Tidak butuh waktu lama, Dipta memberikan impresi yang tidak biasa kepadanya. Perkenalan yang biasanya buat Rani adalah momentum yang basi, tapi Dipta mengubahnya menjadi sebuah prolog yang menjanjikan.
“Hai, Rani. Gue Dipta,” sambung Dipta.
“Kita kayaknya punya banyak kelas yang sama, ya?” tanya Rani memastikan. “Kenapa kenalannya baru di kelas Pak Sunardi?”
“Nunggu biar bisa cuma berdua aja,”
Rani cukup tersipu. Dia jarang bertemu dengan seseorang yang bicara sefrontal itu.
Sambil menunggu kelas berikutnya, mereka mengisi kesempatan itu dengan saling mengenal. Ternyata Dipta dari Semarang, dan di sini dia tinggal dengan om & tantenya.
“Bukannya di Semarang juga banyak universitas yang punya jurusan komunikasi?” tanya Rani penasaran.
“Gue nggak cari universitasnya, sih, Ran, gue cari Jakartanya,” jawab Dipta.
“Cari… Jakartanya?” sahut Rani sedikit kesulitan memahami.
“Hmm… Ini agak panjang sih ceritanya. Gapapa?”
Rani menengok layar handphone-nya, ternyata masih ada cukup waktu. “Gapapa,”
“Dulu waktu gue lulus SD, bokap sama nyokap pisah, jadi gue ikut kakek sama nenek gue ke Semarang. Selama SMP dan SMA di sana, gue nggak punya rencana selain untuk kembali ke Jakarta. Satu-satunya kesempatan gue, ya, cuma waktu kuliah ini.”
“Bentar-bentar,” Rani menanggapi sambil berusaha memahami. “Bokap sama nyokap lo pisah… Kenapa jadi ikut kakek sama nenek, lo? Kenapa nggak ikut salah satunya aja—antara bokap atau nyokap lo?”
Dipta menatap Rani serius. Sesaat kemudian, Rani baru tersadar bahwa tidak sepantasnya pertanyaan itu keluar dari mulutnya. “Eh, sorry, Ta, gue nggak maksud kelewatan,”
“Santai, Ran, gue malah seneng dengernya,”
“Seneng?”
“Iya. Biasanya, tiap kali gue jelasin itu ke orang yang baru kenal, mereka cuma iya-iya aja,” ucap Dipta menjelaskan. “Baru lo, nih, yang tertarik buat nanya.”
“Berarti boleh dijawab dong, Ta?”
“Eh, iya, belom jadi dijawab ya,” ucap Dipta. “Mmm… Bokap sama nyokap udah nikah lagi sama pasangan masing-masing. Yah, singkatnya, mereka nggak ada yang mau bawa gue.”
Rani membelalak. “Nggak mungkin!”
Dipta mengangkat bahunya. “Gitu, deh.”
“Terus? Sekarang udah balik ke Jakarta mau ngapain?”
Dipta terdiam sebentar. “Mau ngapain, ya, Ran?”
Gantian Rani yang mengangkat bahunya.
“Mungkin untuk cari arti pulang. Itu aja,” sambung Dipta.
Jawaban Dipta hari itu masih Rani ingat, bahkan sampai sekarang. Arti pulang. Arti. Pulang. Sejak pertama kali mendengarnya, Rani sebenarnya ingin sekali bertanya apa maksudnya. Karena bagaimana bisa seseorang yang tidak diterima oleh orang tuanya sendiri, berani menginginkan perasaan pulang seperti orang lain? Apakah bisa? Apa masih mungkin?
Dari perkenalan itu, Rani dan Dipta menjadi teman baik. Tidak cukup untuk dikatakan teman dekat, karena keduanya hanya berinteraksi ketika berada di kelas yang sama, tapi mereka punya hubungan yang sangat baik. Dipta hampir selalu duduk tepat di belakang Rani setiap di kelas, membuat Gina akhirnya berbisik kepada sahabatnya itu, “Ran, lo jadian ya sama dia?”
“Dia siapa?” tanya Rani bingung.
“Itu…” jawab Gina perlahan sambil melirik ke belakang ke arah Dipta.
“Dipta maksud, lo? Nggaklah!” sangkal Rani dengan cepat.
“Gosipnya gitu, tau,” ucap Gina setengah berbisik, wajahnya berubah serius. “Ran, dia, tuh, jarang kelihatan deket sama cewek. Lo sadar, nggak, tiap di kelas dia nempel-nempel lo mulu?”
“Gosip apaan, sih, ah. Lo sama gituan aja percaya. Lagian siapa yang nempel, sih? Orang dia duduk di belakang kayak yang lain,”
“Ah lo mah nggak sadar,”
Rani terdiam sebentar, kemudian dia tersenyum. “Tapi emang lucu, sih, anaknya,”
Gina memandangnya dengan banyak dugaan, “Tuh, kan, lo naksir!”
“Habis kelas ke mana, Ran?” tanya Dipta tiba-tiba yang mendatanginya, membuat Rani reflek menyiku tangan sahabatnya untuk menyuruhnya diam.
“Gue mau langsung balik, sih,” jawab Rani kepada Dipta.
“Balik? Pulang ke rumah maksudnya?”
“Mmm… Mau mampir ke toko buku dulu sama Gina. Kenapa, Ta?”
“Kalau Gina-nya diganti gue… Boleh nggak?”
Rani mengangguk, sementara Gina di sampingnya cuma bisa menahan senyum karena melihat sahabatnya tersipu.
***
“Apa jangan-jangan dia emang friendly aja, ya, Ran?” tanya Gina beberapa hari setelah kencan antara Rani dan Dipta ke toko buku. Kecurigaan Gina mulai muncul ketika Rani cerita, kalau sepulang dari toko buku, Dipta tidak menghubunginya sama sekali.
“Iya. Kayaknya gue yang kegeeran, deh, Gin,” jawab Rani lemas.
“Emang waktu di toko buku lo pada berantem?”
“Nggak! Malah…” jawab Rani sedikit ragu untuk melanjutkan.
“Malah apa?”
“Dia gandeng tangan gue,”
“Brengsek, love bombing dia, Ran.”
“Iya, ya, Gin?” ucap Rani pasrah. “Duh! Nggak suka, nih, gue kayak gini. Dari dibuat seneng, jadi dibuat nunggu. Mana sebentar banget senengnya,”
Bukan hanya tidak menghubunginya, sudah dua hari ini, Dipta tidak kelihatan di kampus. Apa dia sakit? pikir Rani khawatir.
“Tapi kalau menurut gue, lo mending hati-hati, deh,” kata Gina kepada Rani. “Karena yang dikit-dikit ghosting bisa buat kita kejebak lama. Bahkan lebih lama daripada deketnya. Hiiiiii…..”
“Rese lo, Gin, bikin gue parno aja. Emang se-horror itu?”
“Se-horror itu…” sahut Gina ngeri.
Keesokan harinya, Dipta masih belum juga masuk kuliah. Ada sedikit rasa penasaran yang membuat Rani ingin bertanya kepada salah satu teman Dipta di kelas, tetapi sesuatu menahannya, salah satu alasannya karena belum Dipta masih belum membalas pesannya di Whatsapp.
“Gue chat lagi aja kali, ya, Gin?” tanya Rani yang sepanjang kelas berlangsung tampak berulang kali memeriksa notifikasi di handphone-nya.
“Harusnya, sih, jangan,” jawab Gina.
“Tapi?”
“Tapi daripada lo gelisah sendiri, chat aja, sana.”
Rani pun mengatur pernafasannya, lalu memberanikan hatinya untuk membuka room chat dan mencoba untuk mengirim Dipta pesan yang baru lagi: Sakit, Ta?
“Gimana?” tanya Gina cepat.
Rani menoleh. Wajahnya kelihatan sedikit kecewa. “Centang satu.”
Gina memandangi wajah Rani dengan kasihan. “Ya udah, tunggu nanti pas anaknya udah muncul aja,”
Gina ada benarnya, tapi buat Rani yang tengah jatuh cinta, tentu saja tidak berlaku begitu. Jatuh cinta membuat sebagian orang jadi menggebu-gebu. Jadi, mau itu istilahnya ghosting, mau itu love bombing, tidak menghapus fakta bahwa Rani jatuh cinta kepada Dipta, tanpa bisa menjelaskan alasannya.
Seminggu berlalu dan Dipta masih belum juga membalas pesannya. Namun ada yang cukup mengganjal dalam pikiran Rani karena pesannya masih centang satu, berarti pesan yang dia kirim sudah terkirim, tetapi belum diterima oleh Dipta.
Hari itu, kelas usai sebelum makan siang. Sesaat setelah dosen keluar dari ruangan, dari pintu kelas, terlihat Gina yang berjalan cepat ke arah Rani. “Lo kenapa buru-buru gitu, Gin?” tanya Rani yang sedang mengemas barang-barangnya ke dalam tas.
“Toilet yang deket kelas, kan, lagi dibersihin, jadi gue ke toilet yang ke arah kantin,” kata sahabatnya itu. “Dari jauh, kelihatan ada Dipta di sana,”
Rani berhenti.
“Lo mau ketemu dia?” sambung Gina.
Rani terdiam sebentar. “Nggak, deh. Gue mau langsung pulang, habis ini juga udah nggak ada kelas.”
“Cie, ceritanya kabur nih?” ledek Gina.
“Iya, ya? Kayak kabur banget, ya, gue? Aneh, deh, gue,” sahut Rani pelan. “Kenapa gue jadi kayak tersakiti gini, ya? Padahal bukan salah dia punya sifat friendly? Iya, kan?”
“Terus salah siapa dong?” Gina nyengir.
“Salah gue yang baper!”
Rani beranjak dan meninggalkan ruangan kelas. Dia berjalan sambil melirik handphone-nya. Bukan. Bukan untuk memeriksa notifikasi dari Dipta, tetapi untuk memastikan posisi ojek online yang sudah dia pesan sebelumnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, bohong bila Rani tidak memikirkan Dipta. Bahkan, hanya itu yang memenuhi kepalanya sekarang. Rani sendiri cukup menyayangkan keputusannya untuk menghindari Dipta. Padahal, kalau tadi dia tidak kabur, mungkin sekarang Rani sudah dengar alasan dari Dipta langsung. Kenapa jadi takut gini ya ketemu dia? Apa karena gue takut ngadepin perasaan gue sendiri? pikirnya.
***
Pukul setengah enam pagi. Rani sudah berdiri di depan pagar rumah untuk menunggu ojek online-nya. Hari ini ada kelas Pak Sunardi, jadi Rani mau berangkat lebih pagi dari biasanya, mengingat dia sudah pernah kehilangan satu catatan kehadiran karena waktu itu terlambat.
Pukul enam lewat dua puluh menit. Kampus belum terlalu ramai. Rani berjalan dari gerbang depan menuju kelas dengan earphone yang terpasang di telinganya sejak berangkat dari rumah tadi. Lagu 1979 dari The Smashing Pumpkins yang sedang dia senandungkan pelan, terpaksa dia hentikan ketika melihat seseorang di ujung lorong menuju kelasnya.
Rani memperlambat langkahnya sampai benar-benar berhenti. Dia sadar seseorang dengan jeans dan kaos hitam itu menatapnya. Rani merasakan jantungnya berdebar.
“Kepagian, Ran. Jam tujuh juga belom,” ucap Dipta menyapanya.
Leave a comment