BAB 7


Rina cuma bisa memandang Pra yang duduk di depan pintu salon; tempat ia bekerja, tempat seharusnya Kinan berada. Habis kata ia berikan kepada Pra yang tidak juga bisa mengerti. Ya… sebenarnya Pra juga tidak bisa banyak berharap pada Rina, ia tahu betul bahwa penyelesaian yang dibutuhkannya, hanya ada pada Kinan seorang. 

“Pulang, hampir magrib.”

Pra menggelengkan kepalanya, menolak, “Aku maunya jemput Kinan, Rin, sebab tanpanya, nggak akan ada magrib, tanpanya matahari nggak akan terbenam.”

Tidak ada tangan untuk membuatnya berani, tidak ada tubuh untuk membuatnya hangat, tidak ada cinta untuk membuatnya lebih tenang. “Aku ini kasihan padamu, Pra. Kasihan karena tujuan yang kamu maksud itu nggak akan pernah bisa sampai pada Kinan.”

Ia memainkan mulutnya, bergerak ke kanan lalu ke kiri. Sejenak ia sadar bahwa satu-satunya orang yang bisa adu pendapat dengannya, ya, cuma Kinan. Cuma Kinan yang bisa membuatnya mengenal kekalahan. Dan kini, pesta kemenangan dalam hidupnya sudah masuk pada jam terakhirnya. Sudah waktunya pulang, sudah waktunya selesai. 

“Urus hidupmu, Pra, kamu tau cuma itu mau Kinan.”

Untuk beberapa saat, terang dalam kelabunya seperti menemukan jalan keluar. Ia menoleh, melihat Rina, lalu meyakini sesuatu dalam kepalanya yang sebenarnya masih tidak menentu. Ia berdiri, menyigapkan tubuhnya, seperti panglima perang yang harus memastikan semua aman; terkendali. Tapi, Pra bukan panglima perang, Pra hanyalah seorang Pra yang bahkan tidak bisa memimpin hidupnya sendiri, yang bahkan tidak bisa memenangkan peperangan yang ada di antara hati dan pikirannya.

“Rin, aku tau apa yang harus kuurus sekarang,”

“Kapalmu?”

“Bukan, Rin. Bahasaku.”

***

“Dah sampe deh. Deket, kan?”

Rumahnya berbentuk joglo. Atapnya berbentuk tajug. Melihat rumah yang cukup besar itu membuat Kinan tidak percaya diri. “Kamu bangsawan, Har?” tanya Kinan tanpa berpikir lebih dulu. 

Perkataan spontan yang justru membuat Hara tertawa, “Hahahaha, bangsawan? Kuno sekali kamu.”

Kuno. Manusia kuno itu, Pra. Ia pernah bilang, “Nan, tahu nggak? Dulu, ibuku ingin sekali merenovasi rumah menjadi berbentuk joglo dengan atap tajug nan indah. Tapi sebelum mulai dibangun, ibu pergi duluan, ibu bangun rumah di tempat lain.”

Dengan tenang Kinan menjawabnya, “Hidup memang gitu kali ya, Pra? Nggak semua yang dibangun bisa selesai. Ada yang cuma sampai pondasinya saja, ada yang sudah sampai rangka atap tapi berhenti, ada juga yang sudah sampai finishing tapi tidak jadi ditempati. Karena… kalau nggak bisa jadi tempat untuk pulang, untuk apa punya rumah? Di hotel juga bisa atau indekosku yang murah, yang boleh bayar telat. Karena rumah kayaknya nggak melulu tentang di mana, Pra, tapi tentang siapa.”  

“Hei! Melamun,” Hara berkata ketika menyadari mata Kinan yang kosong, seperti sedang ikut terbang bersama pikirannya, yang entah ke mana, yang entah bersama siapa.

“Eh, iya. Keingat temanku. Dulu sebelum ibunya meninggal, almarhumah pengen banget punya rumah yang bentuknya kayak rumah orang tuamu ini.”

“Pertanda kali, Nan,”

“Pertanda ini mau jadi rumahmu.”

“Huuu, ngawur!”

Seorang laki-laki sudah siap membuka pagar dan mempersilakan mobil Hara masuk ke dalam. Ternyata semakin terlihat besar ketika sudah didekati. Takjub dalam hati Kinan semakin berapi-api. Tidak sampai terbayang dalam kepalanya betapa senangnya Pra bila melihat ini. 

Pintu mobil bagian belakang terbuka, laki-laki yang membuka pagar tadi membawa masuk bawaan Hara. Terlihat beberapa kotak susu untuk lansia dan beberapa buah segar. Semakin yakin Kinan kalau Hara ini orang kaya. Ya… apalagi sebutannya kalau orang yang bisa menggaji seseorang cuma untuk membawa jinjingan belanjaan?

Baru saja Hara membuka mulutnya untuk mengucapkan salam, Kinan segera menahannya. “Kenapa, Nan?”

“Ini aku nggak perlu dijelasin apa gitu dulu, kek? Aku gak pernah ngurusin orang yang udah tua!”

“Nggak pernah apa nggak biasa?”

“Hah?” jawabnya seperti murid yang tidak jelas dengan apa yang barus dijelaskan gurunya.

Atau… ketidakjelasan itu sebenarnya hanya kejelasan yang baru Kinan sadari lagi setelah sekian lama. Walau tidak pernah tahu rasanya berbakti pada seorang ibu, tapi Kinan satu-satunya orang yang mengurus bapaknya, sebelum akhirnya beliau menikah lagi tentunya. Benar pertanyaan Hara barusan, Kinan cuma tidak terbiasa mengurus orang yang lebih tua. Jangankan orang tua, dirinya sendiri saja tidak masuk ke dalam daftar isi orang-orang yang harus dicintai. Mungkin, rumah joglo ini akan membuatnya terbiasa. Terbiasa… menjadi manusia.

“Mas, bapak lagi melek, nggak?”

“Masih, Pak, baru habis makan tadi disuapi sama ibu.” 

“Ya, saya ke kamar dulu.”

Kinan mengikuti Hara dari belakang. Menggunakan langkah pertamanya untuk memasuki rumah besar itu. Seperti rumah joglo kebanyakan, furnitur di dalamnya hampir semua menggunakan kayu. Seperti lemari di ruang tamu, misalnya. Tampak cantik dengan ukiran khas jawa. Di beberapa sisi lainnya, juga ada batu bata yang menghiasi dinding. Membuat suasana rumah menjadi lebih sejuk dan nyaman. Kinan melebarkan senyumannya. Ia suka.

Namun, ketika pintu kamar terbuka, senyum dalam wajahnya hilang. Seorang lelaki tua, tidak berdaya di atas tempat tidur pasien, yang lebih sering ia lihat di rumah sakit. Tapi matanya terbeliak, seolah tahu anak tengahnya sedang datang menengok. “Pripun kabare, Pak? Bu? Sehat?”

Hara mencium tangan dan kening sang ibu, lalu mendekati bapaknya di tempat tidur. Kinan masih berdiri di depan pintu, masih tercengang. 

“Bapakmu sehat, Le. Ndak lihat itu, lemu.”

“Wah, malah ibu nih yang kayaknya kurusan, ya?” kata Hara sambil menggoda ibunya. Pemandangan langka, yang kini harus Kinan telan setiap hari. 

Sudah dua tahun bapaknya terkena stroke. Satu-satunya prajurit paling hebat yang ia kenal sejak kecil itu, harus tumbang, mengalah pada keadaan. Sosok keras kepala yang sudah pasti akan galak terhadap hal-hal yang buatnya sangat prinsipil. Manusia paling mandiri yang hampir merasa tidak membutuhkan tangan orang lain. Sampai kemudian, alam semesta memaksa kita untuk melihat tubuhnya sekarang. Terbaring dan lemah. Manusia paling kuat itu, kini cuma bisa bertahan dari harapan kecil orang lain.

Tidak. Hara tidak percaya itu. Hara tidak percaya pada kematian, tidak pada kepulangan yang abadi, tidak pula pada kesedihan yang lebih mematikan daripada penyakit itu sendiri. Tidak. Hara tidak mencintai rumah duka sebagaimana besar hati Kinan untuk tempat sepi itu. Hidup Hara sudah tidak membutuhkan duka orang lain, bahkan duka dari sepinya sendiri.

***

“Hah?! Menulis? Sudah gila kamu?”

“Tadinya kupikir begitu, tapi setelah kuingat lagi, Kinan pernah bilang kalau kegiatan gila itu justru akan membuatku sedikit lebih waras.”

“Terus? Mau tulis apa?”

Semangatnya pudar. Ketidakmentuan yang semula ia kira akan jadi kata pengantar yang abstrak, berubah jadi benang kusut di tempat seorang penjahit yang sudah tidak bisa digunakan lagi. Pra memang benar senang menulis, tetapi selama ini ia cuma menulis di dalam pikirannya. Tulisan yang tertulis tanpa tinta hitam yang hanya bisa dibaca oleh Kinan. Dan kini ia harus berhadapan dengan realitas yang memaksanya melewati batas. Apa yang harus ditulisnya? Apakah tentang sebuah rumah duka di mana Kinan memberinya sebuah dunia? Atau tentang sepotong matahari yang masih ia simpan di bawah kaus kakinya?

***

Setelah Hara mengenalkan Kinan pada ibunya, langsung Kinan rasakan dekapan seorang ibu. Walau tak sampai memeluknya, ketika ia mencium tangan ibu Hara dengan begitu nyaman, ia tahu bahwa rumah ini bernyawa. Seperti anak bungsu yang lama merantau ke pulau seberang, kemudian kembali pulang. Di rumah joglo itu, hanya ada ibu dan bapak Hara, seorang tukang kebun, dan perempuan paruh baya yang bekerja untuk bersih-bersih di rumah. Dan kini ditambah Kinan, tentu saja.

“Mbok Ru ngurus rumah, Nan, dan bapak saya butuh teman, itu mengapa kamu di sini sekarang.”

Khawatir bapaknya merasa kesepian, sangat membuat pikiran Hara jadi tidak tenang. Kegelisahan itu tampak jelas di mata Kinan. Ya kalau punya seorang bapak seperti itu, jelas Kinan akan melakukan hal yang sama. Walau belum paham betul apa yang harus dikerjakannya esok hari, setidaknya ia mengerti alasannya di sini.

Kata Mbok Ru, Ibu ¾ begitu panggilan ibu Hara di rumah, biasa bangun pukul empat pagi setiap hari. Beliau terbiasa mandi dan menghangatkan masakan sebelum subuh. Meski sudah tidak kuat berdiri lama-lama, Mbok Ru cerita kalau Ibu masih suka memasak sendiri. Mungkin karena bapak juga lebih suka masakan Ibu daripada masakan Mbok Ru. Ayam opor dan sayur bening masih jadi favoritnya. “Tapi Ibu makannya sudah ndak bisa banyak, makanya kurus begitu. Mikirin bapak mungkin, ya,” ucap Hara meneruskan penjelasannya. 

Kalau soal yang itu, Kinan sudah tidak perlu terkejut lagi. Sebab ia ingat ketika Pra pernah bilang, “Kinan, makin dewasa itu kita makin nggak ingin apa-apa,”

“Kata siapa? Memang kamu udah dewasa?”

“Coba aku tanya sekarang, Nan. Apa… yang kamu inginkan buat hadiah ulang tahun?”

“Halah, ulang tahun aja cuma begitu doang.”

“Ya kalau kamu boleh minta apa pun sekali saja di satu hari istimewamu itu, kamu ingin apa?”

Bagaimana Pra berbahasa adalah teka-teki yang tidak pernah kenal usia. Seperti puzzle yang kekurangan satu bagian saja. Seolah-olah Kinan adalah jalan keluar yang menyelamatkan, padahal bisa saja sebaliknya. Kinan adalah kesalahan yang berwujud dalam sebuah harapan, tapi Pra tidak mengimani itu. Pra yakin bahwa Kinan adalah doa singkat yang selama ini berbisik amin dalam hatinya, ia yakin itu walau ia pun tahu bahwa sesuatu yang terlihat jelas, kadang tidak pernah berwujud, kadang cuma berbentuk hamparan laut luas yang tidak berujung.

“Ayok, Nan, masa mau sesuatu saja mikir dulu. Ini kamu nggak sedang disuruh milih menu makanan di warung. Kamu bisa pilih yang tidak ada di menu,”

Tidak. Tidak ada pilihan itu dalam hidup Kinan. Tidak ada menu yang bisa ia pesan kapan pun dan dengan siapa pun. Tidak ada sesuatu yang ia inginkan di dunia ini kecuali…

“Aku minta untuk nggak ingin mati sendirian, Pra.”

“Ya apa boleh buat.”

“Hah? Maksudnya?”

Untuk ke sekian kalinya, Pra mengajak Kinan beranjak tanpa menyudahkan persoalan yang diciptakannya sendiri. Seakan-akan Kinan sudah paham betul apa yang ia kehendaki. Padahal tanpa ia sadari, ketidakmentuan itu sudah kehilangan sekat. Apa yang Pra artikan tidak sama dengan yang Kinan maksudkan. Seperti yang sudah kita mulai ketahui, bahwa Kinan tak hanya punya kemungkinan untuk menyelamatkan, tetapi juga sebaliknya. Lantas, apakah Pra mengetahui soal hal itu? Ya. Namun apakah ia peduli? Tentu tidak.

Satu permintaan dalam satu kalimat yang tadi Kinan ucapkan terdengar hampir seperti petunjuk. Bahwa tanpa Kinan sadari, ia telah membenarkan apa yang soal bicarakan soal menjadi dewasa, soal menjadi tua. Dan Pra mengerti kalau semua ini sebenarnya sederhana. Persoalan pelik yang bagi Kinan tidak pernah mengenal kata pulang, bisa jadi adalah kendaraan yang mampu membawa mereka pergi jauh. Atau pergi yang dekat saja asal berdua, asal tetap bersama, asal tidak ada lagi sekat. Karena pada suatu hari atau satu hari saja, Kinan pada akhirnya mengaminkan doa-doa singkat yang tidak pernah Pra titipkan pada malaikat. Sebab kala itu Pra bilang, “Malaikat sepertinya sudah lama menghapusku dari daftar pertemanan.”

“Malaikat nggak kaya kita yang butuh teman, Pra.”

“Lho, malaikat itu kayak kita yang gak butuh teman.”

“Aneh!”

Pra sendiri tidak pernah hadir pada janji yang ia buat pada Tuhan. Buatnya, doa hanyalah penghubung antara selamat dan tamat. Kalau pun permintaannya bisa sampai di rumahnya, ya, tetap saja rumah yang ditempatinya pada akhirnya harus ia tinggalkan. Pada akhirnya, Pra hanya tidak ingin pulang ke rumah. Dia ingin pulang ke sebuah perjalanan yang tidak akan sampai ke titik terakhirnya.

“Ya berarti gapapa dong kalo kamu titip doa? Free ongkir!”

“Ah, emangnya malaikat masih suka lewat depan rumahku, Nan?”

“Mungkin pas kamu lagi nggak di rumah,”

“Kalau gitu, doaku ini, kutitip saja padamu.”

“Lah?”

“Ya kan kamu jarang keluar, kecuali kerja. Jadi pas malaikat lagi lewat, dia bisa ambil doaku. Biar cepet dikirim, Nan,”

“Ya sudah, tulis saja di kertas.”

Pra mengeluarkan kertas bon dari sebuah mini market ketika ia tadi habis beli rokok. Di baliknya, ia tuliskan doa sebagaimana Kinan perintahkan.

Setelah itu, ia lipat kertas itu menjadi lipatan kecil. Ia menyarankan agar Kinan tidak perlu membuka dan membacanya. Kemudian Kinan menyelipkannya ke dalam sela-sela dompetnya. “Nanti kalau sudah ketemu malaikat aku kasih, ya,”

Nyatanya, setelah bertahun, kertas kecil itu masih tersimpan rapi di dalam dompetnya. Tidak berpindah tempat, hanya mungkin mulai memudar. Sebab kualitas dari kertas bon seperti itu pasti tidak sebagus kertas hvs. Bentuknya yang terlalu kecil, hampir selalu membuat Kinan tidak menyadari doa singkat dalam dompetnya itu. Sering tertutup oleh uang sepuluh ribu dan sebulan sekali uang lima puluh ribuan. Entah benar lupa, atau sengaja melupakan. 

Sebab ketika akhirnya ia tiba di kota yang lain pun, doa itu tetap mengiringinya. Ya… Memang bukan doa seorang ibu, bukan doa orang yang suci, tetapi doa itu ada bersamanya. Bahkan sangat dekat, bahkan ketika ia merasa tidak ada lagi satu manusia pun di bumi, doa itu tidak pernah meninggalkannya. Tidak pernah.


9 responses to “BAB 7”

  1. Percapakan pra dan kinan selalu gemesh! Akhirnya tokoh favoritku!🥺 lanjutkan pauss❤️

    Like

  2. Bagian terakhir sangat dalam dan romantis. Apalagi dikisahkan Tsana dengan sederhana. Kebiasaan kecil kita yang suka mengumpulkan struk dan nota belanja di dompet rupanya bisa menjadi sumber inspirasi. Keren Tsan! ✨

    Bisa bayangkan tidak kalau di masa depan, kabanyakan orang tidak sering membawa dompet lagi karena tergantikan dompet digital? Ya karena dompet kita adalah smartphone.

    Selain kompas, kamera, alat komunikasi, dan media hiburan, smartphone adalah wujud nyata dari kantung Doraemon.

    Apakah akan ada puisi dan narasi mengenai dompet lagi? 😌

    Like

  3. secara ga sadar ternyata di setiap hal yang selalu pertama kali Kinan ingat adalah Pra :”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: