Semua orang punya kisah tentang cinta pertama mereka. Mereka, dengan sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar, menyimpan kisah itu pada sebuah rak khusus di dalam pikirannya. Rapi, bahkan terlalu rapi hingga kisah lain kerap kali iri padanya. Sebuah pertanyaan yang terlalu mudah untuk dijawab. Sebuah masa lalu yang terlalu jelas untuk diingat. Kisah cinta pertama adalah alasan mengapa sebagian dari kita punya tokoh istimewa, meski tak lagi di realita tempatnya.
βIni kayaknya tempatnya, ya, Al?β tanya Tio memastikan alamat yang sedang dicarinya.
Aku membuka handphone, untuk juga mencocokan alamat yang ada di internet dan di tempat kami sekarang. βBener, sih, harusnya. Tuh nomor lima enam,β
βYa udah, aku turun duluan deh,β kata Tio. βKamu di mobil aja, ya, di luar panas. Eh, berani nggak ditinggal sendiri?β
Aku menatapnya heran. βIhβ¦ apa sih pertanyaannya? Aneh aja,β
βLho kok aneh? Yaβ¦ kalau takut mah gak apa-apa, juga, Alβ¦β lanjutnya sambil nyengir. βSemua orang itu penakut, Al. Bedanya, ada yang gengsi mengakuinya, ada yang berani.β
Tio bukan cinta pertamaku. Ia cinta ke sekianku. Tapi apa yang orang-orang rasakan soal cinta pertamanya, bisa kurasakan pada Tio.
βNggak. Aku nggak gengsi,β sahutku buru-buru.
βIya, tapi itu tetap takut namanya,β katanya lagi sambil tertawa kemudian turun dari mobil untuk berjalan ke toko percetakan.
Aku tidak takut sendiri. Aku tidak pernah takut. Oh. Aku pernah takut, ketika untuk pertama kalinya bapak menamparku. Tapi, habis itu sudah. Aku sudah tidak takut lagi. Memang butuh waktu, butuh banyak waktu. Seperti yang pernah ibu bilang, βLuka adalah goresan yang pertama, yang setelahnya sudah bukan lagi luka namanya.β
Ada jeda yang begitu gelap dan menakutkan di sebuah masa peralihan antara memandang bapak sebagai bapak atau sebagai orang jahat.
Dia seorang bapak, tapi dia jahat. Dia orang jahat, tapi dia bapakku.
Itu adalah kalimat yang selalu berulang, berteriak tanpa suara, di dalam kepalaku. Aku membencinya. Sangat. Sebab itu adalah satu-satunya keadaan kesepian yang kurasakan; marah, tapi aku cuma bisa diam.
Bahkan Ibu saja tidak tahu. Ibu tidak tahu aku takut. Ibu tidak tahu aku menderita. Ibu tidak tahu aku sengaja pulang terlambat karena aku tidak mau di rumah. Ibu tidak tahu bahwa satu-satunya alasanku masih tetap kembali ke rumah, hanya untuk memastikan ia selamat. Ibu tidak tahu bahwa rasa sakitnya kini hidup di hatiku. Ibu tidak tahu bahwa semua yang bapak lakukan membunuh banyak harapan. Ibu tidak tahu bahwa aku tidak sekuat dirinya. Ibu tidak tahu aku tidak bisa lagi merasakan apa pun, bahkan terhadap laki-laki baik seperti Tio. Ibu tidak tahu bahwa yang kuberikan pada Tio adalah kotak kosong yang akan mengecewakannya. Ibu tidak tahu, dan memang lebih baik begitu.
βLoh kok cepet?β tanyaku saat Tio sudah kembali ke mobil.
βTutup ternyata,β
βKanβ¦ Udah kubilang ini hari Minggu, Yo, pasti tutuplahβ¦β
βYa habis kalau tujuannya nggak penting, kamu nggak akan mau pergi sama aku,β katanya. βJadi waktu kantor nyuruh aku cari tempat bikin spanduk, aku langsung kepikiran kamu, kepikiran minta temenin kamu, biar bisa jalan berdua kamu.β
Ia berhenti sebentar. Wajah usilnya yang tadi cengar-cengir, berubah serius.
βAku kangen kamu, Al,β lanjut Tio. βBeberapa minggu ini, kerjaanku cuma cari alasan buat ketemu kamu. Aku tahu kamu menghindar, tapi aku nggak tahu apa alasannya,β
Tahun pertamaku dengan Tio tidak menghadirkan banyak masalah, sebenarnya. Kami baik dengan segala rupa pertengkaran dan cinta terhadap satu sama lain. Hingga sebulan setelah hari jadi satu tahun kami, bapak masuk rumah sakit karena berusaha mengakhiri hidupnya dengan meminum cairan obat nyamuk. Kala itu, Ibu menemukan bapak tergeletak di dekat dapur, dengan mulutnya yang penuh busa. Bapak memang pengecut, dan itu akan selalu menjadi dirinya.
Setelah kejadian itu, banyak hal berubah. Termasuk aku. Termasuk hubunganku dengan Tio.
βAku gapapa, cuma lagi pengin di rumah aja,β
βPengin di rumah? Apa aku nggak salah denger? It doesnβt heard like you, Al.β sela Tio cepat-cepat.
Aku kehabisan alasan, sementara Tio terus menciptakan beribu alasan baru hanya untuk sekadar bertemu denganku. Dia tidak salah, justru aku yang tidak wajar. Aku tidak kasih tau dia soal bapak yang masuk rumah sakit. Aku tidak mau bilang, tidak mau dia tahu, tidak mau dia menaruh kasihan atau bahkan terlalu khawatir padaku. Aku hanya ingin Tio melihat sedikit dari sisa duniaku yang memang masih layak untuk dilihat.
βBukanβ¦β lanjutku berusaha menambah alasan. βMaksudku bukan lagi pengin di rumah, tapi emang lagi nggak pengin ke mana-mana, lohβ¦β
βYa udah.β
Ya udah-nya bukan berarti dia menerima, bukan berarti dia mengiakan atau mengerti. Ya udah-nya berarti cukup. Ia tidak mau menghadapi orang gila yang keras kepala, yang bebal hatinya. Ia tidak mau pertemuan kami berujung pada sebuah pertengkaran yang membuang waktunya. Ia ingin bagian ini berlalu dan terlupa begitu saja. Ia sudah tidak suka lagi berdiskusi denganku. Ya⦠Tio sudah berada di titik itu.
Aku selalu takut kalau dia marah. Aku takut dia berujung lelah dan menyerah. Hingga pada suatu waktu, aku tahu, bahwa itulah pilihan yang baik untuknya.
βMaaf, ya? Aku janji nggak gitu lagi,β kataku sambil memandanginya.
βMendingan kamu selalu cari alasan aja, Al, biar nggak usah pake janji.β kata Tio sambil memegang kemudi dan menjalankan mobilnya.
Dia marah, dan meski itu hanya sebuah memori, aku benar-benar sudah tidak takut lagi.
βLagi???β ucapku ketus pada Siti, setelah ia memintaku berbohong lagi untuk menyelamatkan hubungannya itu.
βTerakhirβ¦ Terakhir deh, Alβ¦β kata Siti terus membujuk.
βKemarin juga lo bilangnya terakhir! Nggak, ah, nggak mau ikutan lagi gue. Nambah dosa gue aja,β
βAyolahβ¦ kali ini gue bayar, dehβ¦β
βEh, Ti, nggak semua orang apa-apa duit kayak lo, ya.β kataku. βLagian, kalau gue bohong lagi, anak-anak kantor yang ada makin curiga. Masa iya jadwal ketemu klien selalu lo sama Farid mulu? Masa sampe jam dua pagi? Istrinya tuh sering WA gue tahu, nggak, lo? Mas Farid masih di kantor, kah, Alina? Maaf saya jadi nanya kamu, takutnya Mas Farid belum makan malamβ¦β
Siti diam. Aku pun melanjutkan.
βKan gue jadi dosa juga. Udah, ah. Gue berhenti. Gue nggak mau berurusan lagi. Mau ketahuan, mau nanti istrinya jadi kecewa, mending gitu, deh! Daripada tuh perempuan baik-baik, dikibulin mulu sama laki, lo!β
Aku meninggalkannya pulang dengan ojek online menuju halte, seperti biasanya.
Pukul setengah lima. Brengsek. Gara-gara pertemuan itu, aku jadi terjebak dalam sebuah pencarian baru. Iya. Aku jadi nyariin dia sekarang. Ke mana, ya? Kok belum muncul? Tadi pagi pas berangkat perasaan aku melihatnya di dalam bus. Apa dia belum pulang? Masih di kantor? Apa iya kantor? Tapi kantor apa? Gimana kalau dia bekerja di rumah sakit? Di pelabuhan? Di bandara? Aku bahkan tidak sempat nanya.
βCelingak-celinguk cari apa sih?β
Danu berdiri di sampingku. Ia datang.
β¦ bersambung
Leave a comment