bagian-bagian kita.

Apa yang membuatmu jatuh cinta? Apakah karena suaranya yang lembut? Apa karena senyumnya yang teduh? Apa karena matanya yang membuatmu jadi ingin bersembunyi? Apa karena pedulinya yang mungkin sebenarnya juga tidak disengaja? Apa karena caranya berpikir tentang dunia? Apa karena ada beberapa hal yang cuma kamu temukan dalam dirinya? 

Pertanyaan tentang jatuh cinta selalu membawaku pada kalimat yang Haris ucapkan kepadaku waktu itu, “Cinta itu bukan kata-kata, Sal, cinta itu perbuatan.”

Aku tidak pernah percaya dengan ucapannya yang itu. Kupikir, itu hanya pembelaan yang dia buat karena aku tahu dia memang tidak pandai berkata-kata. Bahkan, mungkin, bukannya tidak pandai, tapi memang tidak suka banyak bicara. Dia tidak suka berkomentar, kecuali bila aku sedang bercerita. Selain itu, dia pasti menjawab dan bicara lewat perbuatannya. 

Seperti ketika aku chat dia, ‘Makan apa, ya?’, beberapa saat kemudian, pasti datang ojek online membawakan aku nasi padang atau ayam geprek atau sate madura, dan masih banyak lagi. Belum lagi setiap ada film baru di bioskop, dia pasti selalu membeli dua tiket agar aku menemaninya. 

“Emangnya nggak ada orang lain, apa, buat nemenin nonton?” tanyaku suatu ketika. 

“Ada,” jawabnya. “Tapi kan kebanyakan temen aku cowok, masa nonton bioskop berdua cowok. Nggak mau!”

“Nonton sendiri juga nggak bisa?” tanyaku sekali lagi, menggodanya.

“Kamu, nih, perkara nonton aja segitunya.”

“Cie, marah?”

Kalau sudah begitu, dia cuma diam. Dia sadar aku baru saja menggodanya.

“Ayo dong, marah,” sambungku. “Kamu, kan, flat banget, Har, nggak gampang senyum, susah ketawa, mungkin dengan marah-marah kamu bisa jadi lebih… ekspresif?”

Haris terkekeh. “Nanti kalau aku marah beneran, kaget…”

Kalau dipikir-pikir lagi, dia ada benarnya. Aku sering menggodanya agar lebih berisik, padahal aku sudah nyaman dengan sifatnya yang begitu sunyi dan tenang. Seperti bahasa yang kupahami ketika aku pergi ke suatu tempat yang asing, seperti kehangatan di musim dingin yang tidak pernah membuatku terbiasa, seperti tujuan yang selalu aku kenali. 

***

“Ini Dania temen SD kita, nggak, sih?”

Aku menggangguk menjawabnya sambil merapikan riasan di wajahku. 

“Kok bisa diundang, Sal? Kamu masih contact-an, emang?” tanya Haris lagi.

“Masih. Aku follow-follow-an di Instagram,” jawabku. “Waktu itu sempet ada reuni, nah, di situ aku ketemu Dania, terus ya dia minta nomor aku ternyata buat ngasih undangan.”

“Reuni? Kok aku nggak tahu?”

Aku menatapnya sedikit kesal. “Reuni? Gak mau, ah, males, ngapain?” ucapku dengan meniru caranya berbicara kala itu.

Haris tersenyum. “Oh yang waktu itu kamu ajak aku tapi akunya nggak bisa, ya?”

“Bukannya nggak bisa, tapi nggak mau. Itu, tuh, dua hal yang beda!”

“Iya-iya,” sahutnya. “Udah selesai belum make up-nya? Resepsinya mulai jam berapa?”

Umur-umur segini, akhir pekan memang berubah menjadi pekan kondangan. Minggu lalu, teman kuliahnya Haris menikah. Sekarang giliran Dania, teman SD kami berdua. Sungguh sebuah reuni yang tidak terencana. Aku sebenarnya sama sekali nggak masalah, tapi Haris lumayan nggak nyaman. Ya… Gimana? Waktu sekolah dulu, mantannya emang lumayan banyak. Siapa yang nggak serba bingung kalau harus papasan sama mantan depan mata? 

“Minggu depan siapa lagi yang nikah, Sal?” tanyanya sambil menyetir mobil, di tengah perjalanan kami menuju lokasi.

“Kalau nggak salah si Beni, deh,” jawabku.

Haris lantas menoleh, menatapku serius. “Beni? Yang kamu suka waktu SMP itu? Yang kamu tembak lewat sms?”

“Eh diem, deh,” sahutku kesal.

“Nikah sama siapa dia?”

“Ya sama calon istrinya, lah,”

“Jangan marah gitu, kesannya masih suka,”

Gantian aku yang menoleh ke arahnya. “Nggak!”

“Tuh, kan. Kamu, mah, marah beneran,” katanya kepadaku. “Kalau kamu ngeledek aku soal mantan aja aku nggak pernah marah,”

Padahal, aku tuh aslinya nggak gini, nggak mudah ngambek. Tapi, nggak tahu, kalau sama dia, aku mendadak jadi manusia paling perasa di dunia. Walaupun kalau harus jujur, aku nggak marah sama dia. Lebih tepatnya, aku nggak pernah bisa marah. Ya, gimana bisa marah kalau sifatnya yang sedingin es itu, yang sedikit bicara itu, sekejap berubah hangat dan cerewet kalau aku terlihat seperti ngambek di hadapannya? Siapa yang bisa menahan semua perasaan itu?

“Salwa…” dia memanggilku lembut. “Aku bercanda doang…”

Aku melirik maps yang terpasang di tv mobil, menurut perkiraannya kami baru akan sampai kurang lebih empat puluh menit lagi. Bukan waktu yang sebentar untuk diam-diaman dengannya. 

“Jadi inget waktu kita prom jaman SMA, deh,” katanya lagi. “Kamu inget, gak? Waktu kamu tiba-tiba minta pulang karena udah masuk jam tidur kamu. Apa banget coba?”

“Apa banget, apa banget, tapi kamu turutin juga,” sahutku.

“Kan aku udah janji sama papa mama kamu, kalau kamu akan pergi dan pulang sama aku.”

“Kalau soal pindah sekolah, Ris? Itu kamu janji sama siapa?”

Mobil berhenti di lampu merah. Dia masih memegang kemudi, tapi kini kembali menoleh ke arahku. “Nggak janji sama siapa-siapa,”

“Terus?”

“Pengin aja.”

“Pengin apa?”

“Satu sekolah lagi sama kamu,” dia menjawab santai.

Dulu, aku sering berpikir, bahwa dia tidak punya banyak energi untuk bicara, karena energinya habis untuk menyimpan ingatan tentang kami berdua. Daya memorinya begitu hebat hingga aku sendiri kerap kali tidak percaya dengan cerita kilas balik yang dia ucapkan. Aku pikir dia mungkin hanya sedang mengada-ngada, tapi dia pasti marah jika aku bilang kalau dia bohong, dia marah bila aku meragukan kenangan yang dia simpan di dalam kepalanya itu.

“Kita satu sekolah, tuh, udah dari SD, lho, Ris,” ucapku menanggapinya. “Makanya aku kaget banget waktu mama kamu bilang kamu pindah ke SMA aku waktu itu, sebulan juga belom.”

“Suka-suka,” jawabnya dengan nada yang datar. “Sayang aja pas kuliah aku mau nggak mau harus ke London, kalau bisa mah-“

Aku segera memotong kalimatnya. “Apa? Kamu mau ikut sekolah masak juga bareng aku?” 

“Iya… Kenapa, nggak?” sahutnya yang masih tidak mau kalah. “Buktinya udah kepisah Jakarta-London aja, aku tetep pulang, tuh.”

“Nggak ada yang bilang kamu nggak akan pulang, sih, rumah kamu kan emang di sini,”

“Di kamu?”

Aku reflek memukul kepalanya. “Di Jakarta!”

***

Kami tiba di acara pernikahan. Acaranya terbilang cukup mewah dan megah dengan nuansa merah tua. Sudah ada beberapa wajah yang aku kenali, meski agak sedikit lupa namanya.

“Eh itu Jodi, bukan, sih?” sahut Haris, dia memang yang lebih hafal dengan nama orang ketimbang aku. Haris pun segera memanggilnya, “Jod! Jodi!”

Jodi langsung menoleh, dan berjalan ke arah kami. Semakin mendekat, semakin pulih ingatanku akan Jodi. Dia teman futsalnya Haris waktu SMP.

“Apa kabar, lo, Ris?” sapa Jodi.

“Baik, lo gimana? Sendiri, nih?” jawab Haris dengan senyum lebarnya, tidak pernah aku melihat senyumnya yang selepas itu.

“Iya, belom lama putus gue,” ucap Jodi. “Lo ama siapa?”

“Sama Salwa ini, depan mata lo juga.” jawab Haris lagi, kali ini sambil menahan tawa.

“Eh iya ada Salwa,” Jodi berkata kepadaku. “Dari SMP, perasaan nggak nambah-nambah tinggi, lo. Sampe gak kelihatan.”

Aku memang selalu jadi sosok tidak terlihat kalau sama Haris. Alasannya karena aku tidak sepopuler Haris di sekolah, dan juga karena tubuhku memang terlihat kecil bila berada di sebelah Haris. 

“Eh, by the way, lo kenal sama ceweknya apa cowoknya, Jod?” sahut Haris, mengalihkan pembicaraan seputar tinggi badanku.

“Sebenernya yang dapet undangan, tuh, nyokap gue, jadi nyokapnya si cewek itu sahabatnya nyokap. Cuma doi lagi nggak enak badan, jadi gue yang gantiin,” jelas Jodi. “Lo? Kenal ama siapanya?”

“Nih, si Salwa yang diundang,”

Jodi memandangiku, kemudian berganti mengarah ke Haris. “Kalian, tuh, masih kayak gini, ya? Dari dulu?”

Aku segera menyahut, sebelum Haris mendahuluiku. “Temen lo, tuh, nggak bisa jauh-jauh dari gue!”

“Emang bener, Ris?”

“Benerlah,” Haris menjawab tanpa beban. “Orang gila mana yang tiap bulan pulang London-Jakarta cuma buat diomelin anak kecil ini?”

Haris dan kegilaannya yang tidak pernah habis aku pahami. 

“Hati-hati nanti jodoh, lho, Sal,” ucap Jodi kepadaku, dengan nada yang menakut-nakuti.

Aku dan Haris sudah lama begini; berteman dekat, bahkan nggak jarang terlihat terlalu dekat sampai teman-teman kerap meledek bahwa ujung-ujungnya aku dan Haris akan lebih dari ini. Tapi seperti yang tadi aku bilang, kami sudah lama begini, dan memang tidak pernah ada yang lebih dari dua orang yang berteman baik. Aku tidak pernah merasa memiliki perasaan romantis seperti hubungan antara perempuan dan laki-laki pada umumnya.

“Nggak mungkin, Sal!” ucap Dira waktu itu. Aku teringat kami pernah membahas soal Haris. “Nggak mungkin lo nggak punya rasa yang lebih dari sekadar temen. Mungkin lo cuma gak sadar, tapi perasaan itu selalu di situ.”

Sejujurnya, pendapat Dira sempat membuatku ragu dengan perasaanku di dalam pertemananku dengan Haris. Tetapi, di sisi lain, Haris tampak nyaman-nyaman saja dengan hubungan kami berdua, dan pada saat itu, kupikir, pendapat Dira seharusnya tidak perlu jadi kekhawatiran yang mengganggu.

“Kamu mau bakso, gak? Nih, berdua, yuk?” sahut Haris, menghentikan pikiranku dari perkataan Dira tempo hari. “Udah capek, ya? Mau pulang aja?”

Aku terdiam. Aku sejenak menyadari kalau memang cuma Haris yang bisa memiliki pertanyaan itu. Dia tahu energiku cepat habis kalau berada di tempat yang berisi banyak orang. “Udah mau pusing, sih…” jawabku.

“Ya udah bentar, aku abisin dulu baksonya, terus kita pulang, ya.”

Selang beberapa menit, kami pulang, dan kalau habis bertemu banyak orang, aku pasti lebih banyak diam. Haris pun begitu. Dia selalu menyeimbangi sisa energiku dengan baik. Tapi malam itu, aku merasa ada yang berbeda dari Haris, aku merasa ada yang ingin dia katakan tapi dia tahu aku sedang dalam mode diam alias istirahat.

“Sal?” dia berkata pelan, dan terdengar ragu. “Kamu udah kuat ngobrol, belum?”

Aku menahan senyum. “Kuat. Aku nggak capek-capek banget, kok. Kan tadi kamu langsung ngajak pulang.”

Dia menyengir, “Oh iya, ya.”

“Kenapa? Kamu pengin ngobrol?”

“Bukan ngobrol, sih… Pengen kasih kamu rekomendasi aja,”

“Hah? Rekomendasi? Makanan? Kamu masih laper?” tanyaku. 

Setelah itu, Haris melipir membawa mobil berhenti di pinggir jalan dekat sebuah restoran 24 jam. Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Dan tiba-tiba aku merasa tidak karuan, seolah aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Sama aku terus aja, ya, Sal?” dia bertanya sambil memberiku sebuah cincin.

Aku cuma bisa memandanginya dengan tanpa terduga ada rasa bahagia yang begitu besar yang tengah aku coba sembunyikan. Aku justru bertanya, “Kenapa emangnya?”

“Ya pikir aja coba, nggak mungkin banget, kan, kalau aku nggak sama kamu. Kamu emangnya mau sama siapa? Emang ada cowok yang lagi kamu suka? Kamu nggak pernah bilang, tuh. Ya kalau pun ada, ya gapapa, aku nunggu aja. Nanti kalau cowok itu nggak suka kamu, aku dateng lagi. Tapi emangnya ada? Beneran ada yang lagi kamu suka-”

“Haris!” aku segera memotong ucapannya yang bila tidak entah kapan berhentinya. “Harus banget ya sepanik itu? Takut aku tolak, nih, ceritanya?”

“Ya abisnya kamu tinggal bilang yuk aja susah banget, malah tanya kenapa, pula. Kan, aku jadi bingung, deg-degan tau,” protesnya. 

Aku mengambil cincin dari tangannya, kemudian kupakai sendiri di jari manisku. “Boleh. Yuk?”

Semua pertemanan antara perempuan dan laki-laki pasti memakai perasaan, meski nggak melulu perasaan yang romantis, tapi tetap saja perasaan, kan, namanya?

113 responses to “bagian-bagian kita.”

  1. Anonymous

    jomblo nyengir ajaa

    Like

  2. Anonymous

    aku juga punya temen cowo us, dia bener2 gentle bgtt dan deket sma mama aku. kita uda temenan lama, ternyata dia nyimpen perasaan sama aku :( tp aku nya gabisa huhu

    Like

  3. loh kok happy ending usss????? udah nungguin plot kit heart nya padahal

    Like

  4. Amanda Citra Ramadhani

    aelah lucu bgt ketuaa 😭😭

    Like

  5. Anonymous

    nemu yang kayak haris dimana us ☹️

    Like

  6. Irvianindaf

    Curiga ending sebenarnya bukan ini😭

    Like

  7. Anonymous

    senyum2 sendiri baca ini, TERLALU GEMAZZ😍💗😍💗

    Like

  8. Anonymous

    romantis bgt, keren tsana, bs kepikiran ngelamar dgn kalimat simpel “Sama aku terus aja, ya, Sal?” jg kata yg ini “Nanti kalau cowok itu nggak suka kamu, aku dateng lagi”, seenggak ada nya cowk akan ngomong gitu tp disini ada, ddduuhh gemes sm haris sm tsana jg 😍

    Like

  9. Anonymous

    takutt bgt kalo udah bahagia ginii, jangan jangan nantii mobilnya ketabrak terus…..aojsisndjddndkdkdm

    Like

  10. Anonymous

    ya Allah, when? 🙂

    Like

  11. Anonymous

    manis sekalii🥺

    Like

  12. Anonymous

    mau haris

    Like

  13. Anonymous

    HAELAH aku juga mau diginiin

    Like

  14. Anonymous

    lucuuuuuuuuuu skaliii

    Like

  15. Anonymous

    lucuuu bangetttt huehueheee, ckp ketua sy jg mw

    Like

  16. Anonymous

    aaaaa bgusss polll

    Like

  17. Anonymous

    Terimakasih banyak us ceritanya. Membantu bgt ditengah ramainya isi kepala.

    Like

  18. Anonymous

    Tidak bisa, ini terlalu mulus, ini bukan rintis sedu.
    Sweet diawal curiga di akhir asem

    Like

  19. Anonymous

    maaauuu harisss satuuu!!!

    Like

  20. Anonymous

    Aku sempat diam sedikit lama pas tau mereka bedua hanya berteman, takut endingnya sedih. Setelah kubaca sampai akhir, lebih sedih ternyata.. teringat kisahku yang tak berakhir begitu hahaha.

    Makasih banyak usss, bagus dan emang selalu bagus karyamu! 🤍🤍🤍

    Like

  21. Anonymous

    jadi salting sendirii🙂‍↔️

    Like

  22. Anonymous

    tumben happy ending us, biasanya dibikin sad terus 😭😂

    Like

  23. Anonymous

    aroma friendzone semakin melekat

    Like

  24. Anonymous

    ingin happy ending begini juga ama si bestie 😭😭🤗

    Like

  25. Kanisha Cahya Rabani

    aaa parah banget sih endingnya, jadi pengen dillamar juga nih😔🫵🏻

    Like

  26. Anonymous

    how cuteeee😭😭 aku kapan dilamar jugaa😭😭

    Like

  27. Anonymous

    parah banget sih endingnya, jadi pengen dilamar juga😔🫵🏻

    Like

  28. Anonymous

    lucuuuu bangettttt huaaaa😍

    Like

  29. Anonymous

    Nahhh gini dong, 😭😭

    Like

  30. Anonymous

    Nah gini dong, nyengirrr nya kan plong 😭😭😭

    Like

  31. Anonymous

    Huaaa kembali seyum2 sendiri setelah hampir 2th menjadi ibu 😍✨

    Like

  32. Anonymous

    oke lucu banget, gini dongg, udah biarin endingnya gini aja yaaa jangan kasih part2 🥲👍

    Like

  33. Anonymous

    “kok ada yah yg semulus ini” tapi habis itu sadar kalau ini cuma fiksi

    Like

  34. Anonymous

    cerita semulus ini yang hanya ada di cerita, alias lucu banget????

    Like

  35. Anonymous

    mengawali pagi dengan cerita lucuuuuu kiw kiw

    Like

  36. Anonymous

    mana galau-galauannya 🥹

    Like

  37. Anonymous

    cu banet

    Like

  38. Anonymous

    gak.. gakkk…

    khawatir plot twist nya nanti😭

    Like

  39. Anonymous

    AaaAaaaaaaAa us ini lucu bangett 😭🫵🏻

    Like

  40. delicatelycloud37965c9b31

    lucu banget uss🩷

    Like

  41. Anonymous

    kok dia gk bisa nyamperin aku ya us? gk kya haris?

    Like

  42. Anonymous

    uss, aku nangiss campur aduk pagi”😭

    baca ini aku sambil mikir “kok dia gk bisa ya nyamperin aku?”

    Like

  43. Anonymous

    BISA KAN TEMENAN BERUJUNG PELAMINAN😝😝

    Like

  44. Anonymous

    ini terlalu mulus uss, tapi sukaaa🫶🏻

    Like

  45. Anonymous

    gemezzz bangettt😭🤍

    Like

  46. Anonymous

    OMGGGGG PAUSSSSSSSS. AKU SUKA AKU SUKAAAA. AYOOO USSS BIKIN SALBRUTTTT LAGI😭😭😭😭akan ku siapkannn hatikuu

    Like

  47. Anonymous

    Takut bnget critanya tiba tiba jdi sad ending, ehhhh trnyata semulus ini, baguss bngett uss. Yukk bisaa yukk, bikin lagii us

    Like

  48. Anonymous

    curiga kisah nyata 🙂🙂 ini paus ga tiba2 launching nikah kan?

    Like

  49. Anonymous

    EMANG BOLEH TENGAH MALEM BIKIN YANG BACA SALTING US🥹🫰🏻

    Like

  50. Anonymous

    aduh tengah malemmm dibikin salting sama pauss garis gariss😭😭😭😍✨

    Like

  51. Anonymous

    bentarrr ah besok lagi bacanya ga mau sesingkat ini

    Like

  52. Anonymous

    Gajadi ngantuk kalo happy ending begini 🥹

    Like

  53. Anonymous

    aku sih cuma bagian cengar cengir aja wkwk

    Like

  54. Anonymous

    GOKIEL US

    Like

  55. Anonymous

    CUKUP KETUAA SALTINKKK

    Like

  56. Anonymous

    us, bikin yang kayak Haris satu lagi buatku boleh ngga?

    Like

  57. Anonymous

    LUCU BGT WKSHWKDHWKSBWKDM

    Like

  58. Anonymous

    muluas amat percintaan orang, MAU JUGAAA

    Like

  59. Anonymous

    gw juga mau percintaan gw kaya gini juga, aspal kalah mulus nihh

    Like

  60. Anonymous

    aaa pengen punya pacarrr 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

    Like

  61. Anonymous

    apasi apasi lucu sekali

    Like

  62. Anonymous

    ini happy endingg uss??

    Like

  63. Anonymous

    tolonggg singkat padatt yukk 😭🫵

    Like

  64. Anonymous

    kiw kiw sa ae lu Ris 🤏🏻

    Like

  65. Anonymous

    omaigatttt baguss bgt ceritanyaa, semangattt us 🤍

    Like

  66. Anonymous

    takut banget cerita puas manis di awal doang😌

    Like

  67. Anonymous

    hahaha lucuuuuuuuu

    Like

  68. Anonymous

    emang boleh semulus ini?? mau juga dong wkwk

    Like

  69. Anonymous

    Hmmm umur segini eman suka melting kalo ceritanya kayak ginu

    Like

  70. Anonymous

    aaaaaaqa endingnya sukakkkk, kaya emang realistis aja gitu ceritanya. Hope i can find someone like u ya harisss

    Like

  71. Anonymous

    HOW CUTEEE

    Like

  72. Anonymous

    maniss bgtt uss, mana gw bacanya sambil senyum’ sendiri lg

    Like

  73. Anonymous

    halo

    Like

  74. Anonymous

    pengen kaya gini juga uuuus

    Like

  75. Anonymous

    br dilamar bes, blm tauu lanjutannya

    Like

  76. Anonymous

    Aduhhhhh gemes bgt aku pgn juga kyk gini 😭🤏🏼 doain ya semuanya 😭😭😭😭

    Like

  77. Aini Fadilah

    usss lucu gemes² gtu🥰🤏

    Like

  78. Anonymous

    Cerita cinta mulus hanya ada dalam fiksi 🫠

    Like

  79. Anonymous

    Jadi takut kalo awalnya udh manis gini😭🙏🏻pliss sangat trust issues

    Like

  80. Anonymous

    kok gemesin sihh agak related ginii😩 kayanya kamu selain paus cenayang jg dehhh

    Like

  81. Anonymous

    APA INI?! MANIS BANGETTTT😭😭😭

    Like

  82. Anonymous

    Ini yg namanya happy ending nih tapiii gakuat salbrut banget berasa beneran 😭🫵🏻

    Like

  83. Anonymous

    Emang boleh yh kyk gitu? 🙂🫸🏻

    Like

  84. Anonymous

    love bgt uss💗💗

    Like

  85. Anonymous

    aaaaaaaaaa cukup uss, nyengir ni😭🫵🏻

    Like

  86. Anonymous

    apa apaan inii😭🫵🏻 udah ya us jangan dilanjut, aku suka happy ending yg ini

    Like

  87. Anonymous

    aaaaa uss jadi pengen di lamarr jugaa kann😭😭😭🤏🏻

    Like

  88. Anonymous

    AAAAAAAAAA SALTINGGGG BUSET maau🥺🥺🥺🥺😖😖😖😖😖😖😖🌷🌷🌷❤️❤️

    Like

  89. Anonymous

    kelassss uss

    Like

  90. Anonymous

    happy ending nih cerita nya uss, gapapa si… soalnya pengen juga., hehe

    Like

  91. Anonymous

    ini mah gula sekarung aja masih lewat sangking manisnyaaaaa🫶🏻😭👊🏻💗💗

    Like

  92. Anonymous

    Woy lah Us 😭🤙 gila manis banget gak kuat. Happy endingkan? Happy endingkan?

    Like

  93. Anonymous

    mau marah. Diem lo Haris 😭💍

    Like

  94. Anonymous

    trust issue kalau awalnya udah manis manis beginihhh

    Like

  95. Anonymous

    mulusss sekali kisah di awal ini😭 ga tau ya endingnya pren😭

    Like

  96. Anonymous

    tumben happy ending

    Like

  97. Anonymous

    jungkir balik nihhh😭😭🫵🏻

    Like

  98. Anonymous

    aaaaaa mleyottt

    Like

  99. Anonymous

    uwowww!!! 😣😣

    Like

  100. Anonymous

    haaaa gemesss 🫵🏻😭

    Like

  101. Anonymous

    Selalu dibikin kagum sama tulisan dan ceritanya💙🥺

    Like

  102. Anonymous

    KOK BISA MANIS POL BGINI😭😭😭

    Like

  103. Anonymous

    Writter-nim yang terhormat, tolong yang ini happy ending 🙏😭

    Like

  104. Anonymous

    cukuppp usss😭😭

    jadi pengenn dikasi cincin jugaaa kannn 😭🫵

    Like

  105. Anonymous

    shittmenn lucu bgt siall 😩🫵🏻🫵🏻

    Like

  106. Anonymous

    lucuu bangeet

    Like

  107. Anonymous

    jujur awalny tkt bgt ada jumpscare di akhir😭 eh ternyata full nyengir😩

    Like

  108. Anonymous

    HOW CUTE!!!!!

    Like

  109. Anonymous

    aaaaa, lanjut gak🫵🏼🫵🏼🫵🏼🫵🏼

    Like

  110. Anonymous

    PAUUSSSSSS SJKSKSKSKSK INI HMMM MENARIK BGT??!!!!!!!

    Like

  111. Anonymous

    NYENGIR TOTAL PLS😭

    Like

  112. Anonymous

    Haaaaaaaaa🫠

    Like

  113. Anonymous

    cukubbbb, ketua jd senyam senyum gini😭🫵 alias pengin dilamar juga

    Like

Leave a comment