“Kalau dilihat dari dia yang udah bolos terus, harusnya kita nggak perlu bingung lagi, sih, Ran,” lanjut Reza sambil beranjak dari tempat duduknya. “Gue yakin Dipta udah cukup dewasa untuk buat keputusan di hidupnya, dan gue yakin lo pun begitu.”
Sambil melihatnya beranjak, Rani terus memikirkan perkataan Reza. Ngapain dia cerita-cerita segala? Kan cuma temen? Apa emang itu hal yang biasa, ya? Cowok… Cerita tentang temen cewek ke temen cowoknya? pikir Rani.
Tiba-tiba, Reza menunda langkahnya kemudian membalikan tubuhnya ke arah Rani dan berkata, “Dia udah lama hidup sendiri, Ran, sejak ada lo dia ngerasa punya rumah. Lo udah kayak adek buat dia,”
Rani melongo. Dia tidak menjawab apa-apa sampai Reza meninggalkan kelas.
Tunggu-tunggu. Apa gue nggak salah denger? Adek? Kakak-adek zone banget, nih, gue??? Jadi selama ini semua bentuk perhatian dia ke gue itu karena dia lihat gue kayak adeknya sendiri? Nggak mungkin. Ini mungkin Dipta lagi salah paham sama dirinya sendiri. Mungkin dia sebenarnya suka sama gue dengan konteks romantis-tapi dia bingung? Iya, kan? Gue nggak mungkin lagi denial, kan?? ucap Rani dalam kepalanya.
Beberapa saat kemudian, Rani berjalan meninggalkan kelas untuk menghampiri Gina di kantin yang tidak ikut kelas pagi karena kesiangan. Sesekali dia memeriksa notifikasi di handphone-nya yang berada dalam mode don’t disturb, untuk memastikan bahwa tidak ada pesan masuk dari Dipta. Keadaan ini ternyata membuatnya gelisah lebih dari yang bisa dia bayangkan.
“Ran!” panggil Gina.
Dengan lemas, Rani menghampirinya.
“Kata anak-anak lo abis ditegur sama Pak Fajar? Tumben?” lanjut Gina.
Rani hanya menjawabnya dengan gumaman.
“Ah, tau banget nih gue gerak-gerik muka sedih kayak gini,” kata Gina lagi.
“Kok dia nggak nge-chat gue, ya, Gin? Apa emang harusnya nggak perlu chat lagi?” tanya Rani yang tidak mampu lagi menahan kegelisahannya.
“Terakhir chat ngomongin apa?”
“Cuma waktu dia bilang udah mau sampe pas ketemuan waktu itu,”
“Ketemuan yang ending-nya berantem?” tanya Gina.
Rani mengangguk perlahan.
“Karena lo sama dia nggak pernah jadian, berarti nggak bisa dibilang putus. Hmm… mungkin itu closure nggak sih, Ran?”
Sesuatu menghantam hatinya. Pertanyaan Gina barusan membuatnya menyadari bahwa keputusan Dipta untuk tidak lagi mengabarinya setelah pertengkaran tempo hari adalah sebuah closure, sebuah penutup, sebuah batas antara yang dia kira pernah dimulai dan yang kini benar-benar selesai.
“Tapi baru lima hari, sih?” sahut Rani. “Mungkin dia masih butuh waktu?”
“Butuh waktu untuk?”
Rani sekarang benar-benar terdiam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Gina, tapi di dalam kepalanya mulai muncul deretan pertanyaan baru. Untuk apa, ya? Untuk merasa bersalah? Tapi, kan, sebenarnya dia nggak salah apa-apa? Itu, kan, hidup dia? Pilihan dia? Atau untuk menyadari bahwa gue nggak bermaksud menyinggung? Bahwa gue cuma ingin yang terbaik buat dia? Tapi gimana kalau yang keluar dari mulut gue kemarin emang menyakiti perasaannya? Tunggu-tunggu. Jadi, ini gue yang salah? Harus gue yang chat dia duluan? pikir Rani.
“Apa gue aja yang chat duluan?”
“Lagi, Ran?” sahut Gina cepat. “Lo lagi yang chat duluan? Lo lagi yang ngejar dia untuk minta penjelasan? Lo lagi yang nyamperin dia? Menurut gue, sih, cukup, ya.”
Rani mengembuskan napas panjang. Jauh dalam lubuk hatinya, dia pun mengerti kalau tidak sepatutnya dia berharap lebih kepada Dipta. Dia menyadari kalau sampai kapan pun hubungannya dengan Dipta tidak bisa lebih dari sekadar teman laki-laki yang terlalu dekat. Sudah ada banyak sinyal peringatan untuknya segera mengakhiri perasaannya kepada Dipta, tapi bahkan hanya dalam sebuah tatapan, dia akan kembali luluh pada sesuatu yang cepat atau lambat akan menghancurkannya.
“Jadi… Ini bener-bener lampu merah buat gue berhenti, ya, Gin?”
Gina mengangguk. “Kalau dia mau elo, dia pasti akan usaha. Semarah-marahnya, kalau sayang, pasti balik juga. Ini, kan, nggak?”
Rani terdiam.
“Ternyata bener, ya,” kata Gina lagi sambil memerhatikan wajah sahabatnya.
“Bener apa?”
“Selesai dari sesuatu yang belum pernah dimulai itu nggak kalah hebat sakitnya,”
“Gila ini gue beneran korban HTS banget, nih?”
***
Tepat satu minggu setelah pertemuan terakhir mereka, di cafe dekat kampus, Rani melihat Dipta mengunggah sebuah story di Instagram. Tumben, pikirnya.
Tanpa berlama-lama, Rani membukanya. Dalam unggahan itu, terlihat Dipta sedang membawa papan bertuliskan Gunung Papandayan 2.665 MDPL dengan senyum lebar di wajahnyaโberbeda sekali dengan Dipta yang seminggu lalu dia temui.
Rani masih terus menekan layar handphone-nya dan membiarkan dirinya memandangi foto Dipta. Dia mulai berpikir, Ternyata dia baik-baik aja, ya.
“Lihatin apaan, Ran? Sampe bengong gitu?” tanya Gina yang duduk persis di hadapannya.
“Ini,” ucap Rani sambil menunjukkan apa yang sedang dilihatnya.
“Lah, dah sampe Papandayan aja itu anak,”
Rani terdiam. Sambil masih melihat foto itu, Rani berkata kepada Gina. “Gue jahat nggak sih kalau gue nggak suka lihat dia happy kayak gini?”
Gina tidak menjawab. Dia merasa sahabatnya itu belum selesai bicara.
“Aneh banget rasanya lihat dia fine-fine aja, sementara gue di sini kayak kerepotan sendiri. Lo tau kan, tadinya gue sama dia selalu chat setiap hari, masa tiba-tiba berhenti? Masa dia nggak nyariin gue? Atau… Apa guenya yang berlebihan ya? Gue, ya, yang drama? Gue merasa ini masalah, padahal ini hal yang biasa terjadi, toh, gue sama dia nggak pernah ada status apa-apa. Iya, oke gue HTS sama dia, tapi… Tapi gue tetap nggak bisa terima kalau semua ini ternyata cuma terjadi di dalam kepala gue. Gue mau dia sama repotnya kayak gue,” ucap Rani melanjutkan dengan suara yang mulai bergetar.
“Tenang dulu, Ran,”
Tanpa disadar, Rani menangis. “Ih kok gue jadi nangis ya, Gin? Kenapa jadi gini, sih,” ucap Rani kebingungan.
Gina tersenyum seperti menyadari sesuatu. “Astaga, Ran, lo udah sayang beneran sama dia?”
Mendengar pertanyaan itu, tangisannya tidak bisa lagi dibendung. Bagai hujan yang lama tertahan awan mendung, Rani menangis hebat.
***
Menulis bagian tentang berakhirnya kisah sebentar di antara Dipta dan dirinya, ternyata belum menjadi hal yang mudah untuknya. Bahkan sampai sekarang ketika dia menuliskannya kembali, Rani sebenarnya masih menyimpan banyak pertanyaan. Tentang kenapa sesuatu yang pernah begitu dekat, bisa menjauh dalam sekejap. Tentang bagaimana seseorang yang pernah membuatnya merasakan banyak hal, bisa membuatnya mendadak merasa kosong. Pada akhirnya, Rani pun menyadari bahwa cerita yang berakhir itu, masih menggantungnya sampai hari ini.
“Kalau yang tadinya chat setiap hari, terus sekarang cuma jadi penonton story, itu namanya apa, ya, Sur?”
Surya menoleh ke arah Rani yang sedang duduk di depan laptop. “Namanya asing,”
“Asing?” Rani menyahut cepat. “Emang bisa asing tanpa ada perpisahan?”
“Justru disebut asing karena selesainya tiba-tiba tanpa ada perpisahan,”
Jawaban Surya mengejutkan Rani.
“Kenapa? Tokohnya abis asing?” kata Surya lagi.
Rani beralih ke anak kantor yang lain. โEmang iya, Mbak? Asing itu karena selesai tanpa kalimat selamat tinggal?โ
Mbak Leni, salah satu team marketing di kantor, yang duduk di kursi sebelah Rani, dari tadi cuma bisa tersenyum mendengar obrolan mereka. “Di beberapa keadaan, bener bisa gitu kok, Ran,”
Dari tempatnya, Surya menyahut, “Tuh! Mbak Leni aja setuju sama gue,”
“Kelihatannya kayak ragu gitu, Ran? Ada yang bisa Mbak bantu?” tanya Mbak Leni kepada Rani yang terlihat kesulitan dengan naskahnya.
“Aman, kok, Mbak. Cuma… Mendadak kayak nggak terima aja kalau tokoh utamanya di-ghosting tanpa aba-abaโ”
Masih dari tempatnya, Surya lagi-lagi menyahut, “Kalau ada aba-aba, bukan ghosting namanya!”
“Ih! Bawel!” protes Rani. “Lo, tuh, nggak diajak,”
Mendengar itu, Surya segera beranjak dan mendatanginya. “Yah, ajak gue dong, Ran,”
“Apa, sih?”
“Ikut…” bujuk Surya memelas.
