MYTSKM – 11 (BONUS)

“Heee? Tokoh lamanya beneran balik lagi?” sahut Surya melongo membaca lembaran naskah Rani di laptop. 

Melihat Surya yang sedang asyik membaca reflek membuat Rani segera menutup laptopnya. “Ngintip aja!” seru Rani. 

“Bilangin ke tokoh utamanya, orang yang hobinya bolak-balik itu udah pasti nggak serius!” seru Surya sambil membuka sebuah bungkusan yang dibawanya pagi itu. 

“Bentar dulu deh. Kok lo bisa di sini? Siapa yang bukain pintu?” tanya Rani bingung.

“Tadi papasan sama Bella di depan,” jawab Surya. “Kebetulan dia bawa kunci dan dia mau bukain pintu, karena katanya lo lagi nggak bisa diganggu.”

“Terus? Lo nggak ke kantor emangnya?” tanya Rani bingung. 

“Iya ke kantor, tapi kan sarapan dulu. Ayok, ada nasi uduk, nih,” jawab Surya sambil tersenyum lebar. “Seperti biasa nggak pake bawang goreng dan ekstra bihun,”

Rani mungkin bisa menolak Surya, tapi dia jelas tidak bisa menolak nasi uduk kesukaannya yang sudah tercium aromanya. Dia pun duduk dan bersiap makan.

“Semua hal yang lo suka, tuh, pasti ada revisinya, ya, Ran?” lanjut Surya.

Rani memandangnya bingung. “Hah? Maksudnya revisi?”

“Bubur, nggak pake kecap sama kacang. Soto ayam, nggak pake bawang goreng. Sate kambing, nggak pake lemak sama hati. Es campur, nggak pake susu. Mie bakso, nggak pake daun bawang. Bahkan, lo makan siomay nggak pake siomaynya—cuma kentang, tahu, telur, sama pare.”

Rani tersenyum dan mulai menyendok nasi uduknya. “Ih. Lo, tuh, naksir gue ya, Sur?”

“Iya, lagi.”

Kini, Rani benar-benar menatapnya. “Hati-hati, nanti naksir beneran loh!”

“Kenapa harus hati-hati? Jatuh cinta sama lo nggak pernah jadi hal yang menakutkan buat gue, Ran. Siapa pun lawannya gue hadapin.”

Perkataan Surya barusan membuat Rani merasa tersesat di antara dua kebingungan. Kebingungan pertama, tentang ucapan Surya yang terdengar serius dan bercanda dalam waktu yang sama—yang kini menggoyahkannya. Kebingungan kedua, tentang bilamana Surya memang benar-benar memiliki seorang lawan untuk mendapatkan hatinya—entah lawan itu adalah Dipta atau justru diri Rani sendiri.

“Lo terakhir pacaran kapan, Sur?” tanya Rani di tengah kunyahannya.

Surya dengan separuh nasi uduk yang sudah dia makan menjawab, “Hmm, waktu masih di kantor film yang sebelumnya,”

“Berarti dua… tiga tahun lalu, ya?” tanya Rani memastikan.

Surya mengangguk. “Kenapa? Mau tanya putusnya karena apa?”

Rani nyengir memberi isyarat bahwa, iya, dia ingin tahu.

Surya tidak langsung menjawab, seperti sedang merangkum cerita panjang yang ada di dalam kepalanya sementara Rani tidak melepas pandangannya—menanti Surya bicara.  

Beberapa menit kemudian, Surya pun akhirnya berkata, “Karena nggak jodoh aja,”

Rani lantas meletakkan sendok dan melipat tangannya. “Ah! Apaan udah ditungguin jawabannya gitu doang? Udah diem selama itu ternyata cuma karena nggak jodoh aja?”

Surya tersenyum tenang. “Ya… Kapan lagi lo mandangin muka gue segitu seriusnya? Iya, nggak?”

“Dasar!” seru Rani. 

Pagi itu, dua porsi nasi uduk dengan banyak revisi telah menjadi saksi dua orang yang saling membelakangi; Rani yang mencintai Dipta dari kejauhan, dan Surya yang selalu menjaga Rani dari belakang. 

