Namanya Rani. Waktu masih SD, dia punya mimpi untuk menjadi pilot. Mimpinya itu masih konsisten sampai ketika dia mulai masuk SMP dan menjadi pilot terdengar tidak masuk akal. “Aku kayaknya mau jadi dokter aja,” kata Rani kepada ibunya hari itu.
Selain menjadi pilot, Rani sebenarnya masih menyimpan dua mimpi cadangan: dokter dan arsitek. Lagipula, siapa yang tidak familiar dengan profesi itu ketika ditanya soal cita-cita sewaktu masih kecil dulu? Pun dengan Rani. Dia memilih mimpi yang dia tahu, bukan yang benar-benar dia mau.
Tetapi, tiga tahun di SMP membuat Rani akhirnya menyadari satu hal bahwa tempatnya bukan di jurusan IPA. “Ternyata jadi dokter harus bisa semua pelajaran IPA, Bu. Nyerah, ah,” kata Rani kepada ibunya selepas lulus SMP.
“Terus jadinya mau apa?”
Rani terdiam. Dia teringat satu mimpinya lagi yang masih tersisa. “Kalau jadi arsitek mah kan harus bisa gambar ya, Bu?”
Ibunya tersenyum. “Dipikir-pikir dulu aja, Ran. Nentuin mimpi kan nggak kayak milih makanan di buku menu. Masih ada waktu.”
Saat itu, Rani setuju tentang masih ada waktu. Namun, yang tidak dia sadari adalah masa remaja adalah masa yang cepat. Waktu seperti punya kecepatan yang lebih tinggi di dalamnya. Ketika sekolah mengadakan tes peminatan jurusan, ternyata hasilnya Rani masuk ke dalam kelas IPS. Membaca lembar hasil tes itu membuat Rani merasakan hal yang aneh. Mendadak, dunia mulai terasa… Serius.
10 tahun setelahnya, di kantor penerbitan buku, ketika Rani sedang mengingat kembali tentang mimpi masa kecilnya yang ingin menjadi pilot padahal dia sendiri membenci ketinggian, dia baru sadar bahwa manusia ternyata bisa menginginkan sesuatu yang tidak mereka pahami.
“Ran, hidup emang menarik kalau dipikir-pikir,” ucap Surya memulai percakapan dengan sebungkus gorengan yang dia bawa di tangannya.
“Dapet, nggak, cirengnya?”
“Lagi mau bahas hidup malah yang lo tanya cireng!” protes Surya. “Makan nih, cireng!”
Sambil meraih cireng dari dalam bungkus gorengan, Rani menanggapi temannya itu, “Iya, apa tadi? Kenapa hidup?”
“Dahlah,”
“Cie… Kayak beneran, nih, ngambeknya,” ledek Rani.
“Lagi, dong, Ran. Ayo bujuk gue, lagi.”
“Apaan, tadi? Apa yang menarik dari hidup?”
“Iya… Menarik, karena ternyata dalam sehari, gue cuma makan malam aja yang nggak bareng lo,” jawab Surya santai sambil memandangi Rani yang mengunyah cireng dengan tangannya penuh minyak.
“Ini obrolan arahnya ke mana, Sur?”
Surya mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Bukan. Bukan cincin. Itu hanya sebuah sapu tangan berwarna biru gelap. “Nih, lap dulu. Tangan lo, tuh, minyak semua.”
“Mmm… Iya juga, ya,” sahut Rani, wajahnya terlihat seperti menyadari sesuatu. “Gue juga cuma makan malam aja yang nggak bareng, lo. Tapi syukur, deh, seenggaknya masih ada satu jam makan yang nggak perlu lihat muka lo.”
“Lho, malah tanggung itu, Ran, sekalian aja bareng gue biar hemat,”
“Oh… Arah obrolannya ngajak gue dinner, nih?”
“Ya, iya, Ran. Emang kalau arahnya jadi serius, lo siap?”
Kunyahan Rani berhenti. Dia buru-buru mencari topik baru untuk mengalihkan pertanyaan Surya barusan. “Eh, Sur, waktu lo masih kecil, cita-cita lo jadi apa? Sama nggak kayak kerjaan lo sekarang?”
Surya tersenyum dan menerima sinyal Rani untuk berganti topik. “Cita-cita gue jadi pengusaha,”
“Ah, mana ada anak kecil cita-citanya jadi pengusaha!” sahut Rani.
Surya tersenyum jahil. “Bercanda. Hmm… Cita-cita gue gonta-ganti, sih, Ran. Lo gitu juga nggak?”
“Iya. Waktu SD gue pengin jadi pilot, terus pas SMP pengin jadi dokter, terus berubah lagi pengin jadi arsitek. Kalau lo?” Rani bertanya balik.
“Masih banyakan gue berarti,” ucap Surya. “Waktu TK gue pengin jadi astronot, terus pas masuk SD cita-cita gue berubah, tuh, gue pengin jadi polisi. Nggak lama dari situ gue pengin jadi pemain bola. Nah, lumayan lama cita-cita jadi pemain bola. Seingat gue sampe SMP, apalagi makin sering main bola, kan. Tiap pulang sekolah, terus ikut turnamen. Wah. Gue berasa keren banget, deh. Mana banyak cewek yang naksir—”
“Sur, Sur, bagian yang itu nggak usah diceritain,” sela Rani cepat.
“Oh, iya. Maaf. Maaf.” Surya tertawa ringan. “Terus mulai masuk SMA, gue jadi jarang main bola. Di situ gue juga mulai sadar kalau bola tuh sebatas hobi gue, sesuatu yang gue suka, tapi untuk membuat itu jadi serius kayaknya nggak aja.”
“Terus-terus?” Rani menyahut bersemangat.
“Terus ternyata gue masuk kelas IPA. Gue inget banget anak-anak di kelas udah banyak yang punya rencana untuk dituju. Ada yang mau ambil teknik, kedokteran, banyaklah. Gue juga sempet pengin ambil teknik, karena itu yang kelihatannya paling familiar—kita suka gitu kan kalau milih mimpi? Naik kelas 3 SMA, gue masih kekeh pengin ambil teknik, teknik mesin waktu itu. Eh, semua berubah ketika gue ikut tes minat-bakat, dan lihat hasilnya yang buat gue kaget tapi ya nggak kaget-kaget banget.”
“Oh, iya?”
“Iya, akhirnya gue milih untuk ambil sekolah film, deh,” jawab Surya sambil mengangguk. “Sebenarnya, hubungan gue ke film sama kayak hubungan gue ke bola. Dua-duanya gue suka banget dari kecil, bedanya, di film gue mau serius. Nggak cuma untuk jadi sekadar hobi, tapi untuk jadi sesuatu yang akan gue jalanin terus sebagai bagian hidup.”
“Mmm, gitu,” gumam Rani.
“Rani,”
“Apa?”
Surya berhenti sebentar, seperti memastikan apa yang akan dia ucapkan matang-matang. “Buat gue, lo adalah film itu—versi belum tergapai aja.”
Perkataan Surya membuatnya terkejut. Keduanya pun terdiam di tempatnya masing-masing. Surya terus menatapnya, sementara Rani tidak berani menatapnya balik. Rani menciut dan tersudut.
Tidak lama, terdengar bunyi telepon masuk dari handphone Rani yang belum lama dia ganti dengan lagu favoritnya.
♫ I’ll always be in your corner. Cause i don’t feel alive ’til i’m burnin on your backburner.
(Backburner, your backburner)
Leave a comment