Rani memandanginya bingung. “Ikut ke mana?”
“Ikut kalau beli udang keju, enak banget ternyata!”
Mbak Leni ikut tersenyum dari tempat duduknya. Sementara itu, Rani menatap Surya dengan sedikit kesal sekaligus geli karena jawaban Surya yang tidak bisa diprediksi arah datangnya. “Kenapa jadi tiba-tiba udang keju, sih?”
Surya menarik kursi di dekatnya kemudian duduk di depan meja Rani. “Sebenernya, kemarin waktu lo uring-uringan karena udang keju lo hilang dua padahal isinya cuma tiga, itu gue yang makan, Ran,”
Rani melongo. “Astagfirullah. Surya.”
“Jangan marah, Ran,”
Rani cuma bisa menghela napas dan menahan kemarahannya yang sudah hampir meledak. “Balik sana ke tempat lo,” ucap Rani dengan datar.
“Ih, dengerin dulu dongโ”
“Nggak sopan tahu kayak gitu, itu kan udang keju punya gue!” Rani menyela Surya, kali ini dia tidak bisa menahannya lagi. “Lo, tuh, selalu kayak gitu. Selalu! Lo selalu sembarangan dan seenaknya!”
Surya terdiam, dan menunggu ucapan Rani yang terdengar belum selesai.
“Gue selama ini diem aja kalau lo berulah, tapi kan lama-lama kesel juga, Sur. Padahal kemarin lo lihat gue uring-uringan, lo tahu gue nunggu itu udang keju udah lama banget karena antre, terus tiba-tiba pas gue balik habis ngambil minum dari pantry, udang kejunya udah tinggal satu!” sambung Rani kesal.
“Tapi, Ran, ini kan cuma udang kejuโ”
“Tuh, kan! Baru juga diomongin berapa detik lalu, masih aja diulangin!” sahut Rani, kali ini suaranya terdengar cukup gemetar. “Bukan soal udang kejunya. Ini soal hal kecil yang suka lo ambil alih sesuka lo. Tiba-tiba berubah, tiba-tiba jadi apa. Tiba-tiba ngeiyain proyek naskah kolaborasi sama brand parfum. Tiba-tiba nunjuk gue untuk yang nulis bukunya. Lo, tuh, selalu kayak gitu!”
Kata-kata Rani barusan membisukan Surya beberapa saat. Sampai kemudian, tangisan Rani pecah. Setetes demi setetes, air matanya kemudian membasahi pipi. Menyadari dirinya yang menangis, Rani segera beranjak dan berjalan cepat menuju toilet.
“Anak orang jadi nangis, tuh, Sur,” ucap Mbak Leni.ย
Selang beberapa menit, Surya menyusul Rani. Dia kemudian bersandar pada dinding, menanti Rani keluar dari toilet. Sambil menunggu, Surya berpikir. Apa kali ini gue emang udah kelewatan, ya? Duh! Iya, lagi. Gue emang nyebelin, sih. Ah! Gimana sih lo, Sur? Kalau kayak gini, bukannya suka, dia malah makin kesel! ucap Surya kepada dirinya sendiri dalam hati. Kenapa gue nggak bisa tahan diri ya untuk nggak isengin dia?
Dari dalam, terdengar suara pintu terbuka, dan suara air dari keran wastafel. Surya pun berdiri sigap untuk meminta maaf kepada teman yang sangat dia sayangi itu. Beragam kalimat sudah dia siapkan di dalam kepalanya.
Begitu Rani keluar dari toilet, Surya langsung menarik tangannya. “Maafin gue, ya, Ran. Gue tahu gue udah kelewatan, tapi gue bener-bener nggak bermaksud untuk nggak sopan. Gue cuma terlalu suka gangguin lo, cuma harusnya gue bisa tahu batasan. Maaf banget, Ran,”
Tidak diduga, Rani justru memberinya senyum. “Gapapa, Sur, ternyata gue haid,” ucap Rani sambil nyengir.
Surya cuma bisa terdiam memandanginya.
“Ternyata lo bisa takut juga, ya? Lucu banget, loh, muka lo pas panik gitu. Sering-sering dong,” kata Rani lagi sambil tertawa kecil.
“Kalau takut dan panik, masih bisa gue ulangin lagi, tapi untuk lihat lo nangis kayak tadiโgue nggak bisa.”
Dengan tangannya yang masih berada dalam genggaman Surya, Rani mendadak merasa canggung dan suasana berubah hening. Menyadari keadaan itu, Rani segera menarik dan melepas tangannya dari genggaman Surya. “Iya-iya. Biasanya juga gue nggak sampe nangis kalau lo iseng, itu pure karena haid aja. Makanya jadi lebih sensitif,” Rani berusaha mencairkan suasana.
Surya mengeluarkan handphone-nya. “Tanggal berapa sekarang?” tanya Surya kepada Rani.
“21. Kenapa?”
“Mau gue catet, biar gue tahu jadwal haid lo, supaya hal kayak tadi nggak perlu keulang lagi,”
“Hal kayak tadi? Iseng, maksud lo?”
“Buat lo nangis.”
Leave a comment