Rani terdiam sejenak. “Emangnya bisa? Cowok sama cewek temenan aja tanpa ada perasaan yang romantis?”
“Bisalah,” jawab Surya dengan percaya diri. “Kalau cowok sama ceweknya bukan kita,”
Rani menghela napas panjang. “Surya…”
Surya menatapnya. “Emang kenapa sih kalau ada perasaan romantisnya? Nggak boleh? Kan cuma ada, Ran, bukan harus diterima?”
Percakapan pun berakhir seperti itu. Mereka berdua saling diam, sementara Surya menghabiskan birnya dan terus memandangi wajah teman perempuan yang disayanginya itu.
Sekitar satu jam kemudian, hujan mereda dan mereka memutuskan untuk pulang. Rani dan Surya tidak jadi naik bus kota karena sudah terlalu malam. Di depan restoran ramen, mereka menghentikan taksi dan pulang bersama.
“Baru ini nganterin cewek pulang naik taksi,” sahut Surya.
Rani terkekeh. “Biasanya naik motor, ya?”
Surya menggelengkan kepalanya. “Nggak. Biasanya pulang sendiri-sendiri,”
***
Akhir-akhir ini, cuaca sedang tidak menentu. Seharusnya sudah masuk musim panas, tetapi hari ini hujan turun sejak subuh tadi.
Rani sudah di kantor. Dia akan bertemu Devan beserta tim-nya untuk membahas perkembangan buku yang tengah dia kerjakan. Dia yang sengaja datang lebih pagi sudah duduk di ruang rapat. Belum ada siapa-siapa, selain Rani dan laptopnya yang menyala. Tidak banyak yang dia lakukan, dia hanya terus memandangi naskahnya yang sudah memasuki bab tiga. Rasa gugup menyelimuti hati dan pikirannya. Berurusan dengan buku memang bukan hal yang baru buatnya, tetapi ketika menyangkut bukunya sendiri, ternyata dia cukup tidak percaya diri.
Selang beberapa menit, terdengar suara ketukan pintu. Rani menoleh, dan ternyata itu Surya yang datang membawa sebotol air mineral.
“Kenapa? Kok mukanya sedih?” tanya Surya sambil menarik kursi dan duduk di sebelah Rani. Dia lalu memberi Rani air yang dia bawa. “Minum dulu, minum dulu. Masa pagi-pagi udah mendung gitu,”
Rani meneguknya. “Nggak sedih. Gue grogi,” ucap Rani gelisah.
“Loh? Kenapa?”
“Kalau buku yang gue tulis jelek, gimana? Kalau mereka nggak suka, gimana? Kalau nanti perilisan parfumnya gagal gara-gara gue, gimana?”
“Masa gitu mikirnya?”
Rani tidak mau menyahut.
“Nggak usah mikirin hal-hal yang nggak bisa lo kendaliin. Mau nanti jelek atau nggak, mau mereka suka atau nggak, mau gagal atau berhasil, itu di luar kendali lo,” lanjut Surya. “Emangnya kalau orang buat kue mereka pasti yakin bentuknya sempurna?”
Rani menggeleng lemas.
“Nah, itu tau,” jawab Surya. “Mungkin rasanya enak, tapi bentuknya terlalu bantet. Mungkin rasanya kurang gula atau kebanyakan kayu manis, tapi bentuknya bulat bagus.”
“Iya, tapi kenapa perumpaannya harus kue, sih? Kan gue jadi laper,” akhirnya Rani bersuara.
Surya tertawa. “Nanti pulang kantor kita cari kue, ya? Ada banyak yang baru tahu di Blok M, “
“Hah? Kenapa jadi ngajak jalan?” tanya Rani heran.
“Abis kalo ngajak pacaran, lo bilang ribet,” jawab Surya sambil nyengir.
Beberapa saat kemudian, rapat dimulai. Devan datang dengan tim yang lebih lengkap dibandingkan pada pertemuan pertama. Ini membuat Rani merasa jauh lebih gugup. Dia terus menatap Surya dari tempatnya duduk, dan Surya memberi isyarat supaya dia tetap tenang.
“Gimana update bukunya, Sur?” tanya Devan kepada Surya.
“Aman. Buku udah dalam proses pengerjaan, yang handle Rani sendiri. Mungkin lebih tepat kalau Rani yang bisa langsung jelasin,”
Dengan sisa keberaniannya yang kian menipis, Rani mulai bercerita tentang buku yang sedang dia kerjakan. “Sadar atau nggak sadar, kita sering menyimpan beberapa momen di dalam sebuah parfum. Bisa beragam momennya. Bisa momen senang, sedih, momen jatuh cinta, putus cinta, dan lainnya. Kali ini, aku mau mengemasnya dalam sebuah cerita di mana si tokoh terjebak pada kisah masa lalu yang menggantung. Disebut menggantung karena dia menjalin sebuah hubungan yang nggak pernah dimulai, tapi nggak bisa juga dikatakan selesai. Ada kerumitan antara masa lalu dan masa kini yang mendiami pikiran dan perasaannya. Sederhananya, dia terjebak. Sampai kemudian dia sadar bahwa hidupnya bukan hanya tentang masa lalu dan masa kini, tapi juga masa depan. Pada saat itulah dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, membuka lembaran yang baru, salah satunya dengan membeli parfum baru, karena selama ini dia selalu memakai parfum yang sama—parfum yang di dalamnya dia simpan seseorang yang sudah lama menggantungnya.”
Rani berhenti, sementara semua orang yang ada di dalam ruang rapat terus menatapnya.
“Wow…” ucap Devan memecah keheningan. “Ini pasti akan ada banyak orang yang merasa relate. Suka. Aku suka banget idenya, Mbak Rani.”
Rani tersenyum. Dia segera menoleh ke arah Surya yang belum berhenti memandanginya sejak dia mulai menjelaskan. Samar-samar, Rani membaca gerakan bibir Surya yang sepertinya berbunyi: Keren banget.
“Temen-temen yang lain? Ada yang mau nambahin?” lanjut Devan.
Semua orang dalam ruangan memiliki satu suara yang sama untuk mendukung Rani dan ceritanya. Lagipula, manusia mana yang tidak pernah menaruh seseorang di dalam sebuah botol parfum?
“Oh iya, Sur, hari ini gue bawa sample parfumnya. Coba keluarin, deh, Wan,” ucap Surya kepada Iwan, salah satu rekannya. “Ini mungkin bisa bantu Mbak Rani dalam proses menulis bukunya. Jadi kebayang kalau aromanya akan seperti apa,”
“Kira-kira ceritanya happy ending atau sad ending, nih, Mbak?” tanya Iwan sambil memberi parfum kepada Rani.
Wajah Rani berseri-seri. “Happy dong!” jawab Rani bersemangat.
Rani membuka botol parfum dan menyemprotkannya pada pergelangan tangannya. Dia mencium aroma bunga kayu yang lembut dan ringan. Aroma yang tidak terlalu mencolok, tapi sangat menenangkan. “Duh, enak banget wanginya!”
Devan melempar senyum. “Iya, kan? Makanya aku dan tim mikir sayang banget kalau perilisannya seperti yang sudah-sudah.”
“Ini cocok banget sama karakter yang aku mau buat. Perempuan yang tertutup, tapi sebenarnya menyimpan banyak rahasia ketika dia memilih untuk membuka diri. Lalu—”
“Udah dong, Ran, nanti selesai bukunya diceritain semua di sini,” sela Surya memotong perkataan Rani yang belum selesai.
“Oh iya,” jawab Rani menyengir.
***
Selepas rapat, seperti biasa Surya segera menghampiri Rani dengan sangat tidak sabar. “Keren…” ucap Surya sambil mengacungkan jempol.
“Apa?” kata Rani pura-pura tidak tahu dengan terus menahan senyum.
“Itu, tadi,” jawab Surya. “Kan, udah gue bilang. Lo tuh lagi berada di elemen lo. Sesuatu yang bisa lo kuasai dengan baik,”
Rani tidak mampu lagi menahan senyumnya.
“Eh, jangan sering-sering senyum cakep gitu, Ran,” sahut Surya lagi. “Nggak baik buat pertemenan kita,”
Mendengar itu, Rani justru ingin menggodanya. Dipasangnya kembali senyum indah yang membuat Surya kewalahan. “Biarin!” seru Rani.
“Tapi bukunya beneran happy ending, Ran?”
Rani mengangguk. “Iya. Emangnya kenapa? Kok kayak nggak yakin gitu?”
Surya menatapnya. “Gapapa, sih, cuma biasanya, kan, kalau stuck sama yang gantung itu bisa lama, Ran. Temen gue aja ada yang nggak move on-move on padahal status nggak ada, jadian juga nggak.”
Rani terdiam. Dia terdiam cukup lama. “Iya makanya itu berproses. Di dalam bukunya nanti bakal diceritain gimana tokoh utamanya belajar untuk tahu apa yang paling baik buat dia.”
“Dan yang paling baik buat dia si orang baru? Gitu? Emang orang baru udah pasti baik?” sahut Surya. “Kalau si orang baru sama nggak jelasnya? Sama gantungnya? Gimana?”
“Jadi menurut lo gimana? Orang lama atau orang baru, nih?”
Surya berhenti sebentar, seperti berpikir. “Orang lama atau orang baru? Orang yang jelas ada di depan lo gini, Ran, masa satu kesempatan aja nggak ada?”
Leave a comment