Lily


Delapan tahun lalu, seorang laki-laki aneh sekaligus menyenangkan memberikanku setangkai bunga yang sebenarnya sudah hampir layu. Ah… aku tentu masih ingat seperti apa wajahnya yang lucu itu.

“Tsana, bunganya memang mau layu, tapi aku beli yang ini saja daripada tidak laku. Kasihan tukang bunganya bisa rugi.”

Belum protes, sudah dibuat mengerti. Dia memang suka sekali ceritain hal-hal yang tidak perlu ditanya. 

“Kalau bunga mawar, terkesannya terlalu hari kasih sayang.”

Padahal, waktu itu memang tanggal 14 Februari.

“Tsana mau denger gak kenapa aku kasihnya bunga lily? Kenapa gak bunga mawar?”

“Karena bunga mawar terkesan terlalu hari kasih sayang.”

Dia menggerutu, “Ah, kamu mah gak seru ah.”

Aku sebenarnya bukan orang yang romantis, hanya gadis kutu buku yang hidupnya membosankan. Lalu, dia datang ke duniaku.

“Iya, iya. Kenapa emangnya?”

“Kamu tahu, gak? Bunga lily itu bunga musim panas. Kamu gak akan bisa nemuin dia kalau musim hujan atau musim salju. Bunga lily itu bunga yang ceria. Kayak kamu.”

Dia sebenarnya juga kutu buku, entah apa yang ia baca sampai jago sekali merayuku.

“Sudah? Ada alasan lain, gak?”

“Ada. Bunga lily itu punya bentuk yang menarik, makanya orang akan betah memandangnya bahkan dalam waktu yang lama.”

Yang dia bawa bunga lily, yang muncul di pipiku bunga mawar merah. Aku tersipu.

Tapi, aku mengabadikan bunga lily bukan karena itu adalah hal yang romantis, bukan. Bukan itu.

Lily, tanpa kusadari, ternyata sudah jadi teman tumbuh yang menyaksikan semua prosesku. Tsana yang delapan tahun lalu dan hari ini, jelas masih Tsana yang sama, tapi dengan cerita yang lebih ragam isinya. 

Kalau Rintik Sedu kalian kenal sebagai tempat di mana aku menyampaikan pesan, sedangkan di dalam Lily, aku ingin kalian yang menyampaikan pesan itu. Karena sama lily, aku gak hanya bahagia. Kecewa, sedih, putus asa, sampai patah hati, aku rayakan bersamanya. Itu sebabnya aku ingin lily jadi teman tumbuh kalian juga. Semoga di waktu yang baik, kalian bisa segera membawa lily ke dalam petualangan-petualangan itu karena aku tidak sabar untuk melihatnya.

Oh, iya. Mungkin kalian penasaran seperti apa reaksinya, waktu dengar aku “buat” lily dalam medium yang berbeda. Hm, tidak banyak sih. Dari dulu dia memang flat-flat saja. Tidak pernah terlalu sedih, terlalu senang, terlalu marah. 

Hari itu dia cuma kirim imessage, dia bilang:

“Selamat untuk Lily ya, Tsana. Walau mungkin gak sampai, tapi aku selalu mendukungmu dari jauh.”

buy lily on Shopee :https://shopee.co.id/shop/647315085/


2 responses to “Lily”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: