Apakah kamu pernah sekali waktu mencari arti kata antara di kamus bahasa? Atau di internet? Oh atau kamu sudah tahu artinya? Ya. Antara berarti jarak di sela-sela dua benda; waktu yang menyela dua peristiwa. Dan aku benci sekali dengan kata itu. Aku benci antara. Aku benci bagaimana hidup menaruhku di sebuah antara; Keadaan paling sial yang bisa dihadapi manusia. Seolah kita membiarkan alam raya mengatur kita dengan kelabilan dan kebimbangannya. Tidak. Antara itu tidak selalu berarti pilihan, karena beberapa dari kita, termasuk aku, tidak bisa memilih meskipun memiliki pilihan.
Antara pergi dan pulang. Antara ibu dan bapak. Antara merasa dan mati rasa. Antara peduli dan masa bodoh. Antara melangkah dan menyerah. Antara kejujuran dan kepalsuan. Antara kedatangan dan kematian. Antara tenang dan berantakan. Antara diri dan hati. Antara ojek online dan bus kota. Antara rumah dan perjalanan. Antara aku dan masa lalu.
Aku tidak ada di mana-mana. Aku tidak ada di sini atau di sana. Aku ada di antaranya. Aku di tengah dan terengah. Aku hanya… lelah.
“Lo egois sih, Al,” kata Siti sambil mengamatiku yang sedang membereskan tas, “Lo mau dunia ngerti elo, lo mau Tio selalu ngerti elo, tapi lo pernah gak sekali aja berusaha ngerti dunia? Gak usah dunia, deh, kebesaran. Ngertiin Tio? Pernah gak lo coba?” sambungnya.
“Udahlah, Ti, gue yang putus kenapa lo yang ribet?”
“Gue kalo jadi lo pasti ribet. Ribet berusaha benahin supaya 2 tahun itu gak kebuang sia-sia. Gue akan lakuin apa pun supaya gak pisah.”
“Gak ada yang terbuang sia-sia, kok. Itu bermakna, buat gue, buat Tio. Cuma emang udah selesai. Emang udah sampai di waktu akhirnya. Dan emang udah gak bisa ngelakuin apa-apa,” kataku membela.
“Iya tapi lo ngelakuin apaan, Al?”
Aku akhirnya menatap kedua mata Siti serius, bukan karena kesal, tetapi justru karena merenungi apa yang diucapkannya.
Apa yang sudah aku lakukan? Apakah aku memang tidak pernah melakukan apa-apa? Kenapa aku tidak bisa menjawab pertanyaan Siti? Kenapa mendadak aku gelagapan? Kenapa harus sampai berpikir segininya hanya untuk menjawab sebuah pertanyaan sederhana?
“Coba lo inget-inget lagi deh, Al, mikir,” sahut Siti menyindirku lagi.
Tidak ada yang bisa kuingat. Tidak ada. Oh, kecuali…
“Kecuali LDR, sih, itu… gue nggak deh.” kata Tio waktu itu ketika mengajakku minum kopi. Kalau tidak salah dua minggu setelah kami saling bertukar nomor telepon. Belum. Kami belum jadian, tapi sudah intens berkomunikasi. Bahkan ia sudah sering menelepon.
“Iya, gue juga nggak kalau soal itu,” ucapku menimpalinya.
“Iya kan?” serunya bersemangat karena kami ternyata punya pandangan yang sama akan suatu hal, “Karena LDR tuh… apa ya, Na…”
“Buram?”
“Setuju. Buram. Tapi pernah?”
“Pernah, cuma sebentar,”
“Terus? Putusnya kenapa?”
“Ya… LDR…”
Ia tertawa. “Maksud gue,” katanya, “Apa yang paling mendasari? Dulu gue juga pernah LDR soalnya. Gue di sini, dia di Sydney. Eh belum sampe sebulan dia di sana, putus. Padahal udah jalan setahun pacarannya. Udah lama, sih, waktu kuliah dulu. Perbedaan waktu, itu nomer satu, karena ganggu, ganggu komunikasi banget. Gak bener, deh. Komunikasi yang harusnya jadi kunci, nah, patah tuh kuncinya. Gak ada titik ketemunya, jadi gak ada bahasan, diskusi, cuma ribut. Ribut pun kadang bersambung gitu karena dia udah tidur, gue baru mau tidur. Karena kan gue perlu tahu dia lagi apa, gue butuh kabar dari dia, sesering mungkin, tapi, duh, gitu deh pokoknya.”
Aku memahami, aku tahu rasanya. Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan, “Kalau lo? Putusnya karena apa?”
“Karena dia selingkuh, sih,” jawabku singkat.
“Na,” kata Tio, nada bicaranya yang tadinya santai berubah serius, “Sorry… jadi kebahas deh?”
“Hah? Kok sorry segala, Yo? Santai lagi,” kataku. “Yah jadi pokoknya, awalnya dia jadi sering bohong, tapi bohong bego, gitu. Ya gue tahu dia bohong, tapi dia gak tahu kalau gue tahu. Ya udah. Gue diemin, gue maklumin, tapi ternyata pura-pura tuh ada batas waktunya, ya. Capek juga ladenin sandiwara dia. Jadi ya udah gue minta dia ngaku, terus dia ngaku, dan bener sama temen kampusnya.”
“Berarti, LDR tuh masalahnya di jarak, ya?” tanya Tio sambil nyengir.
“Mmm… gak tahu, ya, Yo. Kayaknya, kalau kita udah cinta sama seseorang, kita gak akan bisa jauh-jauh dari dia,” ucapku lalu melanjutkan., “Jadi bukan salah dia selingkuh, guenya aja yang jauh…”
“Hah? Na? Selingkuh itu salah,” tukas Tio segera.
“Iya, gue tahu selingkuh itu salah, tapi gue gak nyalahin. Itu dua hal yang berbeda, Yo. Antara salah dan menyalahkan.”
Ia tetap tidak yakin dengan perkataanku, tetapi dari wajahnya, ia seperti berusaha mengerti. Kuangkat gelas kopi, dan meminumnya. Dia terus mengamatiku, seperti sedang menyiapkan pertanyaan berikutnya, yang sudah menumpuk di kepalanya.
“Oke. Anggaplah dia gak selingkuh, berarti lo tetep lanjutin LDR?” tanya Tio lagi.
“Nggak. Jauh, Yo. Karena dengar suaranya aja gak cukup, gue perlu fisiknya, gue perlu sentuhan-sentuhan itu. Mmm… mungkin gue gak cukup tulus untuk hanya mencintainya dari sini, dari Jakarta. Gue butuh dia, raganya, suaranya, bahkan kalau bisa jiwanya.”
Tio memberiku senyum, dan mengangguk setuju.
“Selain LDR? Apa yang lo nggak banget?” Tio bertanya.
Aku diam sebentar, berpikir keras untuk memilih satu jawaban dari banyaknya perihal tidak yang kupunya dalam hidup.
“Pacaran?” jawabku.
“Hah….?” katanya lagi, dan dari nadanya, aku tahu dia sedikit kecewa.
Aku tertawa kecil, “Kenapa? Kecewa ya? Nyesel ya udah deketin gue?”
“Nggak… Nggak kecewa. Cuma…”
“Bingung?”
Ia mengangguk.
“Gue ingin sebuah hubungan, Yo,” lanjutku. “Tapi gak pacaran atau istilah lainnya. Gue ingin mengartikan sendiri hubungan yang gue jalanin. Mungkin orang tahunya, Hubungan Tanpa Status? Hmm… bisa dibilang, gue ingin itu. Gue ingin sebuah hubungan, bukan status. Gue ingin angka satu dari hubungan itu. Bukan istilah, bukan pengakuan, bukan juga panggilan.”
“Na,” panggilnya.
“Hmm?”
“Gue bisa kasih itu.”
Tio bisa memberiku itu, tapi aku tidak. Aku malah menghadiahinya sebuah ketidakberuntungan; nasib buruk yang tidak pernah ia bayangkan. Siti benar, aku egois, dan aku tidak melakukan apa-apa, selain melepaskan atau mungkin menyelamatkan Tio dari diriku sendiri.
… bersambung
Leave a comment