***

Seminggu kemudian, Rani mendampingi salah seorang penulis yang tengah menggelar tur buku ke Bandung. Meski dia memang sudah menuntaskan pekerjaannya yang lain untuk bisa fokus mengerjakan naskahnya, tetapi agenda tur buku sudah direncanakan jauh sebelum itu. Lebih lagi, Rani juga cukup dekat dengan penulisnya dan acaranya pun di akhir pekan, jadi sebenarnya tidak terlalu mengganggu proses pengerjaan naskah buku pertamanya. 

Kantor penerbitan tempat Rani bekerja memang bisa dibilang cukup rutin melakukan tur buku sebagai salah satu kegiatan promosi buku. Apalagi, sejak Surya yang menjadi pemred di kantor. Menurut Surya, di luar kegiatan promosi, tur buku penting untuk menjembatani hubungan antara penulis dengan pembaca.

Pagi itu Rani dan penulis berangkat bersama Mbak Leni, Sekar dan Yudis. Mereka memutuskan untuk naik kereta dari Stasiun Gambir. 

“Si Surya nggak ikut, Ran?” tanya Mbak Leni yang baru kembali dari membeli kopi di area stasiun.

“Bukan nggak ikut, Mbak, emang sengaja nggak diajak,” jawab Rani. 

Mbak Leni tertawa. “Kamu, nih, gitu banget sama Surya,”

“Gitu banget gimana, Mbak?” sahut Rani cepat karena ucapan Mbak Leni barusan persis seperti yang diucapkan Surya ketika mereka makan ramen berdua.

Mbak Leni meletakkan kopinya di kursi yang ada di sampingnya. “Kamu sering kesal sama dia, tapi kamu paling dekat sama dia di kantor. Kamu nggak pernah percaya sama dia, tapi kamu selalu kelihatan nyaman kalau lagi ada dia. Kamu selalu bilang nggak sama dia, tapi kalau dari bahasa tubuh kamu yang Mbak dan anak-anak lain lihat di kantor—kamu seperti nggak pernah benar-benar menolak dia, Ran.”

Rani menyahut cepat, “Dia nggak pernah kasih aku apa-apa kok, Mbak. Bingung juga— apa yang bisa aku tolak dari dia, karena nggak ada juga yang bisa aku terima?”

Mbak Leni tersenyum mendengar jawaban Rani. “Rasanya kayak dengar jawaban dari orang yang lagi khawatir, bukan bingung.”

“Iya, ya, Mbak?” sahut Rani sambil nyengir. “Awalnya, aku kira aku bingung sama semua sikap Surya yang terlalu terang-terangan tentang perasaannya—yang entah itu benar atau dia bercanda. Tapi di luar dia serius atau nggak, aku sebenarnya nggak pernah bingung sama dia. Itu juga alasan kenapa aku nyaman sama dia, Mbak, karena sifat frontalnya itu. Dia selalu yakin sama dirinya sendiri, dia selalu punya jawaban untuk semua pertanyaan.”

“Tapi?”

Rani tersenyum dan butuh beberapa menit sampai akhirnya dia menjawab, “Tapi masih ada orang lain yang cukup mengganggu pikiran dan perasaanku, Mbak.”

“Ada orang lain yang mengganggu pikiran kamu atau kamu takut Surya nggak jauh berbeda dari orang lain itu?” 

Rani terdiam karena dia tahu dia masih belum punya jawaban untuk pertanyaan itu.

***

Mereka tiba di Stasiun Bandung sekitar pukul sepuluh pagi. Mbak Leni dan Yudis langsung menuju toko buku yang akan digunakan untuk acara, sementara Rani menemani Tisna—penulis di tur buku kali ini—untuk makan siang. 

“Loh, Kak Leni sama Kak Yudis nggak ikut kita, Kak?” tanya Tisna kepada Rani.

“Iya. Mereka ada urusan dulu di toko buku, nanti mereka nyusul ke tempat makan,” ucap Rani. “Yuk, mau sekarang aja, Tis?”

“Berangkat!”

Di dalam mobil menuju tempat makan, Rani melihat jam di layar handphone-nya, kemudian menyadari suatu hal. “Kayaknya masih terlalu cepat untuk makan siang sekarang, nggak apa-apa? Atau kamu mampir dulu ke mana gitu?” tanya Rani.

“Menurut aku nggak kecepatan kok, Kak, kita makan siang sekarang aja. Aku sebenarnya laper banget, tadi nggak sempat sarapan soalnya,” jawab Tisna sambil nyengir.

