Antara Kita, Pt. 2


“Duh, anginnya bandel nih. Maaf ya, kamu jadi kena rokok deh, padahal aku buangnya udah kesamping.”

“Aku kira kamu udah nggak ngerokok.”

“Jadi ngerokok lagi sih abis kita putus.”

Hmm, kalau ini di novel, aku udah menulis adegan berikutnya dengan tersedak karena mendengar ucapannya barusan. Tapi… adegan tersedak terlalu frontal. Terkesan… masih ada sesuatu yang membekas sampai-sampai tubuhku harus ikut memberi respon.

Ya udah deh, suasananya jadi canggung. Yah, mungkin harusnya aku lebih baik beneran tersedak aja tadi. Supaya at least, nggak perlu ada keheningan yang membuat aku sama dia mendadak, kehilangan kosa kata. Dan… dia kayaknya juga baru sadar bahwa dia nggak seharusnya ngucapin itu, ketika aku udah telanjur dengar dan keadaannya jadi kikuk banget. 

Sorry…” katanya. Nggak nyangka, masih itu juga yang keluar dari mulutnya sejak terakhir kali ketemu dia.

“Gapapahh, emang bener gitu ya tapi?”

Hahaha aku terusin aja, yah, siapa suruh mancing duluan.

“Mmm… setelah kita pisah, aku sempet ada keadaan di mana aku bingung harus ngapain. Mungkin karena itu jadi ngerokok lagi.”

“Bingung harus ngapain? Bukannya sibuk kerja?”

“Sibuk bukan berarti aku nggak pernah ke-distract sih.”

“Ke-distract? Sama apa?”

“Ya, sama kamu.”

Kira-kira adegan apa yang cocok untuk ngelanjutin kalimat semacam itu? Pura-pura bego atau mendadak pikun, bisa jadi alternatif untuk dipilih. 

Karena… apa ya… Kalian pernah nggak kangen seseorang, sedih karena seseorang, terus mikir, dia mikirin gue juga nggak ya? Dia pernah nggak ya sedihin gue kayak gue sedihin dia? Kita mikirin hal-hal semacam itu, berharap ada jawabannya, tapi ketika benar dikasih jawabannya, ternyata kita nggak percaya.

Nah, itu yang kurasain, sih. Jaget kalau dia juga mikirin apa yang kupikirin setelah saat itu kami memilih pisah.

Jadi aku cuma berusaha untuk melanjutkan percakapan itu dengan baik. Toh, perpisahan kami sudah lama usai, harusnya nggak masalah kalau sedikit  membahas hal-hal yang dulu.

“Jadi, ke-distract-nya malah waktu udah putus, ya?” tanyaku. ucapku.

“Hm… gimana?”

“Sebenarnya nggak gimana-gimana sih. Cuma, dulu, waktu sama kamu, aku nggak pernah merasa dipentingin. Kayak… isinya cuma kamu doang. I know i was so young and… stupid. Tapi kerasa banget kalau kamu terlalu anggap aku anak kecil waktu itu. Bahkan tiap lagi ada temen-temen kamu, kamu selalu ngenalin aku sebagai teman salah satu adiknya sahabatmu. Ya, nggak salah sih, cuma harusnya aku nggak perlu berharap lebih.”

Sorry, emang telat kalau sekarang masih aja say sorry ke kamu. Tapi waktu itu, waktu kamu ke dateng ke hidup aku, dengan banyak warna yang ada di kamu, dengan harapan-harapan yang aku lihat ada di mata kamu, ternyata aku nggak siap. I wish i was ready, but i was not. Aku pengin bilang keadaannya too complicated, tapi kamu nggak suka sama kata-kata itu, jadi, waktu itu, aku cuma merasa… You deserve more. You deserve better.”

“Ya, bener sih. Bener kalau i deserve better, tapi harusnya bukan kamu yang berhak mutusin apa yang terbaik buat aku. It’s not you, it’s me. Jadi alasannya masih juga nggak make sense buat aku.”

Dia diem. Bingung kayaknya atau sedih. Entahlah.

“Udah nggak usah dipikirin. Aku cuma pengin ngomong tentang hal-hal yang waktu itu nggak bisa aku sampaikan ke kamu karena kamu ngilang. That was cruel, honestly. Kamu mulai cerita ini pake say hi, tapi kamu nggak bisa bilang dadah ke aku. You were just… gone. Makanya campur aduk banget ketemu kamu lagi gini. Kayak, you really owe me a goodbye. Dan… aku udah harus pulang sekarang. Jadi kali ini, aku aja yang bilang dadah duluan. Just take care of yourself.”

Huft. Itu dia, tuh. Kenapa aku bilang bahwa sebetulnya kita nggak pernah benar-benar bisa milih. Semesta tuh usil tau. Ketika kita udah berjalan jauh dari titik yang emang udah nggak bisa lagi ditempuh, semesta melipat jarak jauh itu menjadi terlalu dekat. Seolah apa yang udah kita usahain untuk bisa lepas, sia-sia. Bohong kalau aku nggak pengin lebih lama ngobrol sama dia, tapi perasaan-perasaan yang dulu pernah aku punya buat dia, mengingatkan aku untuk segera menarik garis batas.

Aku pulang, meski itu adalah pertemuan sebentar yang cukup menegangkan sekaligus menyenangkan, yaa senang sekali bisa lihat dia lagi, tapi aku mau membiarkan itu menjadi sebuah kebetulan aja, nggak lebih. Karena di antara aku dan dia udah nggak bisa memulai sebuah awalan, khawatirnya, kebetulan itu justru jadi kesalahan. Jadi… stop saja di situ.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: