“Mau ramen apa?” tanya Surya.
“Mmm… Miso ramen aja, deh,”
Surya memesan miso ramen untuk Rani dan shio ramen untuk dirinya sendiri.
“Bagus, deh, tempatnya,” ucap Rani sambil melihat sekeliling ruangan. “Lo sering ke sini, Sur? Sama cewek yang mana?”
“Nggak, sih. Baru dua kali, dan selalu sendiri kalau ke sini. Gue sebenernya nggak terlalu suka makan bareng orang lain,” jawab Surya.
“Lah. Kan lo sering makan bareng gue,”
“Lo mah bukan orang lain, Ran.”
Rani tersenyum. Meski sudah lama dekat sebagai teman, dia tetap tidak bisa mengira-ngira dari mana datangnya arah ucapan Surya yang semacam itu.
“Btw, Bella jadi mau share apartemen sama lo?” kata Surya lagi membuka topik baru.
“Jadi,” jawab Rani. “Kebetulan dia baru dipindahin kerja dari Bandung ke Jakarta, minggu depan udah mulai tinggal di tempat gue.”
“Wah! Seru dong? Sama orang yang lo kenal?”
Wajah Rani berubah ragu. “Kenal, sih, cuma nggak sedeket gue sama Gina. Takut kikuk aja,”
“Yah, masa semuanya harus nyaman, Ran?”
Rani mengangkat bahu. “Kalau bisa kenapa nggak?”
Rani selalu berada di zona nyamannya. Dia dengan sengaja menjaga dirinya sendiri dari banyak ketidaknyamanan yang dia rasa tidak perlu dihadapi. Pekerjaan, hubungannya dengan orang lain, sampai makanan dan kopi yang dia suka, sudah dia atur sedemikian rupa agar sesuai dengan kenyamanannya. Rani tidak suka mencoba hal baru. Dia menyukai kehidupannya yang datar, dan selalu sama.
“Terus, Bella bakal lama emangnya di Jakarta?”
Pesanan ramen mereka datang.
“Dia penginnya, sih, gitu,” ucap Rani. “Dia bilang biar makin deket sama cowoknya,”
“Cowoknya yang beda agama itu?” tanya Surya sambil mengambil sepasang sumpit.
Rani mengangguk, mengaduk ramennya. “Iya. Mereka pacaran udah lumayan lama. Lima atau enam tahun gitu. Seinget gue sempet putus, tapi balikan lagi.”
“Wah, berarti mirip banget kayak Devan,” ucap Surya. “Dia juga gitu. Pacaran dari jaman kuliah sampe dua-duanya kerja, delapan tahun ada kali. Tapi akhirnya putus karena beda agama, karena nggak ada yang mau pindah, karena orang tuanya juga nggak ada yang setuju. Kasihan, sih. Dua-duanya masih jomblo juga, belum pacaran lagi sampe sekarang. Devan, pun, udah sering banget gue kenalin cewek, tapi nggak ada yang cocok. Berat di delapan tahunnya itu kali, ya?”
“Mmm, bisa jadi,” Rani bergumam setuju. “Putus karena suatu hal yang nyakitin emang nggak enak, tapi putus baik-baik, pun, ternyata juga nggak jamin gampang, ya. Jadi… Nggak punya alasan untuk benci?”
Rani melihat Surya sudah hampir selesai memakan ramennya, sementara dia baru setengahnya. Hal ini selalu terjadi ketika mereka sedang makan bersama. Meski selain di jam kantor, mereka jarang makan berdua di luar seperti ini. Rani masih bertekat untuk menjaga jarak dengan laki-laki yang sedang memandanginya itu, mau sedekat apa pun mereka.
“Eh. Btw, kok lo nggak pernah ngenalin gue ke Devan?” sambung Rani.
“Nggak, ah!” protes Surya cepat. “Entar cocok lagi,”
Sampai detik ini, Rani masih belum bisa membedakan mana ucapan Surya yang serius dan mana yang tidak. Untuk laki-laki yang senang bercanda, sejujurnya, Surya kerap kali menyesatkannya.
“Ya udah. Lo aja, deh…” kata Rani. “Lo gue kenalin ke temen gue. Mau, nggak?
“Li gii kinilin ki timin gii. Mii, nggik,” Surya mengulang dan meniru ucapan Rani dengan suara yang kesal. “Bawel. Makan, tuh, ramen lo,” Surya berkata sambil melihat ramen Rani yang masih banyak.
Rani terkekeh. “Biwil. Mikin, tih, rimin li,”
Surya tersenyum, dia hanya bisa geleng-geleng kepala sambil membiarkan perasaannya kian jatuh kepada Rani. Sambil menunggu Rani menghabiskan ramennya, Surya berkata, “Gue baru sadar, ini pertama kalinya kita keluar buat makan berdua, nggak, sih? Biasanya cuma makan deket kantor. Perdana, nih, harus kita rayakan!”
“Selain gangguin gue, apa lagi sih yang lo lakuin, Sur?” tanya Rani kepada Surya.
“Mmm…” Surya bergumam, sedikit berpikir. “Kerja? Nge-gym? Lari pagi? Naik sepeda? Nganterin nyokap ke supermarket pas weekend?”
Rani terdiam sejenak. Dia terlihat sedikit ragu dan berusaha memastikan perkataan yang akan dia ucapkan. “Sebenernya, gue udah lama pengin nanya, sih, Sur…”
Surya memajukan badan. “Apa? Apa?” dia bertanya tidak sabar.
“Kok lo nggak deket sama buku, ya? Padahal, kantor penerbitan kita punya bokap lo, tapi selama ini lo nggak pernah kelihatan tertarik sama buku.”
“Mungkin karena emang nggak terlalu suka aja kali, ya?” jawab Surya. “Bokap stroke waktu gue lagi semangat-semangatnya kerja di film. Terus dia mau ada salah satu di antara anak-anaknya yang jadi pemred di kantor. Kakak gue nggak bisa ninggalin kerjaannya, adek gue suram. Ya udah, terpaksa gue, deh. Padahal yang suka banget buku, tuh, sebenarnya kakak gue. Dulu dia sama bokap selalu ke toko buku berdua tiap hari Minggu. Gue yang awalnya iri karena nggak pernah diajak, bisa sampe merasa nggak enak karena jadi kayak gangguin mereka lagi berduaan. Cuma sejak lulus kuliah, kakak gue jadi jauh gitu. Jadi jarang di rumah, nggak deket lagi sama bokap—apalagi sama gue.”
Rani tersenyum. “Anak kedua katanya emang nurut-nurut, ya?”
Surya mengangkat bahu. “Yah, mau gimana lagi?” sahutnya. “Tapi, sampe sekarang, gue masih dalam proses, sih. Gue berusaha untuk suka buku, untuk suka baca buku.”
“Emangnya bisa, ya, orang belajar buat suka?”
“Bisalah,” jawab Surya dengan percaya diri. “Lo bisa juga kalau mau coba,”
“Ngapain? Kan gue emang suka buku,”
“Suka gue maksudnya.”
Rani tidak menanggapi, dia menyelesaikan suapan ramen terakhirnya.
“Kalo lo?” kata Surya lagi. “Lo kan suka buku, berarti emang udah mimpi lo gitu jadi editor?”
“Hmm… Nggak juga, sih,” jawab Rani. “Mimpi gue sebenernya bisa punya toko buku, nggak harus besar, yang penting punya gue sendiri. Syukur-syukur bisa ada kopinya juga. Jadi orang bisa sekalian duduk-duduk, baca buku sambil minum kopi. Kalo soal editor, gue sebenernya nggak pernah kepikiran, sih. Cuma waktu coba, ternyata gue langsung suka. Gue suka banget. Hari-hari ketemu naskah, dan naskah berikutnya. Bahkan, gue semakin mencintai buku setelah jadi editor, karena tahu prosesnya, orang-orang di baliknya, belum lagi penulisnya.”
“Kalo soal buku, Ran? Kenapa suka buku? Kenapa nggak yang lain?” tanya Surya antusias.
“Mmm… Mungkin karena buku membuat gue merasa ikut terlibat. Misalnya, si penulis bercerita tentang si tokoh yang lagi duduk sambil makan kue setelah putus dari pacarnya. Kalau itu film, gue cukup melihat dan menikmati scene-nya. Sementara buku, gue ikut mikir, Sur. Kira-kira, si tokoh duduk di mana, ya? Di sofa, kah? Di kursi makan, kah? Warna apa, ya, sofanya? Si tokoh makan kue apa, ya? Mukanya kayak gimana, ya, waktu lagi makan kue? Apakah dia berwajah sedih? Atau datar? Si tokoh pake riasan nggak, ya, di wajahnya? Intinya, buku bisa membuat gue ikut bercerita. Seperti bangunan yang di dalamnya ada campur tangan gue. Seperti bantuin nyokap masak di dapur. Meski andilnya nggak banyak, tapi gue merasa ikut memiliki buku itu, menjadi bagian dari cerita itu.”
Surya memandanginya penuh kagum, matanya berbinar. “Gue paham sekarang,” katanya.
“Berarti, lo nggak melihat diri lo akan lama di kantor, Sur?” Rani bertanya.
Surya mengangkat bahu. “Nggak tahu, lagi,”
Rani menatap mata Surya. “Kenapa nggak tau? Berarti antara pengin dan nggak pengin? Ada yang buat jadi berat emangnya?”
