“Tapi emang beneran ada, ya? Orang yang nyimpen seseorang di dalam parfum?” tanya Surya yang mendatangi meja Rani pagi itu.
“Salah pertanyaannya—yang bener itu, emang ada orang yang nggak nyimpen orang lain di dalam parfum?”
Surya kelihatan ragu. “Apa, iya? Gue nggak, tuh!”
“Iya—lo mah bukan orang,”
Surya terbahak. “Makin lucu aja, deh. Genre bukunya Rom-Com, ya?”
“Udah sana, ah! Gangguin aja,” ucap Rani ketus kepada Surya.
“Ih jelasin dulu!” sahut Surya mendesaknya. “Gimana ceritanya nyimpen orang di dalam parfum? Emang muat? Emang bisa?”
Kedua mata Rani langsung tertuju pada sebotol body mist di dekat sudut mejanya. Body mist berukuran 250 ml yang sudah lama dia pakai, dan di sanalah Dipta berada. “Nggak pernah ada satu orang pun yang dengan sengaja menyimpan seseorang di dalam sebotol parfum, Surya. Semuanya itu nggak sengaja. Siapa yang mau ngerepotin diri sendiri dengan flashback setiap kali menghirup aroma-aroma itu? Nggak ada. Beberapa ketidaksengajaan emang nggak bisa dihindari, pun dengan parfum beserta kenangannya. Mereka tiba-tiba aja ada di dalamnya—dengan sendirinya.”
Surya melongo. “Kalau repot gitu terus gimana? Ganti parfum?”
“Ya… Iya.”
“Sekalipun itu udah parfum yang lo suka banget?”
“Sejak kapan sesuatu yang kita suka harus dipaksain segitunya? Kalau cuma nyusahin dan buat sedih, kenapa nggak ganti yang baru aja?” ucap seseorang yang masih menyimpan parfum yang sama dengan tokoh dan kenangan yang sama.
Selagi Surya menatapnya dengan penuh kagum, Rani merasa telah mengkhianati hatinya sendiri. Karena setelah sekian lama, siapa sangka topik parfum justru yang membuatnya terguncang.
“Ya, udah. Selamat lanjut bekerja, deh, Bu Penulis….” ucap Surya.
Setelah Surya meninggalkan mejanya, Rani meraih sebotol body mist yang sejak tadi mengganggu pemandangannya. Tadinya dia hendak menaruh ke dalam laci, sampai ada sesuatu yang mendorongnya untuk mencoba menghirup aroma itu sekali lagi, dan… Waktu berhenti. Rasanya dia baru saja menekan tombol pause dan semuanya berhenti, kecuali ingatan yang berlari mundur membawanya pergi ke hari itu.
Hari di mana Dipta mengantarkan kabar yang terlalu mengejutkannya. “Gue mau berhenti kuliah, Ran,” ucap Dipta.
Tidak pernah Rani bayangkan bahwa akan ada sesuatu yang lebih menyakitkan dari perasaan yang tidak terima, yaitu mendengar keputusan Dipta yang barusan. Meski tidak terlalu membuatnya terkejut, karena sejak awal Dipta memang tidak terlihat serius menjalani perkuliahan, tapi tetap saja Rani tidak menyangka bahwa dia benar-benar mengambil langkah ini.
“Jangan bercanda,”
“Gue nggak bercanda—”
“Berarti itu lebih buruk,” ucap Rani menyela Dipta, “Mau ngapain, sih? Kalau berhenti kuliah, lo mau ngapain, Ta? Lo udah jauh-jauh dari Semarang ke Jakarta cuma mau kayak gini?”
“Maksudnya gimana, ya?” Dipta bertanya, suaranya terdengar dingin.
“Kalau kuliah lo nggak selesai, semuanya sia-sia, Ta. Harusnya lo bisa buktiin ke nyokap dan bokap lo kalau lo jadi orang yang berhasil. Bahwa tanpa mereka lo juga bisa kuliah, lulus, dan kerja. Dari semester-semester kemarin gue masih mencoba untuk ngerti. Tiap kali lo bolos kelas gue pikir, mungkin lo baru dapet kebebasan dan lagi menikmati itu. Tapi kita bukan anak sekolah lagi, Ta. Semua ada batasnya, dan menurut gue keputusan lo yang ini itu nggak banget.”
Perkataan Rani barusan merusak perasaan nyaman yang selama ini Dipta miliki kepadanya. Dipta pikir Rani akan antusias untuk mendengar kabar beserta alasan darinya, tapi bahkan baru sampai di judul berita, ucapan Rani menyakiti hatinya.
“Lo tuh bukan siapa-siapa gue, Ran,” sahut Dipta. “Lo nggak berhak ngomong kayak gitu ke gue,”
Kali ini, gantian Rani yang merasa bahwa perkataan Dipta barusan menghantamnya dengan kekuatan yang besar. Dia tidak menyangka Dipta punya pendapat yang jauh berbeda darinya.
“Ya udah jelasin. Kenapa harus sampe berhenti? Besok, tuh, udah semester lima, Ta. Kita udah mau setengah jalan, kenapa nggak diterusin?” tanya Rani.
“Gue merasa kuliah, tuh, nggak cocok buat gue,” jawab Dipta dengan bernada datar.
Rani keheranan. “Terus di mana tempat yang cocok? Apa pun itu kan bisa sambil kuliah, Ta? Orang lain banyak, kok, yang kerja sambil kuliah,”
Dipta tidak langsung menjawab. “Bukan cuma soal kerjanya,”
“Terus soal apa? Keputusan lo itu nggak realistis banget,”
“Kayaknya, untuk kali ini lo nggak ngerti, Ran,” ucapnya sambil beranjak, kemudian berjalan meninggalkan Rani.
Dari tempatnya duduk, Rani hanya diam dan membiarkan Dipta pergi.
***
Dipta tidak masuk kampus hari ini. Sampai kelas dimulai, Rani masih terus berharap Dipta muncul dari pintu depan kelas. Tapi sampai dosen mulai membuka kelas pagi itu, Dipta tidak kunjung datang. Sementara itu, perdebatan mereka tempo hari sangat mengganggu pikiran Rani. Rasanya seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar, bedanya, mereka bukan sepasang kekasih. Entah sudah berapa kali Rani memeriksa notifikasi di handphone-nya setiap jam, tapi belum juga ada pesan masuk dari Dipta. Terakhir kali, percakapan mereka berhenti di Rani, dan mengingat pertengkaran mereka membuat Rani enggan menyapa lagi.
“Rani,” panggil dosen dari depan kelas yang sejak tadi mengamati Rani yang terlihat melamun memandangi layar handphone-nya. Dari tempatnya duduk, Gina sudah gelisah melihat temannya diam mematung dan tidak menyahut.
“Jelaskan perbedaan antara cultural studies dengan etnografi,” sambung dosen yang mulai berjalan menuju tempat Rani duduk sementara Rani masih terjebak pada lamunannya.
“Rani!”
“Gue nggak lagi nungguin dia chat duluan!” sahut Rani dan diikuti seisi kelas yang terbahak mendengarnya.
Rani terperanjat melihat seorang laki-laki tua bertubuh tinggi gemuk tiba-tiba sudah ada tepat di depan mejanya. “Eh, Pak,” lanjut Rani kali ini dengan senyum tipis. “Maaf, saya melamun.”
Sampai kelas selesai, Rani hanya bisa terdiam dengan rasa malunya. Dia merasa kekonyolan yang tadi terjadi seperti bukan dirinya. Iya. Dia tidak biasa begitu. Dia tidak biasa memikirkan seseorang, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.
“Lo oke, Ran?” tanya Reza, teman kelasnya yang duduk tepat di depannya. “Jarang-jarang lo sampe bengong kayak gitu,”
“Gapapa. Kayaknya efek begadang aja,” jawab Rani sambil nyengir.
“Oh… Gue kira gara-gara si Dipta,”
Rani seketika membuka matanya lebar-lebar. “Kok… Lo…” ucap Rani sedikit terbata.
“Gue satu tempat kos sama dia, beda lantai aja,” jawab Reza. “Kala di kampus, gue emang nggak kelihatan deket sama dia, tapi di kos Dipta sering minta ditemenin ngerokok. Nah, di waktu-waktu itu dia sering ceritain lo gitu,”
“Ceritain… Gue?” tanya Rani kian gugup.
Reza mengangguk. “Iya,” jawab Reza. “Apa aja diceritain. Dari waktu dia pertama kali ngajak lo kenalan, ngajak lo ke toko buku, makan bareng lo, nemenin lo nonton film drama padahal dia nggak suka. Semua tentang lo dia ceritain, Ran. Bahkan waktu lo ngambek sama dia karena ngumpetin earphone lo, dia ceritain ke gue sambil senyum-senyum.”
Mendengar itu, gantian Rani yang tersenyum. “Gue nggak tahu dia suka cerita-cerita kayak gitu,”
“Cowok kalau udah suka pasti satu dunia harus tahu, Ran,”
Senyum di wajahnya sirna. Suka apaan? Suka sebagai teman? Suka sebagai seseorang yang buat dia nyaman? Suka, tuh, luas maknanya! batin Rani sedikit kesal.
Reza meneruskan ceritanya. “Iya, dia emang bukan tipe orang yang suka curhat, tapi kenyataannya dia ngomongin lo mulu. Terakhir soal…”
Reza tidak melanjutkan kalimatnya. Dia merasa tidak enak untuk membawa masalah Dipta ke dalam percakapannya dengan Rani, dan Rani pun memahami itu. “Iya. Gue juga bingung. Gue nggak pernah ribut sama orang kayak gini, apalagi orangnya dia,”
“Hah? Apalagi orangnya dia? Nggak salah denger, nih, gue? Jadi Dipta istimewa, Ran?” ucap Reza meledek.
Rani terdiam. Sial. Entah dari mana kalimat itu muncul, pikirnya.
“Kalau dilihat dari dia yang udah bolos terus, harusnya kita nggak perlu bingung lagi, sih, Ran,” lanjut Reza sambil beranjak dari tempat duduknya. “Gue yakin Dipta udah cukup dewasa untuk buat keputusan di hidupnya, dan gue yakin lo pun begitu.”
Sambil melihatnya beranjak, Rani terus memikirkan perkataan Reza. Ngapain dia cerita-cerita segala? Kan cuma temen? Apa emang itu hal yang biasa, ya? Cowok… Cerita tentang temen cewek ke temen cowoknya? pikir Rani.
Tiba-tiba, Reza menunda langkahnya kemudian membalikan tubuhnya ke arah Rani dan berkata, “Dia udah lama hidup sendiri, Ran, sejak ada lo—dia ngerasa punya rumah. Lo udah kayak adek buat dia,”
Rani melongo. Dia tidak menjawab apa-apa sampai Reza meninggalkan kelas.
Tunggu-tunggu. Apa gue nggak salah denger? Adek? Kakak-adek zone banget, nih, gue??? Jadi selama ini semua bentuk perhatian dia ke gue itu karena dia lihat gue kayak adeknya sendiri? Nggak mungkin. Ini mungkin Dipta lagi salah paham sama dirinya sendiri. Mungkin dia sebenarnya suka sama gue dengan konteks romantis-tapi dia bingung? Iya, kan? Gue nggak mungkin lagi denial, kan??
Leave a comment