BAB 8


Di depan rumah orang tua Hara, Kinan sering melihat seorang perempuan tua yang duduk di depan sebuah rumah putih berpagar hitam. Pandangannya selalu lurus ke depan. Ia hanya ditemani sebuah tongkat di sebelah kirinya. Kinan kira hanya sekali, dua kali, namun sudah tujuh hari ia bekerja, tidak sehari pun sosok perempuan paruh baya itu hilang dari pandangannya. Ia tampak seperti sedang menanti sesuatu.

Mencoba untuk menebus rasa ingin tahunya, Kinan menanyakan hal itu kepada Mbok Ru. Lalu Mbok Ru bilang, “Dia itu lagi nungguin anaknya.”

Mengetahui jawaban yang tidak menyelesaikan pertanyaannya, Kinan kembali mencari. Masa iya anaknya tidak pulang tujuh hari? Kerja? Main? Sekolah? Tapi bagaimana bila ternyata tidak cuma tujuh hari? Bagaimana bila sudah sejak dua minggu lalu? Bagaimana bila sudah sejak setahun lalu? 

Kinan tidak bisa menahannya lagi. Ia terus memburu Mbok Ru dengan pertanyaan yang berputar di situ-situ saja. “Nungguin? Emang anaknya ke mana? Kenapa nunggunya nggak di dalam rumah saja? Kan panas… kan Semarang panas Mbok Ru!”

“Heh! Mbok rem dulu gitu kalau bicara. Kamu kalau mau ngerti coba tanya Mas Hara, Mbok Ru masih mau urus rumah dulu.”

Ono opo, Ru?”

Ibu yang menyaksikan Kinan bertingkah, tertawa sambil menggodanya. Kinan cuma bisa menunduk malu, Ibu lantas memintanya membuat secangkir teh untuk dibawa ke teras depan, untuk kemudian memberi Kinan jawaban yang sejak pagi membuatnya pusing sendiri.

“Anak laki-laki satu-satunya, meninggal tiga bulan lalu, Nduk. Meninggal di kamar kosnya, overdosis. Sudah tiga bulan ini ibunya duduk di depan rumah, nunggui anaknya pulang.”

“Nunggu…?”

Ibu cuma mengangguk. Kinan masih tak sanggup mengerti. Jawaban ibu belum juga memuaskannya. Ia butuh Pra. Ya. Ia butuh Pra. Pra pasti punya penjelasan yang akan membuatnya mengerti, atau justru semakin membuatnya bingung. Walau dulu, Pra sering sekali mengakhiri percakapannya dengan Kinan lewat kalimat: “Nan, kadang nggak tau adalah jawaban yang kita butuhkan.”

“Berarti Tuhan nggak mau tanggung jawab sedikit sama rasa penasaranku?”

“Duh, Nan, kamu jangan dikit-dikit bawa-bawa Tuhan, kayak kenal aja.”

“Kenal!!! Aku… aku cuma nggak tahu Dia sekarang ada di mana.”

“Itu dia, Nan. Tuhan pun membuatmu penasaran.”

“Ya—”

“Ya, nggak semua harus diketahui, kan? Yang penting kamu yakin, kalau itu ada di situ.”

“Itu? Tuhan?”

“Apa saja yang kamu ragukan. Kalau yakin, pasti kejadian.”

Ya… ucapan Pra memang tidak seindah kenyataannya. Bahwa garis kehidupan, membuat keyakinan jadi tumpukan ragu yang lebih baik disimpan. Karena bila sudah usang, tidak akan laku dijual. Keyakinan itu bahkan tidak lebih berharga dari sekarung botol plastik bekas yang siap ditimbang untuk ditukar uang sepuluh ribuan. 

“Berlaku juga di kamu dong, Pra? Kamu ragu dengan Jakarta, kalau kamu yakin, kamu akan ke sana lagi.”

“Sama Jakarta aku nggak pernah ragu, Nan, memang nggak pernah percaya aja.”

“Kamu yang memilih nggak percaya, ketika kamu sangat meyakini itu. Kamu meyakini kota penuh lampu yang indah katamu itu. Sampai ketika mataharimu satu-satunya merebut cahaya lampu di ibukota, yang membuatmu akhirnya sampai di sini sekarang. Sampai ketika kamu lari untuk mencari matahari yang lain, yang kamu kira itu aku, padahal Yang Menciptakan Aku bahkan menjadikanku sebagai Gelap, Pra.”

“Kita kenal matahari cuma satu, Nan. Kepadamu aku nggak cari penggantinya, aku menemukanmu untuk berhenti mencarinya.”

“Berarti kamu bego, Pra. Kamu cari keraguan yang nggak akan bisa dipercaya.”

“Berarti aku lebih baik terus ragu, bila pilihan yang lain bukan kamu.”

***

Kinan berusaha menyingkirkan ibu teka-teki yang semakin lama semakin melahirkan anak barunya, yang tanpa permisi berumah di kepalanya. Untuk sebentar Kinan berpikir bahwa Pra bisa membantunya, sampai ia akhirnya menyimpulkan bahwa Pra saja bukan seorang perempuan. Maka yang bisa membantunya hanya ibunya sendiri. Ibu yang tidak pernah menantinya, karena ia harus pergi duluan.

Setelah secangkir teh hangat dengan gula diet ia buat, Ibu memintanya untuk duduk menemaninya ngobrol di teras depan.

“Sebentar lagi musim mangga, Nduk. Dulu di depan rumah sini ada pohonnya, besar sekali. Tapi akhirnya ditebang saja karena sudah tidak pernah berbuah lagi empat tahun terakhir ini. Makanya jadi agak panas ya?”

“Kayaknya panasan di tempat saya, Bu.”

Ibu tersenyum, “Kamu ini persis kakaknya Hara. Pecicilan gitu anaknya, saking pecicilannya dulu pernah kabur dari rumah, terus hamil sama pacarnya.”

Kedua bola mata Kinan terbuka lebar-lebar. Dengan lalu menelan ludah. Tak ia sangka kabar buruk itu bisa dibawakan begitu tenang oleh ibu. “Ha… Hamil, Bu?”

Ibu mengangguk, “Dulu, itu jadi aib keluarga, Nduk. Jadi berita bencana yang tidak habis dibicarakan orang. Saat itu, Bapak dapat serangan stroke pertamanya. Sekarang dia tinggal di Kudus. Sudah menikah lagi. Ketiga kalinya.”

Kinan semakin membelalak. Mengapa kalimat dari ibu tidak habisnya menyiarkan kabar yang kian asing di telinganya.

“Hidup ya begitu itu, Nduk. Kaget, bingung, lalu jadi kayak begini. Marahnya dah habis, yang penting anak-anak ibu sehat.”

Topik yang tidak ringan itu entah bagaimana bisa menjadi begitu hangat dengan nada bicara ibu yang sangat lembut.

“Kalau Pak Hara, Bu?” 

“Dia itu anak tengah. Anak paling nurut. Yang paling sering ibu susahin.”

Kinan tersenyum mendengarnya, senang jadi bagian orang yang membuat Hara susah. “Masa nyusahin, Bu?”

“Iya. Dia terlalu berbakti, sampai dia memilih orang tuanya daripada istrinya sendiri.”

“Ma… maksudnya, Bu?”

“Lho, dia belum cerita kalau dia sudah pisah dua tahun lalu?”

“Bel…” belum sampai selesai menjawabnya, Kinan teringat kembali percakapannya dengan Hara di mobil kala itu. Jadi, ketika dia bilang istri dan anaknya, itu sebenarnya mantan istrinya? Bahwa rumahnya yang di Semarang ditempati anak dan mantan istrinya? Begitu? Aku salah dengar atau Hara sengaja tidak menceritakannya? Tapi kenapa? Lantas dia sebenarnya tinggal di mana? Ia tidak pernah menginap di rumah orang tuanya. Tunggu dulu, kenapa jadi muncul khawatirku begini???

“Memang begitu dia, Nduk. Tertutup, jarang cerita, tapi senangnya bantuin orang.”

Kalimat Ibu barusan, jelas tidak butuh pembuktian. Lihat saja yang sudah ia lakukan kepada Kinan.

***

“Wan! Dawan!”

Dawan melihat sahabatnya berlari ke arahnya, dengan selembar kertas di tangannya. 

“Bawa apa itu?”

“Bawa puisi. Bawa puisi untuk Kinan.”

“Puisi lagi, Pra?”

Nyala dalam rohnya mendadak redup. Ia kira secarik puisi itu akan jadi alat bantu yang bisa membawanya berlayar kepada Kinan. Nyatanya Dawan, sahabatnya sendiri saja, menganggap itu hal yang sia-sia.

“Kinan pernah bilang kalau selamanya cuma ada di kepala, maka tidak akan jadi puisi. Sekarang sudah nggak cuma ada di kepalaku, Wan, sekarang jadi puisi!”

“Astaga, Pra. Kinan ingin kamu menulis bukan untuk membuatnya senang, tetapi untuk melihatmu berjalan di atas bahagia yang kamu buat sendiri.”

Pra termangu. Menyesali langkahnya yang tidak sempat menahan Kinan, untuk berusaha lebih mengerti lagi. Sebab ketiadaan Kinan sekarang, membuatnya sadar bahwa masih banyak yang tidak ia ketahui tentang satu-satunya sosok perempuan yang berumah di hatinya, yang kita semua tahu, sudah tidak ada bentuknya.

Ketakutannya selama ini terjadi. Tentang sebuah labirin yang pernah sekali waktu muncul di antara percakapannya dengan Kinan kala itu. Ketika koran pagi menulis informasi tentang labirin tersulit di dunia. 

“Baca apaan, Pra?”

“Labirin terumit di dunia. Ada di Amerika. Ah ini pasti mengada-ngada.”

“Kamu sama koran aja curigaan.”

“Nggak ada yang namanya labirin, Nan. Semua pasti ada jalan keluarnya.”

“Lha, itu buktinya? Kamu bisa baca sendiri. Banyak wisatawan yang tersesat di dalamnya, sampe nelfon 911.”

Pra tidak percaya jalan buntu. Kalau tidak ada sinyal untuk lihat peta di handphone, ada kompas, ada arah matahari.

Kini, Pra sepenuhnya meyakini kalau arahnya sudah salah. Cahaya yang ia kira akan menuntunnya pulang, justru membawanya ke labirin berikutnya. Pelaut paling angkuh itu, kini telah kehilangan arah mata anginnya.

“Terserahlah. Ini saranku saja, kalau Kinan nggak mungkin mau pulang kalau cuma pakai puisimu.”

“Wan, ayah dan ibu pulang, meninggalkanku di sebuah tempat tanpa cahaya. Sampai aku ketemu separuh matahari, yang nggak sempurna, tapi bisa menerangiku. Tapi matahari yang nggak utuh itu, sudah menemukan bagiannya yang hilang. Aku kemudian seperti pertama kali dilahirkan ke bumi. Sendirian. Hingga pada satu waktu, aku ketemu Kinan. Dia memang bukan matahari, bukan juga bulan, tapi dia bisa buat aku cukup. Dia bagianku yang lain, Wan. Dan aku nggak bisa kalau Kinan pun diambil.”

“Sekarang masalahnya, kalau benar dia sebagian darimu, harusnya dia di sini sekarang,” sambil menepuk bahu Pra, Dawan berlalu dengan menyelesaikan ucapannya, “Tapi kenyataannya Kinan nggak di sini, ya?”

Roda yang tadinya berputar cepat itu perlahan mengurangi lajunya. Sampai tidak bergerak sama sekali. Sampai berhenti. Sampai memaksa Pra memangku harapannya, memandangnya dengan penuh iba, dan pada akhirnya mengasihani dirinya sendiri. Kertas ini memang tidak akan bisa membawanya pulang. Kinan bukan sebuah surat yang akan berbalas. Ia hanya puisi yang ditulis sekali, kemudian abadi. Aku inginnya lebih dari itu, tapi kata Tuhan tidak dulu.

Ia melipat kertas yang digenggamnya sejak tadi. Doa Kinan sungguh terkabul. Puisi-puisi itu memang lebih baik dilipat jadi perahu daripada harus dibaca.


6 responses to “BAB 8”

  1. Aku tidak mengerti isi kepala Kinan, begitu juga dengan pra. Jangankan isi kepala mereka, isi kepalaku saja aku tidak mengerti. Hanya sesekali ricuh yang kudengar, kurasa.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: