Rani menyukai hidupnya. Dia tidak perlu ragu dan merasa terlalu percaya diri untuk mengakui kalau dia memang sangat menyukai hidupnya. Kalau dulu dia selalu memaksakan hidupnya untuk menjadi seperti kehidupan yang dia lihat di Instagram, sekarang, Rani mulai melihat dunia dengan caranya sendiri. Dia bahkan tidak terbebani ketika Gina, sahabatnya sejak masih kuliah, menikah dua bulan yang lalu. Dengan umur yang terbilang sudah mulai terdengar serius, dengan kesendirian tanpa ada satu laki-laki pun yang dekat di hidupnya, Rani tidak merasa terganggu dengan semua itu.
“Tumben pagi banget ke kantornya, Ran?” tanya Yudis, teman kantornya yang sedang merokok di dekat tempat parkir.
“Iya, nih. Ada brand yang pengen rilis produk baru tapi lewat buku, terus minta meeting langsung di kantor,” jawabnya.
Yudis mengerutkan dahi. “He? Tumben banget?”
Rani bekerja sebagai editor di sebuah perusahaan penerbitan buku. Dia sangat menyukai pekerjaannya, dan orang-orang yang ada di dalamnya. Meski pada mulanya, dia sempat berpikir bahwa dengan menjadi editor—kemungkinannya untuk berinteraksi dengan rekan kerja yang lain bisa lebih kecil, tetapi ternyata sebaliknya. Yah, meski bisa melihat dunia dengan caranya sendiri, Rani tetap tidak bisa membuat dunia bekerja juga dengan caranya.
Rani masuk ruang rapat sekitar lima belas menit lebih cepat. Belum ada siapa-siapa di sana. Hanya ada beberapa botol air mineral di atas meja. Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah berlari kecil dan pintu terbuka.
“Brand apaan, sih, Sur?” tanya Rani langsung kepada Surya.
Namanya Surya, pimpinan redaksi di kantor. Dia kebetulan bersahabat dengan kakaknya Rani. Itu alasan kenapa mereka cukup dekat, meski tidak pernah benar-benar dekat dalam konteks hubungan yang romantis. Rani sendiri tidak suka terlalu melekat dan berkaitan dengan seseorang —apalagi dengan rekan satu kantor. Meski begitu, Rani menyukai manusia dan perasaan-perasaannya. Rani menyukai fase mengenal kembali perasaan yang pernah dia temui sebelumnya. Seperti ulang tahun, Rani suka mengulang perayaan yang sama; Rani suka jatuh cinta.
“Ada, brand lokal gitu, Ran,” jawab Surya. “Nah, CEO brand parfumnya, temen sepeda gue. Tempo hari dia bilang mau buat parfum yang ada ceritanya gitu, yang ada bukunya.”
“Oh… Jadi buku tentang parfum?”
“Iya, kali, ya?” ucap Surya tidak terlalu yakin.
Beberapa menit kemudian, rapat dimulai. Belum terlalu banyak yang bisa dibahas, karena team dari brand baru menyampaikan niatan mereka untuk merilis parfum dengan sebuah buku. Ini juga merupakan sesuatu yang baru untuk perusahaan penerbitan tempat Rani bekerja.
“Kalau dari Mbak Rani, adakah stok naskah yang mungkin punya bahasan tentang parfum?” tanya salah seorang dari team parfum.
Rani menjelaskan, “Sejauh ini kalau yang topiknya benar-benar tentang parfum, belum ada, Mbak, tapi mungkin bisa saya usahakan cari naskahnya.”
“Kalau buat naskah baru, Ran?” tanya Surya.
“Mmm… Maksudnya? Cari penulis terus minta yang bersangkutan menulis ceritanya?” tanya Rani berusaha memahami maksud Surya. “Memungkinkan, sih. Cuma balik lagi, harus dicari dulu penulisnya, dan kalau ngomongin soal penulis berarti kita harus sesuaikan timeline brand sama schedule penulisnya.”
“Wah, itu bisa ribet, ya?” sahut Devan, CEO dari brand parfum yang juga teman Surya.
“Nggak ribet, sih, Dev, kalau bisa dapet penulis yang cocok. Lo bilang waktunya sekitar lima bulan, kan?” jawab Surya. “Kalau dilihat dari konsep dan topik yang diambil, harusnya bisa-bisa aja—selama lo bisa kasih kebebasan gue buat cari penulisnya.”
Devan tersenyum lebar. “Oke.”
Beberapa saat setelahnya, team dari brand parfum keluar meninggalkan ruangan. Rani menutup laptopnya, sementara anak-anak yang lain sudah keluar ruangan lebih dulu, kecuali Surya yang tengah bangkit dari tempat duduknya untuk berjalan ke arah Rani. “Udah makan, belom?”
“Lo, tuh, gila, ya?” ketus Rani.
“Kenapa, sih, Ran? Kok tiba-tiba gue gila?”
“Lima bulan? Mau cari penulis di mana, Surya?” protes Rani, raut wajahnya kelihatan sangat kesal. “Lo, tuh, kebiasaan suka gampangin sesuatu. Kan, gue yang bingung nyari penulisnya di mana! Siapa yang sanggup coba?”
“Lo ajalah,” ucap Surya santai sambil menyengir.
“Hah?”
“Iya. Udah lama juga, kan, lo pengin nulis buku sendiri?” kata Surya. “Nih ada kesempatannya. Lo juga baru selesein editan novel lain, kan? Harusnya ada banyak waktu luang, dong?”
Rani terdiam sejenak. Dia seketika tersadar bahwa ini semua adalah ulah Surya. Dari awal, Surya tahu akan memilihnya untuk proyek parfum ini. “Tapi, Sur—”
“Tapi udah makan belom?” sahut Surya memotong perkataan Rani yang belum selesai dengan mengulang pertanyaan yang sama.
“Udah ngopi, sih, tadi,” jawab Rani pelan.
“Belom makan dong? Mau nulis naskah kan butuh tenaga, Rani,” ucap Surya kali ini menggodanya.
“Naskah apaansi, ah, jangan bercanda!”
“Siapa yang berani bercanda, sih, kalau orangnya itu, elo?”
Rani menyukai kehangatan yang dia dapatkan dari seorang laki-laki. Bukan kesenangan, tapi kehangatan. Meski Surya adalah teman laki-lakinya yang menyebalkan, tapi tidak bisa dipungkiri bila Rani memang bisa merasakan kehangatan itu. Seperti sofa lusuh yang tidak membutuhkan alasan untuk menjadi tempat merebah, Rani sangat menyukainya.
“Jadi diambil, Mbak? Sofanya?” tanya salah seorang pelayan toko yang menemaninya berkeliling. Selepas tadi dari kantor, Rani memutuskan untuk mampir ke toko mebel. “Promonya cuma tinggal hari ini, lho, Mbak. Lumayan diskonnya,”
Rani terdiam dan menatap sofa berwarna hijau tua itu smbil mempertimbangkan banyak hal.
“Hmm… Sofanya, tuh, nanti akan deketan sama meja makan, Mas,” katanya menjelaskan. “Meja makan saya tuh warna hitam, nah, kursi-kursinya warna cokelat kayu gitu. Cocok nggak, ya?”
“Gini aja, Mbak. Kalau semisal ragu, nanti sama orang toko bisa dibawain dulu sofa contohnya ke apartemen Mbak, biar bisa dipastiin cocok.”
“Wah, sekarang, sofa aja udah kayak aplikasi berbayar, ya? Bisa free trial dulu?” sahut Rani.
Pelayan toko itu tersenyum. Menanti keputusannya.
“Langsung saya ambil aja deh,” katanya lagi. “Kasian dia, kalo udah sampe apartemen saya terus harus balik ke sini lagi.”
Dengan berbekal insting dan penerkaannya, Rani melabuhkan pilihannya kepada sofa dua seater berwarna hijau itu. Dia pun menyelesaikan proses pembayaran, sementara sofanya baru akan diantar besok lusa.
Handphone-nya berdering. Ada pesan masuk: Gue udah di parkiran apartemen, nih.
Sedetik kemudian, Rani langsung membalas: Otw.
Pesan masuk itu dari Gina, teman apartemen Rani dulu. Tiga tahun lalu mereka memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen dan membagi biaya sewanya berdua. Sebuah solusi yang mereka pikir tepat, sampai ketika Gina menikah, dan seketika, apartemen itu menjadi terlalu besar dan terlalu mahal untuk hanya Rani tempati seorang diri.
Beberapa saat kemudian, Rani tiba di apartemen. Ketika melewati lobi, terdengar salah seorang petugas memanggilnya. “Mbak, Rani! Ada paket,” panggilnya.
Langkahnya berhenti. Rani terlihat bingung. “Paket? Saya nggak habis beli barang di online, perasaan.”
Petugas itu menghampiri Rani dengan sekotak kardus berukuran sedang di tangannya. “Coba dicek dulu, Mbak, kalau tadi saya lihat alamatnya emang untuk Mbak Rani, sih.”
Rani pun segera memeriksa kertas yang menempel di kotak itu, dan benar, paket itu untuknya.
“Apaan, tuh, Ran?” tanya Gina ketika Rani baru saja membuka pintu dan masuk.
Rani memandangi paketnya. “Kata orang lobi ada paket buat gue, tapi nggak tahu dari siapa,”
“Dari mantan gebetan lo kali,” kata Gina meledek.
“Ngaco, lo. Siapa juga yang punya mantan gebetan,” sahutnya sambil meletakkan paketnya di dekat rak sepatu.
“Eh, iya, dapet sofanya?”
“Dapet. Kayaknya lusa baru dianter,”
“Lah? Langsung dibeli? Kan sekarang bisa dicoba dulu, dibawa ke apartemen,” kata Gina. “Daripada udah telanjur dibeli terus nggak cocok?”
“Udah, gapapa. Biar ada pemandangan baru,”
Rani tidak merasa hidup senyata itu sampai ketika Gina menikah, di situ pula dia kemudian sadar bahwa dia tidak hanya tumbuh, tapi juga bertambah tua. Dan kalau harus benar-benar jujur, itu cukup menakutkan.
Sebelumnya, apartemen ini tidak memiliki sofa. Rani dan Gina selalu duduk di kursi makan, di sana mereka mengerjakan banyak hal seperti bekerja, makan, main, berbincang. Kini, semenjak Gina tidak lagi tinggal di sini, Rani berpikir bahwa harus ada yang baru di dalam apartemennya.
Tidak sampai satu jam, Gina pulang dengan mengembalikan kunci apartemen. Oh, what a farewell, pikir Rani ketika menerima kunci itu.
Semenjak Gina menikah, Rani merasa, ada beberapa topik baru yang tidak bisa dikuasainya. Topik yang sudah dia perkirakan akan ada, tapi tetap belum membuatnya terbiasa menghadapi diskusi-diskusi yang tidak bisa dia tanggapi.
****
“Emang nggak berat bayar sewa apartemennya sekarang sendirian? Lumayan, kan?” tanya Surya keesokan harinya ketika mereka sedang makan siang bersama di rumah makan padang.
“Berat, sih, ini makanya gue sambil cari temen yang mau sharing apartemen.”
“Temen? Emang lo punya temen, Ran?”
“Punyalah!” Rani menyendok makanan di piringnya. Seporsi nasi padang dengan lauk dendeng balado kesukaanya. “Kayaknya gue pengin tawarin ke Bella, sih,”
“Bella yang beda agama sama cowoknya itu?” Surya menyahut.
“Ih, tau-tauan aja lagi. Lo nge-stalk ya?”
“Sembarangan!” protes Surya. “Waktu itu kan lo sendiri yang cerita sama gue,”
Rani tertawa. “Eh, btw, kemarin ada paket misterius gitu dikirim ke apartemen gue. Belum gue buka, sih. Soalnya nggak ada nama pengirimnya.”
“Ih, ngeri banget?” ucap Surya. “Coba nanti gue aja yang buka. Kalo isinya teror gimana?”
Rani menyelesaikan makanannya, meminum tehnya, dan beranjak untuk membayar di kasir. “Gapapa, deh. Biar hidup gue jadi lebih seru,” ucapnya kemudian berlalu pergi.
Surya ikut menyelesaikan makanannya, lalu bergegas menyusul Rani dari belakang. “Ran, pulang kantor ke mana?”
Rani menoleh, “Ya, pulanglah!”
“Pulang mulu, nonton aja, yuk?”
“Nggak, ah. Ada yang harus gue kerjain,”
“Cie, ngerjan naskah ya?” sahut Surya dengan bersemangat. “Ya udah gue temenin,”
Rani biasanya tidak sedingin ini pada laki-laki, tapi kalau dengan rekan satu kantor, dia sangat menjaga jarak. Buatnya, kedekatan dengan orang kantor adalah hubungan yang lebih baik dihindari.
“Tenang. Bukan nonton konser kayak waktu itu, kok,” sambung Surya lagi. “Jangan tegang gitu dong mukanya.”
Rani seketika mengingat hari itu ketika mereka pergi ke festival musik bersama, dan setibanya di sana Rani turun terlebih dulu, sementara Surya memarkirkan motor.
“Sini, helmnya,” Surya mendekat dan mengambil helm yang dipeluk Rani. “Masa mau nonton konser bawa-bawa helm?”
Rani menatapnya, kemudian berjalan lebih dulu. Dari belakang, laki-laki yang lebih tua darinya itu, meraih tangannya. “Udah nggak usah pake ngambek-ngambek segala, deh. Inget, Ran, lo di sini sama gue. Lo nggak akan bisa pulang, kalo nggak sama gue.”
“Nggak pake ngambek, sih, nggak pake ngambek, Sur, tapi hubungannya sama gandengan apaan?”
Ucapannya seketika membuat langkah Surya terhenti.
“Gapapa, biar kayak orang pacaran aja,” kata Surya. “Kenapa? Takut baper? Katanya nggak akan suka sama cowok kayak gue?”
Rani menyeringai, dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Sebab matanya mulai berbinar-binar. Surya membuat perasaannya menjelma sedikit merah menyala.
“Nggak tegang, apaan sih!” seru Rani kepada Surya, sekaligus menghentikan ingatannya akan momen festival musik itu. “Dah, gue mau pulang.”
Tidak lama setelahnya, Rani menuju apartemennya. Sejak tinggal sendirian tanpa Gina, Rani memiliki langkah yang berat untuk pulang. Tidak ada lagi teman bicara, teman pesan makanan di aplikasi, teman nonton serial drama. Dia tidak bisa melakukan itu dengan Surya. Surya bukan seorang teman untuknya. Bukan juga penggemar apalagi kekasih. Surya sangat jauh dari sebuah interaksi romantis antara perempuan dan laki-laki. Surya hanyalah rekan kerjanya di kantor, dan tidak lebih dari itu.
Tapi setidaknya, Rani menyukai apartemennya. Terlebih lagi, sore itu tidak banyak kemacetan di titik Jakarta yang dia lewati.
Setibanya di apartemen, terdengar salah seorang petugas keamanan kembali memanggilnya, “Mbak Rani!”
“Kenapa, Pak? Ada paket lagi buat saya?” tanya Rani.
“Itu saya mau tanya, kemarin paketnya udah dibuka sama Mbak Rani atau belum?” ucap petugas keamanan dengan wajah khawatir. “Soalnya ada yang dapat paket dari orang iseng isinya makanan busuk gitu, Mbak Rani,”
Rani membelalak. Tidak pernah dia bayangkan kejadian seperti itu ternyata bisa terjadi di dekatnya. Tanpa basa-basi, ditemani petugas keamanan, dia segera bergegas menuju kamar apartemennya. Sesampainya di dalam kamar, dilihatnya sebuah kotak paket yang tergeletak rapi di lantai. Dia melangkah kecil dan perlahan. Mengambil sebuah gunting dan mulai membuka paket yang dilakban dengan rapi itu.
Rani melihat beberapa bungkus mie instan. Ada yang goreng juga kuah. Ada yang rasa soto dan kari ayam. Dia kemudian memeriksa tanggal kedaluwarsa, “Isinya mie instan, Pak. Expired-nya juga masih lama,” ucap Rani.
“Berarti bukan teror, itu, Mbak Rani,” sahut petugas keamanan. “Ya sudah, saya pamit dulu, Mbak. Syukurlah itu cuma paket biasa.”
Tapi dari siapa? pikirnya.
Rani kemudian mengeluarkan semua mie instan dari dalam kotak, dia melihat secarik kertas di bagian dasar. Kertas itu bertuliskan:

Leave a comment