Antara Kita, Pt. 1


Kita sebagai manusia selalu punya peran yang berbeda dalam tiap cerita yang semesta tempatkan buat kita. Dan kadang, kita terlihat seperti selalu punya pilihan. Bahkan banyak pilihan. Tentang kapan kita siap untuk jatuh cinta, kapan kita merasa sudah waktunya menyerah pada sebuah cerita, juga kapan kita memilih selesai atas apa yang pernah dimulai.

Ya. Untuk beberapa saat, kita seperti merasa punya kendali atas perjalanan yang kita pilih. Sampai ketika semesta mengalihkan jalan kita ke sebuah tujuan yang lain. 

Sesuatu yang pernah selesai, bisa tiba-tiba tampak belum usai. Sesuatu yang kita kira sudah pergi, bisa tanpa aba-aba menghampiri kita kembali.

Dan, ya. Hari itu, harusnya jadi hari-hari yang… biasa aja. Hari biasa ketika aku hanya mampir untuk membeli kopi di tempat kesukaanku. Sampai ketika aku mendengar suara mendekat, suara yang dulu pernah selalu dekat. 

“Hei, Na?”

Aku nggak pakai kacamata, jadi nggak terlalu jelas. Tapi kalau dari suaranya, jelas aku tahu itu siapa.

“Eh, ya ampun, kamu?? Apa kabar?”

Namanya kuganti jadi kamu saja di sini, karena memang lebih baik nggak disebut lagi. 

“Baik, baik. Kamu, kabar gimana?”

“E… baik juga, alhamdulillah. Kamu sendiri aja?”

“Iya, sendiri nih.”

“Ya ampun, udah lama banget, ya?”

“Yaaa gitu deh…”

Dia terlihat sangat baik, sejujurnya. Bahkan ketika dia bilang itu, terdengar sangat tenang. Ah, emang dia begitu sih dari dulu.

“Kamu udah pesen?”

“Udah-udah. Kamu pesen aja dulu.”

“O..kay.”

“Aku cari duduk di luar, ya?”

Ya, aneh memang. Aneh ketika dia minta izin untuk cari duduk, seolah bahasa tubuhnya sedang bertanya boleh atau tidak jika aku dan dia ngobrol dulu. Karena kupikir, ini hanya kebetulan yang sebentar saja. Bertegur sapa, hai dan halo, kabar baik di antara keduanya, lalu sudah. Tapi, kayaknya nggak akan gitu.

“Aku sambil ngerokok nggak apa-apa, ya?”

“Ya, ya. Sure, it’s okay.”

“Kamu tumben ke sini?”

“Loh, harusnya aku yang nanya, kamu kok tumben ke sini? Kayak bukan kamu banget ngopi di coffee shop gini. Biasanya bikin kopi di rumah. Males rame-rame,”

“Kamu kan yang dulu nyuruh aku coba hal-hal yang nggak pernah kucoba. Ya, ini salah satunya.”

Aku diam. Di situ, bingung harus gimana. Terus dia nyaut lagi.

“Kamu? Ngapain ke sini? Sendiri pula,”

“E… emang sering mampir beli kopi aja sih, ini habis ini langsung pulang. Lagi ada tukang di rumah.”

“Oh, udah jadi rumahnya?”

“Hmm belum, belum jadi banget tapi udah kebentuk.”

Mulai khawatir. Aku mencoba nggak kepedean dengan takut kalau dia akan minta untuk diajak main ke rumah kapan-kapan. Eh, ternyata bener loh.

“Kapan-kapan, mau bertamu dong.”

Aku cuma hehe-hehe aja di situ, karena jawabannya nggak. Nggak boleh.

Dia seperti tahu kalau aku ingin menolak tapi nggak tahu caranya gimana.

“Ya kalau boleh… kalau nggak boleh juga nggak apa-apa. Kalau nggak dijawab juga nggak apa-apa.”

Dia menghisap rokoknya. Kemudian angin membuat asap dari rokoknya bergerak ke arahku. Dia pun segera melambaikan tangannya agar asapnya nggak kena mukaku. Dan… aku masih belum tahu harus ngomong apa lagi. Biarin dia aja yang ngoceh.

“Duh, anginnya bandel nih. Maaf ya, kamu jadi kena rokok deh, padahal aku buangnya udah kesamping.”

“Aku kira kamu udah nggak ngerokok.”

“Jadi ngerokok lagi sih abis kita putus.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: