“Tapi bukunya beneran happy ending, Ran?”
Rani mengangguk. “Iya. Emangnya kenapa? Kok kayak nggak yakin gitu?”
Surya menatapnya. “Gapapa, sih, cuma biasanya, kan, kalau stuck sama yang gantung itu bisa lama, Ran. Temen gue aja ada yang nggak move on-move on padahal status nggak ada, jadian juga nggak.”
Rani terdiam. Dia terdiam cukup lama. “Iya makanya itu berproses. Di dalam bukunya nanti bakal diceritain gimana tokoh utamanya belajar memahami perasaannya dan apa yang paling baik buat dia.”
“Dan yang paling baik buat dia si orang baru? Gitu? Emang orang baru udah pasti baik?” sahut Surya. “Kalau si orang baru sama nggak jelasnya? Sama gantungnya? Gimana?”
“Jadi menurut lo gimana? Orang lama atau orang baru, nih?”
Surya berhenti sebentar, seperti berpikir. “Orang lama atau orang baru? Orang yang jelas ada di depan lo gini, Ran, masa satu kesempatan aja nggak ada?”
“Btw, Ran,” kata Surya lagi.
“Mmm?” gumam Rani menunggu Surya melanjutkan.
“Jadi tokohnya HTS, nih? Hubungan Tanpa Status?” tanya Surya.
Rani mengangguk. “Iya. Kan kalau hubungan teman saja, mah, kita.”
“Ish!” sahut Surya kesal.
Rani menatapnya. “Loh? Bener, dong?”
Surya tersenyum samar, dia kemudian membalas dengan gumaman.
“Happy banget gue, Sur,” lanjut Rani. “Biasanya kalau lagi meeting, gue selalu bahas tulisan penulis lain. Tapi, tadi…. Wah. Gue bahkan bingung jelasinnya,”
“Emang nulisnya udah sampe mana?”
Wajah Dipta muncul di dalam kepala Rani ketika mendengar pertanyaan itu. Perasaan bahagia yang menghuni hatinya membawa Rani pergi kembali ke hari itu. Hari di mana dia berencana untuk menyampaikan tentang perasaannya kepada Dipta. Hari… yang tidak akan pernah dia lupakan.
“Rencananya lo mau confess kayak gimana, Ran?” tanya Gina hari itu di kelas.
“Kalo menurut, lo? Mending lewat chat atau langsung aja?” kata Rani berbalik tanya. “Mmm… Nanti sore dia ngajak gue makan, sih, pulang kampus.”
Dengan cepat Gina menyahut, “Nah! Pas itu aja. Biar lo bisa langsung tau reaksi dan respon dia gimana.”
Atas saran dari Gina, Rani memantapkan hatinya untuk menyatakan perasaannya kepada Dipta. Bukan karena dia yakin Dipta memiliki perasaan yang sama, tetapi untuk mengakhiri sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
Rani mengemasi tas dan merapikan riasannya. “Gue udah cantik, belom?” tanya Rani kepada Gina yang dari tadi keheranan melihat sahabatnya.
“Udah. Kapan, sih, lo jelek?”
Rani berhenti. Terdengar bunyi dari handphone-nya. Ada pesan masuk dari Dipta: Di mana, Ran? Gue di kantin, nih.
“Kenapa? Dipta, ya?” tanya Gina lagi.
Rani mengangguk. Dia kemudian mengetik pesan balasan untuk Dipta: Iya. Wait. Di situ aja, jangan ke mana-mana.
Semenit kemudian, Dipta membalas: Ke mana-mana, gimana? Gue ke sini aja cuma buat ketemu lo.
Bibir Rani perlahan membentuk senyum. Dia kemudian beranjak meninggalkan kelas, dan bergegas untuk menemui Dipta kantin. Saat berjalan menuju kantin, dia merasa tidak karuan. Mendadak perutnya terasa tidak enak. Dia mual. Tidak pernah Rani bayangkan rasa gugup akan membuatnya tidak nyaman seperti ini.
Semakin mendekati kantin, Rani memelankan langkah kakinya. Tidak lama, dia berhenti. Dari tempatnya berdiri, dia sudah bisa melihat Dipta yang sedang duduk bersama dua orang temannya. Rani menunduk. Dia bisa merasakan tangannya mendingin.
Tidak lama, dia mendengar suara langkah seseorang yang mendekat ke arahnya. Langkah itu semakin dekat, hingga sepasang kaki mendarat tepat di hadapannya. Rani mengangkat wajahnya.
“Kenapa, Ran? Kok diem di sini?” Dipta bertanya.
Butuh beberapa saat sampai Rani menjawabnya. “Gapapa,” jawab Rani. “Udah, yuk. Makan,”
Dipta meraih tangan Rani. “Kok tangannya dingin banget? Sakit?” tanya Dipta lagi, suaranya terdengar sangat khawatir.
“Laper,” jawab Rani yang membiarkan tangannya berada dalam genggaman Dipta.
“Bener? Bukan sakit? Nggak ada yang lagi dirasain, kan?” ucap Dipta memastikan.
Nggak ada yang lagi dirasain? Dia pikir gue robot? batin Rani.
“Mau makan di mana? Lo lagi pengin makan apa?” lanjut Dipta.
“Pengin ayam goreng, sih,”
Dengan motornya, Dipta menuruti keinginan Rani untuk makan ayam goreng. Kebetulan dia tahu tempat ayam goreng yang enak. Tempatnya tidak terlalu jauh, sekitar dua puluh menit dari kampus. Meski Rani sebenarnya tidak terlalu ingin makan ayam goreng. Itu hanya sesuatu yang muncul di dalam pikirannya tadi ketika Dipta menggenggam tangannya.
“Lagi mikirin apa, sih, Ran?” tanya Dipta yang meliriknya lewat kaca spion.
Rani menggelengkan kepala. “Nggak mikir apa-apa,”
“Tapi mukanya serius banget,”
“Iya, karena laper ini.”
Dipta tersenyum dan tidak menjawab lagi. Dari melihat raut wajah Rani yang tampak dingin, membuatnya berasumsi bahwa akan jauh lebih baik bila dia tidak melanjutkan percakapan mereka di atas motor. Mereka tidak bicara lagi sampai akhirnya tiba di depan restoran.
“Sampe, deh,” ucap Dipta sambil mematikan mesin motor.
Dengan bingung, Rani turun dari motor. “Ini… Restorannya? Ini buka, Ta?” tanya Rani. Sambil terus melihat ke sekeliling restoran, terutama jendela yang terlihat sangat gelap dari tempatnya berdiri. “Kayak museum,”
“Lho, jangan salah, Ran, ini rumah makan udah ada dari tahun 80-an,” sahut Dipta sambil membuka pintu.
Rani mengikuti Dipta dari belakang. Begitu mereka masuk, terlihat ada satu pengunjung yang juga sedang makan. Tempatnya jauh terlihat lebih kuno di dalam. Mereka memilih meja dan duduk berhadapan. Tidak lama setelahnya, salah satu pelayan restoran menghampiri mereka dengan membawa kertas dan pulpen untuk mencatat pesanan. “Mau lihat-lihat dulu atau langsung pesan, Mba?” sapa pelayan restoran.
“Langsung pesan aja, Mas,” sahut Dipta. “Pesan ayam gorengnya dua, dua-duanya dada, ya. Tahu-tempe goreng satu porsi, sayur asem satu, sama nasi putihnya dua.”
Sambil mencatat, pelayan restoran bertanya lagi. “Minumnya apa, Mas?”
Gantian Rani yang menjawab, “Teh panas tawar dua, ya, Mas.”
“Dulu, gue pernah ke sini sama bokap-nyokap,” Dipta berkata kepada Rani untuk memulai percakapan.
Rani menatapnya. “Oh, iya?”
“Gue kelas 3 SD waktu itu,” jawab Dipta. “Gue masih ingat semuanya, Ran. Dari warna baju nyokap gue, apa yang bokap gue pesen. Menarik banget ke sini lagi dan ternyata tempatnya masih sama persis, nggak ada yang berubah, bahkan aroma ruangannya masih sama.”
“Namanya restoran ayam, ya, aroma ayam, Ta,” sahut Rani.
Dipta tertawa. “Bener juga,”
Rani kemudian memandang Dipta dengan penuh penasaran, “Tapi kok bisa masih inget, sih, Ta? Kan, udah lama banget. Lo punya supermemory, ya?”
“Mmm… Mungkin karena memori yang gue punya sama mereka emang nggak banyak, jadi gampang ingatnya,”
Rani tertegun. Dia merasa bersalah sudah menanyakan hal itu, dan kini tidak tahu harus berkata apa lagi.
Melalui ekspresi bingung di wajah Rani, Dipta segera bersuara, “Santai, Ran. Gapapa, kok,”
Dua potong ayam goreng lengkap dengan nasi, tahu goreng, sayur asem, dan dua teh panas tiba di meja.
“Kalo nyokap gue lagi harus nginep di tempat kakek-nenek gue aja, gue bisa repot sendiri, nggak kebayang jadi lo, Ta,” ucap Rani. “Pasti ribet, ya? Pasti kesepian?”
Dipta tertawa canggung. “Emang ribet, sih, awalnya. Apalagi waktu pindah ke Semarang pas SMP. Ribet dan bingung kali, ya, Ran? Anak baru lulus SD, tiba-tiba ke tempat yang jauh dari rumah sama kakek dan neneknya pula. Kalau ada acara sekolah juga aneh banget rasanya—yang lain sama orang tuanya, gue doang yang beda. Mana pasti, kan, anak-anak di kelas nanya: ‘Kok nggak sama orang tua kamu, Ta?’ Nah di situ bingungnya,”
“Yah, pertanyaan gue ganggu selera makan lo, ya?”
Dipta mulai menyuap ayam gorengnya dengan bersemangat, supaya Rani tidak perlu merasa tidak nyaman dengan percakapan mereka barusan. “Gue bilang, kan, santai. Gapapa, Ran. Beneran,” jawab Dipta.
“Enak banget ayamnya,” ucap Rani di sela kunyahannya.
“Ya, kan?” sahut Dipta bangga. “Waktu itu gue pernah ajak Rizki sama Kevin ke sini, tapi mereka nggak suka.”
Rani menghentikan sendokannya. “Emang nggak kayak ayam goreng biasanya, sih, tapi enak, kok.”
Dipta tersenyum memandangnya. “Selera kita emang banyak samanya,” ucap Dipta.
Rani membalas senyum Dipta kemudian menyuap nasinya. Hati dan pikirannya kompak setuju dengan pendapat Dipta tentang mereka berdua yang memiliki banyak kesamaan, termasuk selera makanan.
“Tapi jarang, lho, Ta, orang makan siomay nggak pake siomay,”
“Jarang, kan, bukan berarti nggak ada,” sahut Dipta. “Buktinya? Kita?”
Sendokan Rani berhenti, seolah dia bisa menebak ke arah mana pembicaraan Dipta.
“Gue jarang bisa dapet perasaan nyaman ke cewek kayak yang gue rasain ke elo, Ran,” lanjut Dipta. “Bisa nyaman, tuh, kan, nggak gampang, ya? Tapi sama lo semua jadi cocok aja. Gue suka ada lo di hidup gue, bahkan waktu lo lagi ngambek—gue nggak pernah merasa terganggu. Mungkin karena kita nggak pacaran kali, ya, Ran? Jadi semuanya lebih mudah. Untung aja nggak ada suka-sukaan yang lebih dari temen di antara kita. Ya, kan?”
Rani cuma bisa berusaha mengangguk. Ayam goreng yang tadinya sangat dia suka berubah menjadi hidangan yang membuatnya kehilangan selera. Setelah apa yang Dipta ucapkan, semua kata-kata yang sudah Rani siapkan di dalam kepalanya untuk menyampaikan isi hatinya kepada Dipta, dia hapus seketika. Dugaannya tentang situasi yang ada di antara mereka berdua ternyata benar. Mereka memang HTS—tetapi bukan Hubungan Tanpa Status, melainkan Hubungan Teman Saja.
“Jadi gue friendzone, nih? Jadi ini semua cuma terjadi di kepala gue? Nooo! Siapa pun nyalain lagunya Naif sekarang.” ucap Rani dalam benaknya.
Leave a comment