BAB 9


Awal perjumpaan yang biasa saja. Ketika Pra sudah siap dengan 3 ekor ikan cakalang yang dibawanya untuk diantarkan kepada seorang pemilik indekos. Ketika itu, Pra belum melaut sendiri, masih bantu-bantu Dawan. Jadi kesibukannya hanya mengantar pesanan ikan untuk pembeli yang memang kenal dekat dengan Dawan.

Seorang perempuan dengan kemeja hijau terang keluar dari rumah kos tempat Pra hendak mengantar ikan. Segera Pra menegurnya, “Misi, Bu, ini saya yang mau nganter ikan.”

Bukannya menjawab ramah, perempuan itu justru bersikap judes. “Saya gak pesen ikan.”

Pra tertegun. Senyuman lebar seperti yang diajarkan Dawan bahwa jualan itu harus ramah, jadi membuatnya serba salah. Ia melihat kembali nomor rumahnya, dan benar. Ia yakin kalau ia tidak salah alamat.

“Ya penjual ikannya bilang kamu pesan ikan.”

“Saya udah bilang saya gak pesen ikan.”

“Kamu nih Bu Hela, bukan?”

Perempuan itu menarik napasnya, “Ohhhh. Cari bu Hela? Yang punya kos-kosan ini? Orangnya ada di dalam, sebentar saya panggilin. Bilang kek dari tadi.”

“Tunggu!”

“Apa lagi?”

“Kalau kamu bukan Bu Hela, lalu siapa?”

“Kinanti. Tapi Kinan saja.”

“Kinan. Kenapa dari sekian banyak pakaian di dunia, kamu harus pakai yang warna hijau terang begitu? Norak.”

Kala itu, Kinan geram dan matanya melotot. Betapa cepat dan mudahnya Pra mengenalkan karakternya yang begitu menyebalkan di hadapan Kinan. Dan Sekarang, sudah empat tahun mereka saling mengenal nama. Ya, pada kertas puisi berbentuk kapal itu, Pra kini tidak mengharapkan lagi. Bahwa sebetulnya, bau wangi Kinan yang ia kenal betul itu tidak lebih dari sebuah nama yang penuh rahasia. Dengan Kinan aku merasa tenteram, hingga tidak kuketahui bila satu-satunya yang bisa kuhadiahkan padanya hanyalah barisan kelam. 

“Kinan! Cepat, lho, udah lewat jam delapan. Sini!”

Dan itu Rina. Sahabat Kinan yang pagi itu menjemput untuk sama-sama berangkat ke tempat kerja. Ia juga yang pertama kali menanyakan soal laki-laki berantakan yang sedang bersama sahabatnya itu, “Itu siapa, Nan? Pacarmu?”

“Hiiii! Dia itu tukang ikan. Tukang ikan yang sok ganteng.”

Yah…

Mungkin, pada hari itu, Pra berhasil menemukan jalan hidupnya. 

Mungkin…

***

Kinan berdiri tegak. Kedua matanya terkunci pada sosok ibu yang masih membuat pikirannya tidak bisa berhenti bekerja. Ketika pekerjaannya sudah selesai dan hendak kembali ke indekosnya, Kinan perlahan memberanikan langkahnya untuk mendekat. Hingga suara klakson mobil membuatnya tercengang. 

Hara segera turun dari mobil. Seolah memahami apa yang hendak Kinan perbuat, ia segera menahannya, “Jangan, Nan.”

Cukup mengagetkan ketika Hara seperti membaca pikirannya. “Nggak bisa, Har. Harus ada orang yang mengajaknya masuk ke rumah. Ini salah.”

“Dia menerima hidupnya dengan keikhlasan yang mutlak. Kepasrahan yang tetap. Yang tidak dimiliki siapa pun, bahkan kita.”

“Keikhlasan macam apa yang membuat dia masih nungguin anaknya pulang? Kepasrahan itu bukan karena kebohongan, Har. Anaknya udah meninggal, tapi ngapain dia duduk di situ? Setiap hari? Gak ada yang memastikan dia udah makan atau belum. Dia udah minum atau belum. Keikhlasan itu juga pake otak, Har.”

“Itu syarat yang dipenuhinya. Untuk ikhlas, dan untuk tidak, sekaligus.”

Semakin bertanya-tanya, air mata yang tidak ia duga akan datang itu, tak mampu lagi dibendungnya. Ia meninggalkan Hara tanpa mengizinkannya untuk sedikit saja menengok pipinya yang basah. Benar seperti kata Pra. Ketika hati merebut raga seutuhnya, yang tersisa hanya jiwa yang mengais asa. Untuk tidak berharap, ternyata juga berharap. Untuk ikhlas, ternyata untuk juga tidak. Terlampau banyak kosa kata dalam satu bahasa yang tidak juga dimengerti makna sebenarnya.  

Hari itu, Kinan tidak benar-benar tahu mana dari semua rasa sedih, kehilangan, marah, kecewa, bahkan senang mana yang sungguh nyata. Aku buta, Pra. Semua gelap. Tidak ada cahaya di sini. Sunyi. Lebih sunyi dari rumah duka. Lagi-lagi, kamu benar soal pergi. Bahwa tidak semua upacara kepergian bisa memaklumi kesedihan.

Hara tidak menyangka kejadian itu bisa membuat Kinan hancur. Untuk seorang yang tidak ia kenal sama sekali, Kinan seakan merasakan betul bagaimana rasanya ditinggal seseorang. Seolah ada tugas berat yang sedang ditanggung Kinan, dan Hara yakin bisa dapatkan jawabannya.

***

Siang itu, Pra pergi ke bank, untuk mengecek saldo tabungannya. Yah, ia bisa punya tabungan juga tentu saja Kinan yang suruh. Walau dulu jawabannya, “Aku nabung buat apa memangnya, Nan?”

Sampai hari ini ketika ia pergi ke sana untuk memastikan tabungannya sudah cukup terkumpul, dalam hati ia berucap, “Perempuan judes itu memang sering benar.” 

Cuma ada segini. Cukup nggak ya? ucapnya dalam hati. 

Diam-diam, Pra menuruti keinginan Kinan, untuk mencetak tulisannya. Tidak cuma di kepala, tetapi lewat laptop. Ia sendiri tidak yakin akan berhasil, apalagi Dawan bilang sekarang sudah terlalu banyak penulis di Indonesia. Siapa yang mau membaca puisinya yang jelek itu? Tapi ia pikir, ia menulis untuk Kinan, untuk seseorang yang setidaknya membuatnya memulai langkah baru. Walau tidak jelas tujuannya ke mana, tapi karena Kinan, Pra memulai perjalanannya. 

Hari berikutnya, Pra ke kota. Mencari laptop yang harganya sesuai dengan kantongnya. Seorang penjaga toko menyilakan Pra untuk masuk, “Lihat-lihat saja dulu.”

“Laptop yang biasa saja, kisaran harga berapa?” tanya Pra kepada petugas toko.

“Sekitaran lima juta,”

Pra membelalak. Lalu menelan ludah.

“Itu sudah bisa buat cetak ke kertas ya?”

“Lho, itu beda lagi.”

Memang paling mudah itu hidup di surga, ucapnya dalam hati.

Perkembangan dunia kian hari kian canggih saja. Saking canggihnya, jadi menakutkan buat sebagian orang. Jika pilihannya adaptasi atau mati, orang seperti Pra jelas tidak bisa memilih. Karena di luar dunia yang kita tahu, tidak semua orang bisa dapat kesempatan yang sama.

Pra menjauhkan tangannya dari sebuah laptop seharga lima juta rupiah itu. Kalau laptopnya ia bawa pulang hari ini, maka sebulan ke depan ia hanya akan minum air putih saja. Ia pikir, Kinan akan lebih senang kalau ia bisa makan daripada bisa beli laptop. 

“Besok saya balik lagi, Mba, sekarang lihat-lihat dulu.”

Yah, kita sebenarnya tidak pernah benar-benar tahu berapa lama waktu untuk ‘besok’ itu. Bisa jadi besok kamis, besok senin, atau besok-besok saja alias entah kapan. 

***

Terhitung tiga minggu sudah Kinan memerhatikan sosok perempuan itu. Perempuan yang semakin hari semakin kurus tubuhnya. Semakin kosong pandangannya. Perempuan yang sesekali mengucek-ngucek matanya yang mungkin perih karena habis menangis.

Orang-orang yang lewat di depannya, cuma berlalu begitu saja. Tidak ada sapaan, seolah yang duduk di depan itu bukan manusia, bukan makhluk bernyawa. Bahkan seorang seperti Hara juga melarangnya. Hara sendiri sudah seminggu ini ada di Lampung, membuat Kinan jadi gemas sendiri dengan lingkungan tempat ia bekerja sekarang. Kalau begini caranya, tempat kerjaku sebelumnya jauh lebih baik!

Kinan ingin sekali melakukan sesuatu, tapi, tukang sayur komplek yang naik sepeda ontel itu saja tidak berhasil. Padahal ia sering memberi pisang, tetapi hanya dibiarkannya. Tidak disentuh sama sekali. 

“Hati dan jiwanya sudah nggak di situ, Nduk.”

“Iya, Kinan ngerti, Bu. Ngerti kalau ibu itu cuma mau nungguin anaknya. Anaknya yang gak akan bisa balik lagi. Itu kan aneh?”

“Mungkin dia nunggu dijemput sama yang Maha Punya, Nduk. Biar bisa ketemu sama anak lanangnya satu-satunya itu.”

“Terus? Emang udah pasti akan ketemu, bu?”

Ibu Hara hanya bisa tersenyum. Terbaca wajah Kinan yang penuh sekali dengan pertanyaan.

 Sebab sekarang, Kinan benar-benar sadar mengapa sedalam itu pedulinya kepada perempuan tua yang sudah hampir sebulan menguasai pikirannya. Soal pertanyaan seputar upacara kepergian yang selama ini diyakininya betul, sebagai satu-satunya pemakluman terhadap kesedihan. Karena untuk pada akhirnya, ia menemukan cerminnya. Ia menemukan cerminnya pada tubuh seorang perempuan yang membeli hidup terakhirnya hanya untuk dijemput pulang. Ya. Kinan ingin itu. Kinan hanya ingin ibunya. Dan satu-satunya tempat yang ia inginkan itu hanya ada pada kehidupan yang terjadi setelah dari rumah duka. Itu sebabnya, perayaan kepergian selalu dihadirinya, walau tidak pernah ia kenal siapa yang berpulang. Dengan harapan semoga rumah duka itu lama-lama akan menyukainya, lalu mengizinkannya untuk abadi di sana. 

Pada akhirnya, Kinan ingin ibunya. Kinan hanya ingin pulang. Itu saja.

***

Siang itu ia menelepon Rina, alih-alih menanyakan kabarnya, Kinan justru harus mendengar kabar Pra dari Rina yang sengaja nyeletuk. “Apa kamu nggak terlalu tega sama dia, Nan?”

“Kalau aku terus di sana, itu baru aku tega.”

“Kabur dari seseorang itu ujungnya pasti gak bener,”

“Aku nggak kabur, Rin, aku cuma butuh hidup yang lebih pasti aja.”

“Nah, kan, nggak nyambung. Kaburmu itu nggak ada hubungannya sama hidup yang lebih pasti. Yang pasti itu bisa di mana saja, Nan.”

“Ya tapi nggak sama Pra!”

Kinan tidak bisa terus menjawab, karena yang Rina katakan ada benarnya. Ia kira hidup akan baik-baik saja tanpa, Pra, tapi ternyata sama saja. Gelisah, marah, bahkan susah yang ia lewati dengan Pra, masih tetap bersamanya, masih terus mengikutinya. Sesuatu yang tadinya ia kira sudah ia tinggalkan di sana. Di Pra.

“Setidaknya, bacalah tulisannya, Nan.”

“Tulisannya? Tulisan apa?”

“Semenjak kamu ke Semarang, dia seperti pelaut yang akhirnya pulang. Dia kini percaya bahwa mimpi memang benar-benar ada.”

“Dia nulis? Dia nulis pake apa? Emang dia punya laptop?”

“Mesin tik, Nan. Punya Dawan, dipinjamkan katanya.”

“Tulisannya ada di kamu?”

“Iya, dititipin ke aku, katanya suruh kirim ke kamu kalau kamu sudah selesai marahnya. Apa iya kamu marah dengannya, Nan?”

Kalau dipikir-pikir lagi, Kinan bahkan tidak menjelaskan apa pun. Karena ia tidak marah, tidak pernah. Siapa yang bisa marah kalau disayangi sama orang yang bodoh kayak dia? 

“Nggak, ah. Aku nggak mau baca!” tegas Kinan. 

Kabur selalu jadi pilihan bagus buat orang pengecut seperti Kinan. Padahal, tidak perlu ada yang ia pikirkan. Ia hanya tidak dapat melihat segala sesuatu dengan lebih jelas. Sebab hal mengerikan itu, sebenarnya bukan apa-apa bila ia mau mencoba mendekatinya… lebih dekat lagi. Tapi Kinan lebih memilih untuk memenangkan ketakutannya. Mungkin itu juga kenapa ia tidak pernah mengenal kata maaf, ampunan yang buatnya tidak akan pernah bisa ditebus. 

“Kukirim sajalah. Terserah nanti mau kamu apakan. Aku tidak suka main-main sama amanah dari orang, Nan.”

“Udah dulu, Rin. Aku mau siapin makanan buat bapak sama ibu.”

Mendengar itu, Rina meleleh. Sejuk sekali mendengarnya. Mendengar Kinan menyebut bapak dan ibu. Walau bukan orang tua kandungnya, tapi bisa ia yakini bahwa apa yang dirasakan Kinan sekarang, itu perasaan yang benar. Perasaan yang hidup. Kehidupan yang tidak pernah Kinan kenal sebelumnya.

“Nduk, nanti ibu tolong beliin nasi goreng babat, ya. Biar Mas In yang antar kamu,”

Nama aslinya Parmin, agar lebih mudah, ibu memanggilnya “In”. Tak jarang membuat Kinan bingung kenapa orang di sini namanya pendek-pendek. Mas In, Mbok Ru. Paling, bentar lagi namaku jadi “Nan” atau “Kin”. Walau ibu lebih sering memanggilku “Nduk”. Panggilan kesukaanku.

Selama ini, Kinan memang tidak pernah punya panggilan istimewa. Apalagi setelah tahu bahwa “Nduk” adalah panggilan sayang seorang yang lebih tua kepada seorang yang lebih muda yang dia sayang. Dia tahu dari Hara ketika suatu hari perasaan bingung itu membuatnya tidak nyaman.

“Itu berarti ibu nganggep kamu sama kayak anak-anaknya yang lain,”

“Ah, gak mungkin. Aku kan cuma pembantu,”

“Kamu ngerasanya jadi pembantu, ya, Nan? Saya padahal berharapnya kamu nggak ngerasa begitu sih.”

Mendengar jawaban Hara membuatnya jadi tidak enak hati. Sebab sedari awal Hara bilang bahwa ia tidak mempekerjakan Kinan sebagai pembantu, kalau pun butuh pembantu, untuk apa susah-susah sampai harus membawa Kinan segala?

“Bukan gitu… aku cuma bingung…”

“Ya anggap saja kamu tidak bekerja. Anggap saja saya sedang minta tolong kamu untuk nemenin orang tua saya.”

“Yah, kok jadi kebalik begini. Kan Mas Hara yang udah nolongin saya,”

Setelah bicara begitu, Hara masuk ke dalam mobil. Ia memang hampir setiap hari mampir ke rumah untuk menengok orang tuanya. Di mata Kinan, Hara sudah seperti malaikat penolong. Meski ia sering galak, dingin, dan nggak senyum. Ya wajar saja seorang majikan begitu. Lagipula, apa yang bisa ia harapkan dari Hara? Pekerja keras, tampan, kaya raya, baik pula. Sempurna yang bagus, namun tak pantas. 

***

“Heh! Lamunin apa toh?”

“Mbok Ru ini, gangguin aja.”

“Tuh, Mas Hara dah sampe. Kamu siapin dulu makannya,”

“Ho? Ada Mas Hara, Mbok? Ngapain?”

Mbok Ru memukul bahunya, “Kamu, ini! Wong ini rumahnya kok,”

Kinan terkekeh. Tiap berada di rumah itu, Kinan seperti berada di tempat yang tidak asing. “Belum, Rin, aku belum senang, cuma mulai betah.” katanya di telepon ketika Rina menelepon.

Rina mengenal betul sifat sahabatnya itu. Perempuan paling gengsi untuk mengakui bahwa ia sedang senang. Perempuan yang lebih andal dalam mengatasi kesedihannya sendiri, daripada ketika sedang bahagia. Karena menurutnya, senang itu tidak ada obatnya. Orang yang sedang senang itu adalah orang paling sakit di dunia, tidak ada rumah sakit pun yang mampu menampung dan menyembuhkannya. Sebab kesenangan yang sesaat, sama saja dengan kesedihan yang abadi. Perasaan-perasaan yang diciptakan untuk memiliki fungsi yang sama: menggoda manusia. 

Ia melihat Hara sedang duduk di teras depan dengan ibu. Memakai kemeja batik, celana hitam, dan kaos kaki yang belum dilepas. Kinan menghampiri dan bertanya, “Mau dibuatin minum, Hara?”

Bukannya menjawab, Hara justru memandang ibunya, “Bu, mulai hari ini, Kinan akan panggil saya Hara saja, ndak pake mas.”

Kinan yang membelalak, segan dengan perkataan Hara barusan. Khawatir terkesan tidak sopan oleh ibu. Ia pun hanya bisa tersenyum tidak enak. 

“Mmm… saya buat kopi dulu, ya, Bu?”

“Lho, kan saya belum minta mau dibuatkan minum apa,”

Ibu menyubit tangan Hara, “Iseng aja kamu. Udah, Nduk, ambilin saja air putih.”

Mendengar itu Kinan segera masuk ke dalam dengan sedikit keringat dingin, entah apa yang membuatnya jadi bertingkah serba salah begitu. Sementara itu, masih di teras depan, Hara melanjutkan percakapannya dengan sang ibu yang ternyata sedang membahas Kinan.

“Ada bahasa tubuh yang seakan memanggil, kan, Bu?” tanya Hara.

“Iya. Kinan itu anak baik, kebingungannya justru membawa banyak suara lagi di dalam rumah ini.”

Dari dalam kamar, Bapak memanggil Hara. Pada awalnya, stroke sempat membuat bapak mengalami gangguan bicara. Sesekali mulutnya seperti berucap, tapi tiada siapa pun mampu mendengarnya. Di situ, Hara tidak menyerah. Ia mengenal bapaknya sebagai prajurit yang pada mati pun berani. Ia terus mencari ahli terapis yang bisa membantu bapaknya bisa bicara lagi, dan kegigihannya berbuah hasil. Setelah dua tahun, suara menyebalkan itu terdengar lagi. Walau, kalimat-kalimat tegas sekaligus galak yang tadinya hampir setiap waktu terdengar, berubah menjadi kalimat sederhana yang lebih sering keluar dari mulut anak kecil. Dan itu juga efek dari stroke-nya. Penderita stroke bisa mengalami perubahan emosi dan kepribadian setelah terkena serangan. Perubahan emosional dan kepribadian ini mengarah ke perilaku anak-anak yang tidak sesuai dengan usianya.

Kalimat-kalimat yang sering didengarnya hampir selalu sama, seperti sekarang ini: 

“Hara? Hara di mana?”

“Hara, jangan pergi dulu, ya”

“Hara, jangan tinggalin bapak dulu, ya.”

Kinan dari dapur cuma bisa mendengarkan. Awal datang ke rumah ini membuat matanya tampak berlinang. Tak kuasa menahan sedih tiap bapak berucap lirih seperti itu. Seolah-olah masih ada hal paling jujur yang bisa ia dengar, hal paling berani yang hingga kini masih menghantu pikirannya. Kupikir sendirian adalah jalan pulang, bahwa masih masuk akal bila aku selalu ingin pergi dari tempat yang sedang kupijaki. Tapi, apakah kalimat yang selalu keluar dari mulut bapak itu benar adanya? Apakah benar sebuah rumah yang benar-benar rumah bisa membuat seseorang tidak bisa memilih antara pergi dan meninggalkan? Apakah aku juga sebenarnya tidak bisa memilih? Apakah mungkin aku sudah berada di rumah?


One response to “BAB 9”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: