Rani memang sudah lama berniat untuk memulai menulis bukunya sendiri, dan alasan pekerjaannya pun sebenarnya tidak cukup kuat untuk membuatnya selalu menunda rencananya itu. Padahal sudah ada banyak ide dan kerangka cerita yang dia simpan di dalam laptop-nya. Entah apa yang masih menghalanginya.
“Raniiiiii,” suara Surya terdengar dari luar. “Ran, bukain gue pintu, dong…”
“Yaaa, bentar!” jawabnya dari dalam, lalu membukakan pintu.
“Lama banget, sih,” sapanya dari depan pintu kemudian masuk ke dalam. “Siap-siap dulu ya mau ketemu gue?”
Sikap Surya yang kerap kali menggodanya, cuma bisa membuatnya geleng-geleng kepala. “Lo, tuh, masih pagi aja udah kayak gini, ya?”
“Gini gimana? Gini nyenengin?”
Rani meliriknya. “Gini jelek!”
Surya duduk di kursi makan. Dia membuka dua bungkus bubur ayam yang dibawanya. “Sarapan dulu, yuk,”
Rani hanya menatapnya keheranan. Sebesar apa pun usahanya untuk menarik garis pembatas itu, Surya selalu memotongnya dengan cara yang sederhana. Semua hal yang ingin Rani hindari, selalu berakhir menjadi sesuatu yang dia maklumi. Seperti ajakan sarapan, makan siang, nonton konser berdua, pindah ke sebelah apartemennya, dan kini makan bubur ayam bersamanya.
“Nih. Nggak pake kecap sama kacang,” kata Surya lagi. “Kenapa, sih, nggak suka kacang, Ran? Takut jerawatan? Emang cuma kacang yang bikin jerawatan? Emang makan kacang tiap hari?”
“Sur, lo bawel gini nurun dari siapa sih? Nyokap? Apa bokap?”
“Mmm,” Surya berhenti sejenak, memikirkan jawaban yang tepat. “Di keluarga gue nggak ada yang bawel, lagi. Itu kenapa, ya?”
Sambil menyendok bubur, Rani menjawab, “Lo salah keluarga, kali,”
Surya tertawa. “Eh gini-gini, dari semua anak-anak nyokap, gue doang, lho, yang paling anteng. Kakak gue tahun lalu cerai sama istrinya, adek gue gonta-ganti cewek mulu.”
“Itu namanya bukan anteng, Sur, tapi lo nggak laku.”
“Dih, enak aja. Tapi gue, nih, anak paling nurut lho!”
“Udah, anak tengah diem aja, deh,” sahut Rani. “Percuma nurut kalo nggak pernah dilihat.”
“Oh, iya, Ran,”
“Mmm?”
“Mie instan dari gue nggak dapet respon apa-apa, nih?”
Rani menghentikan sendokannya, lalu meliriknya. “Kenapa? Lo penginnya gue salting, ya? Lo pikir ini di novel, Sur?”
Surya tertawa lagi. Temannya yang itu memang tidak bisa bersikap manis sedikit pun.
“By the way, lo sebenernya ngapain sih sampe pindah segala? Lo nggak lagi ada masalah, kan, sama orang-orang rumah?” tanya Rani lagi.
“Fine, dong. Kan udah gue bilang gue anak paling anteng,” jawab Surya. “Cuma… Bayangin lo tinggal sendirian, ternyata bikin gue nggak nyaman.”
Rani memandangnya bingung. “Nggak nyaman kenapa?”
“Khawatir.”
Rani terdiam dan membisu di tempatnya. Aneh rasanya ada seseorang yang mengkhawatirkannya seperti yang dikatakan Surya barusan.
“Gue takut ada yang gangguin lo. Makanya gue pindah, biar gue bisa pastiin kalau yang gangguin lo udah pasti cuma gue,” sambung Surya.
“Dasar!” sahut Rani sambil tersenyum. “Emangnya lo nggak dicariin nyokap, Sur?”
“Kan, gue anak tengah, Ran,” jawab Surya sambil nyengir.
Kemudian, terdengar sebuah notifikasi dari handphone Rani. Sesaat kemudian, Rani segera beranjak, mengundang Surya bertanya, “Mau ke mana?”
“Kopi gue udah sampe di bawah,” jawab Rani.
“Ya, ampun. Lo, tuh, masih aja pesen kopi lewat aplikasi?” sahut Surya keheranan. “Kenapa nggak bikin sendiri, sih?”
“Gini aja jadi masalah deh. Udah, ah!”
“Eh,” Surya meraih tangannya. “Diem sini, gue aja yang ngambil.”
Rani terdiam, tidak menjawab.
“Gimana? Enak, kan, kalau ada yang nemenin? Ada yang bisa ngambilin kopi di bawah?” ucap Surya lagi, kemudian berjalan keluar, menyisakan Rani yang kehilangan kata-kata dan terpaksa menyembunyikan rasa senangnya.
***
Pandemi Covid-19 membuat banyak perubahan kepada hidup Rani, termasuk soal rutinitasnya minum kopi. Dulu, dia gemar sekali minum kopi di tempatnya langsung. Tetapi, semenjak ada gerakan “Di Rumah Aja”, Rani tidak pernah ke coffee shop lagi. Dia lebih suka bekerja di apartemennya, dengan kopi yang selalu dia beli lewat aplikasi.
“Ran, lo beneran cuma beli satu, nih?” protes Surya sekembalinya dari mengambil kopi.
Pandemi Covid-19 juga membuat Rani memiliki hubungan baru dengan kopi yang dia beli setiap pagi dari tempat yang sama, dan dengan pesanan yang sama. Pada mulanya, itu hanyalah kopi biasa. Hingga suatu hari, ada interaksi yang terjadi lewat tulisan yang menempel di dinding bungkus kopi yang dia beli. Tertulis di sana: Halo, Rani. Makasih, ya, udah langganan di sini. Semoga suka dengan kopinya hari ini.
Interaksi satu diikuti interaksi berikutnya, tulisan pertama disusul tulisan lainnya, dan akhirnya dia larut kepada seseorang yang hanya dia kenali bentuk tulisannya, tapi tidak pernah secara langsung dia pandang wajahnya. Beberapa hal yang terbatas, memang sering kali terasa lebih luas.
“Itu kopi apaan, sih, Ran? Deket sini?” tanya Surya penasaran karena melihat Rani yang tampak begitu menikmati kopinya.
“Kalo di aplikasi, sih, bilangnya sekitar dua kilometer,” jawab Rani.
“Lah? Jadi, belom pernah ke tempatnya langsung?”
Rani menggelengkan kepala.
“Terus? Selalu beli lewat aplikasi gitu?” tanya Surya lagi.
“Iya,” jawab Rani santai.
Rani tidak pernah merasa harus mengunjungi tempat kopi itu. Tidak pernah pula terbesit rasa penasaran yang bisa membuatnya melangkah pergi ke sana. Padahal, beberapa kali, tulisan seperti ‘Kapan-kapan Rani ke sini, dong!’ mampir lewat kertas yang menempel di bungkus pesanan kopinya. Tapi tetap tidak juga membuat Rani mendatanginya. Buat Rani, beberapa hal yang diciptakan jauh, lebih baik dibiarkan tetap berjauhan. Rani tidak ingin merusak interaksi yang sudah ada, hanya karena dia memutuskan untuk pergi ke sana, bertemu dengan entah siapa yang selama ini menuliskannya pesan di gelas kopinya.
“Surya,”
“Mmm?” sahut Surya dengan cepat.
“Kalau bener gue yang akan nulis bukunyaβ”
“Dari outline sampe ending, bebas, Ran. Terserah lo maunya gimana,” sahut Surya lagi memotong ucapan Rani yang belum selesai. “Terus, nanti cover buku juga terserah lo. Mau pake ilustrator yang paling mahal pun, gue turutin.”
“Apaan, sih. Orang gue belum selesai ngomong juga,”
“Ya udah apa?”
“Gue sebenernya mau banget, sih….” jawab Rani tidak yakin. “Tapi, kan, ceritanya tentang parfum, ya… Nah, parfum gue tuh belum ganti-ganti. Nggak bervariasi, dong?”
“Tapi pasti ada ceritanya, dong?” tanya Surya sambil menatapnya yakin.
***
Mulailah Rani dengan hari barunya, dengan nama file baru, folder baru, juga lembaran baru di microsoft word yang masih kosong. Sambil memandangi layar laptop, Rani teringat pada percakapannya dengan salah seorang penulis kala itu, si penulis berkata kepadanya, “Kalau buat buku pertama, terus terasa bingung, coba cari cerita terdekat sama diri kita aja, Ran.”
Cerita terdekat itu, buat Rani adalah tentang seorang laki-laki bernama Dipta. Tentu saja itu nama samaran, Rani tidak mungkin menuliskan nama aslinya, karena entah apa yang lebih berbahaya dari itu. Rani memang masih belum tahu apa judulnya, tetapi dia selalu tahu bahwa itu akan menjadi cerita yang nantinya menjadi bagian dari deretan buku karangannya.
Dipta bukanlah tokoh baru. Dipta adalah tokoh yang cukup lama mendiami pikiran dan hati Rani, tetapi tidak pernah ada cerita yang jelas di antara keduanya. Persis seperti yang sedang Rani lakukan, sejak awal, Rani memang cuma bisa menuliskannya, tetapi tidak pernah bisa berada di dalam cerita yang sama dengannya.
Rani ingat Dipta menyapanya, untuk pertama kalinya, pada hari itu. “Telat lagi, ya?”
“Iya,” jawab Rani. “Tadi udah coba masuk kelas, tapi tetep disuruh keluar sama Pak Sunardi.”
Dipta tersenyum. “Makanya berangkat dari rumah lebih pagi lagi,”
“Lah, lo sendiri kenapa di luar? Pasti telat juga, kan?”
“Abisnya waktu Pak Sunardi masuk, lo belom ada di kelas,β jawab Dipta. βJadi gue keluar lagi, deh, biar lo ada yang nemenin bolos.”
Kala itu, di semester pertama perkuliahan, Rani dan Dipta belum terlalu kenal dengan satu sama lain. Interaksi di antara keduanya, pun, jarang terjadi. Itu sebabnya perkataan Dipta barusan membuatnya terkejut.
“Hah? Nemenin gue?” sahut Rani bingung. “Kita kan nggak kenal-kenal amat,”
“Ini sekarang kenalan,”
Leave a comment