapa nilainya?”

Sial. Apakah semua ibu di dunia memang memiliki kekuatan super untuk membaca kebohongan anaknya?

Aku perlahan menoleh kepadanya. Kupandangi wajah lelahnya dan tiba-tiba saja ada sesak yang tidak bisa kujelaskan—aku ketakutan.

Melihat keadaan itu, ibu tidak melanjutkan percakapannya denganku dan mulai mengendarai mobilnya. Sementara aku hanya bisa diam, dan berharap ada keajaiban yang membuat angka yang kusembunyikan di tasku berubah menjadi 97—seperti milik Nina.

***

Ibu tidak seperti biasanya.

Setibanya kami di rumah, dia tidak mengeluarkan tongkat kayunya untuk mengancam mukulku. Dia hanya memandangi nilai matematiku tanpa bereaksi apa-apa. Dia hanya duduk di kursi makan dan aku memilih berdiam diri di kamar.

Dia tidak bertanya seperti biasanya. Tidak kudengar pertanyaan semacam: Kenapa bisa gini, Kirana? Kamu nggak ngerti? Di bagian mana yang susah? Kenapa bisa segini nilainya?

Ibu sudah tidak lagi membutuhkan jawaban. Dia perlu mencari jawaban untuk dirinya sendiri. Jawaban yang akhirnya mengantarkan aku ke sebuah tempat kursus matematika keesokan harinya. Di sanalah aku bertemu Nina. Sesaat setelah menyadari kehadiranku, dia segera bangkit dari tempat duduknya dan belari menghampiriku yang berdiri di depan pintu.

“Kamu les di sini juga?” tanya Nina bersemangat.

Aku terdiam. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana menjawabnya. Ibu hanya membawaku ke sini tanpa menjelaskan apa-apa.

Itu kenapa—belum sampai aku menjawab Nina, ibu mendekat dan berkata, “Iya. Mulai hari ini, Kirana akan ikut Nina les matematika di sini.”

Aku menoleh ke arah ibu sebentar. Kulihat senyuman teduh yang lama tidak terbit di wajahnya. Matanya seolah menyebarkan harapan yang kukira sudah tidak ada. Pada saat itu, hilang sudah semua perasaan takutku kepadanya. Lenyap semua kengerianku akan tongkat kayu yang sebenarnya juga tidak pernah mendarat di kakiku. Ternyata aku tetap senang melihatnya bahagia, meski dengan hal-hal yang tidak bisa aku mengerti.   

“Asyik!” Nina berseru kegirangan. “Ayo, Rana! Sini ikut aku!”

Nina menarik tanganku. Aku masih berusaha menahan langkahku dan berkata pelan pada ibu dengan setitik ragu, “Bu?”

 Ibu tidak berucap apa-apa. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum kepadaku. Melihat itu, aku lantas meneruskan langkahku hingga pintu depan tertutup dan ibu terlepas dari pandanganku.

Senin adalah permulaan. Awal mula untuk sesuatu yang baru juga untuk sesuatu yang sama. Yang baru adalah ini tempat kursus matematika pertamaku, dan yang akan selalu sama adalah aku harus mengikuti maunya ibu—untuk ke sekian kalinya.

2 responses to “Satu”

  1. Stecuu

    Masih menjadi pertanyaan kenapa anak pintar harus juara pertama dan harus menguasai matematika? Bukannya jadi biasa biasa aja juga ngga papa ya kan Rana?

    Liked by 1 person

  2. Detaa

    Aaaa finally.. thank you pauss🌻

    Like

Leave a Reply