Apa yang membuatmu jatuh cinta? Apakah karena suaranya yang lembut? Apa karena senyumnya yang teduh? Apa karena matanya yang membuatmu jadi ingin bersembunyi? Apa karena pedulinya yang mungkin sebenarnya juga tidak disengaja? Apa karena caranya berpikir tentang dunia? Apa karena ada beberapa hal yang cuma kamu temukan dalam dirinya?
Pertanyaan tentang jatuh cinta selalu membawaku pada kalimat yang Haris ucapkan kepadaku waktu itu, “Cinta itu bukan kata-kata, Sal, cinta itu perbuatan.”
Aku tidak pernah percaya dengan ucapannya yang itu. Kupikir, itu hanya pembelaan yang dia buat karena aku tahu dia memang tidak pandai berkata-kata. Bahkan, mungkin, bukannya tidak pandai, tapi memang tidak suka banyak bicara. Dia tidak suka berkomentar, kecuali bila aku sedang bercerita. Selain itu, dia pasti menjawab dan bicara lewat perbuatannya.
Seperti ketika aku chat dia, ‘Makan apa, ya?’, beberapa saat kemudian, pasti datang ojek online membawakan aku nasi padang atau ayam geprek atau sate madura, dan masih banyak lagi. Belum lagi setiap ada film baru di bioskop, dia pasti selalu membeli dua tiket agar aku menemaninya.
“Emangnya nggak ada orang lain, apa, buat nemenin nonton?” tanyaku suatu ketika.
“Ada,” jawabnya. “Tapi kan kebanyakan temen aku cowok, masa nonton bioskop berdua cowok. Nggak mau!”
“Nonton sendiri juga nggak bisa?” tanyaku sekali lagi, menggodanya.
“Kamu, nih, perkara nonton aja segitunya.”
“Cie, marah?”
Kalau sudah begitu, dia cuma diam. Dia sadar aku baru saja menggodanya.
“Ayo dong, marah,” sambungku. “Kamu, kan, flat banget, Har, nggak gampang senyum, susah ketawa, mungkin dengan marah-marah kamu bisa jadi lebih… ekspresif?”
Haris terkekeh. “Nanti kalau aku marah beneran, kaget…”
Kalau dipikir-pikir lagi, dia ada benarnya. Aku sering menggodanya agar lebih berisik, padahal aku sudah nyaman dengan sifatnya yang begitu sunyi dan tenang. Seperti bahasa yang kupahami ketika aku pergi ke suatu tempat yang asing, seperti kehangatan di musim dingin yang tidak pernah membuatku terbiasa, seperti tujuan yang selalu aku kenali.
***
“Ini Dania temen SD kita, nggak, sih?”
Aku menggangguk menjawabnya sambil merapikan riasan di wajahku.
“Kok bisa diundang, Sal? Kamu masih contact-an, emang?” tanya Haris lagi.
“Masih. Aku follow-follow-an di Instagram,” jawabku. “Waktu itu sempet ada reuni, nah, di situ aku ketemu Dania, terus ya dia minta nomor aku ternyata buat ngasih undangan.”
“Reuni? Kok aku nggak tahu?”
Aku menatapnya sedikit kesal. “Reuni? Gak mau, ah, males, ngapain?” ucapku dengan meniru caranya berbicara kala itu.
Haris tersenyum. “Oh yang waktu itu kamu ajak aku tapi akunya nggak bisa, ya?”
“Bukannya nggak bisa, tapi nggak mau. Itu, tuh, dua hal yang beda!”
“Iya-iya,” sahutnya. “Udah selesai belum make up-nya? Resepsinya mulai jam berapa?”
Umur-umur segini, akhir pekan memang berubah menjadi pekan kondangan. Minggu lalu, teman kuliahnya Haris menikah. Sekarang giliran Dania, teman SD kami berdua. Sungguh sebuah reuni yang tidak terencana. Aku sebenarnya sama sekali nggak masalah, tapi Haris lumayan nggak nyaman. Ya… Gimana? Waktu sekolah dulu, mantannya emang lumayan banyak. Siapa yang nggak serba bingung kalau harus papasan sama mantan depan mata?
“Minggu depan siapa lagi yang nikah, Sal?” tanyanya sambil menyetir mobil, di tengah perjalanan kami menuju lokasi.
“Kalau nggak salah si Beni, deh,” jawabku.
Haris lantas menoleh, menatapku serius. “Beni? Yang kamu suka waktu SMP itu? Yang kamu tembak lewat sms?”
“Eh diem, deh,” sahutku kesal.
“Nikah sama siapa dia?”
“Ya sama calon istrinya, lah,”
“Jangan marah gitu, kesannya masih suka,”
Gantian aku yang menoleh ke arahnya. “Nggak!”
“Tuh, kan. Kamu, mah, marah beneran,” katanya kepadaku. “Kalau kamu ngeledek aku soal mantan aja aku nggak pernah marah,”
Padahal, aku tuh aslinya nggak gini, nggak mudah ngambek. Tapi, nggak tahu, kalau sama dia, aku mendadak jadi manusia paling perasa di dunia. Walaupun kalau harus jujur, aku nggak marah sama dia. Lebih tepatnya, aku nggak pernah bisa marah. Ya, gimana bisa marah kalau sifatnya yang sedingin es itu, yang sedikit bicara itu, sekejap berubah hangat dan cerewet kalau aku terlihat seperti ngambek di hadapannya? Siapa yang bisa menahan semua perasaan itu?
“Salwa…” dia memanggilku lembut. “Aku bercanda doang…”
Aku melirik maps yang terpasang di tv mobil, menurut perkiraannya kami baru akan sampai kurang lebih empat puluh menit lagi. Bukan waktu yang sebentar untuk diam-diaman dengannya.
“Jadi inget waktu kita prom jaman SMA, deh,” katanya lagi. “Kamu inget, gak? Waktu kamu tiba-tiba minta pulang karena udah masuk jam tidur kamu. Apa banget coba?”
“Apa banget, apa banget, tapi kamu turutin juga,” sahutku.
“Kan aku udah janji sama papa mama kamu, kalau kamu akan pergi dan pulang sama aku.”
“Kalau soal pindah sekolah, Ris? Itu kamu janji sama siapa?”
Mobil berhenti di lampu merah. Dia masih memegang kemudi, tapi kini kembali menoleh ke arahku. “Nggak janji sama siapa-siapa,”
“Terus?”
“Pengin aja.”
“Pengin apa?”
“Satu sekolah lagi sama kamu,” dia menjawab santai.
Dulu, aku sering berpikir, bahwa dia tidak punya banyak energi untuk bicara, karena energinya habis untuk menyimpan ingatan tentang kami berdua. Daya memorinya begitu hebat hingga aku sendiri kerap kali tidak percaya dengan cerita kilas balik yang dia ucapkan. Aku pikir dia mungkin hanya sedang mengada-ngada, tapi dia pasti marah jika aku bilang kalau dia bohong, dia marah bila aku meragukan kenangan yang dia simpan di dalam kepalanya itu.
“Kita satu sekolah, tuh, udah dari SD, lho, Ris,” ucapku menanggapinya. “Makanya aku kaget banget waktu mama kamu bilang kamu pindah ke SMA aku waktu itu, sebulan juga belom.”
“Suka-suka,” jawabnya dengan nada yang datar. “Sayang aja pas kuliah aku mau nggak mau harus ke London, kalau bisa mah-“
Aku segera memotong kalimatnya. “Apa? Kamu mau ikut sekolah masak juga bareng aku?”
“Iya… Kenapa, nggak?” sahutnya yang masih tidak mau kalah. “Buktinya udah kepisah Jakarta-London aja, aku tetep pulang, tuh.”
“Nggak ada yang bilang kamu nggak akan pulang, sih, rumah kamu kan emang di sini,”
“Di kamu?”
Aku reflek memukul kepalanya. “Di Jakarta!”
***
Kami tiba di acara pernikahan. Acaranya terbilang cukup mewah dan megah dengan nuansa merah tua. Sudah ada beberapa wajah yang aku kenali, meski agak sedikit lupa namanya.
“Eh itu Jodi, bukan, sih?” sahut Haris, dia memang yang lebih hafal dengan nama orang ketimbang aku. Haris pun segera memanggilnya, “Jod! Jodi!”
Jodi langsung menoleh, dan berjalan ke arah kami. Semakin mendekat, semakin pulih ingatanku akan Jodi. Dia teman futsalnya Haris waktu SMP.
“Apa kabar, lo, Ris?” sapa Jodi.
“Baik, lo gimana? Sendiri, nih?” jawab Haris dengan senyum lebarnya, tidak pernah aku melihat senyumnya yang selepas itu.
“Iya, belom lama putus gue,” ucap Jodi. “Lo ama siapa?”
“Sama Salwa ini, depan mata lo juga.” jawab Haris lagi, kali ini sambil menahan tawa.
“Eh iya ada Salwa,” Jodi berkata kepadaku. “Dari SMP, perasaan nggak nambah-nambah tinggi, lo. Sampe gak kelihatan.”
Aku memang selalu jadi sosok tidak terlihat kalau sama Haris. Alasannya karena aku tidak sepopuler Haris di sekolah, dan juga karena tubuhku memang terlihat kecil bila berada di sebelah Haris.
“Eh, by the way, lo kenal sama ceweknya apa cowoknya, Jod?” sahut Haris, mengalihkan pembicaraan seputar tinggi badanku.
“Sebenernya yang dapet undangan, tuh, nyokap gue, jadi nyokapnya si cewek itu sahabatnya nyokap. Cuma doi lagi nggak enak badan, jadi gue yang gantiin,” jelas Jodi. “Lo? Kenal ama siapanya?”
“Nih, si Salwa yang diundang,”
Jodi memandangiku, kemudian berganti mengarah ke Haris. “Kalian, tuh, masih kayak gini, ya? Dari dulu?”
Aku segera menyahut, sebelum Haris mendahuluiku. “Temen lo, tuh, nggak bisa jauh-jauh dari gue!”
“Emang bener, Ris?”
“Benerlah,” Haris menjawab tanpa beban. “Orang gila mana yang tiap bulan pulang London-Jakarta cuma buat diomelin anak kecil ini?”
Haris dan kegilaannya yang tidak pernah habis aku pahami.
“Hati-hati nanti jodoh, lho, Sal,” ucap Jodi kepadaku, dengan nada yang menakut-nakuti.
Aku dan Haris sudah lama begini; berteman dekat, bahkan nggak jarang terlihat terlalu dekat sampai teman-teman kerap meledek bahwa ujung-ujungnya aku dan Haris akan lebih dari ini. Tapi seperti yang tadi aku bilang, kami sudah lama begini, dan memang tidak pernah ada yang lebih dari dua orang yang berteman baik. Aku tidak pernah merasa memiliki perasaan romantis seperti hubungan antara perempuan dan laki-laki pada umumnya.
“Nggak mungkin, Sal!” ucap Dira waktu itu. Aku teringat kami pernah membahas soal Haris. “Nggak mungkin lo nggak punya rasa yang lebih dari sekadar temen. Mungkin lo cuma gak sadar, tapi perasaan itu selalu di situ.”
Sejujurnya, pendapat Dira sempat membuatku ragu dengan perasaanku di dalam pertemananku dengan Haris. Tetapi, di sisi lain, Haris tampak nyaman-nyaman saja dengan hubungan kami berdua, dan pada saat itu, kupikir, pendapat Dira seharusnya tidak perlu jadi kekhawatiran yang mengganggu.
“Kamu mau bakso, gak? Nih, berdua, yuk?” sahut Haris, menghentikan pikiranku dari perkataan Dira tempo hari. “Udah capek, ya? Mau pulang aja?”
Aku terdiam. Aku sejenak menyadari kalau memang cuma Haris yang bisa memiliki pertanyaan itu. Dia tahu energiku cepat habis kalau berada di tempat yang berisi banyak orang. “Udah mau pusing, sih…” jawabku.
“Ya udah bentar, aku abisin dulu baksonya, terus kita pulang, ya.”
Selang beberapa menit, kami pulang, dan kalau habis bertemu banyak orang, aku pasti lebih banyak diam. Haris pun begitu. Dia selalu menyeimbangi sisa energiku dengan baik. Tapi malam itu, aku merasa ada yang berbeda dari Haris, aku merasa ada yang ingin dia katakan tapi dia tahu aku sedang dalam mode diam alias istirahat.
“Sal?” dia berkata pelan, dan terdengar ragu. “Kamu udah kuat ngobrol, belum?”
Aku menahan senyum. “Kuat. Aku nggak capek-capek banget, kok. Kan tadi kamu langsung ngajak pulang.”
Dia menyengir, “Oh iya, ya.”
“Kenapa? Kamu pengin ngobrol?”
“Bukan ngobrol, sih… Pengen kasih kamu rekomendasi aja,”
“Hah? Rekomendasi? Makanan? Kamu masih laper?” tanyaku.
Setelah itu, Haris melipir membawa mobil berhenti di pinggir jalan dekat sebuah restoran 24 jam. Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Dan tiba-tiba aku merasa tidak karuan, seolah aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Sama aku terus aja, ya, Sal?” dia bertanya sambil memberiku sebuah cincin.
Aku cuma bisa memandanginya dengan tanpa terduga ada rasa bahagia yang begitu besar yang tengah aku coba sembunyikan. Aku justru bertanya, “Kenapa emangnya?”
“Ya pikir aja coba, nggak mungkin banget, kan, kalau aku nggak sama kamu. Kamu emangnya mau sama siapa? Emang ada cowok yang lagi kamu suka? Kamu nggak pernah bilang, tuh. Ya kalau pun ada, ya gapapa, aku nunggu aja. Nanti kalau cowok itu nggak suka kamu, aku dateng lagi. Tapi emangnya ada? Beneran ada yang lagi kamu suka-”
“Haris!” aku segera memotong ucapannya yang bila tidak entah kapan berhentinya. “Harus banget ya sepanik itu? Takut aku tolak, nih, ceritanya?”
“Ya abisnya kamu tinggal bilang yuk aja susah banget, malah tanya kenapa, pula. Kan, aku jadi bingung, deg-degan tau,” protesnya.
Aku mengambil cincin dari tangannya, kemudian kupakai sendiri di jari manisku. “Boleh. Yuk?”
Semua pertemanan antara perempuan dan laki-laki pasti memakai perasaan, meski nggak melulu perasaan yang romantis, tapi tetap saja perasaan, kan, namanya?
Leave a comment