Di tangan kananku, tepatnya di dekat pergelangan tangan, ada bekas goresan luka yang dulu Abang berikan. Aku masih ingat pertama kali bentuk goresan itu cukup lebar dan panjang. Aku juga masih ingat wajah Abang ketika memberiku goresan itu; wajah lucu, menggemaskan, sekaligus menyebalkan. Tetapi, dua tahun setelah kepergiannya, aku mulai lupa dengan aroma tubuhnya. Samar-samarnya, pun, aku kesulitan untuk bisa menemukannya. Beberapa ingatan nggak bisa kita selamatkan, dan kalau boleh jujur, itu menyakitkan.
Abang membuatku punya sudut pandang baru tentang sebuah luka.
Dulu, waktu awal-awal dia suka cakar-mencakar tanganku, aku pasti refleks cari di internet: Salep untuk menghilangkan bekas luka. Bahkan aku sempat beli beberapa merk, yang kini, kusimpan rapi di lemari obat, dan nggak pernah aku pakai lagi sejak dia pergi.
Jadi, sekarang kalau kucing-kucingku yang lain mencakar aku, kubiarkan lukanya sebagaimana mestinya. Malah, nggak jarang memunculkan doa dalam benak, “Semoga bekas lukanya nggak akan hilang.”
Katanya, kepergian bisa mengubah hidup seseorang. Awalnya aku kira itu hanya kalimat menyala yang kutemukan di buku-buku, sampai ketika aku benar merasakannya. Anehnya, aku merasakan itu bukan kepada manusia, tapi kepada seekor kucing yang aku bahkan nggak tahu dia melihatku seperti apa. Aku nggak tahu apakah dia tahu kalau aku secinta ini, sesayang ini sama dia atau nggak. Aku memang menyayangi Abang lewat bahasanya yang nggak kupahami, tapi semenjak Abang pergi, banyak hal ikut berhenti.
Sebagian orang mungkin akan membaca keadaan ini sebagai kesedihan yang berlebihan. Mungkin aku terkesan terlalu memomtret kasih sayangku terhadap abang dengan drama yang tidak perlu. Mungkin memang benar begitu. Tapi seperti yang aku bilang, kepergian mengubah hidup seseorang. Kalau semua yang aku rasakan ternyata lebay namanya, maka biarlah begitu adanya.
Aku menulis ini karena bekas luka yang aku sebut di awal tadi, sudah hilang. Nggak ada lagi setitik luka pun di dekat pergelangan tanganku.
Menarik, bukan? Bagaimana sebagian dari kita merawat luka karena nggak ada banyak hal lagi yang bisa kita punya dari kepergian itu? Di dalam novel Pra yang sedang aku kerjakan, salah satu tokohnya pernah bilang, “Dalam kenyataannya, nggak ada yang pernah benar-benar tahu berapa sebetulnya takaran kesembuhan yang kita butuhkan, karena bisa saja, sebuah luka adalah keadaan paling sembuh yang bisa kita rasakan.”
Leave a comment