Rani memperlambat langkahnya sampai benar-benar berhenti. Dia sadar seseorang dengan jeans dan kaos hitam itu menatapnya. Rani merasakan jantungnya berdebar.
“Kepagian, Ran. Jam tujuh juga belom,” ucap Dipta menyapanya.
“Iya. Ya udah, nanti aja gue balik lagi,” jawab Rani nyengir sambil reflek berbalik badan untuk kembali menghindari Dipta.
Dari belakang, Dipta berjalan menyusulnya. “Eh, tunggu dong, Ran!”
Kali ini, Rani benar-benar tidak bisa menghindarinya.
“Gue nggak maksud nyuruh lo pergi, kali,” sambung Dipta. “Lagian, nggak kangen apa seminggu nggak ketemu gue?”
Sial. Ini kayaknya gue emang beneran kejebak sama cowok friendly, pikir Rani. Bisa-bisanya dia sesantai itu ngomongnya? Berarti selama ini cuma terjadi di kepala gue? Berarti harusnya gue nggak perlu sekhawatir itu? Duh! Gina ke mana, sih???
Rani menoleh ke arah Dipta. “Emangnya ke mana seminggu kemarin?”
“Naik gunung,” jawab Dipta tenang.
Mata Rani melebar. “Naik gunung? Emang kalau orang naik gunung, tuh, sampe seminggu, ya?”
“Nggak juga, sih.” Dipta meliriknya. “Sisanya karena males ngampus aja,”
Rani tidak menyahut. Pada saat itulah dia mulai memahami bahwa Dipta hanya ketidakjelasan yang membuatnya bahagia, dan Rani tidak ingin larut terlalu jauh.
Mereka duduk di bangku dekat tangga, masih di satu gedung yang sama. Rani menatap Dipta, berharap bahwa ini adalah kebetulan yang terakhir. Rani ingin mengakhiri perasaannya sebelum terlalu rumit, meski itu berarti menyiksa dirinya sendiri.
“Kalau… HP?” tanya Rani sedikit ragu.
Wajah Dipta berubah bingung. “Mmm? HP?”
“Sebenernya gue sempet nge-chat lo—”
“HP gue ilang, Ran!” seru Dipta memotong ucapan Rani yang belum selesai.
Kalau handphone-nya benar hilang seperti yang dia katakan, berarti gue nggak punya alasan untuk marah dong?pikir Rani. Laki-laki satu ini benar-benar membuatnya serba kebingungan menghadapi perasaannya sendiri.
“Hilang?” ucap Rani memastikan sekali lagi.
“Iya. Maaf, ya. Emang lo nge-chat apa?”
Rani mengeluarkan handphone-nya, menunjukkan isi pesan yang dia kirim kepada Dipta dengan masih dalam keadaan centang satu.
Dipta tersenyum membacanya. Dia menoleh pada Rani. “Ini khawatir beneran atau cuma kepo aja?”
Jawaban yang mengundang kekesalan dalam hati Rani.
Rani pun lantas menarik kembali handphone-nya dari pandangan Dipta. “Nggak tau!”
Dipta meraih tangannya. “Kalau tau lo nge-chat, pasti gue bales, Ran. Pasti gue nggak akan bolos kelas.”
Wajah Rani seketika berseri, dia tersenyum. Saat itulah Rani tersadar bahwa dia telah jatuh dan tidak mampu menolong dirinya sendiri. Seperti terlambat masuk kelas Pak Sunardi, dia memilih sebuah ketidaksengajaan yang sebenarnya bisa dia hindari.
Beberapa saat kemudian, mahasiswa lain mulai berdatangan, disusul juga oleh Gina yang seketika menghentikan langkahnya saat melihat Rani dan Dipta sedang duduk bersama. “Gue ke kelas duluan, ya, Gina udah dateng,” kata Rani kepada Dipta.
Dipta mengangguk. “Nanti gue nyusul lima menit lagi,”
Rani pun beranjak dan menghampiri Gina yang masih berdiri dengan raut heran. “Wah. Menurut gue lo harus cerita, sih,” sapa Gina.
“Cerita apa, sih?” Rani tertawa.
“Kemarin bilangnya nggak mau ketemu, sekarang bisa janjian dateng barengan,” ucap Gina meledek.
“Nggak! Nggak janjian!” sangkal Rani cepat. “Emang nggak sengaja ketemu tadi, gue dateng kepagian, eh, ternyata ada dia juga lagi sendirian.”
“Jadi udah pernah terlambat bareng, sekarang dateng kecepatan bareng? Gitu?”
Gina cuma bisa tersenyum ketika sahabatnya bercerita panjang lebar tentang Dipta. Dari kedua mata Rani, Gina bisa membaca bahwa Rani menyukai Dipta lebih dari yang Rani sendiri sadari. Meski firasatnya tidak yakin dengan laki-laki friendly itu, tapi wajah bahagia Rani membuat Gina ingin percaya kalau Dipta tidak perlu jadi kekhawatirannya—meski sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya.
Sifat Dipta yang suka tiba-tiba berada di luar radar alias menghilang, ternyata bukan sebuah kebetulan. Dipta sering sekali seperti itu. Sesuatu yang mengganggu, tapi lama kelamaan, membuat Rani terbiasa.
Sepanjang semester satu, ada beberapa mata kuliah yang tidak berhasil Dipta lalui karena terlalu sering tidak hadir. Awalnya, Rani masih suka khawatir, tapi makin ke sini, Rani terpaksa mengerti. Bahwa, Dipta sudah cukup dewasa untuk mengatur hidupnya sendiri, untuk masuk kelas atau tidak, untuk datang atau tiba-tiba menghilang. Di lain sisi, pun, hubungan mereka tidak pernah lebih dari sekadar teman dekat, dan Rani tidak ingin menjadi teman yang menyebalkan, teman yang mengatur —karena di luar sifatnya yang tidak menentu, Dipta berhasil memberi warna baru pada hidup Rani, dan Rani tidak ingin merusak itu.
“Nggak masuk lagi dia?” tanya Gina yang baru datang.
“Nggak tau, centang satu, Gin,”
“Kenapa? HP-nya ilang lagi?” tanya Gina sinis.
“Mungkin lupa di-charge,” ucap Rani berusaha membela.
“Kalau tingkahnya masih sama aja, mending lo jauh-jauh, deh, Ran.”
“Dari dulu juga nggak pernah deket-deket amat,” Rani mendadak menggerutu. “Gue juga maunya nggak peduli, tapi lo tau sendiri—”
Gina memotong perkataan Rani, “Makanya confess dong,”
Rani tidak menjawab.
“Udah jalan tahun kedua, masa masih disimpen juga?” tanya Gina dengan berani. “Selama ini dia bersikap nggak jelas, karena dia nggak bener-bener tahu kalau perasaan lo ke dia itu serius. Gue paham. Kalo bisa milih, siapa juga, sih, yang mau jatuh cinta sama cowok friendly yang hobinya ngilang? Tapi, kan, kalo lo tegas ngomong soal perasaan lo, seenggaknya, dia nggak akan seenaknya kayak gini,”
“Mmm…” Rani menggumam, sepertinya memikirkan ucapan Gina barusan. “Oke. Anggaplah gue beneran confess, kira-kira dia gimana, ya? Lo ada bayangan, nggak, Gin? Menurut lo dia suka gue, nggak?”
“Kalau dia suka, menurut lo dia akan bikin lo bingung kayak gini, nggak?”
Hati Rani seketika terasa nyeri, seperti ada batu besar yang menghantamnya.
“Nggak semua perasaan kita bisa terbalas, Ran, tapi jatuh cinta yang kayak gini cuma bikin capek hati,” lanjut Gina.
Rani tidak menjawab. Semua yang ingin dia sampaikan, sudah Gina katakan. Kenyataannya, dia memang lelah dengan perasaannya terhadap Dipta. Bahkan, dia pun sadar kalau besar kemungkinan Dipta tidak bisa membalas perasaannya. Meski begitu, di dalam lubuk hatinya, Rani tahu dia punya kendali untuk menuntaskan kebingungan ini.
“Bener, Gin. Gue harus ngomong sama dia.”
***
“Terus? Terus? Tokoh utamanya jadi confess, Ran?” sahut Surya tidak sabar ketika Rani menceritakan perkembangan buku pertamanya di kantor.
Rani meliriknya. “Rahasia,”
“Ah! Rese, lo!” ucap Surya kesal.
Rani tertawa. “Sabar. Kalau langsung gue ceritain semua, nanti jadi nggak seru lagi.”
Surya menyandarkan tubuhnya di bangku dengan tatapannya yang tidak lepas dari Rani. “Tapi salah tokoh utamanya juga, sih. Dari sekian banyak cowok, kenapa naksirnya sama yang nggak jelas kayak gitu?”
Perkataan Surya membuatnya terdiam. Dia memikirkan tokoh utama dalam bukunya yang merupakan dirinya sendiri. Dia juga memikirkan Dipta. Kalau waktu itu, bertahun-tahun yang lalu, dia tidak terlambat kelas Pak Sunardi dan tidak berkenalan dengan Dipta, apakah dia tetap jatuh cinta kepadanya? Kalau waktu itu sikap Dipta lebih jelas, apakah mereka masih sama-sama hingga sekarang?
“Namanya juga cinta, Sur,” jawab Rani pelan.
“Oh… Jadi tokoh utamanya udah bukan sekadar naksir, nih?” sahut Surya penuh antusias. “Udah kecintaan banget berarti?”
Rani mengangkat bahu. “Iya. Emang nggak masuk logika, sih. Udah orangnya nggak jelas, tukang ghosting, mereka deketnya juga cuma bentar—”
“Bentarnya, tuh, berapa lama, Ran?” tanya Surya yang terus berusaha memancing Rani agar melanjutkan ceritanya.
Rani menyadari umpan yang sedang Surya berikan. “Mau tau aja lo!”
Surya terkekeh. “Pelit banget sih, tinggal kasih tau gue aja apa susahnya?”
“Udah, ah, gue mau pulang,” kata Rani sambil mengenakan jaketnya.
“Bareng gue, kan?”
Sejak tinggal di sebelahnya, Rani semakin kesulitan mencari alasan untuk bisa kabur dari Surya. Bahkan, belakangan ini, mereka sering jadi dua orang terakhir di kantor karena terlalu asyik membahas buku yang sedang Rani kerjakan. “Gerimis,” kata Rani sambil menoleh ke arah jendela.
Surya ikut melihat rintikan hujan yang menempel di kaca ruangan. “Aman. Motor gue bisa nginep di kantor,”
“Lo emangnya nggak bosen sama gue mulu?” tanya Rani heran. “Gue mau pulang sendiri aja. Lagian, jam segini bus udah nggak terlalu rame, gue bisa dapet tempat duduk, terus sambil dengerin lagu, deh! Biar makin menghayati buku gue.”
“Nah! Ya udah, pas banget. Gue bisa anteng kok. Gue janji nggak akan ngeluarin suara sebelum lo yang ngajak gue ngomong duluan,”
“Surya—”
“Udahlah, Ran. Tempat tinggal kita, tuh, udah bukan searah lagi, tapi sebelahan. Kalau bisa bareng, kenapa harus sendiri-sendiri?”
Pukul delapan malam. Rani sudah tidak terlalu cukup energi untuk bisa terus adu bicara dengan Surya. Atas desakannya, Rani akhirnya memilih menurut. Setelah mengemas barang-barangnya, mereka turun ke lantai dasar dan meninggalkan kantor.
“Makan ramen dulu, yuk?” ajak Surya ketika mereka sedang berjalan menuju halte.
Rani melirik jam tangannya. “Jam segini?”
“Biar nanti sampe apart langsung istirahat, nggak usah pusing nyari makan lagi,” ucap Surya dengan alasannya yang ke sekian yang bisa terdengar masuk akal. “Searah, kok. Nih, tinggal jalan aja bentar,”
Tempat ramen yang Surya maksud adalah sebuah restoran ramen dengan desain unik dan kental dengan unsur Jepang. Ketika mereka tiba, tidak ada banyak pengunjung di dalam. Terlihat hanya dua meja yang terisi, yang membuat restoran jadi terlihat lebih besar. Mereka pun memilih meja dan akhirnya duduk berhadapan.
“Mau ramen apa?” tanya Surya.
“Mmm… Miso ramen aja, deh,”
Surya memesan miso ramen untuk Rani dan shio ramen untuk dirinya sendiri.
“Bagus, deh, tempatnya,” ucap Rani sambil melihat sekeliling ruangan. “Lo sering ke sini, Sur? Sama cewek yang mana?”
“Nggak, sih. Baru dua kali, dan gue selalu sendiri kalau ke sini. Gue sebenernya nggak terlalu suka makan bareng orang lain,” jawab Surya.
“Lah. Kan lo sering makan bareng gue,”
“Lo mah bukan orang lain, Ran.”
Leave a comment