Sepulang kerja, Rani bergegas pulang ke apartemennya. Seseorang sudah menunggunya di sana. Dari depan lobi, dilihatnya seorang perempuan berambut pendek seleher dengan kacamata tebalnya. “Bell!” sapa Rani kemudian menghampirinya.
Seperti yang sudah dia bahas dengan Surya tempo hari, bahwa Bella, teman sekolahnya dulu, akan menjadi teman apartemennya yang baru.
“Lama, ya, nunggunya?” tanya Rani.
“Nggak, santai kok,” ucap Bella. “Lo dari kantor banget ini? Sama siapa?”
“Sendirilah!”
“Yah, kok sendiri? Ke mana si Surya-Surya itu?” tanya Bella menggoda Rani.
Rani tersenyum tipis. “Lagi nganterin nyokapnya ke dokter gigi,”
“Cie… Saling ngabarin, nih, ceritanya?”
“Udah, ah! Ke atas yuk,” ajak Rani sambil membantu Bella dengan barang bawaannya.
Di dalam lift, Bella belum juga menghentikan percakapannya dengan Rani tentang Surya. “Kata Gina, lo sama dia, tuh, HTS?”
Rani melongo. “HTS gimana? Orang cuma temen kantor, Bell,”
“Cuma temen kantor?” sahut Bella mengulang ucapan Rani. “Cuma temen kantor, tapi nonton konser berdua? Cuma temen kantor, tapi selalu makan berdua? Cuma temen kantor, tapi sekarang, dia jadi tetangga lo karena dia khawatir lo tinggal sendirian nggak ada yang nemenin? Itu bukan cuma temen kantor, Rani, itu namanya HTS!”
“Nggak HTS, Bell, dia emang kayak gitu orangnya,”
Bella geleng-geleng kepala, dia tidak menyangka temannya sangat tidak peka. “Oke. Anggaplah emang bukan HTS, tapi seenggaknya, lo sadar kan kalau dia suka sama lo?” tanya Bella.
Rani mengangkat bahu. Membuat Bella spontan merespon, “Kok gitu?”
“Kalau lo kenal dia secara personal, lo pasti paham maksud gue,” jawab Rani. “Kadang, dia emang kelihatan kayak tertarik, dan gue bisa ngerasa kalau dia peduli sama gue. Gue pun nyaman sama dia. Gue nyaman untuk makan bareng dia, untuk ngobrol lama sama dia. Tapi, di sisi yang lain, kadang dia kelihatan kayak cuma bercanda. Jadi… Gue nggak yakin kalau dia suka sama gue. Hmm… Menurut gue, dia bukan suka sama gue kayak jatuh cinta gitu, kayaknya nggak. Dia cuma tertarik aja gitu. Kayak—”
“Astaga, Rani?” sela Bella memotong kalimat Rani yang belum selesai. “Lo, nih, masih mikirin Dipta?”
Rani masih memikirkan Dipta. Rani masih terlalu memikirkan laki-laki membingungkan itu. Sadar atau tidak sadar, Rani masih berputar pada perasaan dan orang yang sama. Dia pun sering bertanya pada dirinya sendiri. Apa iya gue masih stuck sama Dipta? Apa iya gue kayak gini ke Surya, karena gue belum bener-bener selesai Dipta? Iya, tapi mau selesai dari apa? Apa yang pernah gue mulai sama Dipta? Apa yang masih menahan gue? Apa yang membuat gue berat untuk mencoba buka hati sama orang lain?
***
Dua bulan berlalu. Rani masih memiliki tiga bulan untuk menyelesaikan naskah buku pertamanya. Selama dua bulan terakhir, dia mampu menuliskan enam bab dengan cukup baik. Dia belum menemukan kesulitan hingga di bagian Dipta menjadi orang asing yang jauh dari jangkauannya, pada saat itulah, tulisannya berhenti.
“Ran? Ada Surya, nih!” panggil Bella dari ambang pintu.
Rani tidak menyahut, dan seperti biasa Surya langsung segera masuk ke dalam. Sesaat kemudian, Surya melihat Rani yang duduk di sofa sambil memandangi layar laptopnya. “Nama Rani Mentari, tapi masih pagi mukanya udah mendung gitu?” sapa Surya sambil duduk di sampingnya.
