
Dia adalah nama yang tidak bisa disebutkan.
Dia adalah cerita yang tidak bisa disampaikan kepada siapa pun. Dia adalah perjalanan yang tidak bisa ditempuh. Dia adalah harapan yang tidak bisa dipesan. Dia adalah mahakarya mahal yang tidak bisa dibawa pulang. Dia adalah rumah yang tidak bisa dijangkau. Dia adalah lampu sorot yang tidak bisa didekati.
Dia bukan aku. Dia adalah ketidakmungkinan yang kuhendaki. Dia adalah kemungkinan yang tidak akan terjadi. Dia adalah kesempatan yang harus dihindari. Dia adalah pintu yang lebih baik dibiarkan terkunci. Dia adalah rencana yang harus segera dibatalkan.
“Nggak batal kok, Ran, cuma ditunda.”
Kirana Tarika Anandini.
Aku telanjur dipanggil Kirana dan bukan dengan nama Tarika yang lebih kusukai. Tapi itu tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa hidup berdampingan dengan hal-hal yang tidak terlalu aku sukai. Aku terbiasa merelakan apa yang sangat aku inginkan. Aku anak perempuan pertama—aku terbiasa mengalah sebagaimana seharusnya.
“Tetap aja nggak jadi,” kataku kepada Mila di telepon.
“Bukan nggak jadi, tapi belum dalam waktu dekat.”
“Kok lo bisa sih sepositif itu?” jawaban Mila membuatku berbalik bertanya. “Kalau gue jadi lo—gue mending berangkat sendiri, deh.”
“Tiketnya kan buat dua orang, buat gue sama Devan.”
“Iya kalau nanti dia batalin lagi kayak gini gimana? Kalau emang sibuk, jangan asal ngejanjiin ke Jepang dong. Mana lo udah nyiapin semuanya,”
“Gue yang nggak jadi ke Jepang—kenapa jadi elo yang lebih kecewa gini?”
“Tuh!” sahutku dengan cepat. “Jadinya yang benar—nggak jadi ke Jepang atau belum dalam waktu dekat?”
Ucapanku membuat Mila berhenti bicara.
“Udah, ah. Gue matiin ya teleponnya. Gue mau cari kopi dulu,” kataku sambil beranjak dari tempat duduknya di ruang tunggu stasiun.
Aku menutup teleponku dengan Mila setelah mengobrol selama empat belas menit, kemudian berjalan untuk mencari kopi. Tidak jauh dari tempatku berdiri, aku melihat sebuah kedai kopi yang posisinya tepat di tengah-tengah stasiun. Ketika aku masuk ke dalam, suara kereta api dan informasi keberangkatan kereta terdengar sangat jelas. Terlihat sudah ramai pengunjung mengisi meja-meja. Ada yang hanya memesan kopi, ada pula yang sudah hampir selesai dengan piring berisikan nasi dan ayam.
Dari balik meja kasir, seorang barista menyapaku.
“Pagi, Kak. Mau pesan apa, nih?” sapa seorang barista. Kini tiba giliranku untuk memesan.
“Aku mau hot cappucino satu ya,” jawabku sambil melirik daftar menu yang ada di papan atas.
“Boleh, Kak, ada tambahan lain?”
Aku sempat memandangi etalase kaca berisi kue di samping kiriku. Ada cinnamon roll, croissant dan beberapa bolu potong. Ah. Bisa kubayangkan rasa manis itu sampai di mulutku dan nantinya tinggal di sela-sela gigiku. Sayangnya aku tidak menyukainya. Aku tidak suka manis, tapi aku juga tidak suka kopi yang terlalu pahit, itu kenapa cappucino jadi jalan tengah yang selalu aku pilih.
“Mmm, nggak deh. Itu aja, Mas,”
“Untuk pesanannya, Kak? Mau aku tulis atas nama siapa?”
“Kir…” suaraku tiba-tiba tertahan. Aku seperti menginginkan sesuatu yang lain. “Tarika. Atas nama Tarika.”