“Gue mungkin bisa coba untuk suka buku, tapi kenyataannya, kerjaan ini belum bisa bikin gue senang. Gue belum dapet rasa senang kayak waktu gue kerja di film dulu. Kalau yang buat jadi berat, ya, elo, sih, Ran,” jawab Surya. “Kalau bukan karena lo, gue nggak akan mau belajar buat suka buku. Gue pasti udah cabut at the first place. Lo buat gue jadi betah di kantor,”
Rani tidak bisa menjawab. Sejujurnya, ini baru kali pertama Rani mendapati dirinya memiliki obrolan yang cukup serius dengan Surya. Biasanya, dia selalu menganggap semua ucapan Surya sebagai candaan seorang teman. Tetapi malam itu, di restoran ramen, Surya terdengar berbeda.
“Jangan jadi tegang gitu, dong,” lanjut Surya yang membaca gerak-gerik Rani. “Terakhir gue lihat muka lo tegang gitu waktu konser bareng. Lo salah tingkah lagi, Ran?”
Rani membuang muka. “Apa, sih! Siapa juga yang salting,”
Surya memberinya senyum meledek, kemudian dia memesan sebotol bir yang membuat Rani reflek menyahut, “Kok jadi mesen bir segala? Udah abis, nih, ramen gue. Ayo, pulang,”
“Lihat, tuh, gerimisnya sekarang jadi hujan,” jawab Surya sambil menoleh ke jendela.
Entah kenapa keadaan ini sangat mengganggunya. Padahal, Rani biasa menemani anak kantor yang lain sampai larut malam. Kenapa sekarang bersama Surya yang baru pukul setengah sepuluh malam membuatnya merasa tidak nyaman?
“Duh. Iya, lagi. Mana hujannya deres,” ucap Rani dengan nada pelan.
“Sambil nunggu reda, gantian gue yang nanya. Selain buku, apa sih yang lo lakuin, Ran?” tanya Surya kepada Rani.
Rani berhenti sebentar, seperti sedang berusaha mencari jawaban atas pertanyaan Surya barusan. Pertanyaan yang sebenarnya cukup sulit untuk Rani karena buku adalah dunia terbesarnya, dan dia tidak tahu apalagi selain itu.
Kemudian Rani mengangkat bahu. “Nggak, tahu,”
“Hah? Kok bisa nggak tahu?” sahut Surya bingung.
“Ya… Paling nonton film? Nonton drakor, pesen kopi di tempat langganan gue, pulang ke rumah sebulan sekali buat nengok bokap sama nyokap, terus….” ucap Rani dengan masih berusaha mencari jawaban lainnya. “Apa lagi, ya? Ke supermarket? Ke kantor? Udah, kayaknya itu aja. Kenapa? Boring, ya, hidup gue?”
“Nggak. Nggak boring itu, Ran. Itu tenang, namanya,” kata Surya. Dia lalu terdiam sejenak. “Berarti, gue satu-satunya kegaduhan di hidup lo, dong? Coba bayangin kalo nggak ada gue, Ran, hidup lo pasti kurang rame. Setenang apa pun, kalau terlalu, juga nggak baik. Katanya, keseimbangan adalah kunci. Lo berhasil menciptakan ketenangan dalam hidup lo, dan gue diciptain untuk datang bawa keramaian kecil supaya hidup lo nggak sepi-sepi banget.”
Rani tertawa. “Ngawur aja,”
“Loh? Bener, kan?” ucap Surya terus membela pendapatnya. “Makanya jangan gitu-gitu banget sama gue,”
“Gitu gimana?” tanya Rani meledek.
“Iya… Gitu…” Surya menjawab ragu.
“Gimana?”
“Dingin,” jawab Surya.
“Sur, gue kan pernah bilang—”
“Iya gue tahu. Gue selalu inget kata-kata lo yang itu,” sahut Surya memotong perkataan Rani yang belum selesai, karena dia sudah tahu apa kelanjutannya. “Gue tahu lo nggak mau terlalu deket sama temen yang satu kantor. Gue tahu lo hati-hati banget sama yang namanya kedekatan sama orang lain, terutama sama cowok. Gue tahu, kok, Ran, tapi kita kenal udah lumayan lama. Masa temenan aja nggak bisa?”
Rani terdiam sejenak. “Emangnya bisa? Cowok sama cewek temenan aja tanpa ada perasaan yang romantis?”
“Bisalah,” jawab Surya dengan percaya diri. “Kalau cowok sama ceweknya bukan kita,”
Rani menghela napas panjang. “Surya…”
Surya menatapnya. “Emang kenapa sih kalau ada perasaan romantisnya? Nggak boleh? Kan cuma ada, Ran, bukan harus diterima?”
Leave a comment