“Kenapa? Bingung sama naskahnya?” Surya bertanya lagi karena Rani diam saja.
Rani menoleh kepadanya, kemudian mengangguk. “Buntu, deh, gue. Belum nambah lagi halamannya,” ucapnya pelan.
“Buntu gimana? Apa yang buat jadi susah?” tanya Surya lembut.
Rani terdiam sebentar. Dia berusaha memastikan bahwa meminta penadapat Surya tentang naskahnya bukanlah sebuah kesalahan. “Ceritanya cuma seru di awal, Sur,” ucap Rani mulai bercerita. “Setelah tokohnya asing dan di-ghosting, sebenarnya ceritanya jadi nggak seru lagi, jadi nggak happy. Gue jadi nggak yakin apa yang harus ditulis. Stuck.”
“Mmm…” gumam Surya sambil menatapnya serius. “Emang ada buku yang ceritanya seru doang? Yang isinya cuma seneengggg….terus?”
“Iya—yang namanya buku emang nggak mungkin isinya cuma happy,” sahut Rani.
“Terus? Di mana masalahnya?”
Rani berbalik menatap Surya sebentar, sebelum akhirnya menjawab, “Masalahnya… Gue jadi nggak happy lagi nulisnya,”
Mendengar itu Surya pun melongo. “Hah? Mana bisa kayak gitu?”
Rani mengangkat bahu, memberi isyarat bahwa dia juga tidak bisa memahami keadaannya sekarang ini. “Hebat, ya, penulis di luar sana. Mereka bisa dengan kuat dan berani menyelesaikan naskahnya. Padahal di dalamnya, mereka harus menghadapi bagian-bagian yang udah pasti nggak mudah,” sahut Rani, suaranya kian memelan.
Kali ini, gantian Surya yang diam, seperti membiarkan Rani meneruskan ceritanya.
“Buat beberapa orang, menulis kan berarti mengingat ulang, dan nggak semua ingatan itu menyenangkan,” sambung Rani. “Biasanya, kalau lagi baca novel, dan tokoh utamanya berpisah dengan tokoh yang nggak tepat buat dia—gue pasti nggak sabar untuk lanjut ke bab berikutnya. Gue nggak sabar untuk baca bagian di mana tokoh utamanya ketemu tokoh baru dan melanjutkan hidupnya. Eh, giliran nulis buku sendiri, baru tahu kalau perpindahan semacam itu nggak gampang, ya. Mungkin tokoh utamanya bisa beranjak, bisa terus jalan dan ketemu tokoh baru, tapi, guenya yang udah cocok banget sama tokoh lama itu. Entah karena beneran cocok atau karena gue masih bertanya-tanya aja,”
“Bertanya tentang?” sahut Surya cepat.
“Tentang kenapa dia milih berhenti dan pergi,” jawab Rani. “Kalau menurut lo, Sur? Dari sudut pandang lo—kenapa seseorang bisa milih untuk ninggalin seseorang begitu aja, setelah sempat melalui hari-hari bersama? Ninggalin—tanpa ada perpisahan apa-apa?”
“Karena pengin aja nggak, sih?” jawab Surya membuat Rani seketika membisu. “Buat gue hidup itu antara iya atau nggak aja. Gue nggak suka mempertanyakan sesuatu yang akan bikin gue capek sendiri. Jadi, daripada gue pikirin alasan dan jawaban yang nggak bisa gue dapatin, gue lebih baik menyimpulkan, bahwa dia pergi ya karena maunya pergi. Kita emang nggak bisa selalu dapat perpisahan dari tiap pertemuan, tapi kita bisa buat penutupan sendiri, kan? Supaya bener-bener selesai dan bisa pulang?”
Rani kelihatan ragu. “Gitu, ya?”
“Iya, dong,” jawab Surya mengangguk yakin. “Mungkin, setelah bagian serunya udah selesai, lo bisa coba mulai nulis tentang gimana tokoh utamanya mencoba untuk menghadapi banyak pertanyaan dan kebingungannya sendiri. Bahwa dari asingnya dia dengan si tokoh lama, dia jadi punya transformasi karakter—in a good way? Dari tokoh yang terjebak di cerita yang nggak jelas, menjadi tokoh yang lebih berani untuk membela dirinya sendiri.”
“Membela dirinya sendiri?” tanya Rani mengulang ucapan Surya.
Surya kembali mengangguk. “Si tokoh utama akhirnya sadar, kalau dia sebenarnya berhak mendapatkan seseorang yang nggak buat dia nebak-nebak. Jadi, dia nggak akan biarin dirinya jatuh di tempat yang sama lagi. Iya, kan?”
Rani tersenyum tipis. “Lo kalau lagi kayak gini ternyata lebih nyenengin,”
Surya terdiam, menikmati senyuman yang bukan miliknya itu.
“Guys, gue ada di sini, lho, daritadi???” sahut Bella yang berdiri di dekat TV sambil mengenggam handphone-nya. “Nih, lihat. Sampe gue videoin,”
Bella menunjukkan videonya, “Tuh. Serius banget kayak di film-film,” kata Bella lagi.
“Ih! Ngapain divideoin, sih. Hapus, ah!” protes Rani.
Bella menarik handphone-nya. “No, no, no. Lumayan, nih, kalau gue taruh di TikTok. Pasti banyak yang relate. Hari gini siapa coba yang nggak pernah stuck sama cowok HTS yang nggak jelas dan hobi ghosting? Iya, nggak, Sur?”
Surya tertawa. “Harusnya lo bilang kalau mau videoin, Bell, biar gue bisa siapin microphone terus sekalian podcast, deh.”
Rani memukul tangan Surya. “Rese banget!” ucapnya sewot. “Udah sana, Bell, katanya lo mau malem mingguan?” sahut Rani.
“Oh, iya! Duh! Udah telat, nih, gue. Gara-gara Podcast Raya, nih,”
Rani memandanginya bingung. “Podcast Raya apaan?”
“Podcast Rani-Surya,” jawabnya meledek sambil nyengir.
Rani segera mengambil remot TV bersiap untuk melemparkannya ke arah Bella, “Sana, nggak?”
Bella tersenyum geli dan bergegas kabur dari hadapan Rani, sementara Surya meraih remot TV dari tangan Rani. “Nggak usah bawa-bawa remot segala dong, Ran,”
“Iya, habisnya, sih! Bella, tuh, usil banget,” protes Rani. “Dia bener-bener mirip lo, deh, pokoknya. Lo pasti cocok kalau sama dia.”
Surya menatapnya sinis. “Mulai,”
Rani pun menanggapinya dengan menyengir dan kembali mengerjakan naskahnya di laptop.
“Eh, iya. Ngomong-ngomong, lo cepet juga akrab sama Bella?” kata Surya lagi. “Bukannya lo sempet bilang, kalau lo sama dia nggak sedeket lo sama Gina?”
“Asli, Sur, gue juga shock. Seinget gue, dulu dia kalem,” sahut Rani cepat. “Kaget gue dia berubah jadi seru dan ceria kayak gitu,”
“Itu dia, Ran, karena sekarang deket, lo baru bisa tahu kalau dia ternyata anaknya seru, dan nggak kalem. Sama aja kayak waktu dulu gue kenal lo. Gue kira lo ramah dan friendly, ternyata galak, judes, dingin, tapi sebenarnya lembut sekali hatinya,” Surya menjelaskan.
Lagi-lagi, jawaban Surya membuat Rani kesulitan untuk menyembunyikan kagum pada wajahnya.
“Kok lihatin gue kayak gitu? Kenapa? Gue keren, ya, Ran?”
Rani segera membuang pandangannya, dan kembali menatap layar laptopnya. “Nggak, itu lo ada upil,” ucap Rani berusaha menenangkan hatinya sendiri—yang entah kenapa merasa gugup.
“Ah, masa iya gue ada upil, Ran?” seru Surya sedikit terkejut.
“Oke, gue coba lanjutin lagi naskahnya sesuai saran dari lo, ya?” Rani bertanya kepada Surya dengan sedikit ragu sambil menghela napas panjang.
“Gue boleh di sini, Ran? Gue janji nggak berisik, gue janji jadi patung,”
Rani mengangguk setuju, dan mereka pun menghabiskan sore hingga malam itu berdua—seperti biasanya. Surya menemani Rani menulis di satu malam minggu yang romantis. Entah romantis atau tragis—karena Surya tidak lain sedang mendampingi Rani menyusuri masa lalu tentang tokoh lama yang masih jadi favoritnya.
Leave a comment