Rani tertawa. “Berarti langsung makan sundaan ya kita?”

Tisna mengangguk setuju. “Btw, tadi aku nggak sengaja dengar pas di kereta—waktu Kakak lagi ngobrol sama Kak Yudis tentang cover buku,” kata Tisna. “Kak Rani mau rilis buku, ya?”

“Iya,” jawab Rani. “Sebenarnya nggak rencana, sih. Jadi ada brand yang mau rilis produknya lewat buku, singkat cerita aku yang dikasih kepercayaan untuk ambil project itu,”

“Berarti… Ini buku pertama atau Kak Rani sebelumnya udah pernah rilis buku juga?” tanya Tisna lagi.

Rani tersenyum. “Iya. Ini buku pertamaku,”

Jawaban itu mendatangkan senyum yang lebar pada wajah Tisna. “Wah! Aku nggak sabar mau baca juga. Buku pertama itu selalu jadi yang paling istimewa tahu, Kak,” sahut Tisna bersemangat. 

Rani menjawab dengan gumaman dan menunggu Tisna melanjutkan.

“Buku pertamaku adalah tentang satu cerita paling membekas dibanding cerita lain yang aku punya,” lanjut Tisna. “Dulu, aku kira, cerita paling membekas itu adalah cerita yang akhirnya bahagia, ternyata nggak juga. Buku pertama aku justru tentang seseorang yang harus aku lepaskan, karena emang nggak pernah ketemu jalannya. Padahal aku suka banget sama dia. First love pula. Udah aku tulis sampai tiga buku, tetap aja nggak mengubah bahwa yang pertama emang nggak selalu selamanya. Kita emang bisa mengatur ending di buku kita, tapi kalau urusan realita kan beda cerita, ya, Kak Rani?”

Ucapan Tisna barusan membuat Rani terdiam dan tidak mampu berkata lagi. Ucapan itu juga yang langsung membawa pikirannya kepada naskahnya sendiri. Bahwa ada alasan kenapa dia memilih Dipta untuk menjadi buku pertamanya; karena dialah cerita paling membekas itu. 

***

Acara dimulai pukul dua siang. Tisna dan pembawa acara sudah duduk di depan, sementara Rani berdiri di belakang para pembaca yang hadir. Sesekali dia membuka kamera di handphone-nya untuk mendokumentasikan acara. 

“Nanti rencana mau makan malam di mana, Ran?” tanya Mbak Leni yang baru datang dan berdiri di sebelahnya. 

“Tadi si Tisna, sih, pengin makan sei sapi, ya. Nggak tahu masih ada atau nggak kalau malam,”

“Harusnya masih buka, ya? Coba nanti aku cek lagi,” jawab Mbak Leni. “Kamu nggak ada yang dicari gitu di Bandung?”

Rani menggeleng. “Nggak ada, Mbak. Dulu, sih, selalu beli cimol kalau ke Bandung, tapi sekarang, kan, udah ada dekat kantor,”

Mbak Leni terdiam, seperti teringat sesuatu. “Cimol dekat kantor yang suka kamu beli bareng Surya waktu itu?” Mbak Leni terkekeh. 

Mendengar itu Rani ikut tersenyum. Dia teringat ketika Surya menemaninya membeli cimol di dekat kantor. 

“Ini apa nggak bisa beli lewat aplikasi aja?” tanya Surya mengeluh siang itu.

“Nggak bisa. Rewel banget baru jalan bentar doang,” sahut Rani terganggu. “Abangnya biasa jualan di ujung jalan situ, loh,”

Siang itu Jakarta sangat terik. Keringat Surya mulai menembus ke kemeja abu-abunya. “Ran,” panggil Surya dari belakang. Suaranya memelan. “Rani,”

“Kan tadi gue udah bilang nggak usah ikut,” tanya Rani terus berjalan tanpa menoleh. “Tuh! Udah kelihatan gerobaknya warna merah,”

“Seenak itu emangnya sampe dibela-belain gini?”

Langkah Rani berhenti. Kali ini dia menoleh kepada Surya. “Kayak gini aja udah dibilang bela-belain? Ini cuma jalan kaki beli cimol, Surya,” ucap Rani. “Ya udah sana balik ke kantor aja,”

Rani pun lanjut berjalan dan Surya menyusul agar bisa berada persis di sebelahnya. 

“Apa gue jadi cimol aja ya, Ran? Minimal jadi abangnya,” sahut Surya. “Biar gue tahu rasanya jadi sesuatu yang lo suka,”

Rani geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecil. “Iya, gih. Coba jadi cimol, jadi gue ketemu lo sesekali aja.”

Surya melongo. “Kok begitu?”

“Mmm, gini,” gumam Rani. “Gue suka cimol, tapi bukan berarti gue mau makan cimol tiap hari. Bukan karena gue nggak sanggup, tapi karena rasa suka gue ke cimol akan berubah dan nggak sebesar sebelumnya. Menurut gue, rasa istimewa itu ada karena kita nggak terlalu dekat sama suatu hal itu,”

Kini Surya terdiam—sangat lama, sampai mereka tiba di depan gerobak penjual cimol. 

“Bang, beli yang biasa satu, yang isi keju satu, ya,” Rani berkata kepada tukang cimol. 

“Bumbunya mau pake apa, Mbak?” tanya abang penjual cimol.

“Hmm… Balado aja, deh,”

Abang penjual cimol mengangguk sambil terus menggoreng cimol jualannya. “Kalau si Mas pesennya apa?” gantian abang penjual cimol bertanya kepada Surya yang masih diam dari tadi.

“Sama saya juga balado,” jawab Surya.

Abang penjual kemudian mengamati mereka berdua. “Biasanya sendiri, ini lagi sama pacarnya, Mbak?”

Mata Rani membesar. “Bukan, Bang!”

“Belum, Bang,” sahut Surya.

Jawaban Surya mengundang Rani menoleh ke arahnya. “Ini temen kantor saya,” ucap Rani.

“Temen level dua, Bang,” sahut Surya lagi sambil nyengir. 

Rani pun memilih untuk membuang muka dan berhenti melihat wajah Surya yang jahil itu. Wajah yang kini masih dengan rapi tersimpan di dalam pikirannya. Wajah yang membuatnya melamun panjang di hadapan Mbak Leni sekarang—di tengah keramaian acara tur buku di Bandung.

“Rani? Hei?” Mbak Leni berusaha menyadarkan Rani dari lamunannya. 

Rani melihat Mbak Leni dengan bingung. “Eh, kenapa, ya, Mbak?”

Mbak Leni tersenyum. “Kamu, nih, kayak orang habis kena hipnotis aja,” 

“Hah? Aku bengong, ya, dari tadi?”

“Bengongin apa, sih?” tanya Mbak Leni. “Bengongin Surya, ya? Tuh, daritadi handphone kamu bunyi. Suaranya kayak notifikasi pesan masuk,”

Rani segera membuka handphone-nya. Ternyata benar ada notifikasi pesan masuk dari Bella: Ran, Surya…

59 responses to “MYTSKM – 11 (BONUS)”

  1. Anonymous

    anjay jadi cameo ya us as tisna tisna ituuu?? wkwkwkw #salfok

    Like

  2. Anonymous

    baru baca full mytskm, setelah ga kebagian wae buku nyaa😭

    Like

  3. Anonymous

    baru selesai baca sejam setengah sebelum open po bukunya😭😭

    Like

  4. Anonymous

    SURYA KENAPE ANJIRRR 😭😭😭

    Like

  5. Anonymous

    us dimalam Minggu ku ini malah galauin suryaaaaa😭

    Like

  6. Anonymous

    uss jangan gtuuu

    Like

  7. Anonymous

    us cepetan keluarin nggak bukunyaaaa!!!

    Like

  8. Anonymous

    digantung banget ni…

    Like

  9. Anonymous

    kesel bangetttt😭

    Like

  10. Anonymous

    Kecewa bgt di gantung terus😖🥹😭

    Like

  11. Anonymous

    KENAPA GAK SI SURYAAAAAA

    Like

  12. Anonymous

    KENAPA GAK SI SURYAA????????

    Like

  13. Anonymous

    kenapa siiiii suka banget ngegantungin perasaan orang😭😭😭

    Like

  14. Anonymous

    SURYA KENAPA PLIS

    Like

  15. Anonymous

    SURYA KENAPA PLIS?????

