Besok sudah Senin lagi. Bukankah waktu bergulir begitu cepat? Seolah kita semua telah berhenti pada dua ribu sembilan belas? Apakah dunia memang telah berakhir? Apakah kita sebenarnya sudah ada di kehidupan yang selanjutnya? Tapi apakah benar ada kehidupan setelah kehidupan yang ini? Apakah berarti tidak pernah ada kematian? Apakah kita hanya… berpindah?
Besok sudah Senin lagi, jadi aku harus pulang. Tidak. Aku tidak suka pulang. Aku tidak suka perasaan-perasaan yang begitu berat padahal hanya untuk pulang. Aku tidak suka merasa berusaha hanya untuk melangkah kembali ke rumah. Sebab aku tahu itu seharusnya tidak perlu pakai usaha, hanya dibutuhkan hati yang riang dan perjalanan yang tidak mengenal kata sabar. Tapi, aku tidak suka pulang. Aku lebih suka di sini.

Tidak, tidak. Sebenarnya tidak hanya di sini. Aku suka semua tempat kecuali di rumah, karena di sana menyeramkan. Kadang aku bingung, kenapa cerita horor harus tentang hantu? Kenapa tidak tentang bapak yang selalu memukuli ibu? Kenapa tidak tentang luka lebam di sekujur tubuh ibu, juga tubuhku?
Dan aku masih saja memanggilnya dengan sebutan bapak. Tidak ada yang waras di kota ini. Tidak ada rumah yang aman. Tidak pernah ada. Kota ini tidak lebih dari secangkir kebohongan yang disajikan para penguasa. Semua habis, dan yang tersisa hanya ketersiksaan kita.
“Aku mau kita putus, Na.”
Tunggu dulu, ini bukan ending-nya, ini sungguh-sungguh awal mulanya. Yah, meski sejujurnya aku juga tidak menyangka kalau cerita ini harus dimulai dengan sangat malang. Aku tidak paham betul kenapa dia mau putus, tapi aku selalu tahu bahwa kami memang tidak akan lama-lama.
“Oke.” kataku.
“Oke???” katanya dengan nada yang terdengar seperti tidak terima.
Kenapa ya selalu ada orang-orang kayak dia? Kenapa orang yang minta putus duluan, kerap kali tidak terima dengan apa yang mereka dengar selanjutnya?
“Ya… oke. Kamu mau putus, ya udah.” kataku lagi.
“Sifat kamu yang kayak gini yang bikin aku gak kuat sama kamu.” katanya.
Aku tidak suka membela sesuatu yang sudah tidak ada artinya. Menambah alasan kadang hanya menggandakan beban. Buatku, kata putus tidak perlu penjelasan panjang lebar. Putus adalah tanda titik yang pasti. Sekali diucapkan, sudah jelas tersampaikan.
“Ya maaf?” kataku tanpa sedikit pun melihat wajahnya.
“Gila, ya? Kamu bahkan gak tahu caranya minta maaf,”
Aku sebenarnya tahu caranya minta maaf, cuma barusan aku memang tidak niat sama sekali. Tidak tahu juga kenapa harus minta maaf. Ya… buat formalitas saja. Lagipula, aku paling benci bagian ini. Perpisahan selalu menjadi drama yang melelahkan. Jadi, biar semua segera sudah. Alur cerita membawa nasib manusia menjadi beberapa kemungkinan. Tokoh baik atau tokoh jahat. Tokoh utama atau tokoh pembantu. Cerita panjang atau cerita pendek. Dan di matanya sekarang, aku adalah penjahatnya.
Minuman yang ia pesan belum disentuh. Aku hanya duduk dan mulai memandanginya. Dia bersandar di kursinya sambil juga memandangiku. Aku tidak membencinya, meski jelas aku sudah membuatnya sangat membenciku. Aku tidak ingin banyak bicara. Aku cuma ingin melihatnya untuk terakhir kali, karena dari sorot matanya, terlihat banyak cerita yang sudah kami lewati bersama. Dari tatapannya, aku tahu aku pernah menyayanginya. Meski sejak awal aku pun tahu bahwa aku tidak mungkin selamanya menyayanginya. Entah apa yang sedang ia lihat dari mataku sekarang. Mungkin penyesalannya akan waktunya yang terbuang sia-sia.
Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Itu lama sekali. Aku membuang dua tahun hidupnya begitu saja. Dia baik, hidupnya baik. Dia anak tengah dari tiga bersaudara. Bapaknya punya rumah makan, ibunya menyukaiku. Sedangkan aku jahat, hidupku juga. Bapakku tidak punya pekerjaan, ibuku yang cari uang. Itu mengapa sejak awal aku tahu kami tidak bisa berhenti pada tempat yang sama. Itu mengapa pula, selama ini aku hanya menunggu ia menyerah denganku, sebagaimana hidupku sendiri.
Semua orang pergi. Bapak gila. Ibu terluka. Memar yang satu disusul yang berikutnya. Pukulan di kepala, tamparan di pipi, tendangan di perut, dan seorang anak perempuan yang cuma bisa bersembunyi. Kadang aku bingung, siapa di antara kami yang lebih butuh pertolongan? Apakah ibu? Tapi ibu bisa menahan rasa sakitnya. Entah menahan atau memang sudah terbiasa. Aku ingat dan akan selalu ingat ibu pernah bilang, “Luka adalah goresan yang pertama, yang setelahnya sudah bukan lagi luka namanya.”
Tadinya, kupikir, ibu juga gila. Sebab tidak mungkin manusia bisa sekuat itu. Tidak mungkin cinta memiliki warna biru seperti di tubuhnya. Berengsek. Gara-gara bapak, biru jadi warna yang… sadis.
Tak jarang aku memikirkan kalau bapak sebenarnya juga butuh ditolong. Dia jelas sakit. Sebab tidak mungkin manusia bisa sekeji itu. Tidak mungkin seorang laki-laki menyakiti perempuan yang dicintainya. Sayangnya bapak tidak mau ditolong. Bapak menyukai peranannya menjadi orang gila.
Dan aku?
“Alina,” katanya.

Ia berdiri dan bersiap untuk meninggalkan meja. Ia lalu mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa kertas uang dan diletakkannya di atas meja.
“Jaga diri, Na, jangan pergi terlalu jauh. Ingat ibu kamu.” katanya kemudian berlalu keluar café.
Ia pergi. Minumannya tetap tidak tersentuh sama sekali. Aku tidak menyaksikannya pergi sampai benar-benar tidak ada lagi jejak tubuhnya. Aku hanya memandangi secangkir kopi tubruk pesanannya itu. Dia suka apa saja yang penting kopi hitam. Tidak terlalu pekat, tidak pula terlalu encer. Kopi sachet yang ada gambar kapalnya pun sudah cukup membuatnya tersenyum sambil mendengarku bercerita. Tapi itu sudah lama sekali, setahun yang lalu, tahun pertama kami bersama. Ketika aku masih meyakini bahwa mungkin saja Tuhan mendengar doaku. Bahwa mungkin saja aku menemukan sebuah rumah lain yang seperti kata orang-orang, tidak selalu bentuknya tempat, tetapi juga pada seseorang yang tetap.
Oh. Tidak. Seseorang itu tidak tetap. Ia berubah, berganti, dan berhenti. Bapak berubah. Bapak berganti menjadi laki-laki beringas yang merasa paling kuat. Bapak berhenti menjadi manusia sejak kali pertama ia memecahkan gelas kaca ke atas kepalaku karena membela ibu. Ada darah yang mengalir dari sana. Melewati dahi, mata, pelipis, hingga masuk ke mulutku. Tidak. Itu tidak terasa sakit. Hanya perih sedikit waktu kubawa mandi setelahnya, tapi setelah itu, aku kehilangan rasa. Aku tidak tahu apa itu sedih, kecewa, senang, marah, aku… aku tidak tahu apa-apa.
Sekali waktu aku bertanya pada Tuhan, mengapa ini harus dinamakan hidup? Berulang kali aku menyampaikan pertanyaan yang sama, tapi Tuhan tidak juga menjawabnya. Lantas kupikir, mungkin diam-Nya adalah jawaban. Mungkin hidup memang tidak selalu bisa mengizinkan aku bersuara. Aku cuma bisa diam dan seolah paham. Tapi kata ibu, Tuhan itu ada. Dan aku sudah terlalu tua untuk bertanya, iya tapi Tuhan adanya di mana? Jadi, tiap kali ibu bicara begitu, aku hanya diam, mengobati biru memar di tangannya, dan membiarkannya membelai rambutku.
Besok sudah Senin lagi, jadi aku harus pulang, dan meninggalkan café ini.
… bersambung
Leave a comment