Bersama Mei

Selain kura-kura, aku juga suka bulan Mei. Bukan hanya karena itu bulan kelahiranku, tapi karena bulan Mei berjalan lebih lama dari bulan lainnya. Aku suka bagaimana tiga puluh satu hari di bulan Mei terasa seperti menahun. Karena setelah Mei berakhir, waktu berubah menjadi kendaraan ekspres yang berlalu dengan cepat. 

“Apa enaknya, sih, lama-lama?” tanyanya hari itu. “Hidup, kan, nggak selalu menyenangkan. Kalau lagi dapet susahnya, siapa yang sanggup berlama-lama bertahan di dalamnya?”

Dia ada benarnya, setidaknya untuk sekarang ini.

Karena adikku sakit, dan Juni menjadi terasa begitu panjang. Aku tahu ini baru tanggal lima, tapi untukku seperti sudah tiga minggu. Aku ingin semua kembali normal. Aku ingin Juni kembali menjadi Juni yang aku tahu, tapi waktu bekerja dengan caranya sendiri—mau sejauh apa pun aku berusaha memahami. 

 Aku menulis ini di coffee shop yang ada di rumah sakit. Tidak besar, tapi kursinya empuk, mejanya tidak terlalu tinggi, dan kopinya lumayan enak. Empat hari di rumah sakit, aku mulai mengenali jam sibuk coffee shop ini. Makanya aku baru ke sini selepas magrib, ketika jam praktik untuk pasien rawat jalan sudah selesai sebagian.  

“Gimana, ya, Pak?” terdengar suara perempuan tua dari sebelah tempat aku duduk. 

“Nggak, tahu. Pusing,” sahut suaminya.

Di rumah sakit, dunia menjelma ruangan luas yang menyesakkan. Di sana, kita akan menggigil kedinginan meski pendingin ruangan sudah diatur normal. Kita akan kesulitan berbicara meski banyak kosa kata yang menumpuk lewat doa. Tidak ada banyak hal yang bisa kita lakukan di sana, selain harapan yang berjalan lebih sering dari biasanya. 

Kalau diberi sakit, berarti Tuhan sedang menghapus sebagian dosa kita—katanya. Aku terus memikirkan kalimat itu sambil memandangi sepasang suami istri yang menangisi anak laki-lakinya yang tengah terbaring koma di ICU. 

“Tuhan menyayangi kita dengan cara-Nya yang nggak akan habis kita pahami,” dia berkata kepadaku, membaca pikiranku.

“Iya,” sahutku. “Tuhan memang punya bahasa cinta yang—”

“Menakjubkan?” ucapnya memotong kalimatku.

Aku menghela napas. “Apa ujian yang ini nggak terlalu sulit untuk dilalui manusia?” tanyaku kepadanya.

Dia tersenyum. “Sebuah ujian tampak sulit karena kita ingin semua segera kembali seperti sediakala, alih-alih berusaha menghadapinya satu demi satu,” katanya.

“Nggak ngerti aku,”

“Gini, deh,” dia memiringkan tempat duduknya ke arahku, bersiap menjelaskan aku banyak hal. “Kamu suka banget, kan, sama kura-kura? Kamu suka bagaimana mereka merekam banyak hal dengan waktu yang lebih lama? Cuma kamu pernah mikir, nggak, kalau mungkin kura-kura sendiri nggak selalu menyukai diri mereka sebagai kura-kura? Ada kalanya mereka ingin cepat sampai, ada kalanya mereka ingin semua segera berlalu. Tapi memikirkan hal yang di luar kemampuannya, hanya membuat mereka menderita. Bukankah beberapa harapan memang terasa melelahkan?”

Entah dari mana, muncul kelegaan dalam hatiku. Aku meyakini bahwa ucapannya barusan memang benar adanya. 

“Kalau berlari cepat itu di luar kendali kura-kura, maka perihal sembuh dan sakit juga di luar kendali manusia.” sambungnya lagi. “Kita cuma bisa berusaha, melakukan apa yang kita bisa, dan percaya sama Tuhan beserta rencana-Nya.”

Aku meneguk cappuccino yang mulai dingin. Dia masih memandangiku. 

Apa dia juga bagian dari rencana Tuhan, pikirku sambil membalas pandangan matanya. Apa ini semua terlalu janggal untuk kusebut sebagai sebuah kebetulan? Ketika empat hari yang lalu dia menyapaku di lift, dan bertanya, “Kok di sini? Siapa yang sakit?”

Dan setelah hari itu, dia datang lagi dan lagi sepulang kerja; di sampingku tanpa aku minta. 

28 responses to “Bersama Mei”

  1. Anonymous

    i love u moreeee🤍

    Like

  2. Suka bangett

    Like

  3. Anonymous

    paus aku seperti melihat diriku di cerita ini :’)

    Liked by 1 person

  4. Love you paus

    Like

  5. Anonymous

    banyak cinta

    Like

  6. Anonymous

    selalu suka tulisan paus, selalu!!!

    Like

  7. siapa Tsana, “Dia” yang kamu maksud? kiw

    Like

  8. Anonymous

    aaaaa mealt sekali aku bacanya paus!! Sering sering yahh🤭🤭🤍

    Like

  9. Anonymous

    aku mau baca lebih banyak lagi, us :((((

    Like

  10. Anonymous

    tulisannya bagus sekali, selalu suka❤️

    Like

  11. Anonymous

    your writing has always melts my heart us, the way you captured every single moment into a written word spontaneously, just so cool and iloveyou💗

    Liked by 1 person

  12. Anonymous

    ♥️

    Like

  13. Anonymous

    paus… di bagian akhir tulisanmu aku suka banget. Love paus ❤️❤️❤️

    Like

  14. Anonymous

    love youu pausss💗

    Like

  15. Anonymous

    terimakasih untuk tulisan indahnya ntsana🤍

    Like

  16. Anonymous

    uss, did you know that you’re so gorgeous?

    Like

  17. Anonymous

    tulisan paus emg gorgeous

    Like

  18. always heartwarming word 💗

    Like

  19. Anonymous

    cantik sekali bahasanya<3 ini aku selalu suka dengan pembahasan kamu deh! 🥹

    Like

  20. Anonymous

    always love you tsanaa

    Like

  21. Anonymous

    loveee❤️

    Like

  22. Anonymous

    bulan mei sgt berat. thank uu pauskuu💌

    Like

  23. Anonymous

    Aku sayang paus selaut dan sebumi🤍

    Like

  24. Anonymous

    oh how i love your writing. thank you for this and thank you for posting a lot (lately) i know and i hope you’ll find your own answer for that, ntsana

    Like

  25. Anonymous

    terimakasih us

    Like

  26. Anonymous

    tulisanmu selalu spesial, Us. Makasih yaa❤️

    Like

  27. Anonymous

    💬🤍

    Like

  28. Anonymous

    i love u kak san

    Like

Leave a comment