    Like

  16. Anonymous

    cefat apa lanjutannya jgn di gantung gitu dong huhuhu

    Like

  17. Anonymous

    jangan di gantung gitu dong huhuhu

    Like

  18. Anonymous

    SURYA APA ITU LANJUTANNYA AAAAAAAAAA

    Like

  19. Anonymous

    Jangan gantung kami kak

    Like

  20. Anonymous

    lucu.

    Like

  21. Anonymous

    YA ALLAH USS, DINGANTUNG ITU GAENAK TAU. INI CERITAMU NGEGANTUNG…

    Like

  22. Anonymous

    LANJUTIN CEPAT GA USSSSSSSS

    Like

  23. Anonymous

    gapernah seovt ini mikirinn suryaa padahal aku tim dipta wkwkwkwk

    Like

  24. Anonymous

    bisa dilanjut dikit ngga, itu surya kenapa

    Like

  25. Anonymous

    jangan bilang surya kecelakaan terus ilang ingatan ya us, gak mau, apalagi kalo surya nikah yah jangan dulu pliss sur selesain satu-satu😭

    Like

  26. Anonymous

    us, aku pendukung surya btw. tapi di real life, hati ku masi milih dipta 🤡😭

    Like

  27. Anonymous

    AAAAAAAAAAAAAA

    Like

  28. Anonymous

    WEEHHHHH SAHABAT SURYA KENAPAA?? PLCC JANGAN APA APAIN SURYA 😭👊🏻

    Like

  29. Anonymous

    ihhhhh nanggung bangetttt ussss, sangat menggantunggg T.T.T, surayakuuuu jangan diapa2in usss T.T.T

    Like

  30. Anonymous

    mana lanjutannyaa

    Like

  31. Anonymous

    ini ada lanjutannya ga sihh

    Like

  32. Anonymous

    ini ada lanjutannya engga sihh

    Like

  33. Anonymous

    hehh si surya kenapa 😭

    Like

  34. Anonymous

    KAK PLIS CEPETAN RILIS BUKUNYA DEH

    Like

  35. Anonymous

    gua berharap bgt tuh barista coffeshop itu si dipta, coba ran ke coffeshop itu siapa tau dipta

    Like

  36. Anonymous

    apakah surya ….. plis suryaa jangan aneh aneh pada 🤨

    Like

  37. Anonymous

    SURYA KENAPA PLSSSS

    Like

  38. Anonymous

    bisa kayaknya ada bonus part 2 hehe

    Like

  39. Anonymous

    Rani akhirnya udh mulai sadar ada Surya

    Like

  40. Raihanah Labibah

    cepat open po gaa??!!?

    Like

  41. Raihanah Labibah

    cepat open po bukuuu😭

    Like

  42. Anonymous

    Ran, Surya… mau nikah

    awas aja kalo gini ya uss

    Like

  43. Anonymous

    Ran, suryaa… mau nikah

    awas aja kalo ginii

    Like

  44. Anonymous

    suryaaa kenapa ussss😭

    Like

  45. Anonymous

    kok gitu sih pauss,cozyyyy bgttttttt

    Like

  46. Anonymous

    plisss ini kapan bisa baca nya lagi aku ga sabarrrr

    Like

  47. Anonymous

    akal akalan barat inii, KO NGAGANTUNG GINI SIII IHH😭😭😭

    Like

  48. Anonymous

    omaygat ada tisna

    Like

  49. Anonymous

    surya kenapa nihhh tisnaaaa

    Like

  50. Anonymous

    ada tisna, tisnaa itu kenapa suryakuuu😭😭

    Like

  51. Anonymous

    surya kenapa ihhhh

    Like

  52. Anonymous

    deymmm

    Like

  53. Anonymous

    kirain bakal “ran,dipta”😭🙏🏻

    Like

  54. Anonymous

    USSSSS, ini kenapa gantung gituuuu

    Like

  55. Anonymous

    ini maksudnya apa ussss 🫵🏻

    Like

  56. Anonymous

    aaaaaaaaa help

    Like

  57. Anonymous

    aaaaa gamon sekali sm suryaaa rani tolong😭

    Like

  58. Anonymous

    deym, apa lagi ini

    Like

  59. uss jangan bikin ovt giniii, aaaa suryakuu😭

    Like

Leave a comment