Barista itu mencatat namaku di gelas kopi kemudian menotalkan pesananku.
“Payment dengan apa, Kak? Kami sudah cashless, ya,”
Ada setitik perasaan yang asing ketika aku mendengar nama kesukaanku itu. Tidak pernah ada yang memanggilku Tarika, bahkan diriku sendiri.
“Pakai QRIS aja, Mas,” jawabku sambil membuka aplikasi mobile banking di ponsel untuk melakukan pembayaran.
Aku lalu mengarahkan ponselku ke kode yang sudah tertera di mesin pembayaran.
“Pembayarannya sudah berhasil ya, Kak,” ucap barista kepadaku. “Pesanannya bisa ditunggu di pick up bar. Terima kasih.”
Aku berjalan ke tempat pengambilan pesanan yang tidak jauh dari meja kasir. Di sana, aku menunggu sambil memainkan ponselku—sebab, entah apa yang bisa kulakukan selain itu. Halaman Instagram pun terbuka dan aku mulai menggulir tiap postingan yang ada di sana.
“Tarika?”
Suara laki-laki bernada lembut tiba-tiba terdengar sangat dekat denganku.
Aku pun menoleh—mencari arah suara itu.
Bukan. Itu bukan barista yang memberi tahu kalau pesananku sudah jadi. Itu adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan rambut berwarna hitam gelap. Dia mengenakan kaos oversized abu-abu dengan celana panjang hitam dan sneakers berwarna putih.
“Tarika, kan?” ucapnya memastikan sekali lagi.
Tidak. Aku tidak mengenalnya. Wajahnya tidak familiar sama sekali. Itu yang membuatku agak kesulitan untuk merespon perkataannya.
Dia memakai kacamata bulat dengan bingkai tebal. Dia terlihat seperti seusiaku. Dan yang menurutku sangat aneh adalah dia memanggilku Tarika. Dia terlalu dekat untuk seseorang yang tidak aku ingat sama sekali.
Mungkin orang jahat, pikirku.
Aku memilih diam—menjaga jarak. Aku hanya bisa berharap semoga pesananku cepat jadi dan aku bisa pergi dari situasi ini.
“Atas nama Tarika?”
SIAL.
Aku lupa tadi memakai nama Tarika pada pesananku. Bisa kurasakan dia terus mengamatiku—memastikan bahwa akulah Tarika yang dia maksud. Suasana menjadi tidak nyaman. Aku memilih menahan diri untuk tidak mengambil kopi yang sudah ada di atas meja—berharap dia segera pergi.
“Atas nama Tarika?” ucap barista yang kembali memanggilku.
“Itu kopinya udah jadi, Rana.”
Dia mengenalku.
Berarti, aku sungguh-sungguh seseorang yang ada di dalam pikirannya. Entah siapa—yang jelas aku bukan orang itu. Ini pasti hanya sebuah kebetulan.
Aku kembali melirik ke arahnya—masih mencoba untuk mengingat wajahnya, tapi tidak berhasil kutemukan nama dan memori tentangnya di dalam ingatanku.
Aku harus kabur dari situasi ini.
“Makasih, Mas,” ucapku kepada barista sambil meraih kopi pesananku kemudian berbalik untuk meninggalkan kedai ini.
Aku melewatinya. Aku sempat menatap matanya dari jarak yang lebih dekat selama beberapa detik.
“Kamu masih sama ternyata,”
Kini, langkahku berhenti.
“Masih suka buru-buru,” sambungnya. “Ngejar apa, sih?”
Dari ambang pintu, aku menoleh. Ini bukan kebetulan. Dia bukan hanya mengenalku—dia pernah membacaku. Dia…memerhatikan aku. Aku anak perempuan pertama—tidak ada yang pernah memerhatikanku melalui hal kecil seperti yang dilakukannya.
Siapa dia? Siapa orang asing yang mengenalku itu? Apakah dia pernah ada? Atau aku memang sudah sengaja melupakannya?
Leave a comment